Saya mau cerita soal pindahan rumah saya sebulan yang lalu. Jadi saya pindahan rumah dari Cirendeu ke Cibubur. Ini sebenernya bukan pertama kali saya pindah rumah. Saya udah beberapa kali pindah rumah, tapi selama ini selalu ayah saya atau ibu saya yang ngurusin pindahannya, terutama soal beberes barang2. Tapi kemarin ini, saya ikutan beberes barang2nya. Subhanallah, capeknya bukan main. Banyak banget barang2 yang mesti diberesin, dipacking, dan disortir. Ini jadi pelajaran banget buat saya untuk ga numpuk2 barang yang ga perlu.
Jadi hikmahnya yang saya dapetin setelah pindahan rumah kali ini sebagai berikut :
- ga lagi2 numpuk2in barang2 yang ga perlu
- pikir2 lagi sebelum beli barang, nantinya mau dikemanakan barang tersebut kalau udah ga dipakai lagi
- sering-sering beberes rumah, buang2in barang2 yang ga berguna lagi atau klo bs diloak, diloakin aja
- kalau masih ada barang2 yang berguna tapi ga dipakai lagi bisa disumbangkan ke orang2
- jadi trauma beli2 furniture dan barang2 pecah belah, sekalinya pindahan susah banget ngurusnya
- lebih baik hidup minimal tanpa banyak barang2 di rumah, hati juga lebih tenang
- ga masalah ga punya banyak barang yang penting kita punya apa yang kita butuhkan saja
- intinya semakin banyak barang di rumah, hanya membuat stress di kemudian hari (terutama jika harus pindahan)
- bersyukurlah kalau sudah punya rumah sendiri, tapi tetap sering2 beberes, berikanlah warisan pada anak cucu kita barang2 yang mereka butuhkan saja jangan buat mereka stress di kemudian hari jika harus membereskan barang2 kita
- furniture knock down jauh lebih praktis dibanding built-in furniture, karena bisa dilepas2 kalau harus pindahan
- bersabarlah bagi yang belum punya rumah, tiap hari dicicil beresin barang2nya, kalau mesti pindahan jadi lebih cepat proses pindahannya
Selama pindahan kemarin, saya jadi dekat dengan tukang loak dan tukang sampah. Mereka sangat membantu sekali dalam membereskan barang2 yang tidak diperlukan lagi. Tukang loak biasanya mau menerima kertas2, buku2, dan aneka barang2 yang sudah tidak terpakai lagi. Bahkan mereka mau membayar barang2 tersebut, terutama kertas2, buku2, dan barang yang terbuat dari besi. Kalau tukang sampah justru sebaliknya, mereka harus dibayar lebih jika kita mau membuang sampah yang banyak. Bahkan ada jasa khusus buang sampah atau puing2 bekas pindahan rumah, biayanya berkisar antara 300rb sampai 500rb per rit (rit itu sekali angkut pakai mobil truk). Dulu bahkan waktu saya membereskan sampah bahan2 kimia punya ayah saya, saya harus membayar jasa buang sampah khusus semacam buang sampah medis, kimia, dll. Bayarannya juga kurang lebih sama, saya lupa berapa pastinya.
Untuk pindahan kemarin, kalau di total2 bisa habis sekitar 5-7 juta lebih untuk biaya angkut barang, buang sampah, benerin rumah, dan lain-lain. Itu untuk rumah tingkat ya, kita nyewa 2 truk besar, dan 1 truk kecil dua kali rit. Sebenernya ada namanya truk2 itu, yang paling besar namanya Truk, yang ukuran sedang namanya Engkle, dan yang paling kecil namanya Pick Up. Kita pakai Truk dan Pick Up. Stress nya ngangkat2 dan mindahin barang2nya bukan main, jangan ditanya. Hahaa...
Sebenernya capek banget pindahan rumah itu, tapi mau bagaimana lagi, keluarga saya masih belum diberi rejeki memiliki rumah sendiri. Jadi ya doakan saja ya teman2 semoga dalam waktu ke depan keluarga kami bisa memiliki rumah sendiri jadi kami tidak harus pindah2 lagi. Aamiiin...
Tapi kami bersyukur setidaknya kami masih diberi tempat tinggal, meski sementara. Alhamdulillah.... Ya begitulah teman2 cerita pindahan rumah kali ini. Semoga bisa menjadi hikmah juga untuk decluttering barang2 yang tidak diperlukan ya. Jadi tempat tinggal kita juga jadi lebih lega dan memang isinya barang2 yang diperlukan saja. Okay, sekian dulu kali ini. See youu.......

