skip to main | skip to sidebar

About me

My Photo
Mariana
Indonesian muslimah, Backpacker, Photography Lover, Dreamer, and Believer to these phrases: "whoever seeks they will find" & "there's no useless effort" - So, keep on going!
View my complete profile

Archive

  • ► 2008 (13)
    • ► June (1)
    • ► July (3)
    • ► August (2)
    • ► September (2)
    • ► November (2)
    • ► December (3)
  • ► 2009 (13)
    • ► January (2)
    • ► February (1)
    • ► March (2)
    • ► May (1)
    • ► August (1)
    • ► September (3)
    • ► December (3)
  • ► 2010 (20)
    • ► January (3)
    • ► February (3)
    • ► April (1)
    • ► June (1)
    • ► July (1)
    • ► August (9)
    • ► September (1)
    • ► November (1)
  • ▼ 2011 (10)
    • ► February (2)
      • Beyond The Cigarette
      • Kehidupan dunia bersifat fana
    • ► June (3)
      • Cuplikan Tulisan - "Belajar Dengan Hati"
      • Memiliki untuk Memberi
      • Syalala ~ Lovely
    • ► August (4)
      • NDE
      • Mencari Arti Kebenaran
      • Pertemanan dan Keluarga
      • A Touch Means More Than a Thousand Words
    • ▼ October (1)
      • Kayalah Lalu Masuk Surga! (Sharing Article)
  • ► 2012 (5)
    • ► January (1)
    • ► March (1)
    • ► August (1)
    • ► September (1)
    • ► November (1)
  • ► 2013 (16)
    • ► January (1)
    • ► March (1)
    • ► June (6)
    • ► July (1)
    • ► August (4)
    • ► September (2)
    • ► October (1)
  • ► 2014 (13)
    • ► January (1)
    • ► February (1)
    • ► March (2)
    • ► May (2)
    • ► June (1)
    • ► August (1)
    • ► September (1)
    • ► October (1)
    • ► November (3)
  • ► 2015 (15)
    • ► February (1)
    • ► March (1)
    • ► July (1)
    • ► August (3)
    • ► October (4)
    • ► November (1)
    • ► December (4)
  • ► 2016 (6)
    • ► January (2)
    • ► February (2)
    • ► March (2)
  • ► 2017 (3)
    • ► April (1)
    • ► June (1)
    • ► July (1)
  • ► 2020 (5)
    • ► October (2)
    • ► November (3)
  • ► 2021 (9)
    • ► January (1)
    • ► February (2)
    • ► April (3)
    • ► July (2)
    • ► September (1)

Labels

  • backpacking
  • blog design
  • capturing moments
  • cerita-cerita
  • cuap-cuap
  • family matters
  • hikmah
  • hot stuff
  • inspirasi
  • kata-kata
  • kerja dan belajar
  • korean drama
  • masak memasak
  • quotes
  • relationship
  • review
  • selingan
  • tausyiah
  • wonderful

What I'm Into

Interior & Architecture

  • Arc Space
  • Arch Daily
  • Archinect
  • Architonic
  • Copy Cat Chic
  • Design Glossary
  • Design Milk
  • Dezeen
  • Enlighter Magazine
  • Famous Architects
  • HGTV
  • Houzz
  • How About Orange
  • IALD
  • IKEA Hackers
  • Interior Design Magazine
  • Karim Rashid
  • Lighting Design Magazine
  • Meade Design Group
  • Mondo Arc
  • Philippe Starck
  • Print and Pattern
  • Samantha Pynn
  • Summer Allen
  • Suzanne Dimma
  • Top 50 Interior Websites

All About Design

  • Eat Drink Chic
  • Goodnight Little Spoon
  • Josh Lafayette
  • Paper Toys
  • Pixel Girl
  • Pugly Pixel
  • Pugly Pixel Blog
  • The Cool Hunter

