skip to main | skip to sidebar

About me

My Photo
Mariana
Indonesian muslimah, Backpacker, Photography Lover, Dreamer, and Believer to these phrases: "whoever seeks they will find" & "there's no useless effort" - So, keep on going!
View my complete profile

Archive

  • ► 2008 (13)
    • ► June (1)
    • ► July (3)
    • ► August (2)
    • ► September (2)
    • ► November (2)
    • ► December (3)
  • ► 2009 (13)
    • ► January (2)
    • ► February (1)
    • ► March (2)
    • ► May (1)
    • ► August (1)
    • ► September (3)
    • ► December (3)
  • ► 2010 (20)
    • ► January (3)
    • ► February (3)
    • ► April (1)
    • ► June (1)
    • ► July (1)
    • ► August (9)
    • ► September (1)
    • ► November (1)
  • ► 2011 (10)
    • ► February (2)
    • ► June (3)
    • ► August (4)
    • ► October (1)
  • ► 2012 (5)
    • ► January (1)
    • ► March (1)
    • ► August (1)
    • ► September (1)
    • ► November (1)
  • ► 2013 (16)
    • ► January (1)
    • ► March (1)
    • ► June (6)
    • ► July (1)
    • ► August (4)
    • ► September (2)
    • ► October (1)
  • ► 2014 (13)
    • ► January (1)
    • ► February (1)
    • ► March (2)
    • ► May (2)
    • ► June (1)
    • ► August (1)
    • ► September (1)
    • ► October (1)
    • ► November (3)
  • ► 2015 (15)
    • ► February (1)
    • ► March (1)
    • ► July (1)
    • ► August (3)
    • ► October (4)
    • ► November (1)
    • ► December (4)
  • ► 2016 (6)
    • ► January (2)
    • ► February (2)
    • ► March (2)
  • ► 2017 (3)
    • ► April (1)
    • ► June (1)
    • ► July (1)
  • ► 2020 (5)
    • ► October (2)
    • ► November (3)
  • ▼ 2021 (9)
    • ► January (1)
    • ► February (2)
    • ► April (3)
    • ► July (2)
    • ▼ September (1)
      • Alhamdulillah I'm Pregnant

Labels

  • backpacking
  • blog design
  • capturing moments
  • cerita-cerita
  • cuap-cuap
  • family matters
  • hikmah
  • hot stuff
  • inspirasi
  • kata-kata
  • kerja dan belajar
  • korean drama
  • masak memasak
  • quotes
  • relationship
  • review
  • selingan
  • tausyiah
  • wonderful

What I'm Into

Interior & Architecture

  • Arc Space
  • Arch Daily
  • Archinect
  • Architonic
  • Copy Cat Chic
  • Design Glossary
  • Design Milk
  • Dezeen
  • Enlighter Magazine
  • Famous Architects
  • HGTV
  • Houzz
  • How About Orange
  • IALD
  • IKEA Hackers
  • Interior Design Magazine
  • Karim Rashid
  • Lighting Design Magazine
  • Meade Design Group
  • Mondo Arc
  • Philippe Starck
  • Print and Pattern
  • Samantha Pynn
  • Summer Allen
  • Suzanne Dimma
  • Top 50 Interior Websites

All About Design

  • Eat Drink Chic
  • Goodnight Little Spoon
  • Josh Lafayette
  • Paper Toys
  • Pixel Girl
  • Pugly Pixel
  • Pugly Pixel Blog
  • The Cool Hunter

Let's Go Green

  • groovy green
  • inhabitat
  • sustainablog
  • world changing

Inspiring Blogs

  • Febrianti Almeera
  • Islamic Articles
  • Jamil Azzaini
  • Salim A. Fillah

I Read This

Bidadari Bidadari Surga
Mengarungi 'Arsy Allah
Gadis Pantai
Confessions of a Shopaholic
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Kupinang Engkau dengan Hamdalah
The Da Vinci Code
A Very Yuppy Wedding
Menyelam ke Samudera Jiwa dan Ruh
Bumi Cinta
Cinta Brontosaurus
The Alchemist - Sang Alkemis
Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh
Life of Pi
Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps: Mengungkap Perbedaan Pikiran Pria dan Wanita Agar Sukses Membina Hubungan
divortiare
Ketika Cinta Bertasbih
The Right to Lead
How to Win Friends and Influence People
Virus of the Mind: The New Science of the Meme


Mariana's favorite books »

For A Better Life!

Blog Readers

Stats

free counters

simply,

bla bla bla in my mind...

Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

03 February 2016

Dakwah pada Keluarga

Saya menemukan video yang bagus mengenai dakwah pada anggota keluarga atau orang-orang yang dekat dengan kita. Berikut videonya.




Menyampaikan dakwah atau perihal yang berhubungan dengan ajaran agama pada anggota keluarga sendiri memang bukan hal yang mudah. Terlebih jika posisi kita berada dalam pihak yang kurang memiliki peluang untuk didengar, seperti anak kepada orang tua, adik kepada saudara yang lebih tua, ponakan pada paman atau bibi, dan lain sebagainya. Bahkan orang tua sendiri juga bisa jadi tidak mudah menyampaikan ajaran agama pada anaknya yang tidak dibiasakan dari kecil mengikuti ajaran agama.

Sebenarnya saya agak sungkan untuk menulis ini, karena takutnya jadi ujub / riya' / sombong. Meski niat awalnya tidak seperti itu, tapi namanya manusia memang sudah kodratnya ketika melakukan sesuatu yang baik atau bagus sedikit saja, pasti ada rasa bangga jika disebutkan. Ya doakan saja mudah-mudahan saya dijauhkan dari perasaan tersebut. Aaamiin.

Karena saya pikir ini ada bagusnya juga untuk di-share dibandingkan mudharatnya. Tujuannya tidak lain mudah-mudahan metode dakwah yang saya sampaikan dan sudah saya coba ke anggota keluarga bisa efektif juga metodenya buat yang lain. Insyaa Allah. :)

Awalnya sebenarnya tidak ada niatan untuk benar-benar dakwah pada keluarga. Saya sesekali sekedar mengingatkan ketika melihat ada yang kurang-kurang. Oya seperti sudah saya ceritakan di postingan-postingan sebelumnya, keluarga saya tadinya bukan keluarga yang religius yang mengerti betul tentang agama. Apalagi ayah saya seorang muallaf, beliau belum begitu mengerti agama waktu awal-awal. Jadinya kita agak dibebaskan mengenai agama, meski tidak sebebas itu, maksudnya asal tetap beragama Islam dan tidak memeluk agama yang lain, orang tua saya fine-fine saja. Kita sekeluarga dulunya juga tidak begitu paham kalau harus sholat 5 waktu, memakai hijab, dan lain-lain.

Meskipun serba kekurangan dalam hal agama, tapi alhamdulillah kedua orang tua saya tetap menekankan bahwa yang benar tetap berada dalam koridor Islam. Tidak minum alkohol, tidak makan makanan yang haram, dan hal-hal yang prinsip lainnya tetap diajarkan. Tapi untuk masalah ibadah, kita sekeluarga awalnya tidak terlalu paham jadi dibebaskan tidak ada paksaan harus sholat dan lain-lain.

Untuk pendidikan agama, alhamdulillah orang tua saya menyediakan guru ngaji yang tiap minggu datang ke rumah untuk mengajarkan Al-Qur'an pada anak-anak. Saya pribadi tidak disekolahkan di sekolah Islam, karena orang tua saya termasuk tipe orang tua jaman dulu yang memiliki paham sekolah umum lebih bisa mengajarkan disiplin pada anak-anak, meskipun disana tidak ada pelajaran agama Islam.

Saya sendiri baru benar-benar mengenal agama pas kuliah. Kebetulan lingkungan kampus cukup religius yang saya lihat, alhamdulillah saya berkesempatan belajar agama dari teman-teman dan kegiatan pengajian di kampus. Hingga akhirnya saya bisa paham bahwa menutup aurat itu wajib, karena itu saya memutuskan untuk memakai hijab. Progress saya dan anggota keluarga yang lain agak berbeda, di waktu saya pertama kali memakai hijab dulu ayah saya bahkan bilang bahwa hijab itu tidak wajib, hehe. Ya begitulah, Memang agak susah awalnya menjelaskan pada anggota keluarga sendiri, persis seperti yang disampaikan di video di atas.

Terlebih saya termasuk anggota keluarga nomer dua termuda di rumah, jadi kata-kata saya seringkali tidak didengar dan dianggap angin lalu. :(  Sampai sekarang juga masih dianggap seperti anak kecil, pendapat saya bisa dibilang tidak begitu berpengaruh di rumah. Hehee.. Saya sih ga terlalu baper alias bawa perasaan kalau istilah anak jaman sekarang. Hihii, happy go lucky saja biar ga pusing. :D

Awalnya saya tidak pernah punya niatan untuk mengajak keluarga atau dakwah secara khusus ke anggota keluarga. Tapi pas melihat keluarga sendiri agak kurang, misalnya tidak sholat atau belum menutup aurat saya suka risih sendiri, otomatis tiba-tiba jadi bawel ngingetin tiap kali ada kesempatan. Bukan karena merasa lebih baik, tapi saya rasa semua orang seperti itu kodratnya. Kalau melihat ada yang tidak benar atau tidak sesuai menurut standard kita, pasti otomatis langsung berkomentar. Begitu yang terjadi dengan saya di awal-awal. Bawel banget, tiba-tiba jadi cerewet ngeliat ini itu.

