Mendengar kabar ini membuat saya kaget, karena benar2 tidak disangka sama sekali. Benarlah bahwa maut itu bisa datang kapan saja, tidak mengenal umur, waktu, jam, ataupun tempat. Sama seperti sewaktu ayah saya pergi, seminggu sebelumnya benar2 sehat bugar bahkan sempat mengantar saya pergi ke airport. Pun sehari sebelumnya masih saling mengirimkan SMS, tiba2 keesokan harinya tanpa disangka berpulang ke Rahmatullah.
Saya jadi ingin bercerita, baru2 ini saya sempat bermimpi yang mungkin karena kebodohan saya, saya menafsirkan sendiri mimpi itu. Saya berpikir mimpi saya itu memiliki arti bahwa ajal saya mungkin sudah dekat. Saya bahkan menafsirkan sendiri tanggalnya, astaghfirullah... Padahal jika saya ingat baik2 ayat berikut ini dari Surat Lukman, saya tidak akan berpikir demikian :
"...... Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS Al Luqman: 34)
Karena kejadian salah tafsir itu, alhamdulillah saya dapat pelajaran yang sangat berharga. Jadi ceritanya begini, berhubung saya tafsirkan sendiri tanggal berapa saya kemungkinan berpulang, beberapa hari sebelumnya saya udah menyiapkan diri. Semua kerjaan, pesanan customer, semuanya saya bereskan sebelum tanggal tafsiran saya itu. Saya tidak mau ada hutang pekerjaan ataupun hutang apapun jika saya pergi nanti. Bahkan sampai di tanggal tafsiran saya mau berpulang itu, saya sempatkan bagaimanapun juga untuk mengirimkan pesanan customer. Lalu di rumah sudah saya tinggalkan secarik kertas yang berisi semua password ke akses akun pribadi saya yang mungkin berguna untuk yang ditinggalkan. Belajar dari pengalaman ketika ayah saya meninggal, alhamdulillah beliau selalu menuliskan password atau pin dari akun pribadinya di tempat yg bisa diketahui oleh anak2. Jadi ketika ayah saya pergi, sama sekali tidak menyulitkan orang-orang yg ditinggalkan ketika harus mengurus keperluan administrasi beliau.
Lalu dari segi fisik, saya pernah baca di suatu artikel jika kita mengetahui tanda2 bahwa ajal sudah dekat, maka kita disunnah-kan untuk berpuasa sehari sebelumnya untuk memudahkan orang yang memandikan jenazah kita nanti. Jadi ketika dibersihkan, sudah tidak ada lagi kotoran yang perlu dikeluarkan dari tubuh kita karena kita sudah mengosongkan isi perut. Jika memungkinkan, kita juga sebaiknya membersihkan diri dengan mandi secara menyeluruh.
Kemudian yang terakhir, dari segi spiritual. Nah ini yang sungguh berat, ketika itu saya menyadari bahwa yang namanya hidayah itu memang suatu anugerah yang luar biasa. Ketika seseorang diberikan hikmah untuk berbuat baik di akhir hidupnya, itu benar2 suatu karunia yang sungguh besar dari Allah SWT kepada hamba-Nya. Di hari itu, saya akui saya sama sekali tidak merasakan apa2, atau memiliki keinginan untuk beribadah lebih. Saya lebih merasa takut, sedih, dan tidak siap sama sekali jika memang benar itu adalah harinya saya pergi. Saya mencoba untuk mendengarkan bacaan Al-Qur'an, sholat dengan khusyuk, dll tapi hasilnya nihil. Pikiran saya menerawang kemana-mana, saya sibuk sendiri dengan perasaan takut jika saya benar akan meninggal dalam waktu dekat. Saya jadi berpikir sendiri, apakah sakit ketika sakaratul maut, amal ibadah saya udah cukup belum ya untuk menutupi dosa-dosa yang saya punya, saya sampai lupa untuk IKHLAS dengan kehendak Allah seperti doa yang tiap hari kita baca di awal sholat.
اِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي ِﷲِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbil 'aalamiin
Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam
Baru berpikir akan berpulang saja sudah sebegitu dahsyatnya, apalagi benar-benar terjadi. Astaghfirullah ya Rabbi...
Saya langsung sedih sendiri memikirkan hidup saya ketika itu, apa saja yang sudah saya perbuat ketika saya hidup, apakah saya sudah menggunakan hidup saya dengan sebaik-baiknya, saya sedih karena belum berbuat banyak, dan betapa kurang bersyukurnya saya selama ini, ibadah juga tidak sempurna, saya tidak tahu bagaimana harus menghadap Allah SWT jika saya harus pergi saat itu juga. Amal apa yang akan saya bawa nanti sebagai hamba-Nya yang sudah diberikan nikmat yang begitu berlimpah, kesempatan yang begitu banyak, waktu juga sudah diberikan, tapi saya masih belum punya apa-apa sebagai bentuk ketakwaan pada-Nya, sebagai wujud kepatuhan pada Allah, juga sebagai wujud rasa syukur saya belum berbuat apa-apa. Pun tidak ada orang yang mengingat saya sepertinya, bahkan saya merasa gagal sebagai seorang teman, seorang sahabat, seorang anak, seorang adik, seorang kakak, seorang muslimah, saya merasa belum bisa memberikan apa-apa untuk orang-orang di sekitar saya.
Saya jadi teringat sebuah film yang pernah saya tonton beberapa tahun yg lalu. Judulnya 49 Days. Film serial fiktif yang bercerita tentang seorang wanita yang mengalami koma selama 49 hari. Selama 49 hari itu, ceritanya arwah wanita itu diberikan kesempatan oleh malaikat maut untuk bisa hidup kembali, asalkan dalam 49 hari itu ada 3 orang yang menangis ketika mengingat dia. Ternyata hingga menjelang habisnya 49 hari masih belum ada juga orang yang menangis karena ketidakhadiran dia. Barulah ia sadar selama hidupnya itu apa yang telah ia perbuat hingga tidak ada satupun orang yang merasa kehilangan dengan ketidakhadiran dia. Di bagian ini saya sampai nangis nontonnya, mengingat saya sendiri juga mungkin seperti itu jika telah tiada, tidak meninggalkan bekas yang berarti di sekitar saya.
Tidak disangka kurang lebih setelah seminggu saya nonton film serial ini, malah ayah saya yang berpulang. Kalau ayah saya justru meninggalkan banyak kesan untuk orang-orang di sekitarnya, ayah saya orangnya outgoing dan senang menghibur orang-orang. Saya sendiri baru mengenal beliau lebih baik dari cerita kerabat-kerabatnya, teman-temannya, maupun rekan-rekan kerjanya.
Singkat cerita, apa yang saya alami karena salah tafsir mimpi saya sendiri, di akhir hari yang saya pikir saya akan berpulang itu, saya benar-benar baru menyadari betapa hidup itu suatu anugerah yang sungguh besar yang diberikan kepada kita. Di penghujung hari itu, saya sungguh merasa bersyukur karena masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan saya, untuk menambah amal kebaikan, untuk memperbaiki ibadah yang belum sempurna, untuk menjadi seseorang yang memiliki arti bagi sekitar, untuk berbuat lebih, dan untuk mensyukuri setiap detik yang diberikan. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah...

