skip to main | skip to sidebar

About me

My Photo
Mariana
Indonesian muslimah, Backpacker, Photography Lover, Dreamer, and Believer to these phrases: "whoever seeks they will find" & "there's no useless effort" - So, keep on going!
View my complete profile

Archive

  • ► 2008 (13)
    • ► June (1)
    • ► July (3)
    • ► August (2)
    • ► September (2)
    • ► November (2)
    • ► December (3)
  • ▼ 2009 (13)
    • ► January (2)
      • Pertanyaan yang Bagus di Awal Tahun
      • Many Things That I Should Thanks For
    • ► February (1)
      • Lost in Translation
    • ► March (2)
      • Supir Angkot, Ibu yang Tangguh, dan Pak Hoegeng
      • Lanjutan Pak Hoegeng
    • ► May (1)
      • Al itsar bil qurbi makruuhun wa fi ghairiha mahbuubun
    • ► August (1)
      • Pengalaman Pertama Backpacking
    • ► September (3)
      • Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
      • Seandainya Lebih Jauh, Semuanya, dan Yang Baru
      • Tips SUPER
    • ▼ December (3)
      • The G-Lamp
      • Accidentally Beautiful
      • Belajar dari Ibrahim
  • ► 2010 (20)
    • ► January (3)
    • ► February (3)
    • ► April (1)
    • ► June (1)
    • ► July (1)
    • ► August (9)
    • ► September (1)
    • ► November (1)
  • ► 2011 (10)
    • ► February (2)
    • ► June (3)
    • ► August (4)
    • ► October (1)
  • ► 2012 (5)
    • ► January (1)
    • ► March (1)
    • ► August (1)
    • ► September (1)
    • ► November (1)
  • ► 2013 (16)
    • ► January (1)
    • ► March (1)
    • ► June (6)
    • ► July (1)
    • ► August (4)
    • ► September (2)
    • ► October (1)
  • ► 2014 (13)
    • ► January (1)
    • ► February (1)
    • ► March (2)
    • ► May (2)
    • ► June (1)
    • ► August (1)
    • ► September (1)
    • ► October (1)
    • ► November (3)
  • ► 2015 (15)
    • ► February (1)
    • ► March (1)
    • ► July (1)
    • ► August (3)
    • ► October (4)
    • ► November (1)
    • ► December (4)
  • ► 2016 (6)
    • ► January (2)
    • ► February (2)
    • ► March (2)
  • ► 2017 (3)
    • ► April (1)
    • ► June (1)
    • ► July (1)
  • ► 2020 (5)
    • ► October (2)
    • ► November (3)
  • ► 2021 (9)
    • ► January (1)
    • ► February (2)
    • ► April (3)
    • ► July (2)
    • ► September (1)

Labels

  • backpacking
  • blog design
  • capturing moments
  • cerita-cerita
  • cuap-cuap
  • family matters
  • hikmah
  • hot stuff
  • inspirasi
  • kata-kata
  • kerja dan belajar
  • korean drama
  • masak memasak
  • quotes
  • relationship
  • review
  • selingan
  • tausyiah
  • wonderful

What I'm Into

Interior & Architecture

  • Arc Space
  • Arch Daily
  • Archinect
  • Architonic
  • Copy Cat Chic
  • Design Glossary
  • Design Milk
  • Dezeen
  • Enlighter Magazine
  • Famous Architects
  • HGTV
  • Houzz
  • How About Orange
  • IALD
  • IKEA Hackers
  • Interior Design Magazine
  • Karim Rashid
  • Lighting Design Magazine
  • Meade Design Group
  • Mondo Arc
  • Philippe Starck
  • Print and Pattern
  • Samantha Pynn
  • Summer Allen
  • Suzanne Dimma
  • Top 50 Interior Websites

All About Design

  • Eat Drink Chic
  • Goodnight Little Spoon
  • Josh Lafayette
  • Paper Toys
  • Pixel Girl
  • Pugly Pixel
  • Pugly Pixel Blog
  • The Cool Hunter

Let's Go Green

  • groovy green
  • inhabitat
  • sustainablog
  • world changing

Inspiring Blogs

  • Febrianti Almeera
  • Islamic Articles
  • Jamil Azzaini
  • Salim A. Fillah

I Read This

Bidadari Bidadari Surga
Mengarungi 'Arsy Allah
Gadis Pantai
Confessions of a Shopaholic
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Kupinang Engkau dengan Hamdalah
The Da Vinci Code
A Very Yuppy Wedding
Menyelam ke Samudera Jiwa dan Ruh
Bumi Cinta
Cinta Brontosaurus
The Alchemist - Sang Alkemis
Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh
Life of Pi
Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps: Mengungkap Perbedaan Pikiran Pria dan Wanita Agar Sukses Membina Hubungan
divortiare
Ketika Cinta Bertasbih
The Right to Lead
How to Win Friends and Influence People
Virus of the Mind: The New Science of the Meme


Mariana's favorite books »

For A Better Life!

Blog Readers

Stats

free counters

simply,

bla bla bla in my mind...

26 December 2009

Belajar dari Ibrahim

DI tengah kerinduan akan nuansa ketakwaan dan ketenangan dalam mahabbatullah, saya menemui sebuah penggalan nasyid Snada yang begitu bagus, berjudul Belajar dari Ibrahim :

Pada Allah mengaku cinta, walau pada kenyataannya
Pada harta pada dunia, tunduk seraya menghamba...
Belajar dari Ibrahim, belajar taqwa kepada Allah
Belajar dari Ibrahim, belajar untuk mencintai Allah

Ya Allah, karuniakan kepada hamba kekuatan untuk bisa mencintaiMu
dengan jujur dan sebenar-benarnya, dan mencintai setiap anugerah
dariMu dengan kecintaan yang tidak melenakan, namun dengan kecintaan
yang akan semakin meningkatkan kecintaanku padaMu. Amin.
Posted by Mariana at 9:00 AM 2 comments
Labels: tausyiah

06 December 2009

Accidentally Beautiful


Unintentionally colors came from an accident incident when I tried to pull off the filter from a halogen lamp in Gobo reflector. The filter was slipped from my hand, then it fell down in the armature at a slant angle. Then voila! Suddenly these colors showed up.