Let's Go Green

  • groovy green
  • inhabitat
  • sustainablog
  • world changing

Inspiring Blogs

  • Febrianti Almeera
  • Islamic Articles
  • Jamil Azzaini
  • Salim A. Fillah

I Read This

Bidadari Bidadari Surga
Mengarungi 'Arsy Allah
Gadis Pantai
Confessions of a Shopaholic
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Kupinang Engkau dengan Hamdalah
The Da Vinci Code
A Very Yuppy Wedding
Menyelam ke Samudera Jiwa dan Ruh
Bumi Cinta
Cinta Brontosaurus
The Alchemist - Sang Alkemis
Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh
Life of Pi
Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps: Mengungkap Perbedaan Pikiran Pria dan Wanita Agar Sukses Membina Hubungan
divortiare
Ketika Cinta Bertasbih
The Right to Lead
How to Win Friends and Influence People
Virus of the Mind: The New Science of the Meme


Mariana's favorite books »

For A Better Life!

Blog Readers

Stats

free counters

simply,

bla bla bla in my mind...

07 October 2011

Kayalah Lalu Masuk Surga! (Sharing Article)

Orang yang suksus mengelola harta adalah orang yang dengan hartanya justeru semakin rendah hati dan menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan atau amanah dari Allah. Abdurrahman bin ‘Auf yang padahal termasuk orang yang dijamin masuk surga pernah berlinang air mata saat dirinya siap menyantap hidangan lezat yang ada di hadapannya. Ketika ditanya penyebab ia menangis, ia menjawab, “Aku takut hanya yang kunikmati di dunia inilah yang menjadi ganjaranku dari Allah.”


http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/09/kayalah-lalu-masuk-surga.html


Kayalah Lalu Masuk Surga!

Oleh: Rikza Maulan, M.Ag 


dakwatuna.com - Dari Abi ‘Abdillah Tsauban Bin Bujdad bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Dinar yang paling utama yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk kendaraannya di jalan Allah, dan dinar yang ia infakkan untuk rekan-rekannya (yang tengah berjuang) di jalan Allah.” (Muslim)

Dalam kitab Nuzhatul-Muttaqin (syarah Riyadush-Shalihin karya Imam An-Nawawi) disebutkan, hadits itu menjelaskan peringkat keutamaan pengeluaran harta (infak) bahwa memberi nafkah kepada keluarga merupakan infak yang paling mulia. Dalam hadits lain disebutkan:

“Dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk (mememerdekakan) hamba sahaya, dinar yang engkau infakkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau infakkan untuk keluarga, yang paling utama di antara semua itu adalah dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu.” (Muslim)

Ke manapun alokasinya, yang jelas seseorang tidak mungkin dapat berinfak jika tidak memiliki harta. Lebih-lebih jika kita mencermati ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan kita terlibat dalam jihad. Selalu saja disandingkan antara kewajiban berjihad dengan jiwa dengan kewajiban berjihad dengan harta. Bahkan dari semua ayat yang memerintahkan kita berjihad dengan harta dan jiwa, berjihad dengan harta selalu didahulukan kecuali pada satu ayat saja yakni ayat 111 surah At-Taubah, yang maknanya:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka dengan mendapatkan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.”

Selebihnya, hartalah yang disebut terdahulu. Perhatikan ayat-ayat berikut:

“Wahai orang-orang yang beriman, inginkah kalian aku tunjukkan pada suatu perniagaan yang menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih. Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kalian berjihad di jalan Allah denganh harta dan jiwa kalian.” (Ash-Shaf: 10-11)

Ini diperkuat dengan adanya kewajiban zakat. Dalam urusan yang satu ini memang ada kesalahan persepsi pada sebagian kaum muslimin. Kewajiban zakat sering dipahami begini: kalau punya harta, zakatlah; kalau tidak punya, tidak usah mengeluarkan zakat. Secara fiqih, pemahaman itu sangat benar. Tapi semangatnya bukanlah semangat kepasrahan pada keadaan. Semangat perintah zakat harusnya dipahami: carilah uang, kumpulkanlah harta agar dapat melaksanakan perintah Allah yang bernama zakat. Seharusnya kita membawa semangat shalat untuk diterapkan pada zakat. Kita selalu berpikir kita harus bisa melaksanakan shalat dengan segala perjuangan yang menjadi konsekuensinya. Dari mulai mencari penutup aurat, mencari tempat shalat, menentukan arah kiblat, mensucikan diri, dan seterusnya.

