"Mariana, please tell me that you're not a human.
Tell me that you are a robot!"
Saya hanya terkikik mendengar celetukan kolega kerja saya ini ketika sedang lembur di kantor. Ia melihat saya bekerja hingga larut malam dan terus saja bekerja dan bekerja, tanpa bicara, makan telat, hanya di depan komputer tanpa ekspresi, mungkin membuatnya beranggapan saya seperti robot. Hehe.
Hmm... sebenarnya saya juga merasa diri ini semakin lama semakin kekurangan sisi manusianya. Terakhir kali saya merasa seperti layaknya manusia yang saya ingat betul yaitu ketika berada di rumah sakit baru-baru ini. Seorang dokter yang begitu perhatian menggenggam dan mengusap-usap tangan saya ketika ia melihat saya menggigil kedinginan sambil menahan sakit ketika akan dipasang infus. Tanpa melihat ras, agama, atau penampilan saya yang begitu kucel dan terlihat lemas, ia langsung saja mengulurkan tangannya untuk memberikan kehangatan dan menenangkan saya.
Saya merasa kehangatan sikap pekerja rumah sakit tempat saya dirawat kemarin ini seperti layaknya keluarga sendiri. Suster-suster disana sabar sekali menuntun saya tiap kali saya harus ke kamar kecil. Ketika saya tak tahan merintih, "my stomach is hurt" karena perut saya yang sakit, salah satu suster berusaha menenangkan sambil berkata,"hey, don't cry..", kemudian memapah saya berjalan.
"People never remember what we said, but they will always remember the way you make them feel..."
27 August 2011
A Touch Means More Than a Thousand Words
Labels:
capturing moments,
cerita-cerita,
kata-kata,
review,
wonderful
22 August 2011
Pertemanan dan Keluarga
Jika saya ditanya tentang pertemanan, kali ini saya sungguh merasa tidak enak karena saya harus mengakui bahwa saya tidak lagi percaya akan pertemanan. Kehidupan yang jauh dari tempat asal, membawa saya pada pemikiran ini. Saya hanya percaya pada keluarga sejauh ini.
Pertalian darah atau genetik keterikatannya lebih kuat dibanding pertemanan yang dibangun selama apapun. Saya percaya akan hal ini. Teman atau bahkan sahabat jika ia jauh bermil-mil dari kita, belum tentu ia akan menyebrangi lautan untuk kita jika hal-hal buruk menimpa. Namun beda dengan keluarga. Jika ada suatu hal yang menimpa anggota keluarga lainnya, akan ada intuisi yang terikat satu dan yang lainnya untuk merasakan dan melindungi lingkaran genetiknya. Disini ada gen yang bekerja pada fisik untuk membuat kita memiliki refleks spontan melakukan sesuatu untuk gennya. Menurut saya.
Bukannya saya tidak percaya bahwa teman itu akan membantu temannya yang lain. Saya mengalaminya dimana beruntungnya saya memiliki teman-teman yang baik yang mau bersimpati dan menolong ketika saya dalam kesulitan. Tapi ini dalam konteks teman yang lokasinya berdekatan. Jika jauh, entahlah. Saya juga jika ditanya apakah saya akan terbang menyebrangi lautan untuk teman saya yang kesusahan, tentu saya berpikir berkali-kali mempertimbangkan banyak hal. Lain halnya jika itu menimpa keluarga. Tanpa pikir panjang, tentu hampir sebagian besar dari kita akan melakukan apa saja untuk keluarganya.
Namun bagaimanapun saya tetap menghargai arti pertemanan. Hanya saja jika ia dekat. Jika ia jauh, saya tidak bisa mempercayai atau menjanjikan apa-apa. Untuk saya, jika seorang teman itu sedang bersama saya, saya akan memperlakukannya sebaik mungkin yang saya bisa.
Bagaimana dengan kekasih? Untuk yang satu ini agak sensitif, penilaiannya berbeda-beda. Sepertinya hal ini tergantung kedekatan dengan kekasihnya. Tapi yang pasti jika sudah muhrim, akan ada genetik terikat. Lagi-lagi menurut saya.