Well actually the filter color is blue. And the halogen lamp color is yellow or 3000 Kelvin. So it's kinda surprise when we see the purple as a mix of those two colors.

Anyway, it's just nice. Not everything nice should be happened by a plan, right? It's often found that a great idea just went from an unintentionally incident that became a start of inspiration. That's what we call, original!

Posted by Mariana at 8:20 AM 0 comments
Labels: inspirasi, kerja dan belajar

The G-Lamp


This special custom made lamp is a gift from me and Rara to our friend - Gita. It can be use as a decorative side lamp or table lamp. Made by multiplex with dark brown duco doff finishing, ten ellipsoidal incandescent 5 watts lamps with serial electrical installation, and ten bulb fittings.

The square form of wood box was designed to represent a birthday cake. And the lamps installed as the candles. The bulbs were arranged intentionally to make a G letter - according to her nick name.

Dedicated to her big passion in lighting design, so we named it "The G-Lamp".

Happy Birthday!

Posted by Mariana at 7:38 AM 2 comments
Labels: kerja dan belajar

27 September 2009

Tips SUPER

Malam ini baru saja saya menyaksikan tayangan Golden Ways-nya Mario Teguh bersama dengan keluarga. Tema yang dibahas yaitu tentang Stairway to Heaven atau jalan menuju surga. Dari tayangan itu, saya mendapatkan tips-tips SUPERRR! :D

Wanna know? Check this out!

  • Ketika kita mencintai Sang Pencipta, maka kecintaan kita padaNya harus dibuktikan. Dengan menjalankan ibadah wajib, juga dengan memuliakan saudara. Karena Ia berfirman, "Jika engkau mencintaiku, maka muliakanlah saudaramu". Salah satunya dengan cara bersikap baik terhadap mereka, memberikan senyuman, dan menanyakan kabar. Jangan sampai kita hanyut dalam zikir, tapi diluar sana ada keluarga yang tidak terurus. Jadikan kegiatan ibadah dan memuliakan saudara seimbang.

  • Orang yang keras justru memiliki kepribadian dan pendirian yang kuat bila dibentuk. Ibarat pisau, bahan pembuatnya akan lebih kuat baja dibanding tembaga ketika ditempa. Namun, baja yang terlalu keras tidak akan digunakan karena tidak bisa dibentuk. Orang yang memiliki karakter keras ini (contohnya pribadi yang cenderung emosional, suka membangkang), harus membiarkan dirinya dibentuk oleh orang yang kuat agar bisa menjadi pribadi yang mantap. Biasanya orang-orang yang keras seperti ini, ketika dia memegang pendapat yang benar, maka segala bujuk rayu, uang, jabatan, tidak akan menggoyahkannya. Mereka cenderung lebih konsisten. Menurut Mario Teguh, kebanyakan orang-orang sukses, dulunya adalah anak-anak yang nakal, suka membantah, dan tidak menurut. Tapi ketika mereka telah diasah dan melalui berbagai tempaan, mereka menjadi orang-orang yang luar biasa.

  • Dimanapun kita menghadapkan wajah, disitulah Tuhan berada. Karena Tuhan ada dimanapun. Karena itu kita harus bertindak seolah-olah Tuhan ada di hadapan kita. Sehingga kita akan selalu ingat untuk bertindak sesuai dengan hati nurani.

  • Tanda bila kita berada di jalan yang benar, yaitu ketika kita menjalaninya hati kita merasa tenang. Sebaliknya, jika kita berada di jalan yang membutuhkan kebaikan, maka hati kita terus merasa gelisah.
Posted by Mariana at 11:11 PM 3 comments
Labels: inspirasi, review

22 September 2009

Seandainya Lebih Jauh, Semuanya, dan Yang Baru

Sebuah ceramah ringan usai sholat Ied 1430 H dua hari yang lalu masih terpatri di ingatan saya. Ceramah tersebut sangat sederhana, hanya mengurai sebuah cerita di jaman Nabi SAW tentang seseorang yang ketika sakaratul maut tidak mengucap kalimat syahadat, tapi orang itu justru berkata "seandainya lebih jauh, semuanya, dan yang baru" sebagai kalimat terakhirnya, lalu meninggal..

Hal ini spontan langsung dilaporkan kepada Rasulullah SAW. Ketika mendengar cerita ini, Beliau langsung mendapat wahyu dari Allah SWT mengenai cerita di balik kejadian tersebut. Ternyata orang yang mengucapkan kalimat itu, semasa hidupnya pernah menolong orang tuna netra untuk mencapai arah tujuannya. Di akhir hidupnya, Allah memperlihatkan betapa besar pahala atas amalan orang tersebut. Maka ia berucap, "seandainya lebih jauh..". Maksudnya seandainya ia menuntun orang tuna netra itu lebih jauh lagi jaraknya, tentu pahalanya akan jauh lebih besar.

Lalu Allah memperlihatkan lagi pada orang yang sedang menghadapi sakaratul maut tersebut tentang amalnya pada seorang pengemis. Dahulu suatu hari ia pernah berjalan sambil membawa roti. Tiba-tiba di tengah jalan ia bertemu dengan seorang pengemis. Di hatinya tergerak untuk memberikan roti tersebut. Tapi memang sudah menjadi dasar sifat manusia yang kikir, maka roti itu dibelah jadi dua. Setengah roti itu diberikan pada pengemis. Allah menunjukkan betapa besarnya pahala sepotong roti yang diberikan tersebut. Maka orang tadi berucap, "seandainya semuanya.." yang berarti seandainya ia berikan semua roti tersebut maka pahalanya akan jauh lebih besar lagi.