Itu semua mematahkan anggapan yang masih dianut sebagian orang bahwa kesalihan dan ketakwaan identik dengan kepapaan, kemelaratan, kesengsaraan, dan ketertindasan. Seolah-olah hanya orang miskin, jelata, dan tertindaslah yang layak menghuni surga. Sebaliknya orang kaya dan orang yang punya jabatan tidak punya tempat di surga. Ini diperparah dengan sering disitirnya hadits-hadits dha’if (lemah) atau bahkan maudhu’ (palsu) yang memberikan pesan untuk menjauhi dunia sejauh-juahnya demi mencapai ketakwaan dan kesucian jiwa. Atau mungkin juga menyitir hadits shahih tentang zuhud dengan pemahaman yang salah.

Zuhud tidaklah identik dengan melarat. Zuhud adalah kepuasaan hati dengan apa yang diberikan Allah swt. Zuhud adalah ketiadaan ikatan hati kepada kekayaan. Bahwa sambil merasa puas dengan apa yang Allah berikan dan sambil meniadakan ikatan hati dengan harta seseorang memiliki harta dan jabatan, tidaklah menafikan sifat zuhud.

Utsman Bin ‘Affan adalah konglomerat dan kaya raya. Beliau termasuk sahabat Nabi saw. yang dijamin masuk sorga. Demikian pula halnya dengan ‘Abdurrahman Bin ‘Auf. Beliau sukses dalam bisnis dan menjadi saudagar kaya raya. Toh beliau juga termasuk yang dijamin masuk surga. Umar Bin ‘Abdul-‘Aziz, khalifah yang kaya raya. Tapi justeru dia termasuk orang zuhud.

Posisi harta dalam Islam sama dengan posisi kemiskinan: sebagai ujian bagi manusia. Dengan kekayaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kekayaan pula orang bisa masuk neraka. Dengan kepapaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kepapaan pula orang bisa masuk neraka. Semuanya ujian! Allah swt. menegaskan:

“Dan Kami coba kalian dengan keburukan dan kebaikan, (semuanya) sebagai ujian.” (Al-Anbiya: 35)

Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya dunia itu manis dan menghijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya untuk melihat (menguji) bagaimana kalian bekerja. Maka berhati-hatilah dengan dunia dan berhati-hatilah dengan wanita. Karena sesungguhnya fitnah Bani Israil adalah pada wanita.” (Riwayat Muslim)

Jadi, orang yang saleh bukanlah orang memilih meninggalkan harta melainkan yang lulus dalam ujian mengelola harta itu. Seseorang dianggap lulus ujian dalam urusan harta manakala:

* Hanya menempuh cara halal untuk memperoleh harta.

Pada hari kiamat, setiap orang akan diminta pertanggungjawaban terkait dengan hartanya, dari manakah ia memperolehnya dan dengan cara apa? Ini batu ujian pertama. Rasulullah saw. bersabda:

Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman seperti yang diperintahkan kepada para rasul. Dia berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari yang baik dan beramal salehlah karena sessungguhnya Aku mengetahui apa yang kamlian lakukan’. Dia juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik dari yang Kami rezekikan kepada kalian’.” Lalu Rasulullah saw. menerangkan tentang orang yang mengadakan perjalanan panjang, kusut masai dan berdebu. Ia mengadakahkan kedua tangannya (berdoa) ke langit (sambil mengatakan): Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dari yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan.” (Muslim)

* Harta itu tidak menyebabkan sombong

Orang yang suksus mengelola harta adalah orang yang dengan hartanya justeru semakin rendah hati dan menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan atau amanah dari Allah. Abdurrahman bin ‘Auf yang padahal termasuk orang yang dijamin masuk surga pernah berlinang air mata saat dirinya siap menyantap hidangan lezat yang ada di hadapannya. Ketika ditanya penyebab ia menangis, ia menjawab, “Aku takut hanya yang kunikmati di dunia inilah yang menjadi ganjaranku dari Allah.”