Tentunya tidak otomatis langsung pada berubah pas saya ingatkan harus pakai kerudung untuk perempuan, atau harus sholat 5 waktu, sholat Jumat untuk laki-laki, dan lain sebagainya. Tidak jarang juga malah jadi marah, berantem, hanya karena tidak suka diingatkan. Atau cara saya yang kurang halus mengingatkannya. Saya malah jadi suka sedih sendiri kalau keluarga saya tidak melakukan apa yang saya harapkan, meskipun itu pada dasarnya adalah sesuatu yang baik. Atau wajib malah. Tapi saya baru mengerti akhir-akhir ini, kalau waktu itu saya hanya tidak sabaran dan ingin melihat perubahan secara instan. Ya jelas tidak mungkin tentunya.

Akhirnya lama-kelamaan saya menyerah juga, saya biarkan saja keluarga seperti apa adanya. Bukannya tidak peduli lagi, tapi saya pikir mungkin memang mereka belum mendapatkan hidayah dari Allah. Yang namanya hidayah tidak ada yang bisa memaksakan, itu adalah hak prerogatif dari Allah semata. Pada siapa Allah mau membukakan pintu hati untuk menerima ajaran agama adalah kehendak Allah semata. Saya hanya bisa mendoakan jika ada kesempatan semoga Allah memberikan hidayah-Nya juga pada keluarga saya.

Karena progress dalam urusan agama antara saya dan anggota keluarga yang lain tidak sama, saya jadinya lebih fokus untuk belajar agama sendiri dengan teman-teman atau lewat pengajian maupun artikel-artikel.

Entah bagaimana, suatu ketika di rumah waktu itu saya terinspirasi untuk menempelkan kertas cuplikan ayat Al-Qur'an di dinding rumah untuk mengingatkan ayah saya untuk sholat Jumat. Karena waktu itu saya kuliahnya di luar kota, jadi saya pikir saya ingatkan lewat tempelan kertas saja. Siapa tahu dibaca sekali-kali, lalu jadi ingat lama-kelamaan. Eh alhamdulillah, entah bagaimana tiba-tiba sesekali saya lihat ayah saya ikut Sholat Jumat juga. :D Tidak otomatis setelah saya tempel tulisannya terus besoknya langsung sholat, hehe, agak lama juga waktu itu. Saya ingat sampai kertasnya agak dekil di dinding pas pertama kali saya lihat ayah saya ikut Sholat Jumat.

Sebenarnya dulunya sebelum kuliah saya juga tidak mengerti soal kewajiban sholat 5 waktu. Ayah saya yang duluan mengerjakan sholat meski belum 5 waktu juga. Tapi dulu saya sering lihat sebelum mengantarkan anak-anak sekolah, pagi-pagi pasti ayah saya sholat dulu. Saya sampai sering ngomel-ngomel karena sholatnya lama jadi suka telat. Jahat banget sih kalau dipikir-pikir, kenapa dulu saya gitu ya. Hehe.. jadi malu sendiri.

Terus lanjut ke anggota keluarga yang lain. Karena sering melihat saya pakai kerudung dan jadinya terlihat lebih bagus, beberapa waktu kemudian entah bagaimana anggota keluarga saya yang lain satu-satu mulai mengenakan kerudung juga. Mungkin terinspirasi melihat gaya saya yang lumayan stylish jadi bikin yang lain penasaran ingin mencoba. Hehe.. kegeeran banget ya. Yang pasti alhamdulillah karena Allah memberikan hidayah jadi anggota keluarga yang lain sedikit demi sedikit mulai terbuka hatinya untuk menerima ajaran agama.

Nah untuk urusan sholat, itu memang susaaah banget. Apalagi baca Al-Qur'an. Itu paling sulit untuk mengajak orang agar mau ikutan sholat atau mengaji. Jadinya saya bisa dibilang hampir tidak pernah mengingatkan yang lain untuk sholat. Karena sensitif untuk masalah sholat, kalau disinggung dikit bisa jadi berantem. Ujung-ujungnya pasti dibilang merasa lebih baik, lebih sholeh, dan lain sebagainya. Jadi saya cari yang aman saja, biar tidak pada tersinggung juga jadi saya lebih memilih untuk sholat sendiri saja. Cuma pas sekeluarga lagi jalan-jalan bersama dalam satu kendaraan, ketika masuk waktu sholat saya usahakan untuk minta berhenti sebentar di Masjid atau Pom Bensin untuk melaksanakan sholat. Itu saja kadang-kadang suka berantem karena makan waktu dan merepotkan, tapi untuk urusan yang satu ini saya agak keras kepala dan kekeuh untuk minta waktu sebentar mengerjakan sholat. Kalau tidak dikasih, saya kadang-kadang suka bilang ditinggal saja saya tidak jadi ikutan pergi bersama. Saya lebih memilih mengerjakan sholat karena itu kewajiban dibanding pergi bersama keluarga. Akhirnya karena pada capek juga berantem, lama-lama yang lain jadi terbiasa dengan request spesial saya yang satu ini kalau lagi pergi bareng. Mau tidak mau yang lain toleransi untuk menyediakan waktu untuk mengerjakan sholat. Pilihan tempatnya antara Pom Bensin, Masjid, Supermarket, atau Mall.

Entah bagaimana, setelah agak lama waktu berlalu, saya melihat satu demi satu anggota keluarga saya ada yang sholat juga alhamdulillah.... :') Meski belum terlalu sempurna, tapi setidaknya ada keinginan sholat. Hehee... antara senang dan terharu. Karena keluarga saya asalnya bukan keluarga yang religius, kita tidak punya sosok yang benar-benar paham mengenai ajaran agama di dalam keluarga untuk bisa membimbing secara khusus. Jadi semuanya pada belajar masing-masing. Kita juga bukan tipe keluarga yang suka datang ke pengajian, jadi paling kita baca-baca dari buku panduan agama saja atau tanya-tanya ke teman atau saudara.

Satu-satunya harapan supaya bisa mengerti ajaran agama ya hanya hidayah semata dari Allah SWT. Alhamdulillah Allah berbaik hati membukakan pintu-pintu untuk bisa mengenal agama.

Oya baru-baru ini saya agak tertarik mengenai produk-produk halal. Sejak baca-baca dikit mengenai perihal halal dan haram, saya jadi lebih concern ketika mengkonsumsi atau menggunakan suatu produk. Awalnya keluarga saya melihat saya agak ekstrim, karena saya hanya mau makan makanan atau produk yang sudah bersertifikat halal. Saya dibilang berlebihan, terlalu strict, dan lain sebagainya. Tapi saya jelaskan tiap kali ada kesempatan, bahwa produk yang sudah bersertifikat halal itu sudah melalui proses pengecekan dan mungkin juga pengujian di laboratorium oleh para ahli di bidangnya (ahli pangan, ahli kimia, obat-obatan, dll), jadi lebih terjamin kehalalannya. Produk yang sudah bersertifikat halal lebih aman untuk dikonsumsi karena sudah dicek oleh para ahli. Bahkan saya pernah dengar kalau tidak salah, salah seorang ahli di bidang halal dari luar negeri mengatakan bahwa produk yang halal lebih sehat untuk dikonsumsi. Saya coba tekankan pengertian ini tiap kali menjelaskan ke keluarga saya. Awalnya pada risih dan kesal tentunya kenapa sampai makanan, sabun, odol, dll harus ada logo halal MUI-nya. Kalau ga ada logonya, saya lebih memilih tidak makan atau cari makanan yang lain. Tidak sekali dua kali saya dibilang ekstrim gara-gara hal ini, hehehe...  Tapi lama kelamaan keluarga saya mulai terbiasa, tiap kali habis belanja dari luar dan membawakan makanan pasti mereka meyakinkan saya biar ikut makan, "itu udah ada logo halal-nya kok." Hehe... :D

Ternyata segala sesuatu kalau dibiasakan bisa terbiasa juga. Bukan karena sulit, tapi karena tidak terbiasa terkadang kita menolak sesuatu yang baru meskipun itu baik dan benar. Karenanya dalam dakwah kita dianjurkan untuk sabar dan menunggu hingga saatnya Allah membukakan pintu hati dan hidayah-Nya untuk orang-orang yang kita kasihi.

