Betapa dekat kebahagiaan bagi mereka yang menetapi do’a ini:
”Ya Allah, jadikanlah aku merasa qana’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah engkau rezeqikan kepadaku, dan berikanlah barakah kepadaku di dalamnya, dan jadikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan yang lebih baik.”
Mengingat sejenak sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, “Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rezeqi yang sekedar mencukupi dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baghawi.
Betapa sederhananya kebahagiaan. Ingatlah sejenak bagaimana Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bergurat pipinya karena alas tidur kasar. Hari ini betapa banyak yang memiliki tempat tidur mewah, tapi hampir-hampir tak pernah ia rasai tidur yang nikmat.
Betapa berbeda. Tengoklah Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Betapa sederhana makannya. Tak menuntut syarat yang berat, justru jadikan makan lebih nikmat.
Sungguh, ketika engkau tak meninggikan syarat terhadap apa yang engkau reguk dari dunia ini, semakin mudah engkau rasai kebahagiaan. Dan apakah yang lebih berharga daripada ganti yang lebih baik; ganti yang lebih membawa kebaikan atas apa-apa yang terlepas dari kita?
Maka do’a riwayat Al Hakim (beliau menshahihkannya) yang dicontohkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam ini merupakan kunci agar kita mampu bersikap secara tepat terhadap dunia: qana’ah terhadap rezeqi dari-Nya, barakah atas rezeqi yang kita terima dan ganti yang lebih baik (bukan lebih banyak) atas apa-apa yang terlepas dari kita. Sungguh, rezeki yang tak barakah, amat jauh dari kebaikan.
M. Fauzil Adhim
06 January 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)