* Menjadi fasilitas untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik harta yang saleh adalah yang ada pada orang saleh.” Beliau juga memerintahkan kepada kita, “Jauhkanlah dirimu dari neraka walau dengan hanya sebelah kurma.”

* Menjadi fasilitas untuk silaturahim.

Infaq adalah baik. Dan infaq kepada kerabat adalah lebih baik lagi. Karena selain bernilai taqarrub, perbauatan itu juga merupakan upaya silaturahim. Rasulullah saw. bersabda, “Shadaqah kepada orang misikin adalah satu shadaqah dan shadaqah kepada orang yang punya hubungan rahim (kerabat) adalah dua shadaqah: shadaqah dan shilah (menyambungkan).” (At-Tirmidzi)

* Menjadi fasilitas untuk perjuangan.

Perjuangan Islam jelas tidak mungkin tanpa dukungan finansial. Kekuatan orang-orang kafir harus dihadapi dengan kekuatan optimal kaum muslimin. Dan ini tentu saja salah kekutan itu adalah kekuatan maliyyah (finansial).

Itulah sebagian ajaran Islam yang terkait dengan kekayaan. Jadi, menjadi orang kaya, siapa takut? Allahu a’lam.

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/kayalah-lalu-masuk-surga/
Posted by Mariana at 11:00 PM 0 comments
Labels: hikmah, inspirasi, tausyiah

27 August 2011

A Touch Means More Than a Thousand Words

"Mariana, please tell me that you're not a human.
Tell me that you are a robot!"


Saya hanya terkikik mendengar celetukan kolega kerja saya ini ketika sedang lembur di kantor. Ia melihat saya bekerja hingga larut malam dan terus saja bekerja dan bekerja, tanpa bicara, makan telat, hanya di depan komputer tanpa ekspresi, mungkin membuatnya beranggapan saya seperti robot. Hehe.

Hmm... sebenarnya saya juga merasa diri ini semakin lama semakin kekurangan sisi manusianya. Terakhir kali saya merasa seperti layaknya manusia yang saya ingat betul yaitu ketika berada di rumah sakit baru-baru ini. Seorang dokter yang begitu perhatian menggenggam dan mengusap-usap tangan saya ketika ia melihat saya menggigil kedinginan sambil menahan sakit ketika akan dipasang infus. Tanpa melihat ras, agama, atau penampilan saya yang begitu kucel dan terlihat lemas, ia langsung saja mengulurkan tangannya untuk memberikan kehangatan dan menenangkan saya.

Saya merasa kehangatan sikap pekerja rumah sakit tempat saya dirawat kemarin ini seperti layaknya keluarga sendiri. Suster-suster disana sabar sekali menuntun saya tiap kali saya harus ke kamar kecil. Ketika saya tak tahan merintih, "my stomach is hurt" karena perut saya yang sakit, salah satu suster berusaha menenangkan sambil berkata,"hey, don't cry..", kemudian memapah saya berjalan.


"People never remember what we said, but they will always remember the way you make them feel..."

Posted by Mariana at 12:58 AM 0 comments
Labels: capturing moments, cerita-cerita, kata-kata, review, wonderful

22 August 2011

Pertemanan dan Keluarga

Jika saya ditanya tentang pertemanan, kali ini saya sungguh merasa tidak enak karena saya harus mengakui bahwa saya tidak lagi percaya akan pertemanan. Kehidupan yang jauh dari tempat asal, membawa saya pada pemikiran ini. Saya hanya percaya pada keluarga sejauh ini.

Pertalian darah atau genetik keterikatannya lebih kuat dibanding pertemanan yang dibangun selama apapun. Saya percaya akan hal ini. Teman atau bahkan sahabat jika ia jauh bermil-mil dari kita, belum tentu ia akan menyebrangi lautan untuk kita jika hal-hal buruk menimpa. Namun beda dengan keluarga. Jika ada suatu hal yang menimpa anggota keluarga lainnya, akan ada intuisi yang terikat satu dan yang lainnya untuk merasakan dan melindungi lingkaran genetiknya. Disini ada gen yang bekerja pada fisik untuk membuat kita memiliki refleks spontan melakukan sesuatu untuk gennya. Menurut saya.