Mungkin untuk lebih mudah dipahami dan lebih singkat, saya berikan poin-poin metode penyampaian dakwah pada keluarga kita sendiri yang sepertinya cukup efektif :

  • Konsisten. Ketika kita mengatakan sholat itu wajib, kita harus bisa menunjukkan konsistensi dalam mengerjakan sholat 5 waktu itu sendiri. Atau ketika kita mengatakan bahwa kita harus makan makanan yang halal, kita sebisa mungkin konsisten untuk makan atau mengkonsumsi produk yang ada logo halalnya saja. Sekali kita tidak konsisten, orang yang melihat akan mengira jika tidak dilakukan tidak apa-apa. Bahkan bisa dikira sunnah / tidak wajib.
  • Antusias dan bersemangat. Ketika mengerjakan sesuatu, usahakan kita terlihat antusias ketika mengerjakannya. Contoh ketika kita berusaha untuk menyampaikan bahwa hijab yang benar itu yang menutupi dada dan tidak menerawang, sebisa mungkin kita tunjukkan antusiasme kita bahwa hijab yang benar bisa juga terlihat bagus dan stylish. Tidak kuno atau terlihat terlalu ekstrim seperti persepsi yang sudah terbentuk di masyarakat. Ketika kita terlihat bersemangat dalam mengerjakan sesuatu, orang-orang akan penasaran dengan apa yang kita lakukan.
  • Logis dan ada manfaatnya. Misalnya ketika kita menyampaikan kenapa harus mengkonsumsi yang halal, kita harus bisa menjelaskan karena yang halal lebih sehat untuk badan kita dan sudah dicek oleh para ahli di bidangnya jadi lebih terjamin. Atau kenapa harus memakai hijab, tidak lain karena itu lebih baik bagi perempuan supaya tidak diganggu.
  • Happy go lucky. Jangan gunakan emosi ketika menyampaikan sesuatu, meskipun yang kita sampaikan adalah kebenaran tapi jika kita menyampaikannya dengan cara yang kurang enak di hati, maka apa yang kita sampaikan tidak akan pernah bisa diterima. Jadi sebisa mungkin gunakan cara yang baik dalam menyampaikan sesuatu, kalau tidak bisa diterima jangan marah. Kita sebisa mungkin tunjukkan sikap nothing to lose, kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Secara psikologi, ketika melihat ada orang yang nothing to lose, kita justru akan semakin penasaran.
  • Iklan. Gunakan media untuk memasarkan dakwah kita. Contoh seperti cerita saya di atas ketika mengingatkan ayah saya untuk Sholat Jumat, saya menggunakan media poster di dinding yang saya buat sendiri dari kertas A4 yang tulisannya saya print pakai printer di rumah. Usahakan tulisannya jangan terkesan mengerikan seperti kalau tidak sholat akan disiksa di akhirat nanti, walaupun memang benar seperti itu kenyataannya tapi kalau saya sendiri melihat ada tulisan yang seperti itu di rumah pasti diam-diam akan saya copot tulisannya. Karena jujur saya sendiri seram baca yang seperti itu. Lebih baik gunakan bahasa yang persuasif / mengajak dan tidak terkesan memaksa. Atau yang netral pakai ayat Al-Qur'an saja, lebih jelas dan terpercaya sumbernya.
  • Baca Al-Qur'an. Pernah dengar kisah Umar bin Khattab yang tersentuh hatinya ketika mendengar bacaan Al-Qur'an hingga akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam? Saya sendiri ketika mendengar bacaan Al-Qur'an dilantunkan dari speaker masjid seringkali suka terharu sendiri, begitupula ketika mendengar lantunan dzikir tidak jarang tiba-tiba jadi berkaca-kaca padahal tadinya tidak kenapa-kenapa. Karena bacaan Al-Qur'an adalah kalam Allah, karena itu ia mampu menyentuh kalbu. Rutinkan membaca Al-Qur'an di rumah, mudah-mudahan jika ada yang mendengar akan tersentuh pula hatinya. Insyaa Allah.
  • Sabar menunggu. Setelah semua usaha kita coba, saatnya kita sabar, menunggu, dan berdoa hingga Allah berikan hidayah-Nya.


Ini hanya sedikit tips-tips yang mungkin bermanfaat dan bisa dicoba ketka menyampaikan dakwah pada keluarga. Mudah-muudahan jika Allah berkehendak, Allah bukakan pintu hati anggota keluarga kita atau orang-orang terdekat kita pada ajaran agama. Insyaa Allah, aamiin.

Semangaaat! :)


Posted by Mariana at 2:58 AM 0 comments
Labels: family matters, hikmah, inspirasi, review, tausyiah

20 December 2015

Kembali Pada Ketauhidan

Baru-baru ini saya baru selesai membaca novelnya Habiburrahman El Shirazy yang berjudul "Api Tauhid". Cerita novelnya bagus, saya selalu suka karya-karya dari Kang Abik (nama panggilan si penulis). Tiap ke toko buku, penulis yang kerap kali saya cari bukunya salah satunya adalah beliau. Novel-novelnya selalu dipenuhi dengan wawasan mengenai Islam, dibalut dengan cerita yang ringan namun tetap mengandung nilai-nilai moral sesuai dengan ajaran syariat.

Yang saya suka, cerita-cerita yang disuguhkan kerap kali memiliki latar belakang negara asing dengan detail pemaparan kota, nuansa, budaya, dan penduduk yang ada disana. Tidak jarang terkadang disisipkan bahasa asing dari negara tersebut dalam percakapan di novelnya. Ceritanya tidak hanya menjelaskan hal-hal yang menarik dari negara tersebut, tapi ada makna dan keterikatannya dengan sejarah Islam dan pengaruhnya hingga kini.

Di novel "Bumi Cinta", ceritanya mengambil latar negara Rusia. Lalu di "Ayat-ayat Cinta" mengambil latar negara Mesir. Dan novel yang baru-baru ini saya baca, yaitu "Api Tauhid", mengambil negara Turki sebagai latarnya. Tulisan-tulisan Kang Abik menunjukkan betapa luasnya pengetahuan beliau, mulai dari sejarah, fikih, bahasa, hingga pemahaman mengenai keadaan yang sedang terjadi pada umat di jaman sekarang ini.

Secara garis besar, "Api Tauhid" menjelaskan bahwa permasalahan utama di jaman modern ini tidak lain adalah kita semakin jauh dari agama. Karena itu agar umat Islam keluar dari permasalahan, kita harus kembali kepada ketauhidan, serta menerapkan syariat agama. Dan inti dari segala solusi yang harus kita pegang teguh hingga akhir jaman adalah Al-Qur'an.

Saya ingin mengutip beberapa tulisan di novel "Api Tauhid" yang menurut saya benar-benar menyentuh permasalahan yang sedang umat ini hadapi.


.....Selain mendung hitam yang menggelayuti pikirannya, Kyai Arselan tertuju pada kalimat-kalimat menyentuh dari ulama besar Turki dalam karyanya Al Lama'at yang baru ia baca tadi sore menjelang Maghrib. Itu adalah kitab yang ia beli saat umrah dan mampir di Istanbul, beberapa waktu yang lalu.

Ulama itu adalah Badiuzzaman Said Nursi. Dalam kitabnya Al Lama'at, Badiuzzaman menulis bahwa umat ini harus banyak melantunkan doa Nabi Yunus 'alaihissalam, tatkala berada dalam kegelapan perut ikan.

"Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin."

Dengan penuh keikhlasan, kerendahan hati, pengakuan akan segala dosa, pengakuan akan segala kelemahan, rasa pasrah yang total kepada Allah, Nabi Yunus tiada henti melantunkan doa itu. Menangis kepada Allah dengan doa itu. Mengharu biru kepada Allah dengan doa itu.

"Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin."

Maka, Allah mendengar doa Nabi Yunus, dan membebaskan Nabi Yunus dari perut ikan.

Kyai Arselan masih mengingat sentuhan Badiuzzaman Said Nursi yang mengingatkan, bukankah fitnah yang menyergap umat ini lebih gulita dan lebih pekat dari kegelapan berada dalam perut ikan Paus? Bukankah keadaan umat ini sekarang lebih mengkhawatirkan daripada keadaan Nabi Yunus dalam perut ikan?

Umat yang lemah. Iman yang tercampakkan. Fitnah menyambar siang malam. Serigala-serigala yang kelaparan siap mencabik-cabik. Kebodohan merajalela. Kemaksiatan menyusup di mana-mana menjadi propaganda yang menggiurkan. Umat dilanda kecemasan dan ketakutan tiada ujungnya. Mereka seperti berjalan dalam lorong kegelapan yang sangat panjang dan tidak tahu mana jalan keluar menuju cahaya. Sebagian merasa tahu ke mana melangkah, namun setelah menghabiskan banyak waktu tetap saja berada dalam lorong yang gelap. Kitab suci dan sunnah Nabi seumpama lentera yang mereka pegang tapi tidak dinyalakan. Seumpama pintu keluar yang mereka berada di depannya namun tidak mereka buka. Akibatnya mereka terus berada dalam kegelapan yang pekat dan melelahkan.

Inilah saatnya menanggalkan segala ego, meletakkan diri sepenuhnya sebagai hamba Allah yang memerlukan pertolongan Allah. Saatnya doa dan tasbih Nabi Yunus dilantunkan, diucapkan berulang-ulang, dihayati, dimasukkan ke dalam alirah darah, hingga menjadi cahaya dalam hati dan pikiran. Lalu menjadi cahaya yang membuka cahaya Allah.

"Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin."


------------------------


Badiuzzaman Said Nursi menghadiri acara itu. Dia datang dan dielu-elukan hadirin. Said Nursi menaiki mimbar dengan busana khas Khurdi yang masyhur. Penampilannya gagah dan heroik dengan belati terselip di pinggangnya. Said Nursi menyampaikan amanat yang menyihir lautan manusia.

"Sejak zaman azali, kita telah masuk ke dalam perhimpunan umat Muhammad Saw. Tauhid merupakan aspek kesatuan dan persatuan di antara kita. Sumpah dan janji kita berupa iman.