Selanjutnya, diperlihatkan pula mengenai amal ibadahnya yang lain. Dulu semasa hidupnya ia pernah memberikan sedekah baju-baju bekasnya kepada anak-anak yatim. Lalu ditunjukkan betapa besar pahala orang tersebut atas amalannya memberikan baju-baju bekas. Maka orang tersebut menyesal, maka ia berucap "seandainya yang baru..". Maksudnya seandainya baju-baju baru yang ia berikan, tentu pahalanya lebih besar lagi.

Cerita tersebut memberikan gambaran pada kita bahwa betapa kecilnya sedekah yang kita berikan pada orang lain, asalkan ikhlas maka Allah akan membalasnya dengan pahala yang begitu besar. Subhanallah.

Bersedekah yuk :)

Posted by Mariana at 11:05 AM 2 comments
Labels: hikmah, inspirasi, review

19 September 2009

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H


Faith makes all things possible
Hope makes all things work
Love makes all things beautiful
May you have all of the three

Minal Aidin wal Faidzin
Mohon maaf lahir dan batin

Posted by Mariana at 12:39 PM 2 comments
Labels: kata-kata

26 August 2009

Pengalaman Pertama Backpacking

Kawah Ijen - Taman Nasional Baluran - Madura - Surabaya menjadi paket perjalanan backpacking saya yang pertama.

Pengalaman pertama ini sangat berkesan, karena baru kali ini saya pergi ke daerah orang selama 5 hari 4 malam, tapi sama sekali tidak tidur di kasur. Persis seperti gembel, tidur dimana saja. Hehe.

Sama sekali tidak ada niatan untuk riya' atau pamer kesenangan, sharing perjalanan ini hanya untuk berbagi pengalaman betapa inginnya saya melihat goresan tanganNya yang begitu indah pada bumi ini. Mengingat selama ini jarang sekali saya mendapat kesempatan untuk bepergian, jika ada kesempatan lagi saya akan mengulang eksplorasi saya terhadap alam. Lagi dan lagi dan lagi hingga akhir hayat.

Saya ingin melihat dunia. Saya ingin hidup untuk menikmati hidup.




Kawah Ijen di pagi hari masih tertutup kabut



Pemandangan Kawah Ijen dari tebing



Air danau yang tinggi kandungan belerangnya









Padang Savannah Bekol di dalam Taman Nasional Baluran



Jalan menuju pantai melewati Savannah



Pantai Bama, masih di Taman Nasional Baluran



Menjelang Maghrib






Jembatan Suramadu di pagi hari



Gorengan khas Surabaya yang disajikan dengan sambal petis




Posted by Mariana at 11:24 PM 4 comments
Labels: backpacking

05 May 2009

Al itsar bil qurbi makruuhun wa fi ghairiha mahbuubun

Ada sebuah kaidah yang baru saya ketahui. Saya menemukannya ketika membaca sebuah novel. Kaidah ini cukup menarik, karena tidak begitu umum juga tidak banyak disampaikan dalam kajian-kajian halaqah dan sejenisnya. Disini tidak disebutkan sumber kaidahnya, tapi saya setuju dengan isi dari kaidah ini karena penulisnya dapat dipercaya.

----------

“Kak Anna, maksud kaidah ini apa?” tanya Cut Mala.

“Coba baca apa kaidahnya!” pinta Anna.

“Kaidahnya begini Kak: Al itsar bil qurbi makruuhun wa fi ghairiha mahbuubun! Di sini tidak ada penjelasannya sama sekali kak. Saya belum benar-benar paham.”

Anna langsung menjawab dengan tenang,

“Kaidah itu artinya, itsar, mengutamakan orang lain, dalam hal mendekatkan diri kepada Allah, atau mengutamakan orang lain dalam beribadah, itu hukumnya makruh. Adapun mengutamakan orang lain pada selain ibadah itu dianjurkan. Dalam ibadah yang dianjurkan dan disunnahkan adalah berlomba-lomba mendapatkan yang paling afdal. Mendapatkan pahala yang paling banyak. Maka mengutamakan orang lain sangat tidak dianjurkan alias makruh.

“Contohnya, jika seseorang memiliki air yang hanya cukup buat berwudhu untuk dirinya saja, maka ia tidak boleh memberikan air itu pada orang lain, agar orang lain bisa berwudhu sementara ia tayammum. Yang disunnahkan adalah dia menggunakan air itu untuk berwudhu biarkan orang lain tayammum. Kecuali jika ada orang lain yang membutuhkan untuk minum karena kehausan, maka ia sebaiknya memberikan air itu padanya dan ia bisa bersuci dengan tayammum.

“Contoh lain, jika seorang Muslimah memiliki satu mukena. Lalu datang waktu shalat. Ia tidak diperbolehkan mempersilakan orang lain shalat dulu menggunakan mukenanya dan ia menunggu setelah orang-orang selesai menggunakan mukenanya. Yang benar adalah ia harus segera shalat sebelum yang lain. Ia harus mengutamakan dirinya. Sebab shalat di awal waktu itu lebih baik. Baru setelah ia shalat bisa meminjamkan pada orang lain. Dalam ibadah sekali lagi dimakruhkan mengutamakan orang lain. Begitu maksud kaidah itu Dik. Kau bisa menganalogkan dengan yang lain.”

Cut Mala tampak puas mendengar jawaban itu. Tiba-tiba ia terpikir sesuatu yang menarik untuk ia tanyakan,

“Maaf Kak saya mau tanya. Kalau misalnya. Sekali lagi ini misalnya lho Kak. Misalnya ada seorang gadis Muslimah, dilamar oleh seorang pemuda yang sangat baik. Baik agamanya, akhlaknya, prestasinya, juga wajahnya. Lalu ia mengalah mengutamakan saudarinya yang menurutnya lebih baik darinya dan lebih pantas menikah dengan pemuda Muslim tadi. Apa ini termasuk makruh Kak?

Anna menatap kedua mata Mala. Sebuah pertanyaan yang membuatnya tersenyum sekaligus kagum akan kreativitas gadis dari Aceh ini. Bukankah pertanyaan yang baik adalah separo dari ilmu?