Bukannya saya tidak percaya bahwa teman itu akan membantu temannya yang lain. Saya mengalaminya dimana beruntungnya saya memiliki teman-teman yang baik yang mau bersimpati dan menolong ketika saya dalam kesulitan. Tapi ini dalam konteks teman yang lokasinya berdekatan. Jika jauh, entahlah. Saya juga jika ditanya apakah saya akan terbang menyebrangi lautan untuk teman saya yang kesusahan, tentu saya berpikir berkali-kali mempertimbangkan banyak hal. Lain halnya jika itu menimpa keluarga. Tanpa pikir panjang, tentu hampir sebagian besar dari kita akan melakukan apa saja untuk keluarganya.

Namun bagaimanapun saya tetap menghargai arti pertemanan. Hanya saja jika ia dekat. Jika ia jauh, saya tidak bisa mempercayai atau menjanjikan apa-apa. Untuk saya, jika seorang teman itu sedang bersama saya, saya akan memperlakukannya sebaik mungkin yang saya bisa.

Bagaimana dengan kekasih? Untuk yang satu ini agak sensitif, penilaiannya berbeda-beda. Sepertinya hal ini tergantung kedekatan dengan kekasihnya. Tapi yang pasti jika sudah muhrim, akan ada genetik terikat. Lagi-lagi menurut saya.

Sedangkan menurut keyakinan saya, ukhuwah Islamiyah itu seharusnya memiliki kekuatan melebihi ukhuwah apapun. Namun sepertinya ini sudah sangat jarang untuk bisa ditemui di masyarakat pada masa ini. Sungguh kami semua merindukan masa-masa dimana ukhuwah Islamiyah begitu kuat diantara sesama muslim dan muslimah. Kita boleh bermimpi semoga jaman itu hadir kembali. Jamannya sodara seiman diperlakukan dengan kecintaan selayaknya cinta pada diri sendiri seperti yang disampaikan oleh para pendahulu kita.

Posted by Mariana at 1:06 AM 0 comments
Labels: cerita-cerita, cuap-cuap, kata-kata, selingan

Mencari Arti Kebenaran

Ingin sedikit bercerita, kehidupan saya saat ini begitu dekat dengan keduniawian. Saya hampir sulit untuk percaya pada kebenaran yang selama ini saya yakini. Kedekatan saya dengan material membuat saya mempercayai bahwa dunia besar kecilnya ditentukan oleh material. Yang tentu saja bertolakbelakang dengan keyakinan saya bahwa hidup ini bukan ditentukan oleh dunia yang kasat mata saja. Tapi saya hidup di dunia yang menjunjung tinggi nilai material dan hal-hal yang terlihat baik di mata manusia.

Jika saya boleh berkata, bahwa keyakinan yang bagi sebagian besar masyarakat metropolis adalah konservatif, yaitu kepercayaan akan agama, hampir bahkan nyaris terkikis oleh kesibukan duniawi. Mungkin saya harus berucap, "Innalillahi wa innailaihi raaji'un" untuk kematian hati nurani. Ini lebih menyedihkan dibanding kehilangan semua harta didunia. Karena di dalam hatimu, disitu tersimpan hartamu yang tak bisa dibeli oleh mata uang apapun. Dimana hatimu, disitulah rumahmu. Ketika kita tak bisa mendengar hati kita karena tertutup penilaian material dan pakem sosial, tak heran nenek moyang kita berujar bahwa kita akan tersesat. Pergi kemanapun kita akan merasa kehilangan arah. 

Dahulu kala, ketika saya benar-benar baru mengenal agama, saya merasa diri ini sudah baik. Saya bisa berdakwah, menasehati orang lain ini itu agar mengkuti jalan yang benar menurut saya. Dengan energi dan semangat yang meluap karena kecintaan akan keyakinan saya, membuat saya merasa pantas untuk yakin bahwa saya dekat dengan-Nya. Astaghfirullah jika saya pikir-pikir lagi saat ini. Siapakah saya bisa mengklaim kedekatan dengan Ilahi. Dan betapa polosnya pikiran saya saat itu. Tapi justru kepolosan itu membuat saya rindu saat ini. Karena saat itu entah bagaimana iman sungguh terasa menentramkan.