Selama kita bertauhid dan bersatu, maka setiap mukmin harus menegakkan kalimat Allah. Sarana terbesar untuk menegakkan kalimat Allah di masa sekarang ini adalah kemajuan materiil.

Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita akan berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan yang tak lain dan tak bukan adalah musuh utama dalam menegakkan kalimat Allah.


------------------------


.....Aku telah mempelajari sejumlah pelajaran di sekolah kehidupan sosial manusia. Aku mendapati, bahwa saat ini dan di tempat ini ada enam penyakit yang membuat kita terjebak di abad pertengahan, di saat orang-orang asing, khususnya Eropa, terbang menuju masa depan.

Penyakit tersebut adalah:

Pertama, mewabahnya keputusasaan, yang faktor pemicunya ada dalam diri kita sendiri. Kedua, matinya kejujuran dalam kehidupan sosial politik. Ketiga, suka kepada permusuhan. Empat, mengabaikan tali cahaya yang menyatukan sesama orang mukmin. Kelima, penindasan yang menyebar seumpama penyakit menular. Kelima, perhatian yang hanya tertuju pada kepentingan pribadi."

Lalu Said Nursi menguraikan panjang lebar cara penyembuhannya yang sumber utamanya adalah obat mujarab dari "apotek Al-Qur'an." Penyakit putus asa bisa disembuhkan dengan menghadirkan harapan, harapan akan rahmat Allah. "Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Az Zumar: 53).


------------------------


"Secara umum, Eskişehir ini kota yang kecil yang cantik. Kota ini terletak di tepi Sungai Porsuk yang indah. Dan Eskişehir ini merupakan salah satu kota industri otomotif terkemuka di Turki. Dan bagi Thullabun Nur, kota ini juga yang tidak akan mereka lupakan. Karena jejak keteladanan Badiuzzaman Said Nursi juga ada di sini," Bilal ikut bicara.

"Saya jadi ingat Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari, seorang ulama besar Indonesia. Yang tetap mampu menggerakan para pemuda dan para santri untuk melawan kolonial Jepang, meskipun beliau di penjara," Fahmi mengambil gelas tehnya.

"Begitulah ulama sejati. Kedekatan mereka dengan Allah membuat suara mereka tidak bisa dihalangi apa pun juga," sahut Hamza.

"Saya teringat salah satu perkataan Ustadz Said Nursi, 'Siapa yang mengenal dan menaati Allah, maka ia akan bahagia walaupun berada di dalam penjara yang gelap gulita. Dan siapa yang lalai dan melupakan Allah, ia akan sengsara walaupun berada di istana yang megah mempesona," lirih Emel.

Mendengar petikan kalimat itu, semua mengucapkan tasbih.


------------------------


Posted by Mariana at 11:51 PM 0 comments
Labels: hikmah, review, tausyiah

17 December 2015

Favorite Authors

Recently my friend just tagged me in facebook to write 15 authors of my favorite. It's quite fun because these days people in this generation started to forget to read books. So I think it's pretty smart to ask people to write in their status whose their favorite authors are to remind us again there are many authors have written so many good books to read out there. Books are the window to open our mind to see the world.

So here's the list of mine......

My favourite authors :
1. Dan Brown (suka bgt Inferno sama Da Vinci Code-nya)
2. Habiburrahman El Shirazi (bisa bgt ngegabungin novel roman, sejarah, & fikih)
3. Hanum Salsabila Rais (abis baca bukunya lgsg pengen jalan2)
4. Ika Natassa (cerita2nya cosmopolitan bgt, fresh)
5. Erwandi Tarmizi (penulis buku fikih muammalah, jarang yg ahli di bidang ini)
6. Agus Mustofa (bukunya mostly about science and religion)
7. Paulo Coelho (dalem banget tulisannya, alchemist still the best)
8. Sophie Kinsella (novel girly buat yg suka shopping, haha)
9. Pramoedya Ananta Toer (what a legend!)
10. J.K. Rowling (ga pernah baca bukunya, tp suka bgt nonton harry potter)
11. Dewi Lestari (satu2nya yg pernah dibaca baru Madre, tp lgsg suka gaya ceritanya, jd pengen baca semua novelnya dr supernova, petir, rectoverso, dll)
12. Hermawan Kartajaya (Marketing in Venus is my favorite)
13. John C Maxwell (The Right To Lead is a must-read piece)
14. Raditya Dika (buku2nya bs jd teman yg menghibur di saat galau, hahaha)
15. Felix Siauw (bagus bgt buku2 dakwahnya karena disertai grafis2 yg menarik, terutama buku "Yuk Berhijab!" inspiring bgt)

And of course on top of everything, my one and only favorite book all the time, written by The Greatest Author in the entire universe, which I'll keep reading over and over again, insyaa Allah, will always be Al-Qur'an.

:)

So what's yours?
Posted by Mariana at 1:31 AM 0 comments
Labels: inspirasi, kata-kata, review, selingan, wonderful

Hangugo (한국어)

Long long time ago, my English teacher told us in a classroom that if we could talk in English in our dream (while we're sleeping) it means that we already mastered the English language. Then after a couple years since my teacher told us that, finally I got the dream! Hahaha, I was so happy believing that I have mastered my English language.

Of course it's not true, hahaa, I still lack in conversation and sometimes got mixed up in using tenses up to now. Hikss.... But one thing I'm certain of, that dream showed that I already into the language and I got the confidence in using it anytime. (even with lots of mistake) *big grin*

So what's the relation with Hangugo? What is Hangugo? Hangugo (한국어) means Korean Language.

As you know, these days I've been very keen about Hangul (Korean Alphabets). If there's a blank paper, I feel like always want to write Hangul. Maybe due to this new habit, yesterday night I got a very absurd dream. I dreamt speaking in Korean languange. :D I remember I said the words :
- 'saram' (사람) means someone
- 'saramdeuri' (사람들이) means people
- and 'banmal' (반말) means informal speech or casual speech


Yayy, does it mean I have really mastered Korean? Hahaha, hopefully... someday... *cross finger*

Here are a couple of my hangul handwriting, my small notebook is now full of my hangul writings, just like an elementary student's assignment book. Very messy, but I kinda like it. :D

writing quotes in Hangul

괜찮아요 (it's okay) & 화이팅! (fighting)

할말이 없어요 (I don't have anything to say)

봤어요 (I saw it) & 이따봐요 (see you later)

착한

한국 나이로 (Korean Age) & 미국 나이로 (American Age)

Native Korean Numbers & Sino Korean Numbers

너는 아직도 내가 알고있는 같은 사람이야
(you are still the same person that I knew)

사람이 꽃보다 아름다워
(a person is more beautiful than flower)

가족 회원들
(family members)

Posted by Mariana at 12:53 AM 0 comments
Labels: quotes, review, selingan, wonderful

11 November 2015

Just Like A Teenager

Can't help to share this lovely scene from a movie I just watched. So cute :"D




I really like how honest Ji Ahn (the teenage boy) told Song Yi (the teenage girl) that he doesn't have a lot of  money to spend to have a fancy date, but he has some ideas how they can still have fun together even with a little money they have.

In the previous scenes, Song Yi already confessed first that she likes him. Ji Ahn likes her too, but he rejected to date her. He told her he couldn't be more than a friend. But actually it was a lie, he didn't want to go out with her due to his financial state. He didn't want her to suffer dating a guy like him. Moreover Song Yi's economy state is not even better than him. So he thought that it would be better if she meets someone who can take care of her.

Then it took awhile for Ji Ahn to gather his courage, finally, to tell her the reason why. If she's okay to date even it's not a luxurious one, then he would like to go out with her. It's so sweet isn't it, the way Ji Ahn asked her to go out with him. :") Ji Ahn is so cuuutee...... Can't help to adore him, I really like his deep voice. :P Oh no, I feel like a noona fans already. (noona = older sister in Korean)

Actually there's a boy who likes Song Yi too, his name is Yoon Tae Oh. They were friends since a kid. His condition is way better than Ji Ahn. He's rich, handsome, witty, and really care about Song Yi. If she's in trouble, Tae Oh will help her as much as he could. He's always there for her in most of her difficult times. But Song Yi doesn't have any feeling to Tae Oh. So Tae Oh doesn't have any plan as well to date her because he's still want to have fun in his youthful age.

I know dating is not allowed in my religion, unless it's a date after we're married. But I'm sure in our youthful age, we were once ever had a crush on someone, a foolish love, or maybe a first love like in this movie. However, I only want to bring out the good meaning from the scene above. I see this scene somehow tells us the wisdom about happiness. Just like a teenage boy who plainly asks someone he likes to have fun together even only with a little money they have.

By the way, I'm not suggesting teenagers to have a date like this, no no no... Don't get it wrong. :P If you're still a teenager, the best way to have fun is to achieve good grades in school. Don't go out for a date, it's very dangerous. It could ruin your future if you don't have any self-restraint then lose control. It's much better to work hard while you're young, achieve good grades, and get a nice hobby. When you grow up, you can enjoy the result of the hard works you earned while you're still young, then you can have fun as much as you like. ;)

Back to the movie. Actually for a woman, it's better to chose a man like Yoon Tae Oh. Someone who has the ability to take care, and someone who loves her more. That way at least she would not be wasted. If she chose someone like Ji Ahn, she needs to be ready to live a long way of struggling life. There's nothing wrong of living a struggling life, we're all struggling in any way. Many people can still be happy even with the very least of what they have. But if only we're given a choice to choose between the two, choose someone who loves us and has the ability to take care. That's one wisdom I used to heard from married people. Anyway Tae Oh is not bad at all, he's very cute. Hahahaa...