“Menurutmu menikah itu ibadah nggak Dik?” tanya Anna.

“Ibadah Kak. Bukankah menikah itu menyempurnakan separo agama?”

“Jadi jelas kan jawabannya. Aku pribadi kalau menemukan pemuda yang baik, yang menurutku sungguh baik dan ada yang menjodohkan aku dengannya ya aku akan mengutamakan diriku dulu. Tidak akan aku tawarkan pada akhwat lain. Menikah kan ibadah. Cepat-cepat menikah kan juga bagian dari berlomba-lomba dalam kebaikan. Kalau aku itsar, mengutamakan akhwat lain, berarti aku kalah cepat. Akhwat itu akan menikah duluan, dapat jodoh duluan dan aku belum. Jadi tertunda. Dan, tambah lagi belum tentu aku akan dapat jodoh yang lebih baik dari itu. Meskipun jodoh ada yang mengaturnya yaitu Allah. Tapi kita kan harus ikhtiar. Di antara bentuk ikhtiar, ya, ketika kita menemukan yang baik tidak usah mengutamakan orang lain.”

---------------
Cuplikan di atas saya ambil dari Novel "Ketika Cinta Bertasbih" karangan Kang Abik (Abiburrahman El Shirazy, penulis novel "Ayat-Ayat Cinta")
Posted by Mariana at 10:17 PM 0 comments
Labels: review

29 March 2009

Lanjutan Pak Hoegeng

Huaa, ada sesuatu yang bagus ternyata. Baru saja saya menyaksikan siaran ulang Tribute to Hoegeng di acara Kick Andy. Ada bagian yang terlewati oleh saya. Ternyata menjelang akhir acara, diceritakan bahwa Pak Hoegeng itu memiliki nama asli Hoegeng Iman Sentosa. Namun beliau tidak pernah memakai nama belakang Iman Sentosanya tersebut di berbagai dokumentasi. Ketika ditanya oleh putranya mengapa beliau ketika tanda tangan pun tidak memasukkan nama Iman Sentosa itu, Pak Hoegeng menjawab, “Saya akan buktikan sampai akhir hayat saya, bahwa saya memiliki Iman yang benar-benar Sentosa, baru saya akan memakai nama tersebut.” Wuah, luar biasa sosok yang satu ini.

I should take a deep breath.. (saking kagumnya). Kok ada ya manusia seperti ini. Kalau kata Gus Dur, hanya ada tiga polisi yang jujur, yaitu Pak Hoegeng, patung polisi, dan polisi tidur. Hehe, ada ada saja si Gus Dur ini. Tapi memang benar, beliau ini sosok yang patut dijadikan panutan. Terutama oleh polisi-polisi jaman sekarang.

Dahulu di jaman orde baru, ketika beliau seketika dicopot dari jabatannya sebagai Kapolri, beliau tidak kehilangan akal untuk menafkahi keluarganya. Dengan darah seni yang mengalir di dirinya, beliau mencari nafkah dengan membuat lukisan-lukisan dan menjualnya. Entah kenapa saya jadi sangat terkesima mendengar kebersahajaan beliau ketika hidup yang sampai seperti ini. Padahal beliau ini adalah mntan Kapolri, bisa saja dengan pengaruh jabatan yang pernah dimilikinya, beliau menggunakannya untuk mencari nafkah. Tapi ternyata Pak Hoegeng lebih memilih jalan yang halal dan diridhoi.


Ada satu hal yang menarik dari Pak Hoegeng ini, meskipun beliau sepertinya terlihat sangat garang dengan background profesinya sebagai polisi, tapi beliau ini semenjak SMP begitu menyukai musik-musik Hawaii. Bahkan beliau sempat menyalurkan hobinya ini dengan bergabung bersama grup musik Hawaian Senior, yang dulu kerap kali tampil di TVRI. Hehe, ternyata masih ada sisi fun juga dalam dirinya. Yang membuat saya sangat amat ngiri adalah beliau ini memiliki kesamaan hobi dengan istrinya dalam hal kesenian, terutama melukis dan menyanyi lagu Hawaii. Pada tayangan Kick Andy tadi diputar ulang show di TVRI yang memperlihatkan duet antara Pak Hoegeng dengan Ibu Meryati Roeslani, istrinya, dalam usia yang sudah senja menyanyikan lagu Hawaii. Mesra sekali. Ooh… Impianku. Hehe. I just wanna married once in a life time and sharing my life with the one through the good and bad, and also singing together! Hehehe… Ga perlu hidup mewah, sederhana, tapi sampe kakek nenek bisa terus bahagia bersama. Oh what a dream. -_-


Bagian yang menarik di acara Kick Andy itu adalah ketika Ibu Meri, sang istri, bercerita bahwa dulu Pak Hoegeng sempat ke Hawaii, hingga tiga kali. Tapi itu semua untuk urusan dinas. Beliau tidak pernah mengajak Ibu Meri, kata Pak Hoegeng ini adalah urusan dinas, jadi beliau ingin memisahkan antara urusan dinas dan urusan pribadi. Sehingga sekalipun Ibu Meri belum pernah ke Hawaii. Tapi Ibu Meri sempat berucap pada Pak Hoegeng, sebelum Ibu Meri menutup mata, ia ingiiiin sekali melihat Hawaii. Tapi hingga sekarang masih belum kesampaian. Terakhir kali, Didit yaitu putra mereka, mengumpulkan uang untuk mewujudkan keinginan ibunya ini. Mereka berangkat bersama-sama ke Kedutaan untuk memohon visa, tapi sayang sekali hingga dua kali visa mereka ditolak. Namun di acara Kick Andy tersebut, Ibu Meri diberikan kejutan yang saaangat indah. Tidak hanya dipertemukan oleh kawan Ibu Meri yang merupakan orang Hawaii yang sudah kurang lebih 30 tahun tidak bertemu, tapi Ibu Meri juga mendapatkan visa ke Hawaii! Yang dengan penuh totalitas diusahakan oleh Didit, putranya. Plus tiket pulang pergi Jakarta Hawaii dari Surya Paloh sebagai hadiah kepada Ibu Meri mengingat ayah Surya Paloh merupakan rekan dari Pak Hoegeng. Ooh.. sangat mengharukan. Sampai anak-anak Ibu Meri dan Pak Hoegeng yang hadir di acara tersebut ikut terharu, bahkan ada beberapa penonton yang sampai menitikkan air mata. Ooh.. dream comes true. I do believe, dreams do come true!