Bagi saya saat ini, untuk melakukan hal tersebut adalah suatu hal yang sangat besar. Saya tidak mampu lagi menyuruh orang untuk berada di jalan yang benar, karena saya sendiri merasa belum sepenuhnya benar. Saya masih banyak kekurangan disana-sini. Jika saya diminta untuk berdakwah, tentu saja saya tidak akan mampu. Perjalanan waktu membuat saya harus kembali ke titik nol. Dimana saya harus kembali belajar dari awal tentang baik dan buruk. Saya tidak ingin lagi terlalu memaksakan seseorang untuk beribadah, karena saya sadar bahwa ibadah itu adalah urusan pribadi manusia dengan Tuhannya. Cukup ia dan Tuhannya yang tahu. Kalau manusia tahu, yang ada hanya prasangka dan menghakimi saja yang muncul. Manusia tak dapat berlaku adil seperti Yang Maha Adil. Kita hanya dapat mengajak sesama manusia untuk berada dalam kebaikan, tapi keputusan adalah urusan pribadi. Itu yang saya pegang untuk saat ini. Dan sungguh yang namanya hidayah hanya Allah yang punya Hak Prerogratif kepada siapa Ia akan memberikan. Sebesar apapun usaha kita untuk mengajak, jika Allah belum berkehendak, maka memang belum saatnya.

Berbicara tentang hidayah, seketika saya jadi ingin membahas mengenai jilbab. Menggunakan atribut keagamaan yaitu jilbab dan pakaian yang tertutup, bagi saya adalah beban tersendiri. Karena kita diharapkan mampu untuk memenuhi ekspektasi masyarakat akan anggapan mengenai wanita berjilbab. Bukan hal yang mudah. Karena stereotipe yang sudah terbentuk saat ini, wanita yang berjilbab memiliki cap baik, shaleh, dan berbagai anggapan seperti malaikat lainnya yang terpatri. Jika kaum jilbabers sedikit saja salah berbusana, atau mungkin ada tingkah laku yang tidak baik menurut masyarakat, maka mereka akan dituding memperburuk citra agama. Bahkan untuk seorang wanita berjilbab yang begitu syar'i pakaiannya, tidak luput dari pandangan masyarakat yang merasa ia terlalu 'ekstrim'. Beratribut agama di jaman ini bukan suatu hal yang mudah. Menjadi orang baik adalah tuntutan terbesar bagi kami. Dimana hal ini musti saya jawab dengan frase klasik bahwa kami hanyalah manusia. Kesempurnaan bukan milik kami. Kesempurnaan dan kebaikan hanyalah di sisi Allah semata. Kami hanya berusaha untuk menjadi muslimah yang bertakwa.

Sedikit berbicara tentang kebaikan, diri ini jadi teringat ceramah dari Ustad Wijayanto kemarin hari di sebuah masjid. Ia bercerita, pada suatu masa di jaman Rasulullah, ada seseorang bertanya pada Rasul bagaimana jika ia tidak hafal Al-Qur'an dan Al-Hadits, apa yang bisa ia ikuti untuk menjadi pegangan hidupnya. Lalu Rasul menjawab, pada dasarnya setiap manusia memiliki hati nurani. Tanyalah pada hati nuranimu ketika kau hendak melakukan sesuatu. Pak Ustad menambahkan bahwa kita bisa berbohong pada siapa saja, tapi tidak pada hati nurani kita. Gelisah atau tidaknya hati nurani menentukan apakah apa yang kita lakukan benar atau tidak. Seseorang bisa tidak mengerti apapun di dunia ini asal dia mengikuti hati nuraninya, maka ia akan menjadi orang yang baik. Subhanallah.