I'm aware as well that love cannot be forced. There are times when we like someone like Ji Ahn in reality. Though he's not perfect, doesn't have much money, still struggling, but out of nowhere we like him. Maybe that's what it called 'chemistry'. It connects people into one big scenario called destiny. It works just like a magnet. But I wouldn't mind if my magnet appears like Ji Ahn. Who would? :D

Anyway, here's the soundtrack from the movie. I keep listening it these days, sounds good. It makes me feel young again. Can you guess which one is Yoon Tae Oh from this video clip?




Posted by Mariana at 11:27 PM 0 comments
Labels: korean drama, relationship, review, selingan, wonderful

14 October 2015

Hangul

Recently I'm really fond of Hangul letters. Hangul is Korean alphabet that usually used to write Korean words. I learnt Korean language for the first time when I was in college. And since then I became fond in anything about Korea. :D Yeah as you can see, mostly what I wrote in this blog has something to do with Korean dramas. Hahaha...

I learnt Korean language from a Korean teacher directly. He's a very kind person, he really loves Indonesia so that's why he stayed in Indonesia for a couple of years with his family. Then during his busyness, he spared one or two days a week to teach Korean language voluntarily to college students who really keen in learning Korean. So me and my friends every week visited his house to study together. It's very fun, sometimes his wife also helped him to teach us a couple of words. And sometimes their cute little son played with us as we learnt some phrases. :D There was a time also when we had some guests from Korean college students, we played together like kindergarten kids while learning Korean language. We were singing together and playing some games 'till evening.

I never had any language lesson as fun as that time ever in my life. So the good feeling about Korea still lingering in my mind up to now.

Anyway, here are a couple of my Hangul handwriting. I used to practice by writing some music lyrics or some nice quotes. It's quite fun doing it since I really like it. :)


엔젤 아이즈 송
(ost Angel Eyes)

7급 공무원 송
(ost Seventh Grade Civil Servant)







"친절함은 귀머거리라도 들을 수 있고 소경도 볼 수 있는 언어이다."

"Kindness is a language which the deaf can hear and the blind can see."

- Mark Twain


Posted by Mariana at 1:32 AM 0 comments
Labels: quotes, review, selingan, wonderful

06 October 2015

While There Is Life, There Is Hope


If I could live once again in the future, I would want to be a doctor. :)

Since I was a kid, I always like the hospital environment. I always hope I could get hospitalized so I could get all the hospital services that I had dreamed of. But it never got realized since I never got any serious illness or injury at that time that needed to be hospitalized. Though I really like to be in a hospital, but I didn't have enough confidence to be a doctor because my science grade was not so good. I always got low grades for all science subjects, such as Biology, Chemicals, Physics, and even Mathematics. I couldn't believe it as well because my father was an Alchemist and my mother was a Pharmacist. Both of my parents were science people, but I don't inherit any of their brains. =/ Somehow I turned out to be more talented in social, arts, and language.

Though I never got hospitalized when I was a kid, but I do have some memories being treated in a hospital. The worst case I got into a hospital, was when I had a bad injury on my head that I got from fighting with my younger brother. So that time we had a big fight like cats and dogs, me and my brother were pushing a big chair to each other. It was a such a big chair for elementary kids like us to play around, at the top of the chair there was a sharp carving made of wood. So we're pushing the chair to each other because we're both didn't want to lose the fight, but then I lost my grip and my brother pushed it so hard so the chair hit me from in front, the chair fell down onto me and the sharp carving stabbed right into my front head. I didn't cry when it happened, thankfully I was still conscious and the carving didn't get deeper, so right away with my reflex I pulled it out and saw something coming out. Sounds scary isn't it? It's even scarier when I saw the hole on my head in the mirror, that's when I cried out loud. Then my mom brought me to the hospital, and I got stitched painfully since the doctor didn't put me to sleep. I remember there were a few people holding my hands and legs while the doctor was stitching me, because I was struggling a lot and crying out loud. But after that we went back home since I didn't have to stay in hospital.

A few injuries also happened when I grew up as a teenager, but none of it made me even stay a night in a hospital. I've ever fainted twice, one when I was attending a school ceremony and second one when I was having a small meeting in front of the class room. The first one is quite memorable because my face hit the school field's ground, I could hear people talking to save me a few moments after I collapsed and laid on the ground. Then I could feel a few people were carrying me together to the treatment room. I didn't injure that much, I only got some bruises on my face, hands, and legs. The worst part was my lips, it was bleeding a bit and got swollen later on. But I received people's care and attention that made me feel the pain less.

Then in high school, I've ever sicked once when I got too exhausted due to the tight training schedule of my marching band activity as we're about to enter a championship. I got a typhoid illness and made me have to rest for 2 to 3 weeks. But amazingly it didn't make me stay in a hospital as I was expected for so long. My dad treated me at house, he made some soups that could help the healing process and gave me the medicine day and night. My dad was quite good in treating me whenever I was sick. I didn't know where he learnt the theory on how to treat illness, but his treatments work all the time. I really like his homemade porridge, it tasted good I could even finish one full pot. :)

Anyway, lately I've been following one nice serial movies called D-Day. This movie told about a tragedy of earthquake that caused many people injured in a city. This disaster had caused the medical staffs in a hospital to struggle saving all the victims who got injured. Among those medical personnel, there's one doctor who would take any risks to save the victims no matter what it takes. Unlike other doctors who were so cautious to take the responsibility, Lee Hae Sung was there to carry all the load in every critical case in order to save the patient's life.


I got touched by one scene above when the doctor told his colleague why he saved the patient whereas it was clearly shown that the patient only got a very small chance to live because his injury was terrible and the hospital was run out of medical supplies and they couldn't do any blood transfusion since there's no stock of blood. Then the doctor answered that he would do anything even there's only 1% chance of survival because he's a doctor.

This scene reminds me again of one good doctor who treated me when I was in a critical moment when I had food poisoned about 3 years ago. There's a doctor who visited me at night after I got hospitalized. It's my first time staying in a hospital, finally my wish to get hospitalized came true. But I was all alone since I came by myself without any family when I lived abroad, and I was in an emergency situation to tell my friends about me getting sick at that moment. So this kind doctor visited me while I was sleeping, then I got half-awake a bit after hearing the doctor and the nurse were talking. I heard the nurse said something like "this patient was all alone, no family, the condition was critical", and so on explaining the situations to the doctor. While the nurse explaining, I was still shivering in a cold, I could feel my entire body was a bit shaking due to the cold. Then I remember suddenly the doctor held my right hand for a moment to calm me then rubbed it like... you know when someone pity on you or feel bad on you then they show their caring and sympathy by holding your hand. Not just holding but actually giving their sincere care. I didn't see the doctor's face since I was half-conscious, but I felt all of the caring through the warm hand which holding me that night.

I wish the doctor would be someone like in the movie above, then I definitely would be his number one fan. :)

It was Alexandra Hospital the place where I got hospitalized for the first time in my life. The place where I met the doctor who made me feel cared as a human. All the medical personnel who treated me in that hospital were so nice. They're warm and caring just like a family. There was a kind doctor as well who visited me after I got a little bit better, she talked to me nicely and smiled to me while reminding me not to forget to drink a lot since I lost many fluids. I didn't remember there was someone who has spoken as nice as that in the country since I lived there, and also the nurses treated me so well and never even once being harsh like what we've often seen in the movies. I remember there's a nurse who kept helping me going to the bathroom since I have to carry all the fluids and the medical equipment. If I felt hurt whenever I had to go to the bathroom, the nurse would encouraged me patiently,"hey don't cry, it's okay...".

image source : http://brightsparks.com.sg/profile/jhs/alexandraHospital.php

I felt thankful while being treated there, it's the first time I feel being taken care of by many people. My friends also visited me while I was there, they're all very kind sparing their time in their busy work life. There's also a friend who stayed all night for me even though I told her to go home since she has to work. I felt really touched by their caring somehow. If I get a chance I will pay their kindness one day. :)

My mom and my auntie also visited me once, they flew right away after hearing the news that I got sicked. I kinda miss my auntie, she was very nice and kind. But unfortunately she already passed away, just a few months after my father's funeral. I feel deeply saddened by her leaving. When I was a kid, I also have a very kind auntie who taught me some handmade crafts. I learned how to paint a shirt and canvas bag, make a miniature from gypsum, and how to make some crafts from paper. She would like to teach me how to bake a Brownies as well, sometimes she told me some stories about her hometown on how nice it was. I always remember the time when I was about to go to a party with my friends, she was there smiling at me and said "have fun!" But sadly one day she got a terminal cancer, I visited her in a hospital with my dad. She looked so pale and weak. I asked her whether it was hurt, then she smiled weakly and said yes it was hurt but it's okay. I still remember it until now how she smiled at me who was still a teenager, not even an adult, but she answered me nicely even though she was sicked. Unfortunately not long after that, she passed away. We all felt deeply saddened by her leaving. Why some nice and kind people I've known left so fast and leave their memories with us? No matter how hard to let them go, I feel very grateful that I could known some nice and kind people like them in my life.

