Beberapa hari yang lalu saya mengalami suatu malam yang panjang. Saya mengalami suatu kejadian yang subhanallah di satu sisi mengalami kesulitan, namun di sisi lain saya menemukan kemudahan yang bagi saya adalah suatu keajaiban.
Jadi malam itu seperti biasa selepas pulang kerja saya menyetir sendiri dari tempat saya bekerja hingga ke rumah, hanya saja malam itu saya merasa cukup lelah dan agak mengantuk. Jarak rumah dari tempat kerja saya tidak terlalu jauh, jika tidak ramai hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam dengan kecepatan saya berkendara. Tapi biasanya di jam-jam selepas pulang kantor seperti malam itu, jalanan cukup ramai lancar hingga membutuhkan waktu kurang lebih sejam untuk sampai rumah.
Kendaraan antik yang tumbuh bersama saya semenjak saya duduk di bangku sekolah dasar hingga sekarang saya bawa ke tempat kerja, biasa saya parkir pas di depan kafe dalam lokasi area tempat kerja saya. Kebetulan malam itu ada salah satu rekan kerja sedang berada di kafe itu, kafe tersebut memang jadi tempat andalan rekan-rekan untuk mengadakan pertemuan atau sekedar berdiskusi masalah kerjaan. Secara fisik bangunan, kafe itu terbuka. Antara kafe dan areal parkir hanya dibatasi oleh railing setinggi meja.
Nah si antik hijau sahabat kendara saya itu jika dinyalakan bunyinya cukup mengganggu sekeliling, it's extremely loud and incredibly close to cafe! Hehe. Karena tidak ingin malu terlalu lama menyebabkan kegaduhan di areal parkir dan menyedot perhatian semua orang termasuk rekan kerja saya, akhirnya saya putuskan untuk secepatnya menghilang dari lokasi. Selama dalam perjalanan ke rumah semuanya lancar, meski agak mengantuk karena cukup lelah hari itu. Hingga saya sampai pada suatu jalan yang seperti biasa padat merayap, seketika si antik hijau mati di tengah-tengah kepadatan. Sepertinya saat itu saya kurang nge-gas dan kopling belum saya pindahkan ke gigi rendah untuk berjalan lambat. Hingga mengakibatkan mati.
Tapi biasanya di kondisi seperti ini, yang sudah sering saya alami, hanya perlu sekali dua kali starter lalu si hijau bisa nyala lagi. Tapi malam itu berbeda. Si hijau tidak mau menyala meski sudah di starter berkali-kali.
Lalu saya terdiam, setengah melamun, setengahnya lagi mengantuk. Saya blank tidak tahu harus berbuat apa. Karena belum pernah kejadian seperti ini sebelumnya. Mencoba menelepon tapi saat itu handphone saya tidak berfungsi. Yang satu kehabisan batere, yang satu tidak ada pulsa. Mulai panik karena sekeliling sudah gaduh membunyikan klakson, di sisi lain keadaan sudah tidak memungkinkan untuk melakukan sesuatu. Tidak lama kemudian, tiba-tiba ada angkot biru muncul memarkirkan dirinya di depan si hijau. Lalu keluarlah si sopir angkot.
Tanpa diminta, si sopir spontan dengan reaksi yang cepat langsung menawarkan bantuan untuk menarik si hijau beserta saya di dalamnya. Tentu saja saya terima bantuan si sopir, dengan takjub dan bersyukur alhamdulillah bantuan datang. Tanpa meminta apapun, si sopir langsung mengikatkan angkotnya dan si hijau dengan tali lalu ditarik. Subhanallah, antara haru dan lega ternyata ada orang yang meski tak dikenal tapi mau membantu tanpa diminta. Sungguh benar firman Allah, bahwa bersama dengan kesulitan ada kemudahan. Fa inna ma’al ‘usri ‘yusra, Inna ma’al ‘usri yusra..
Jalan tempat si hijau berhenti sebenarnya sudah tidak jauh dari rumah saya. Karena cukup dekat, akhirnya saya diantar hingga ke rumah oleh si sopir angkot. Syukur alhamdulillah memang benar pertolongan Allah itu sangat dekat, dan datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Semua kejadian ini memberikan hikmah tersendiri bagi saya. Saya jadi mengerti bahwa saya harus memanaskan si hijau beberapa saat sebelum dibawa jalan, waktu yang singkat memanaskan si hijau bisa membuat mesin lemah kemudian mati. Lalu ketika mati sebaiknya tidak distarter berulang-ulang karena akan mengakibatkan aki soak. Jika tidak bisa hidup juga, kendaraan didiamkan saja beberapa saat untuk distarter kembali. Jika tetap tidak bisa dinyalakan, baru minta bantuan untuk ditarik atau didorong orang. Ketika ditarik oleh kendaraan lain, pastikan gigi dalam posisi netral. Untuk mengerem agar tidak menabrak kendaraan yang menarik, gunakan rem tangan. Jika kendaraan harus didorong, pastikan gigi dalam posisi masuk gigi rendah dan distarter dengan tiba-tiba untuk menghidupkan kendaraan.
Begitulah malam yang mengesankan bagi saya. Semenjak itu saya jadi lebih menghormati keberadaan angkot, meskipun seringkali membuat kesabaran habis karena lambatnya mereka berjalan dan berhenti sesukanya. Yang sebelumnya akan saya klakson berkali-kali, kali ini saya memilih lebih sabar menghadapi angkot-angkot tersebut, jika harus dilewati akan saya lewati dengan baik dan hati-hati. Hikmah satu lagi yang bisa saya petik, sungguh boleh jadi kita membenci sesuatu padahal boleh jadi hal itu baik bagi kita dan bisa jadi kita menyukai sesuatu padahal belum tentu hal tersebut baik untuk kita. :)
Subhanallah, jika kita bisa mengambil pelajaran dari semua kejadian maka hidup ini insyaAllah akan menjadi lebih baik.
13 March 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)

