Saya sendiri sebenarnya tidak ada rencana dari kemarin untuk menyaksikan gerhana, bahkan sebetulnya tidak terlalu 'ngeh' bahwa ini adalah fenomena yang luar biasa yang hanya terjadi sekian puluh tahun sekali. Maklum dari kemarin saya lagi banyak pikiran jadi isi kepala saya penuh dengan berbagai hal. :P Sampai hal besar seperti gerhana matahari bisa ga masuk di kepala. Sedih banget yak, hiiksss... TT___TT
Tapi tidak apa-apa, alhamdulillah peristiwa hari ini bisa bikin saya kembali bersemangat. Pancaran energi positif dari orang-orang yang menyaksikan gerhana membuat saya ikut ter-charge lagi energinya. Hehe kayak batere handphone butuh di charge... :D
Mau tau bagaimana pengalaman saya menyaksikan gerhana? Luar biasa masyaa Allah. Belum pernah saya menyaksikan fenomena yang sedemikian rupa. Saya tidak bisa melihat apa-apa sebenarnya karena ketika awal-awal terjadi gerhana, cahaya mataharinya sangat silau sekali. Benar-benar terang sinarnya sampai rasanya menusuk mata. Awalnya tadi pagi saya hanya ingin buka jendela rumah saja, tapi tidak disangka pas saya buka jendelanya ternyata mataharinya persis berada di depan saya. Aaah.... refleks karena terlalu silau dan panas langsung saya tutup lagi jendelanya. Belum pernah seumur hidup saya melihat matahari sedemikian tajam dan terang intensitas cahayanya.
Lalu karena penasaran saya coba ngintip dari balik jendela, saya pikir mungkin saya hanya kaget tadi karena tiba-tiba silau. Saya beranikan ngintip pelan-pelan, tapi aaah... ternyata benar memang sangat amat silau. Untuk ngintip saja bahkan tidak sanggup. Saya coba lagi menyampingkan badan lalu melihat dari ujung mata... tapi tetap sama saja tidak bisa dilihat, padahal lapisan kaca jendelanya lumayan gelap, benar-benar hebat masyaa Allah. Allahu Akbar...!
Lalu karena takut berbahaya cahaya mataharinya, akhirnya jendelanya saya tutup pakai korden. Itupun masih terang bisa menembus kain gorden yang lumayan tebal. Hebat, luar biasa, masyaa Allah kebesaran Tuhan. Ini hanya sebagian kecil dari tanda-tanda kebesaran-Nya, bagaimana mungkin kita makhluk yang lemah ini bisa meragukan dan sering tidak bersyukur pada Sang Pencipta setelah melihat keagungan-Nya. :(
Fenomena gerhana ini membuat saya jadi teringat ayat Al-Qur'an di Surat An-Nur ayat 35-38 yang menjelaskan tentang cahaya Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
35. Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
36. (Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang,
37. orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat),
38. (mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.
Ketika terjadi gerhana matahari kita disunnahkan untuk mengerjakan shalat 2 rakaat, Ini termasuk salah satu sunnah Muakkad (sunnah yang sangat ditekankan). Tata cara shalatnya sebagai berikut :
1) Berniat dalam hati untuk sholat gerhana karena Allah ta’ala, melafazkannya termasuk bid’ah (mengada-ada dalam agama)
2) Takbiratul ihram.
3) Membaca istiftah, ta’awwudz, dan basmalah secara pelan.
4) Membaca Al-Fatihah dan surat lain secara keras, dan hendaklah memanjangkan bacaan, yaitu memlih surat yang panjang.
5) Bertakbir lalu ruku’ dan memanjangkan ruku’, yaitu membaca bacaan ruku’ dengan mengulang-ngulangnya.
6) Kemudian bangkit dari ruku’ seraya mengucapkan, ”Sami’allahu liman hamidah,” jika badan sudah berdiri tegak membaca, ”Rabbana walakal hamdu.”