Mungkin ini adalah buah kesabaran ibu Meri sebagai istri dari Pak Hoegeng yang mau diajak hidup ala kadarnya, tapi tetap mendampingi dengan setia hingga akhir hayat. Ooh.. so sweet. Anyone? Hix.. Tissue please. Hehee. See ya.

Posted by Mariana at 3:35 PM 0 comments
Labels: cuap-cuap, inspirasi, review

28 March 2009

Supir Angkot, Ibu yang Tangguh, dan Pak Hoegeng

Siang ini di tengah teriknya matahari, saya menunggu kendaraan umum di daerah Cilandak. Saya berharap akan ada angkot yang menuju daerah Lebak Bulus. Karena saya akan di jemput ayah saya disana untuk pulang ke rumah. Berhubung tidak terlalu mengerti jalan, saya asal melambai saja pada angkot yang lewat. Kebetulan saat itu ada angkot 61 yang perlahan menepi.


Langsung saja saya tanya, "Lebak Bulus?".

Lalu si supir menjawab, "Ga ada neng dari sini yang ke Lebak Bulus. Mau nunggu sampe malem juga ga bakalan lewat. Udah naik ini aja dulu, nanti berhenti di Trakindo. Dari situ baru ada bisnya."


Karena disarankan demikian, saya menurut saja. Karena saya tidak terlalu mengerti jalan. Dibohongi sekalipun saya juga tidak tahu. Tapi saya termasuk orang yang berani mencoba. Maka saya jalani perjalanan tersebut.


Di tengah jalan, supir angkot tadi membuka pembicaraan, "Belum ada neng trayeknya yang dari sini ke Lebak Bulus. Ada juga yang dari Pondok Labu, tapi itu suka ga mau sampe ke Lebak Bulus. Kasian neng nya nanti diturunin tengah jalan."

Saya mengiyakan saja.


Maklum, tidak banyak yang bisa saya tanggapi topik seputar jalanan. Apalagi yang tidak begitu saya pahami. Meskipun beberapa tahun silam jalan ini sekalipun tidak asing bagi saya. Banyak kenangan masa kecil yang tersimpan karena saya pernah tinggal di daerah ini, mulai mengerti banyak hal dari tempat ini, belajar hal-hal baru seperti naik sepeda juga disini. Tapi itu sudah lama berlalu. Jika disuruh mengingat tentang trayek angkutan umum seperti ini, jelas saya tidak akan ingat.

Perjalanan dilanjutkan. Satu per satu penumpang angkutan yang saya tumpangi ini turun di tujuannya masing-masing. Tertinggal saya sendiri. Mendekati Trakindo, tiba-tiba supir angkot tadi memberitahu kalau ia akan berputar, jadi tidak bisa mengantar saya sampai benar-benar di depan Trakindo. Saya harus berjalan kaki beberapa meter untuk sampai kesana. Pikir saya saat itu sepertinya supir angkot ini mengerjai saya saja. Atau hanya mencari keuntungan semata dari orang yang buta jalan. Lalu seketika saya harus malu sendiri dengan pikiran negatif saya tersebut.


Ketika akan membayar, tiba-tiba sang supir berucap, "Ga usah bayar neng, ga apa-apa. Deket ini."

Saya jadi terkesima. Merasa tidak enak, saya tetap menyodorkan ongkos untuknya. Dia tetap menolak. Langsung saja saya letakkan uangnya di dashboard terdekat, sambil berucap "Buat jajan si adek." Adek yang saya maksud adalah anak perempuannya yang masih kecil yang dibawa serta sambil bekerja yang saat itu duduk di dekat posisi saya membayar.

"makasih neng.", ujar si supir sambil tersenyum.


Subhanallah, saya harus belajar banyak darinya tentang ketulusan dalam menolong. Ternyata supir angkot ini meskipun ia kecil secara ekonomi, tapi mampu dengan sukarela membantu orang lain. Dan saya bisa merasakan ketulusannya. Semua itu terlihat jelas di raut wajahnya yang selalu tersenyum juga tutur katanya yang enak didengar. Sama sekali tidak ada raut meminta pamrih atau merasa berat dalam melakukan kebaikan ini. Kecil secara ekonomi, namun memiliki kebesaran hati. Ini bukan pertama kalinya saya menemui orang yang kecil secara ekonomi, tapi secara spontan dan tulus mau membantu orang yang sedang dalam kesulitan. Seperti pedagang asongan yang saya temui di Bandung. Juga pernah saya mendapatkan tumpangan dari seorang pengemudi motor ketika saya harus pergi ke suatu tempat namun tidak mengetahui arah. Secara cuma-cuma ia mau mengantar saya langsung sampai tujuan. Bukan karena terpesona oleh saya tentunya, hehe. Saya yakin beliau memang baik.


Selanjutnya, dari Trakindo saya ke Lebak Bulus untuk dijemput ayah saya. Dalam perjalanan pulang bersama ayah, saya sekilas mendengarkan radio. Saat itu ada wawancara antara sang penyiar dan seorang ibu yang anaknya terkena penyakit kanker darah atau Leukimia.


Sang penyiar bertanya, "Bagaimana perasaan ibu ketika anak anda terkena penyakit Leukimia?"

Ibu tersebut menjawab, "Saya berusaha untuk tangguh. Tuhan tidak akan memberikan anak yang sakit Leukimia kepada ibu yang cengeng."