Anyway about a year ago, my mother just got a surgery. It was the first time in my life waiting for someone in a hospital. It felt very different with the feeling when I got hospitalized. When you were there to look up for someone you know who got treated, it felt very uneasy. I couldn't sleep well while waiting there. Right on the day when the surgery held, we're all felt anxious while waiting in front of the operation room. I felt like, "oh so this is how it feels waiting for someone you know getting a surgery". While we were waiting, there was another family as well who waited for their family member in another operation room. I saw their family member once before he's taken into the operation room. I coincidentally saw him in front of the elevator when I was taking a break. He was laying on a bed with eyes weakly open but the gaze was blank. He's not moving at all, only staring somewhere blankly. He got a priority to board the elevator first, along with the medical personnel who accompanied him.

Then after he went upstairs, I boarded the elevator as well going to the same floor as where he would have the surgery. I didn't know before that he was an emergency patient because it didn't appear like it was critical since his appearance was fine and looked so calm for a patient who would get a surgery. Unlike my mother, even before entering the operation room she was so nervous and couldn't calm at all. I just knew later on then what happened to the patient I met in front of the elevator. A little while after we waited, there's a rushing of people coming in and out from the operation room where the patient was taken. The family member who waited there also looked even more anxious than before. The patient's operation room was located right in front of the waiting room, so we could see slightly the activity inside there. Even without explanation, people could tell that the doctors and nurses were struggling there. This panics situation made us feel uneasy as well, because my mother was still having her surgery. Then suddenly after awhile, someone came and talked to the patient's family member. It was silent for a moment and all we could hear was the voice of that person who talked to the family member, but I didn't hear clearly what he said. Then after he talked, suddenly the family members shouted and cried out loud.

Then later on we just knew that the patient whom I met in front of the elevator couldn't make it, he passed away in the operation room. I had no idea at all that I just saw someone who's dying. I couldn't believe it that someone I just met with eyes clearly open and awake, suddenly died in a few minutes later. If I remember it again, I still can't believe it. That day I just learned, so that's how human's life is. It could gone just in a minute.

My mother's surgery went well alhamdulillah, her surgery finished just a few moment later. She has recovered and getting better up to now. While I was waiting for my mother in a hospital after the surgery, I spent some time to look around the hospital building. It's a nice hospital, I like the staff's cafeteria that located down stair. I used to have breakfast there, I loved to hear the medical staffs talking about medical things while drinking my coffee. The coffee served there was fabulous, they would give one medium size pot so we can refill it by our self. Maybe because the staffs there need to stay awake while doing their job, so they would give not only one cup but one pot of coffee. Hehehe.

Coffee Latte ~ or we call it here as “Kopi Susu”
The table cloth underneath really reminds me of my unforgettable school uniform

I see that some people finding it hard to stay around in a hospital. Some are worry to check up their illness, some others are unwilling to see their loved ones getting through the pain, many others are even having it difficult dealing with the medical bills, and some are having a hard time to see their family's gone. But on the other side no matter how hard it is, I can feel the hopes that people keep holding inside, the expectations, the prayers, the willingness to stay alive. This is why I really like to stay around in a hospital, to see people's hopes and their relentless struggle for a life.

Anyone who has one reason to live, he can endure almost all the things.

― Unknown

"However bad life may seem, there is always something you can do, and succeed at. While there's life, there is hope.” 

― Stephen Hawking


Posted by Mariana at 2:29 PM 0 comments
Labels: quotes, review, wonderful

18 August 2015

Beach or Mountain?

Finally the korean drama I've been following these days has reached its final episode. I have posted before the short synopsis here. As expected, the story ended exactly as what I guessed from the first. They're finally getting married and live happily ever after. Yeay!! xD

Don't laugh, haha I know it's so cheesy. But I can't help to like it. x'D Especially the scenes when Choi Won proposed Ha Na. I like the way Choi Won asked Ha Na to get married, his words were so relax and free from any burden that used to be associated with marriage. It's not full of excessive promises nor too much poetic words which giving us headache when hearing it, but rather he's bringing it nicely by asking her to have fun and play with him forever.



This scene makes me remember a psychological test to see whether we're being serious when we're in relationship or not. So one day one of my friend tested me, I know he's trying to figure out what kind of girl I am, hahaha, but I didn't tell him that I know about the meaning of the test. So he asked me, if I were given a choice to choose between mountains and beaches which one that I prefer the most. Then I answered, I like beaches more. Then he got shocked by my answer, hahaa.... Then I explained to him, actually in reality I went to the mountains more frequent than I went to the beaches. I've hiked Papandayan mountain, having a trip to Bromo, Ijen Crater, Dieng Plateau, Ngarai Sianok, and a few more places above the sea level. While I only went to the beaches a few times. It's such a rare chance for me to explore the beauty of seashore, sandy beaches, and the blue water of the sea. So that's why if I have a chance, I would like to explore beaches more and enjoy the warm day with ice coconut drinks. :D

Oh such a paradise, ohohoo.... But actually, in that test if we choose beaches over the mountains, it means that we are a type of person who's not serious in a relationship. Otherwise, if we choose mountains, meaning we're ready to settle down.

Ridiculous isn't it? Hahaha.. :D

These days I've been posting about the topic of love & relationship, but please don't call me pathetic. :p  Actually I'm not in a rush to settle down nor jealous with people who have finally found the one. But I can't deny that I envy it, hahaa... *what's the bloody hell different* 

Anyway I've been thinking these days, I think it's fun to have a foreign spouse whose language is different from me. So I can practice everyday to talk differently, since I'm a bit bored and sick these days with my own country. Ooh my dear, my country is getting worse day by day. The currency rates is terrible compare to dollar, and now we're getting out of stock for beef. The butchers have stop selling beef everywhere, then the fuel price still high, fiuuhh so many things to concern. I've been thinking in moving to UK, South Korea, Singapore or any place that more stable to live in and to have fun of course. Who knows I may find the one there. *I wish* ;P

By the way, a few days ago I just attended my cousin's wedding. And it's very nice to meet other family members whom I haven't seen for a very long time. And the excited part was for the first time I got a proper make up done by a make up artist. Actually it's not the first time, I've got two times getting a make up by a make up artist when I was attended a wedding party as well, but this time is the nicest one that properly done. I really like the result. :)

Do you know what I like the most from wedding party? Beside the nice foods and drinks, I can see people wearing nice clothes. Women wear beautiful dresses and men wear nice suits, people look more decent in nice clothes. But I don't like the after effect when the euphoria ended. Suddenly you feel empty after a bunch of excitements. Just like when we hike a mountain, we'll get too much excitements when we finally reach the peak, but when we continue again the journey the excitements suddenly gone.

That's why I like beaches more than mountains. I like the atmosphere when we go to the beach, people are more relax and free of worries. People tend to enjoy the present time rather than worrying about the future or thinking about the past. To me, I want to have that kind of happiness which allowed me to just enjoy the present moment. So I can be more grateful and useful for others. La dolce de la vita. 


Posted by Mariana at 4:08 AM 0 comments
Labels: cuap-cuap, relationship, review, selingan

13 August 2015

Opposite Best Friend

Since last week, I got a very bad cough. And yesterday it kept me awake all night, I couldn't sleep well due to the cough. So I decided to wake up and do something else in the middle of the night.

When I woke up, I remembered I was curious about something, not so important but I kinda bit interested to find out. Recently I've been following another Korean romantic drama, and I really like the story and the actor who played it. The film brought me back to the times in my younger age when I had some romantic moments that made my heart fluttering and my stomach filled with a bunch of butterflies. The feeling when we're in love kinda thing that I had again when I was watching "The Time That I Loved You".


The story is about two best friends, a man and a woman, who have been together in a good friendship for 17 years but not yet realized nor admitted they have feelings for each other. It's kinda cheesy story, I know... ;D that over and over reproduced in a movie. But somehow watching it again doesn't feel that bad, it's quite nice to watch. Since it's a very light topic which people often easily find it as well in real life.

Actually, I'm one of a few who find it hard to believe that men and woman can be best friends. One of them must have a feeling for the other, or even both of them could have feelings for each other. How can a man and a woman just having a casual relationship without getting attracted for so long? Though I know maybe out there it could be possible, but I won't naively believe it since I never have a male best friend. Hahaa....

Back to the drama, when I really like the character in any movie that I watched, I will start googling about the real actor who played it. I want to know further how is the real character of the actor, is he really as charming as his character in the drama? Is he as nice and as handsome as it seems on screen? What kind of person he is actually? So from this I would like to decide whether I'm going to admire him further or just leave it be in the movie only. Hahaa, don't mock me for this.

So my curiosity ended up after I watched "Strong Heart" variety shows, episode 125 and 126 where the real actor, Lee Jin Wook, who played the drama showed his real character. I couldn't stop laughing all night when I watched this two episodes, it's really funny and silly to hear about the actor's life stories.