7) Setelah itu tidak turun sujud, namun kembali membaca Al-Fatihah dan surat panjang, akan tetapi lebih pendek dari yang pertama.
8) Bertakbir lalu ruku’ dengan ruku’ yang panjang, namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama.
9) Kemudian bangkit dari ruku’ seraya mengucapkan, ”Sami’allahu liman hamidah,” jika badan sudah berdiri tegak membaca, ”Rabbana walakal hamdu.” Dan hendaklah memanjangkan berdiri I’tidal ini
10) Bertakbir lalu sujud dengan sujud yang panjang, yaitu dengan mengulang-ngulang bacaan sujud.
11) Kemudian bangkit untuk duduk di antara dua sujud seraya bertakbir, lalu duduk iftirasy dan hendaklah memanjangkan duduknya.
12) Kemudian sujud kembali seraya bertakbir dan hendaklah memanjangkan sujud, namun lebih pendek dari sujud sebelumnya.
13) Bangkit ke raka’at kedua seraya bertakbir, setelah berdiri untuk rakaat kedua maka lakukanlah seperti pada raka’at yang pertama, namun lebih pendek dari raka’at yang pertama
14) Kemudian duduk tasyahhud, membaca shalawat, dan salam ke kanan dan ke kiri.
15) Setelah itu disunnahkan bagi imam berkhutbah kepada manusia untuk mengingatkan mereka bahwa gerhana matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah untuk mempertakuti hamba-hamba-Nya dan agar mereka memperbanyak dzikir dan sedekah.
16) Waktu melakukan sholat gerhana adalah selama terjadinya gerhana, apabila gerhana telah selesai sedang sholatnya belum selesai maka hendaklah sholatnya dipendekkan dan tetap disempurnakan, namun tidak lagi dipanjangkan (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 8241).
17) Apabila sholat selesai namun gerhana belum selesai maka tidak disyari’atkan untuk mengulang sholatnya, tapi hendaklah melakukan sholat sunnah yang biasa dikerjakan, atau memperbanyak dzikir dan do’a sampai gerhana selesai (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 9241).
18) Disyari’atkan untuk melakukannya secara berjama’ah di masjid. Dan dibolehkan untuk melakukannya di rumah, namun lebih baik di masjid (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 4041, 5041).
19) Disunnahkan menyeru manusia untuk sholat dengan ucapan, “Ash-Sholaatu Jaami’ah.” Tidak ada adzan dan iqomah untuk sholat gerhana selain seruan tersebut, dan boleh diserukan berulang-ulang (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 2241).
20) Apabila bertemu waktu sholat wajib dan sholat gerhana maka didahulukan sholat wajib (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 9931).
21) Boleh mengerjakan sholat gerhana meski di waktu-waktu terlarang, karena pendapat yang kuat insya Allah, yang terlarang hanyalah sholat-sholat sunnah mutlak, yang tidak memiliki sebab (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 0341, 1341).
22) Apabila makmum tidak mendapatkan ruku’ yang pertama maka ia tidak mendapatkan raka’at tersebut, hendaklah ia menyempurnakannya setelah imam salam dengan raka’at yang sempurna, yaitu tiap raka’at terdiri dari dua ruku’ (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 9141).
