Terus dengan inisiatif saya sendiri, saya berusaha untuk menyelamatkan keluarga supaya setidaknya bisa makan lah dan bayar listrik. Dan juga bayar kontrakan rumah karena keluarga saya sampai detik ini belum juga memiliki rumah. Beruntung bagi kalian yang memiliki rumah, walau rumah orang tua juga itu peninggalan yang sangat berharga. Karena keluarga saya kemarin ini harus mengeluarkan setidaknya 40jt-an setahun hanya untuk biaya kontrakan rumah. Sebenarnya saya tidak setuju kami mengontrak rumah, tapi karena saya kalah suara akhirnya kami sampai detik ini harus mengontrak rumah. Walau sempat ada kesempatan untuk bisa memiliki rumah sendiri waktu kami memiliki rejeki lebih. Tapi rejeki tersebut digunakan untuk yg lain, dan apa dayalah saya sendiri yang bersuara di keluarga saya.
Lanjut lagi kisah saya yg berusaha menyelamatkan keuangan keluarga saya dengan BERHUTANG. Ya, saya mengambil pinjaman dari sana sini untuk membayar kontrakan, untuk beli makan, dan bayar listrik. Tiga komponen utama yg harus keluarga saya penuhi. Ada hutang yang saya pinjam dari kenalan saya, ada juga dari kenalan jauh yg baru saya kenal dari suatu komunitas. Alhamdulillah ada yg begitu baiknya memberikan pinjaman untuk meringankan beban kami. Tapi tidak seharusnya saya merasa lega, karena HUTANG itu bukanlah sesuatu yang baik. Saya bahkan harus menyicilnya sampai sekarang.
Alhamdulillah bbrp waktu yg lalu juga saya sempat mendapat bantuan dari teman2. Jadi yg ini bukan pinjaman melainkan semacam bantuan sosial dari teman2 yang merasa iba dengan kondisi saya. Karena waktu itu saya sempat bercerita mengenai kesulitan kami di media sosial, akhirnya atas inisiatif teman2 yang baik hati saya mendapatkan bantuan. Dengan bantuan itu, alhamdulillah saya bisa membayar sebagian dari hutang2 yang saya ambil sebelumnya dan bisa saya gunakan juga untuk keperluan makan sehari2. Tapi sayangnya hutang yang saya miliki masih belum selesai saya bayar semuanya.
Rasanya sungguh tidak enak punya hutang itu. Karena di dunia saya merasa seperti dikejar2, bahkan di akhirat nanti juga akan ditagih kalau belum lunas kita bayar. Singkat cerita, untuk membayar hutang2 tersebut, akhirnya saya bekerja lagi dengan berat hati. Karena sebenarnya saya lebih suka usaha dagang dari rumah. Tapi karena keadaan yang tidak memungkinkan, akhirnya saya bekerja agar bisa membayar hutang2 tersebut. Jumlahnya sebenarnya hanya belasan juta. Tapi gaji yang saya terima tidak seberapa. Untuk bisa menyicil hutang tersebut butuh waktu berbulan2 bahkan bisa sampai dua tiga tahun.
I'm so so tired to be honest. This debt is killing me slowly. I feel like I'd rather die soon than working like a cow to pay the debts. So many times I've been thinking to suicide. Because it's so tiring. I have to earn money for people around me and I have to pay the debts also. I'm not a parent yet, but I feel like one already.
Orang2 yang saya pinjami uangnya baik sekali sebenarnya. Mereka tidak memberikan bunga pada pinjamannya dan bahkan ada yg bisa dicicil kapan saja. Tapi ada juga yang sudah menagih dengan aktif ketika saya sudah bekerja karena ketidakmampuan saya untuk membayar setahun sebelumnya waktu saya belum mendapatkan pekerjaan. Jadi mereka sudah sangat bersabar dengan saya. Hanya saja kemampuan saya untuk membayar masih sangat lemah. Innalillahi wa innailaihi raaji'un.
Jadi teman2, sebisa mungkin... Kalau bisa, mungkin lebih baik mati kelaparan daripada harus berhutang. Entahlah. Saya hanya kasian sama mama saya. Kalau saya sendiri yang kelaparan mungkin tidak apa2 kali ya, walaupun sangat sakit di perut kalau kelaparan itu. Saya pernah merasakan sakitnya menahan lapar. Tapi melihat orang tua sendiri, terlebih mama saya kelaparan rasanya ga tega lah. Saya sudah dibesarkan dari kecil ga pernah kekurangan makan, masa ketika sudah besar saya tidak sanggup memberi mama saya makan. Jadi apapun saya lakukan bahkan hingga mengambil pinjaman.
Tapi yang lebih kejam adalah pinjaman online. Saya belum pernah meminjam dari bank, karena saya tidak pernah berhasil membuat kartu kredit. Alhamdulillah. Tapi saya pernah meminjam dari aplikasi karena sangat mudahnya prosedurnya. Tapi jangan ditanya ketika sudah jatuh tempo, ditagihnya benar2 tidak ada ampun. Sampai ditelpon2 berkali2. Dan ada denda dan bunganya. Jadi jangan pernah ambil pinjaman online dan pinjaman dari bank. Karena itu riba. Saya kalau ga karena terpaksa tidak akan mengambil pinjaman online.
Saya merasa tingkat kesulitan hidup saya makin meningkat semenjak saya berhutang. It feels like a huge burden on my shoulder and my back. It kills me slowly. If only my dad were still here... He wouldn't let me live painfully like this. If only... I know I shouldn't wondering like this. But I couldn't think any other person than my dad in my difficult times. I think of Allah of course, I asked for Allah's help many times. It's just that I really hope my life could be better than this. At least as better as when my dad was still around. I'm just tired....
Anyway thank you for reading. Semoga bisa diambil hikmahnya ya, untuk tidak berhutang kalau ga parah2 banget keadaannya. Dan banyak2 bersyukur kalau sudah memiliki rumah dan tidak punya hutang. Itu sudah sangat baik keadaannya menurut saya. Meski ga punya banyak harta benda, tapi hidup tanpa hutang itu jauh lebih baik.
Sekian dulu ya guys, please pray for me.... So I could live in ease insyaa Allah.
See you..... (agak sendu nuansanya, hahaa.. pardon me, lg banyak utang).