Strong Heart Ep.125


Strong Heart Ep.126


From this variety shows, rather than his real love stories it's more interested to hear about his friendship that has been occurred for 10 years with his best friend which is also an actor, Kim Ji Seok. Both of them are admirable and handsome, I really envy their friendship that could lasts for years and still close until now. They said they did everything together from shopping, travelling, eating, enlisting military, sharing schedule, even living together. People in the variety shows even misunderstood their close friendship, they thought both of them were gay, hahahaa.... But it's not true, they clarified it in the end. Lee Jin Wook said "I think aside from kissing we did everything" x'D *LOL*


Lee Jin Wook and Kim Ji Seok

Shopping together

From what I saw, they have opposite personality. Jin Wook oppa is more calm, stiff, persuasive, and serious. While Ji Seok oppa is wittier, funny, talkative, easy going, and cheerful. This might be an advantage for both of them, so they can complete each other as best friends. Oh how nice isn't it to have someone you can share everything with in your daily life. I envy you both oppa! :D

Okay, it's getting very late and I'm so sleepy. Time to sleep.... *yawn*

Last but not least, let me share this two soundtracks below from the drama. I really like it. It's very nice to hear, it brings back the good memories again. Especially when we're in love... :)


Kyuhyun (Super Junior) - The Time We Loved (우리가 사랑한 시간) 


Suzy (Miss A) - Why Am I Like This (왜 이럴까)

Posted by Mariana at 3:33 AM 0 comments
Labels: cerita-cerita, korean drama, review, selingan

05 September 2014

Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah


لاَ هَوْلَ وَلاَ قُوَّتَ اِلاَّبِاللّهِ
Laa haula wa laa quwwata illa billaah
Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah SWT

Sekitar dua tahun yg lalu ayah saya berpulang ke rahmatullah, saat-saat tersebut bisa dibilang merupakan saat yg terberat dlm hidup saya. Ketika itu saya bekerja di suatu tempat yg jauh dr keluarga, pekerjaan saya pun lumayan berat karena saya harus bekerja di lapangan / area konstruksi, yaitu tmpt dimana kita hrs berhubungan dgn pekerja kasar. Saat itu rasanya saya seperti sebatang kara, dilanda berbagai masalah, jauh dari keluarga, & seketika org tua pergi berpulang. Rasanya seperti jatuh dr atas lalu tertimpa tangga pula.

Di kondisi seperti itu, seringkali saya termenung sambil berjalan sendirian entah kemana lalu tiba-tiba teringat kalimat ini : Laa haula wa laa quwwata illa billaah. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dgn pertolongan Allah SWT.

Kalimat singkat nan sederhana ini rasanya seperti udara yg sejuk di teriknya matahari. Saya ingat-ingat terus kalimat ini agar saya tdk putus asa & berharap hanya pada Allah semata.

Teringat sebuah ungkapan, mengucapkan bahwa kita beriman itu mudah. Setiap hari kita mengucapkannya dalam sholat berupa kalimat syahadat "Laa ilaha ilallah". Namun pembuktiannya harus dilalui melalui berbagai ujian atau cobaan untuk membuktikan kebenaran dr ucapan kita.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? - (QS: al-'Ankabuut Ayat: 2)

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. - (QS: al-'Ankabuut Ayat: 3)

Ketika cobaan datang, pembuktian keimanan kita akan terlihat salah satunya dr prasangka kita kpd Allah SWT, apakah kita tetap berbaik sangka pd Allah ketika diuji dgn musibah? Ataukah kita serta merta berpikir bahwa Allah tidak adil? Lalu berikutnya akan dilihat pula kpd siapa kita memohon pertolongan, adakah kita lebih berharap kpd pertolongan manusia drpd pertolongan Allah? Berikutnya, bgmn ibadah kita ketika mendapatkan musibah? Masih mau kah kita sholat? Atau justru mendekat pd maksiat? Kemudian selanjutnya, bagaimana dengan keimanan kita setelah mendapat ujian, apakah kita tetap beriman pada Allah ketika mendapatkan cobaan yg berat?

Ketika Allah mengambil apa yg kita miliki atau kita cintai, tentulah itu bukan hal yg mudah. Bahkan nabi Ibrahim pun diuji dgn Ismail, yaitu dgn perintah menyembelih anaknya sendiri. Tapi dibalik ujian Allah pasti ada hikmah yg tersembunyi, ada pahala yg disiapkan, ada ganti yg lebih baik.

Kehilangan org tua bagi saya tdk pernah mudah, bahkan hingga kini. Dari ujian ini saya baru menyadari mengapa kita selalu dianjurkan utk menyayangi & menyantuni anak yatim. Bisa dibayangkan betapa sulitnya bagi seorang anak utk hidup tanpa org tuanya, ia hrs menanggung keperihan tumbuh tanpa kasih sayang, dan tanpa adanya org yg menanggung kebutuhan hidupnya.


Laa haula wa laa quwwata illa billaah....

Sungguh tidak ada daya dan upaya melainkan dgn pertolongan Allah SWT.

Namun seberat apa pun ujian kita, Allah menjanjikan bahwa bersama dgn kesulitan pasti ada kemudahan.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada kemudahan,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada kemudahan.
(QS: al-'Insyirah Ayat: 5-6)

Insyaa Allah kesulitan apapun akan terlewati dgn hati yg lapang selama kita berharap hanya pd Allah semata. Aamiin.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ ,الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan solat. Dan sesungguhya hal itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang  khusyu’ , (iaitu) orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan menemui Rabb mereka dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya" (Al-Baqarah 2:45-46)



Posted by Mariana at 1:40 AM 0 comments
Labels: hikmah, review

01 January 2014

Halal dan Haram

Akhir-akhir ini saya sangat concern dengan pengkonsumsian produk halal. Dalam pemilihan produk, saya berusaha untuk memastikan dulu kehalalannya sebelum dikonsumsi. Cara yang paling mudah adalah dengan melihat logo halal MUI atau logo halal dari badan yang diakui di negara lain pada produk tersebut.

Mulai dari makanan, kosmetik, obat-obatan, restoran, dan lain-lain harus dipastikan status halalnya. Tidak mudah memang, meskipun kita tinggal di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, tidak ada jaminan bahwa semua makanan atau produk yang ada di negara ini pasti halal. Ketika kita ingin berbelanja, baik produk yang halal maupun yang haram dijadikan satu. Pun restoran terkenal atau tempat makan di pinggir jalan belum tentu halal jika tidak memiliki sertifikat halal dari MUI. Untuk mengecek produk/ restoran/ bahan makanan/ kosmetik/ obat-obatan apa saja yang sudah memiliki sertifikat halal, bisa kita cek di :
http://www.halalmui.org/newMUI/index.php/main/ceklogin_halal/produk_halal_masuk/1309
atau langsung melihat daftarnya di http://www.halalmui.org/images/stories/pdf/LSH/produkhalal.pdf

“Hai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnyasyaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. al-Baqarah [2]: 168). 
 “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan)yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh,yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamumenyembelihnya, dan (diharamkan bagimu memakan hewan) yang disembelihuntuk berhala...” (QS. al-Ma’idah [5]: 3). 
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, danbinatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Akan tetapi, barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannyadan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. SesungguhnyaAllah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. al-Baqarah [2]: 173).

Kurangnya pengetahuan antara yang halal dan haram, akan membuat kita terjerumus pada yang haram. Dan itu jelas bertentangan dengan ajaran agama Islam yang dengan jelas melarang kita untuk mengkonsumsi yang haram. Yang paling umum diketahui masyarakat mengenai yang haram untuk dikonsumsi hanya sebatas daging babi, daging amphibi, alkohol, dan darah. Sementara di luar itu masih ada banyak yang perlu diwaspadai. Salah satu contohnya turunan dari hewan babi bisa dijadikan banyak produk, bulunya bisa dijadikan kuas, kulitnya bisa dijadikan sepatu dan tas, lemaknya bisa dijadikan bahan kosmetik atau bisa menjadi mentega, bagian lainnya bisa menjadi emulsifier dan gelatin yang banyak digunakan dalam proses pembuatan bahan pangan, dan masih banyak lagi. Di luar alkohol, daging amphibi, dan darah, ternyata ada banyak bahan haram lainnya yang patut kita waspadai. Seperti rambut manusia bisa digunakan sebagai bahan untuk membuat bahan pangan, daging yang halal kita konsumsi seperti daging sapi, ayam, kambing, dan lain sebagainya bisa jadi tidak halal jika tidak disembelih sesuai dengan syariat. Dan masih banyak lagi hal-hal yang perlu kita waspadai.

Klik pada gambar untuk lebih jelasnya (Sumber : www.halalmui.org)

Klik pada gambar untuk lebih jelasnya (Sumber : Facebook group myhalalkitchen)

Klik pada gambar untuk lebih jelasnya (Sumber : www.halalmui.org)

Untuk info dan edukasi lebih jauh mengenai halal dan haram, bisa mengikuti grup independen seperti Halal Corner atau My Halal Kitchen. InsyaaAllah bermanfaat dan bisa membantu kita untuk memahami bahan-bahan atau produk apa saja yang sebaiknya dikonsumsi atau justru dihindari.