Semua perjalanan hidup hingga saat ini menyadarkan saya bahwa saya selalu berjalan untuk dekat dengan kebenaran yang sebenarnya berada sangat dekat dengan diri ini. Tapi sudah sulit untuk dirasakan. Mungkin saya harus mengikis segala sifat berbangga-bangga, tidak sabar, penuh prasangka, dan segala penyakit hati yang belum terobati agar bisa mendengar hati nurani saya. Saya ingin sekali kembali ke jaman dahulu kala dimana kehidupan pribadi kita tak ada keharusan untuk dipublikasikan. Karena popularitas dan efek publikasi yang berlebih membuat kita jadi tidak bisa membedakan yang mana yang baik dan yang buruk. Penilaian manusia saat ini didasari oleh pakem sosial dan material yang ditunjukkan di media.Yang mana yang menurut publik terpopuler dan banyak diikuti, maka itulah kebenaran. Bukan lagi ajaran kebaikan turun menurun yang diwariskan oleh para pendahulu kita. Mungkin ada baiknya dunia 'mengerem' kecepatan peradaban untuk kembali melihat kebenaran yang hakiki. 

Tahun 2012, tahun dimana banyak desas-desus terisukan dari ilmuwan bahwa badai elektromagnetik dari matahari akan melanda bumi ini, menimbulkan sebuah tanda tanya yang besar. Apa jadinya jika manusia tanpa elektromagnetik? Apa dunia ini tanpa elektronik? Akankan kita menjadi manusia berhati nurani, atau sebaliknya? Tidak terbiasanya kita menggunakan hati nurani akan membuat kita menggunakan insting hewani, yang kuat yang menang. Akankan manusia menemukan kembali kebenaran di dalam keterbatasan?

Wallahu'alam bishowab. Maha Besar Allah akan segala kebenaran di sisi-Nya.

Posted by Mariana at 12:28 AM 0 comments
Labels: cerita-cerita, hikmah, inspirasi, kata-kata, tausyiah

21 August 2011

NDE

Sakit diare kemaren bagi saya rasanya seperti hampir mau mati. Perut sakitnya masyaAllah, kepala pusing, badan rasanya lemas dan berat sekali untuk digerakkan. Yang lebih membuat saya seperti hampir tidak tertolong adalah ketika sakit saya benar-benar sendiri dan saya benar-benar tidak tahu harus minta tolong pada siapa. Saya hanya bisa berujar, ya Allah... ya Allah... Hingga akhirnya singkat cerita saya bisa sampai di rumah sakit mendapatkan pertolongan.. Ternyata saya sudah kekurangan cairan akibat diare selama dua hari lebih. Dehidrasi membuat ginjal saya terkena dampaknya. Alhamdulillah dokter memberi asupan cairan infus terus menerus agar saya pulih. 

Selama di rumah sakit saya jadi terpikir, sakit seperti ini saja rasanya seperti mau mati, bagaimana sakaratul maut ya....

Alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan untuk saya sadar dan memperbaiki diri. Sungguh tidak ada yang tahu umur ini panjangnya berapa lama. Hanya dalam hitungan detik, dari yang sehat bisa seketika sakit. Bukan tidak mungkin dari sakit, kemudian menghadapi saat-saat akhir. Ya Rabb, maafkan hamba yang dzalim ini...


Posted by Mariana at 10:25 PM 0 comments
Labels: cerita-cerita, hikmah, kata-kata, review

28 June 2011

Syalala ~ Lovely

Here it comes another lovely blogs with addictive graphics, check it out!
http://designismine.blogspot.com
Posted by Mariana at 10:18 PM 0 comments
Labels: hot stuff, review, selingan

27 June 2011

Memiliki untuk Memberi

"Cinta adalah sesuatu yang menakjubkan. 
Kamu tidak perlu mengambilnya dari seseorang 
untuk memberikannya kepada orang lain. 
Kamu selalu memilikinya lebih dari cukup 
untuk diberikan kepada orang lain." 
- Dalam Mihrab Cinta

Image taken at Light Art Festival - October 2010
Personal Documentation


















Posted by Mariana at 11:25 PM 0 comments
Labels: capturing moments, wonderful

Cuplikan Tulisan - "Belajar Dengan Hati"

Baru saja saya membaca sebuah tulisan menggugah yang ingin saya bagi disini, ditulis oleh Galih Aji Prasongko, orang yang tidak saya kenal hanya kebetulan terlihat di situs jejaring sosial. Isinya menarik seperti berikut :

Suatu hari seorang kawan bertanya kepada saya tentang kebiasaan membaca buku. Dalam pertanyaannya sedikit banyak ia menanyakan tentang buku yang akhir – akhir ini saya baca. Dan betapa kagetnya ia, ketika saya bilang  sudah beberapa bulan belakangan ini tidak ada satu judul bukupun yang saya baca. Sambil terheran – heran dia lanjut bertanya, “ kenapa…apa sudah tidak ada yang menarik untuk dibaca ?”. Dengan tersenyum saya menjawab “ tidak, hanya saja saya sedang belajar memahami realitas melalui perasaan saya sendiri ”.