Sambil sedikit bercanda, ibu tadi melanjutkan,"Iya, kalau ibunya cengeng, anaknya pasti sehat-sehat aja. Hehehe. Makanya, saya dan suami saya berusaha untuk tetap kuat dalam menghadapi ini. Di depan anak, saya tidak pernah menunjukkan rasa sedih. Saya senyum-senyum saja di depannya agar anak saya tidak tambah sedih dengan penyakitnya tersebut. Pernah sih sekali waktu anak saya ingin menyerah saja dalam menghadapi penyakitnya, tapi saya selalu mencoba untuk menguatkannya."


Seketika saya tersadarkan, iya juga ya. Ibu tersebut benar. 4WI memberikan cobaan memang sesuai dengan kapasitas manusianya. Ketika kita menghadapi cobaan yang berat, 4WI benar-benar tahu kalau kita pasti kuat dalam menghadapinya.


Di akhir wawancara, sang penyiar mendoakan,"Semoga ketabahan ibu dalam menghadapi penyakit Leukimia anak ibu menjadi tiket bagi ibu untuk masuk ke surga."


Amin. Wah, subhanallah. Saya jadi semangat mendengar ucapan ibu dan sang penyiar tadi. Mungkin ada beberapa bagian dari hidup ini yang terasa berat ketika dijalani. Tapi ketika kita tahu bahwa 4WI yakin kita kuat dalam menjalaninya, membuat segala sesuatu menjadi lebih ringan. Sehingga setiap permasalahan berubah menjadi suatu tantangan tersendiri untuk dipecahkan. Siapa tahu jika kita bisa melewatinya, atau bahkan hanya dengan kesabaran saja dalam menghadapinya akan menjadi tabungan kita nanti di akherat. Jika masih terlalu absurd untuk membicarakan akherat, untuk di dunia saja segala cobaan yang kita hadapi bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Setidaknya ada hikmah yang dapat kita petik agar kita belajar menjadi sosok manusia yang bisa menghargai hidup.


Kalau kata Pak SBY ketika diwawancara Najwa Shihab di Metro TV tentang bagaimana beliau menghadapi hidup ini atau kata Najwa, "How do you keep on going?".

Beliau dengan santai namun tetap terlihat sangat bijaksana menjawab selayaknya seorang ayah yang mengayomi anaknya,"Sesungguhnya hidup ini adalah ibadah. Tidak ada yang sia-sia dalam ibadah…….". Luar biasa Bapak Presiden yang satu ini.


Pelajaran di hari ini belum berakhir. Sesampainya di rumah, ketika malam menjelang saya dan ayah saya menyaksikan acara Kick Andy di Metro TV. Saat itu sedang dibahas mengenai sosok seorang Almarhum Pak Hoegeng. Saya sama sekali belum pernah mendengar nama ini. Ternyata beliau ini dulunya adalah seorang Kapolri. Juga pernah menjabat sebagai menteri. Namun gaya hidupnya luar biasa sederhana. Saya kagum dengan kebersahajaan beliau. Sikapnya yang tidak mau hidup berlebihan benar-benar membuat orang-orang disekitarnya salut. Bahkan keluarganya pun diajari untuk tidak hidup mewah. Ia mengajarkan anak-anaknya untuk tidak menerima sesuatu yang bukan menjadi haknya. Bayangkan saja, seorang mantan Kapolri baru bisa memiliki rumah di usianya yang lanjut. Itupun atas kebijaksanaan dari Kapolri yang sedang menjabat saat itu sebagai penghargaan pensiun untuknya. Sebelumnya beliau hanya menempati rumah dinas bersama dengan keluarganya. Bahkan ketika sedang berada di puncak jabatan, beliau pernah menolak diberikan dua buah motor secara cuma-cuma dari dealer kendaraan bermotor.


Pak Hoegeng ini juga merupakan seorang Polisi yang benar-benar profesional. Sewaktu masih aktif menjadi Kapolri, beliau sering turun sendiri ke operasi-operasi yang ada. Tak jarang beliau juga suka ikut mengatur lalu lintas dan bahkan mau melakukan penyamaran untuk menangkap bandar narkoba. Pada masa pemerintahan Orde Baru, Alm. Pak Hoegeng pernah ditawari untuk menjadi seorang duta besar di suatu negara. Tapi ia menolak dengan mengatakan bahwa ia adalah lulusan Akademi Kepolisian, bukan seorang lulusan diplomat. Wah, untuk yang satu ini saya jadi merasa tersindir. Hehe. Tenang pak, suatu saat saya akan menjadi seorang Interior Desainer yang profesional tapi mengerti betul tentang lighting dan arsitektur. Amiiin.


Mengetahui sosok Alm. Pak Hoegeng ini, saya jadi teringat akan ayah saya. Terutama bagaimana beliau mendidik saya hingga menjadi pribadi yang saat ini. Hampir mirip seperti Alm. Pak Hoegeng, semenjak kecil saya tidak pernah dimanja dengan barang-barang yang mewah. Meskipun dulu kami sempat hidup berkecukupan, tapi tidak ada yang berlebihan. Biasa-biasa saja. Juga sekarang ketika keadaan kami serba pas ataupun sedang ada rejeki berlebih, tidak pernah membeli sesuatu secara berlebihan. Dulu jika saya meminta dibelikan sesuatu yang bermerk sedikit, ayah saya langsung bertanya apa benar-benar perlu yang bermerk? Baginya suatu barang itu yang penting kegunaannya. Asalkan sama-sama bisa digunakan, jika ada barang yang sama namun jauh lebih murah, pasti ayah saya akan membeli yang lebih murah itu. Memang sedikit konvensional, terutama di jaman serba high tech dan super branded seperti sekarang. Namun baginya hidup sederhana jauh lebih ditekankan. Tapi ketika saya memang benar-benar membutuhkan barang yang agak mahal, apalagi yang berhubungan dengan pendidikan, ayah saya akan berusaha bagaimanapun caranya untuk bisa membelikan barang tersebut.