Berikut ini saya menemukan sebuah artikel mengenai titik kritis pencemaran bahan haram pada produk bakery. Semoga info ini bisa sedikit membantu kita dalam mengindentifikasi mengenai kehalalan suatu produk. Yuk mari kita biasakan untuk mengkonsumsi hanya produk-produk yang halal supaya hidup kita tentram dan damai. Halal is my way, halal is my life. :)

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

TITIK KRITIS PENCEMARAN BAHAN HARAM PADA PRODUK BAKERY

Oleh Biru Hati Syaheed pada 3 Juli 2013 pukul 7:15
Oleh :
Nanung Danar Dono
PhD Student at College of Medical, Veterinary, and Life Sciences
University of Glasgow, Glasgow, Scotland, UK
Last revised : 1th April 2011


Toko roti (bakery) di Indonesia sangat banyak dan beragam. Ada yang laris karena terkenal, ada yang diburu pembeli karena enak, ada pula yang dibeli karena terjamin status kehalalannya. Sebagai konsumen Muslim, mestinya kita tidak membeli produk hanya karena rasanya, karena enak baunya, karena kemurahannya, atau karena terkenal merknya. Akan tetapi, mestinya status kehalalan menjadi alasan utama dan pertama dalam membeli sebuah produk roti, apa pun itu merknya. Jauh lebih aman (dan insya Allah barokah) jika kita hanya membeli produk bakery yang telah memiliki sertifikat halal.

Titik kritis bahan haram
Di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini (sekitar 88%) mestinya seluruh produk makanan dan rerotian terjamin kehalalannya. Namun pada kenyataannya, tidak semua produk roti yang dipasarkan terjamin kehalalannya. Bahkan ada beberapa perusahaan yang secara terang-terangan menggunakan bahan haram. Banyak pula bahan tambahan makanan (BTM) yang diragukan kehalalannya dipakai dalam industri roti ini.
Ada beberapa titik kritis peluang masuknya bahan haram ke dalam produk bakery :

1. Kuas berbulu babi
Kuas sering dipakai untuk mengoleskan mentega, margarin, telur, cokelat, dll. Hati-hati dengan bahan bulu kuas, karena umumnya berasal dari bulu babi (bisa mencapai 80-90%). Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor boar bristle dan pig/boar hair periode Januari-Juni 2001 sejumlah 282.983 kg atau senilai US $ 1.713.309 (Jurnal LPPOM-MUI HALAL, N0. 41/VII/2002).
Pada gagang kuas berbulu babi sering tertulis kata : Bristle, Pure Bristle, 100% China Bristle, dll. Salah satu makna kata Bristle adalah Pig Hair atau bulu babi (Webster’s Dictionary) yang berstatus najis apabila basah. Oleh karena itu, roti yang terkena sapuan kuas najis menjadi terkena najis, sehingga haram dimakan.
Pengganti kuas bulu babi adalah kuas dari bahan plastik (polyester). Perusahaan kuas merk Ken Masterdan Selery juga meproduksi kuas dari bahan halal ini.

2. Rhum
Rhum banyak dipakai untuk mem-buat adonan tercampur dengan baik, agar cake lebih awet, serta untuk mengikat aroma. Rhum diharamkan karena memiliki sifat khamer. Bahkan kandungan alkohol rhum bisa mencapai 38-40%. Hati-hati de-ngan roti Black Forest, Sus Fla, Cake, dll.
Rhum essence (rhum sintetis) juga diharamkan karena membuat konsumen tidak dapat membedakan rhum ‘asli’ dan rhum ‘sintetis’.

3. Daging dan Produk Olahannya
Daging haram (khususnya : babi) dapat masuk dalam berbagai bahan dan produk rerotian. Produk daging dan olahannya dapat masuk dalam bentuk : daging, sosis, abon, dll.

4. Emulsifier
Emulsifier adalah bahan yang dipakai agar bahan-bahan yang berkadar lemak tinggi dapat bercampur dengan air ketika dibuat adonan. Beberapa macam emulsifier juga dapat dipakai sebagai stabilizer(penstabil) adonan roti.
Ada beberapa jenis emulsifier yang lazim dipakai di pasaran, seperti : lesitin, lesitin kedelai (soya/soy lechitine), dan emulsifier lain yang menggunakan kode E-number. Lesitin bersifat syubhat karena bisa berasal dari bahan nabati maupun hewani (sapi, babi, dll). Lesitin kedelai halal karena berasal dari bahan nabati. Hati-hati dengan E-number, karena beberapa emulsifier (seperti : E471, E472, dll.) ada yang menggunakan bahan dari babi.

5. Ovalet
Ovalet dipakai sebagai pengembang dan pelembut produk bakery. Bahan ini dibuat dari asam lemak, bisa berasal dari asam lemak hewani maupun nabati (tumbuhan). Apabila berasal dari tumbuhan, tentu tidak masalah. Namun apabila dibuat dari produk hewani, maka harus dipastikan berasal dari hewan halal atau hewan haram (babi).

6. Shortening
Shortening sering dikenal dengan istilah mentega putih. Bahan ini berasal dari lemak, bisa dari lemak hewan, tanaman, maupun campuran keduanya. Shortening sering dipakai untuk membuat sensasi lembut dan renyah (crispy). Oleh karena bisa berasal dari lemak hewan, maka shortening bersifat syubhat.
Selain itu, sudah lama dikenal di masyarakat bahwa lemak hewan (animal fat) yang paling enak adalah lemak babi (Lard). Meskipun ada yang menulis dengan huruf Arab, namun karena berasal dari babi, maka tetap saja lard hukumnya haram.

7. Margarin
Margarin dibuat dengan bahan dasar lemak tumbuhan. Dalam proses pembuat-annya, sering kali ada bahan penstabil (stabilizer), pewarna, maupun penambah rasa (flavor) yang ditambahkan. Oleh karena itu, apabila bahan penstabil yang dipakai dari tanaman tentu tidak masalah. Namun apabila berasal dari produk hewan, maka harus dipastikan dari hewan halal atau haram. Penggunaan lesitin babi, membuat produk roti menjadi haram.

8. Bakers Yeast Instant (Ragi)
Yeast banyak dipakai pada produk-produk rerotian sebagai bahan pengembang (bread improver). Dalam pembuatannya, adakalanya ditambahkan bahan pengemulsi (emulsifier). Nah, kalau emulsifier yang dipakai berasal dari bahan haram (misal : lesitin babi), maka yeast ini tentu menjadi tidak halal.
Selain itu, senyawa anti-caking (anti gumpal) yang ditambahkan juga harus diperhatikan status kehalalannya.

9. Keju
Keju berasal dari susu hewan, bisa berasal dari susu sapi, domba/kambing, unta, dll. Merk keju yang dipasarkan di masyarakat, contohnya : Cheddar, Edam, Emmental (Emmenthal), Beaufort, Gloucester, Cheshire, Fontina, Leyden, Derby, Gruyere, dll. Perbedaan penamaan keju didasarkan pada asal bahan, asal daerah, dan proses pembuatannya.
Dalam pembuatannya, untuk memperoleh curd/padatan, susu digumpalkan dengan bantuan enzyme danstarter. Apabila enzim yang dipakai berasal dari saluran pencernaan hewan haram, maka tentu statusnya menjadi haram.
Hati-hati dengan keju edam, karena dalam standar pembuatannya, Keju Edam sering dibuat dengan bantuan enzim rennet yang diambil dari lambung anak babi.
Starter yang dipakai dalam peng-gumpalan susu berasal dari mikro organisme (umumnya bakteri asam laktat). Nah, media yang dipakai untuk menumbuhkan bakteri tersebut bisa berasal dari media halal maupun media yang haram.

10. Creamer
Creamer dibuat dari susu. Titik kritisnya terdapat pada bahan enzim yang dipakai untuk memisahkan keju dan whey. Apabila menggunakan enzim haram, maka status creamer yang bersangkutan haram.

11. Cokelat
Dalam proses pembuatan cokelat batangan dari buah cokelat segar kadang dibutuhkan emulsifier. Emulsifierdapat berasal dari lesitin nabati (dari biji kedelai, bunga matahari, jagung, dll.) maupun dari produk hewani. Adakalanya lesitin hewani dibuat secara enzimatis menggunakan enzim Phospholipase A2 yang bisa berasal dari pankreas babi.

12. Gelatin
Umumnya, gelatin dipakai sebagai gelling agent (bahan pengental), bahan penegar (penguat), atau untuktopping kue atau es krim. Gelatin pasti berasal dari produk hewani (sapi, babi). Jika berasal dari babi, maka status hukumnya haram.
Sebagai pengganti, bahan lain yang dapat dipakai sebagai pengental adalah : rumput laut (agar-agar), karagenan, pati yang dimodifikasi, gom arab, dll.

13. TBM
Bahan ini sering digunakan untuk melembutkan tekstur cake yang dihasilkan. Sebagai sebuah merk dagang, TBM ini umumnya berasal dari mono-glyseride (MG) dan di-glyseride (DG). MG dan DG berasal dari lemak, tentunya bisa berasal dari hewani maupun nabati. Apabila berasal dari bahan nabati, tentu TBM ini tidak masalah. Namun apabila dibuat dari asam lemak hewan, maka harus dipastikan apakah berasal dari hewan halal atau hewan haram.

Sumber :
Fb myhalalkitchen


Posted by Mariana at 11:29 PM 0 comments
Labels: hikmah, kerja dan belajar, masak memasak, review
Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod - edited by Mariana