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Sumber: http://sofyanruray.info/ringkasan-tata-cara-sholat-gerhana/
Gara-gara saya iseng ngintip tidak pakai kaca mata filter atau kaca mata hitam, mata saya sesaat terasa perih. Karena itu sangat tidak dianjurkan untuk melihat gerhana dengan mata telanjang, karena sangat berbahaya. Bisa dibaca disini artikelnya mengenai bahaya gerhana matahari bagi kesehatan mata : http://perdami.or.id/new/?p=8659
Saya baca di berita ada berbagai cara orang-orang ketika melihat gerhana, dari cara yang sederhana sampai cara yang benar-benar menakjubkan. Hehehe. Yang paling umum rata-rata orang-orang menggunakan kaca mata hitam atau kaca mata filter. Saya sempat nyoba juga pakai kaca mata hitam, tapi tetep tidak sanggup menahan tajamnya intensitas cahaya matahari. Ada juga yang menggunakan cara sederhana yaitu dengan menggunakan kardus atau nama ilmiahnya Proyeksi Lubang Jarum. Hehe, keren banget ya istilahnya. Jadi kardusnya dilubangi lalu kepala kita dimasukkan kedalam kardus, tapi kita menghadap membelakangi matahari, jadi kita hanya melihat proyeksinya atau pantulan sinarnya saja melalui lubang tersebut. Konsepnya seperti menonton film di bioskop, proyektor berada di belakang kursi penonton, jadi penonton menonton film melalui layar di depan proyektor tersebut. Ilmiah sekali ya. :D
Cara lainnya yang paling menarik menyaksikan gerhana ini yaitu lewat kaca jendela mobil yang dilapisi kaca film super black. Cara yang satu ini cukup menarik karena pas saya lihat di televisi orang-orang yang melakukannya terlihat seperti sedang mengintip lewat kaca jendela sambil jongkok memegang pintu mobil. Susah dijelaskan, tapi ketika dilihat di televisi entah kenapa terlihat kocak. :P
Saya sempat mengabadikan beberapa momen ketika awal-awal terjadi gerhana. Saya memotret suasana langitnya saja, karena untuk memotret mataharinya secara langsung tidak memungkinkan. Yang saya ingat langitnya terlihat terang benderang, lalu pantulan sinar matahari yang mengenai pohon, daun, dan benda-benda lainnya terlihat berbeda dari biasanya. Warnanya seperti kuning keemasan, kuningnya terlihat teduh. Cantik sekali pantulannya. Saya coba abadikan dengan kamera hp jadi tidak terlalu terlihat. Kurang lebih seperti ini.
| Daun-daun terkena pantulan sinar matahari menjelang gerhana |
| Pemandangan menjelang gerhana matahari |
| Kondisi langit di awal-awal gerhana, bagian yang putih sebelah kanan bagian langit yang dekat dengan matahari |
Walaupun di Jakarta tidak dapat menyaksikan gerhana matahari secara total sampai berbentuk cincin, tapi saya merasa bersyukur alhamdulillah setidaknya bisa melihat sedikit bagian dari fenomena kebesaran Tuhan ini. Daerah di Indonesia yang bisa melihat gerhana total yang paling bagus bentuknya yaitu di Palu, daerah lainnya yang juga terlihat bentuk cincinnya yaitu di Ternate dan Belitong. Diperkirakan gerhana matahari selanjutnya di Indonesia dapat disaksikan insyaa Allah sekitar tahun 2023, 2042, dan 2049. (Sumber : http://www.jawapos.com/read/2016/03/09/20406/gerhana-matahari-total-tahun-2023-lebih-dahsyat-ini-sebabnya/1)
Seperti biasa ketika ada peristiwa besar, di social media terutama di Indonesia pasti langsung bermunculan banyolan-banyolan seputar peristiwa tersebut. Tidak terkecuali gerhana matahari. Banyolan-banyolan yang muncul mulai dari foto pemeran film 'Gerhana', wajan ibu-ibu di dapur yang bentuknya seperti gerhana matahari, sampai foto novel 'Eclipse' karangan Stephenie Meyer yang difoto berdampingan dengan tulisan 'Solar' di SPBU menjadi hits. Rakyat Indonesia memang luar biasa tidak pernah kehilangan rasa humor dalam segala situasi. Like always... :D
Oke deh sekian dulu reportase aktual dari peristiwa hari ini. Mudah-mudahan kita semua masih diberikan umur hingga gerhana matahari selanjutnya, yang tidak kalah penting semoga kita masih diberikan kesempatan untuk bertaubat sebelum matahari terbit dari sebelah barat. Aamiin....
Sampai jumpa!





