Dulu ayah saya sempat menjadi sosok yang otoriter, hingga tidak ada yang berani melawan beliau. Tapi lambat laun seiring berjalannya usia, akhirnya ia memberikan kebebasan pada anak-anaknya untuk menentukan pilihan, apapun itu yang berhubungan dengan kehidupan kami. Seperti memilih jurusan IPA/IPS/Bahasa ketika SMA, saya bebas menentukan keinginan saya. Meskipun beliau menekuni bidang IPA, tapi ia tidak pernah memaksakan saya untuk mengikuti jalannya. Bisa gila saya jika harus masuk IPA. Hehehe. Juga sewaktu masih SD, saya bebas untuk ikut ekstrakurikuler menggambar. Juga seringkali mengikutsertakan saya pada kegiatan-kegiatan kesenian, seperti lomba menggambar (meskipun tidak pernah menang sekalipun, haha, yang penting ikut), belajar merajut, membuat bordir, dan aneka kegiatan kesenian aneh-aneh lainnya. Juga sewaktu SMA ketika saya memutuskan untuk ikut kegiatan Marching Band, beliau tidak melarang, walaupun itu sangat melelahkan buat saya, tapi ia senang saya menyibukkan diri di berbagai kegiatan. Untuk urusan pendidikan, saya dibebaskan melakukan apa saja.


Tapi untuk masalah kejujuran, ayah saya ini benar-benar tidak ada kompromi. Ia sangat tidak suka jika saya berbohong. Dulu sewaktu kecil saya sempat berbohong padanya. Pas ketahuan, saya langsung habis dimarahi semalaman. Ayah saya benar-benar mengerikan kalau sedang marah. Semenjak itu saya jadi sedikit trauma. Sehingga tidak berani lagi berbohong padanya. Untuk yang sudah mengenal saya, pasti tahu betul kalau saya lebih suka berbicara terus terang apa adanya dan to the point. Ini salah satu akibat dari didikan ayah saya yang cukup keras soal kejujuran. Kalau diharuskan berbohong, saya pasti akan mengalami kesulitan. Sudah menjadi kebiasaan apa yang saya katakan memang itulah adanya. Saya lebih memilih jujur meskipun tidak mengenakkan, daripada menutupi kebenaran hanya untuk menghibur atau memberi harapan semu.


Di atas segala-segalanya, saya harus lebih banyak belajar tentang kehidupan dari ibu saya. Apa yang saya jalani tidak ada satu persennya dari apa yang ibu saya sudah lewati selama ini. Ia layak disebut sebagai Super Woman. Saya yakin, jika saya harus menjalani apa yang ia alami, saya pasti tidak akan pernah sanggup. Ia terbiasa menjalankan kehidupan yang keras di ibukota ini. Meskipun sudah berusia setengah abad lebih, tapi ia masih sanggup setiap hari pergi pagi, naik turun busway, bekerja seharian, bahkan jika diperlukan di hari libur pun ia masih mengurusi pekerjaannya, tidak jarang menyetir kendaraan dengan jam terbang yang tinggi, melewati jalan-jalan tikus, dan semua itu ia lakukan dengan menggunakan high heels! Pokoknya segala lika liku kehidupan, manis pahit, susah senang sudah ia jalani. Tenang saja ma, kali ini kita pasti bisa melewatinya lagi.


Jujur saja, saya rindu sekali ingin bertemu dengan orang-orang yang baik hati dan berakhlak mulia. Ingin saya belajar banyak hal dari mereka. Saya merasa masih banyak yang harus saya perbaiki dari diri ini. Saya jelas sekali masih banyak kekurangan. Dan saya butuh contoh untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saya akan sangat senang jika ada yang memberikan kritik, jika perlu masukan yang membangun tentang kekurangan maupun kesalahan yang saya miliki.


Berbicara tentang orang yang baik hati, saya jadi kangen sekali dengan guru ngaji saya ketika saya masih remaja. Beliau adalah Ibu Eka dan Ibu Dwi, dua kakak beradik yang sekarang saya tidak tahu lagi mereka ada di mana. Mereka begitu sabar dalam mengajari saya tentang agama, menemani saya di siang hari, bahkan ketika saya tertidur sewaktu mengaji mereka tidak pernah memarahi saya :') Mereka bahkan mau tidak dibayar untuk mengajari saya mengaji. Subhanallah orang-orang seperti ini. Sama seperti teteh mentor saya sewaktu kuliah, Teh Linda. Beliau begitu lemah lembut, selalu tersenyum, bacaan Al-Qur'an nya begitu indah, wah pokoknya Subahanallah deh sulit digambarkan. Sepertinya orang-orang ini hatinya terbuat dari batu mulia. Yang jelas, saya merasa sangat tenang di dekat mereka.


Juga ada almarhumah tante saya yang begitu perhatian dan sangat baik. Tante saya ini keturunan Jerman, tapi beliau sangat humble dengan semua orang. Ketika saya menginap di rumahnya, ia dengan senang hati mau mengajarkan cara membuat sablon untuk di tas. Walaupun saya masih kecil, tapi beliau juga mau berbicara dan bercerita tentang kehidupannya. Tentang bagaimana ia biasa membuat selai strawberry sendiri di kebunnya, membuat Brownies yang rasanya sangat enak, dan macam-macam. Tidak sungkan pula ia tersenyum sambil mengucapkan "Have Fun!" ketika saya akan bersenang-senang menghadiri suatu acara. Senang sekali rasanya bisa mengenal orang-orang seperti ini.


Oh ya tidak lupa satu lagi, saya juga banyak belajar dari si Bumi =) Hehe, you know who you are. Bukan hanya belajar sketch-up saja, saya juga belajar melihat sesuatu secara lebih obyektif. Through his eyes, I've learnt many things..


Akhir kata, saya memang masih harus banyak belajar, tetap belajar, dan terus belajar. Hehe. Never Ending Learn! Semangat!




27 Maret 2009, 23:40


[m.r.]