Dalam fase trend industri & teknologi yang menghebat saat ini. Orang hanya percaya terhadap hal – hal yang kasat mata. Apa yang didengar dan dilihat seringkali dijadikan sebuah kebenaran yang absolute. Arus berita & informasi bak buah mentimun yang dapat ditelan mentah – mentah. Seorang kawan bahkan pernah berujar kalau hidup saat ini rasanya tak manis lagi bahkan cenderung tawar.

Celakanya adalah sebuah kebenaran akan realitas dapat dipakemkan hanya oleh sebuah branding sosial. Kalau sudah begini jadilah manusia tak ubahnya seperti primate lainnya. Justifikasi sosial telah dijadikan ideology disatu sisi, disisi lain menurut mereka itu adalah bentuk dari cara berpikir radikal…puihhhh.

Ketika saya menjawab pertanyaan seorang kawan, tentu bukanlah karena saya ingin berhenti membaca buku. Karena hobby itu lebih sulit dihentikan daripada berhenti merokok. Tetapi alasan sesungguhnya karena saya ingin melatih perasaan saya untuk lebih peka terhadap sekeliling. Seperti hari ini saya mampir ke kwitang tetapi bukan untuk mencari atau membeli buku. Hanya sekedar ingin ngobrol dengan Pak Tunggak seorang keturunan Timor leste yang sudah berjualan buku hampir 15 tahun. Uniknya beliau tidak bisa baca tulis tetapi menguasai 5 bahasa Internasional dan memahami sejarah Indonesia dengan tuntas.    


Sangat menarik, mari kita belajar merasakan dengan hati. :)

Posted by Mariana at 9:11 PM 0 comments
Labels: kata-kata, review

06 February 2011

Kehidupan dunia bersifat fana

Kehidupan dunia bersifat fana.
Persis seperti kuncup bunga yang mekar & wangi.
Setelah itu jatuh gugur & mengering disapu angin lalu.
Tak beda dg embun pagi.
Kala mentari mulai meninggi,
embun menguap tanpa meninggalkan jejak yg berarti.

Begitulah hakikat dunia.
Karenanya segala kesenangan yg kita kecap a/ sementara



dikutip dari:
http://wirausahapesantren.blogspot.com/2010/08/agar-kesuksesan-tak-menipu.html
Posted by Mariana at 7:06 AM 0 comments
Labels: hikmah, kata-kata, tausyiah

05 February 2011

Beyond The Cigarette

Along time ago, I always being sarcastic about smokers and their cigarette. I always turned to against them all the time because I didn't like how they disturb people with their smokes. My thought was they were insensitive to know that some people can't stand with the smells when they're smoking. It's always been something annoying to me as they start to light up the cigars. I couldn't hardly breathe.

But these days, I got an intense contact with some smokers that change my mind set about them. One of them shared to me,

"When I smoke, I don't cry. It's just like yoga, or breathe controlling."

And the other one I heard saying this, "I cry in cigarette."

From those conversations, I caught one psychological side from smoking. Actually, when someone start to smoke, there's something distracted their mind. It's been an addiction, when they got distracted, they have to find something to run to that will avoid their feelings of being disturbed. So it's like a pain healer for awhile. I got it know. More or less it's like chocolate or coffee to look up to when you're stress. In a different shape, it's a cigar.

Well, another cigar? For you it's fine now. You can have it without me complaining while you're burning. For me to try? Still NO.
Posted by Mariana at 2:40 AM 0 comments
Labels: cuap-cuap, selingan
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod - edited by Mariana