Posted by Mariana at 8:53 PM 3 comments
Labels: cerita-cerita, hikmah, inspirasi

11 February 2009

Lost in Translation

I found something nice here. But sadly, I can't put it on my layout =(

So, just click on the link to find out what I just found.
Posted by Mariana at 12:09 PM 0 comments
Labels: selingan

05 January 2009

Many Things That I Should Thanks For

Senang :)

That's All. Haha.

Ga ding, masih banyak yang mau saya tulis. Hmm... Beberapa hari ini saya bisa cukup merasa bersyukur (alhamdulillah...), ternyata banyak hal yang menyenangkan dari hidup ini. Hanya saja tidak disadari (atau tidak mau?!? atau lupa?). Sepertinya ketika mencapai titik ini, saya merasa tidak terlalu menginginkan hal-hal lainnya. Layaknya orang yang kenyang tercukupi laparnya, atau haus yang seketika terpenuhi dahaganya.

Sebenarnya ada satu hal yang saya inginkan: menghilang...

Hehe. Agar rasa ini bisa menetap. Tidak lebih tidak kurang. Cukup. Alhamdulillah (lagi). Ingin tahu apa saja hal-hal yang mencukupi saya? Berikut ini jawabannya... taraaa....
  • Baru saja saya bertemu sepupu saya yang sudah lamaaaaa sekali tidak ketemu. Sekitar 3 tahunan kami tidak bertatap muka. Senang sekali akhirnya bisa ketemu juga. Miss you so much, ren. Hehe. Jalan-jalan lagi yok! Ajak ryu juga, kita masih utang taman bunga. Kita?!? Huehue.
  • Lalu saya juga senang memiliki orang tua yang sangat baik. Mama yang baweeel, hehe, tapi sangat perhatian dan suka banget bikinin teh tarik, susu, atau sekedar mengisi gelas dengan air putih biasa di malam hari sebelum tidur. Papa yang jago bikin bubur, selalu bikinin sarapan, dan siap anter jemput! Lebih beruntung lagi karena dua-duanya tidak pernah menyuruh saya mengerjakan pekerjaan rumah (hoho... anak manja). Tapi kadang-kadang suka merasa bersalah juga sih kalau tiba-tiba mama atau papa tiba-tiba cuci piring T_T Maap... Soalnya entah kenapa sepertinya mereka merasa senang bisa melakukan hal-hal kecil di rumah untuk anak-anak. Love you mom, dad...
  • Tidak lupa, juga punya adik yang meskipun sering nyebelin hobi ngajak berantem, haha, tapi sangat berguna. Seperti jadi korban buat dibanting pas lagi hobi-hobinya latihan silat, hahaha. Eh eh tau tak, adik saya yang ini juga centil sekalii. Baru sadar saya, kemaren tiba-tiba adik saya ini menggunakan BODY LOTION. Huahahaha. Katanya wangi body lotionnya, bisa buat whitening (oh nooo, hahaha). Tidak lupa abis body lotion, dia siap semprat semprot parfumnya. Juga dia mau nyaingin saya dengan memakai karet rambut dan bando karena rambutnya makin gondrong. Pliss deh diii, hehe. Dia lagi senang sepertinya karena berhasil merombak kamar tercinta yang saya tinggalkan menjadi kamar dia. Segala barang-barang saya dengan sukses disingkirkan. Hihi. Biarlah. Nanti saya cari kamar lain yang lebih nyaman ;) Satu lagi, adik saya ini lagaknya seperti preman. Tapi kalau saya minta diselimutin kalau kedinginan, dia mau loh. Huohuo. Oke oke, saya memang anak manja. Anak paling dimanja di rumah. Hahaha.
  • Sangat bersyukur juga karena memiliki dua kakak yang siap membantu saya jika dibutuhkan. Kakak pertama yang sangat menggemaskan (dalam arti lain, haha) yang bisa jadi teman jalan kapan saja, selalu mentraktir nonton plus makan (oh beruntungnya saya, hehe). Kemudian kakak kedua yang begitu rajin membuatkan sarapan sebelum saya pergi kerja, juga selalu menelpon kalau saya pulang sangat larut.
  • Oh oh hal berikutnya yang saya tidak boleh lupa, saya punya sahabat-sahabat yang luar biasa. Ya walaupun sekarang sudah sangat jarang bersua. Tapi tak apa. Jauh di mata, dekat di hati :) Thx nit, yun, jets, git, mut, for being such a great friend for me.
  • Saya sehat lahir dan batin. Alhamdulillah.
  • Masih bisa bersyukur, alhamdulillah..
  • dan masih banyak hal lainnya yang patut saya syukuri

Ya Allah, terima kasih telah mencukupkan hamba-Mu ini dengan berbagai hal. Alhamdulillah... Semoga tiap kali saya membaca ini saya tidak lupa akan berbagai nikmat dan karunia-Mu. Amin.
Posted by Mariana at 8:44 PM 7 comments
Labels: cerita-cerita

03 January 2009

Pertanyaan yang Bagus di Awal Tahun

Ga ada angin ga ada hujan, tiba2 di awal tahun 2009 ini saya ditelpon doyqi (sepupu saya, bukan nama sesungguhnya, nama suka2 saya buat dia huehehe). Kira-kira beginilah cuap-cuap kami di telpon...


doyqi : ri, kira2 yang duluan nikah siapa? lo atau anne (kakak saya)?
saya : hah?!?


pertanyaan yang bagus banget nad. hehehe. ini kayak nanya : "ayam dulu atau telor dulu?"

atau ????

lalu perbincangan dilanjutkan...


doyqi : iya ri, soalnya nyokap gw mau bikinin kebaya.
saya : woot?!? o.O
doyqi : iya, buat eksperimen.
saya : hahaha.


bisa aja si tante becandanya. oke. semoga itu dianggap sebagai doa (yang mujarab) di awal tahun. hehe. amiiin.
Posted by Mariana at 3:46 PM 3 comments
Labels: cerita-cerita
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod - edited by Mariana