Sedangkan menurut keyakinan saya, ukhuwah Islamiyah itu seharusnya memiliki kekuatan melebihi ukhuwah apapun. Namun sepertinya ini sudah sangat jarang untuk bisa ditemui di masyarakat pada masa ini. Sungguh kami semua merindukan masa-masa dimana ukhuwah Islamiyah begitu kuat diantara sesama muslim dan muslimah. Kita boleh bermimpi semoga jaman itu hadir kembali. Jamannya sodara seiman diperlakukan dengan kecintaan selayaknya cinta pada diri sendiri seperti yang disampaikan oleh para pendahulu kita.
Pertalian darah atau genetik keterikatannya lebih kuat dibanding pertemanan yang dibangun selama apapun. Saya percaya akan hal ini. Teman atau bahkan sahabat jika ia jauh bermil-mil dari kita, belum tentu ia akan menyebrangi lautan untuk kita jika hal-hal buruk menimpa. Namun beda dengan keluarga. Jika ada suatu hal yang menimpa anggota keluarga lainnya, akan ada intuisi yang terikat satu dan yang lainnya untuk merasakan dan melindungi lingkaran genetiknya. Disini ada gen yang bekerja pada fisik untuk membuat kita memiliki refleks spontan melakukan sesuatu untuk gennya. Menurut saya.
Bukannya saya tidak percaya bahwa teman itu akan membantu temannya yang lain. Saya mengalaminya dimana beruntungnya saya memiliki teman-teman yang baik yang mau bersimpati dan menolong ketika saya dalam kesulitan. Tapi ini dalam konteks teman yang lokasinya berdekatan. Jika jauh, entahlah. Saya juga jika ditanya apakah saya akan terbang menyebrangi lautan untuk teman saya yang kesusahan, tentu saya berpikir berkali-kali mempertimbangkan banyak hal. Lain halnya jika itu menimpa keluarga. Tanpa pikir panjang, tentu hampir sebagian besar dari kita akan melakukan apa saja untuk keluarganya.
Namun bagaimanapun saya tetap menghargai arti pertemanan. Hanya saja jika ia dekat. Jika ia jauh, saya tidak bisa mempercayai atau menjanjikan apa-apa. Untuk saya, jika seorang teman itu sedang bersama saya, saya akan memperlakukannya sebaik mungkin yang saya bisa.
Bagaimana dengan kekasih? Untuk yang satu ini agak sensitif, penilaiannya berbeda-beda. Sepertinya hal ini tergantung kedekatan dengan kekasihnya. Tapi yang pasti jika sudah muhrim, akan ada genetik terikat. Lagi-lagi menurut saya.
Sedangkan menurut keyakinan saya, ukhuwah Islamiyah itu seharusnya memiliki kekuatan melebihi ukhuwah apapun. Namun sepertinya ini sudah sangat jarang untuk bisa ditemui di masyarakat pada masa ini. Sungguh kami semua merindukan masa-masa dimana ukhuwah Islamiyah begitu kuat diantara sesama muslim dan muslimah. Kita boleh bermimpi semoga jaman itu hadir kembali. Jamannya sodara seiman diperlakukan dengan kecintaan selayaknya cinta pada diri sendiri seperti yang disampaikan oleh para pendahulu kita.
Labels:
cerita-cerita,
cuap-cuap,
kata-kata,
selingan
Mencari Arti Kebenaran
Ingin sedikit bercerita, kehidupan saya saat ini begitu dekat dengan keduniawian. Saya hampir sulit untuk percaya pada kebenaran yang selama ini saya yakini. Kedekatan saya dengan material membuat saya mempercayai bahwa dunia besar kecilnya ditentukan oleh material. Yang tentu saja bertolakbelakang dengan keyakinan saya bahwa hidup ini bukan ditentukan oleh dunia yang kasat mata saja. Tapi saya hidup di dunia yang menjunjung tinggi nilai material dan hal-hal yang terlihat baik di mata manusia.
Jika saya boleh berkata, bahwa keyakinan yang bagi sebagian besar masyarakat metropolis adalah konservatif, yaitu kepercayaan akan agama, hampir bahkan nyaris terkikis oleh kesibukan duniawi. Mungkin saya harus berucap, "Innalillahi wa innailaihi raaji'un" untuk kematian hati nurani. Ini lebih menyedihkan dibanding kehilangan semua harta didunia. Karena di dalam hatimu, disitu tersimpan hartamu yang tak bisa dibeli oleh mata uang apapun. Dimana hatimu, disitulah rumahmu. Ketika kita tak bisa mendengar hati kita karena tertutup penilaian material dan pakem sosial, tak heran nenek moyang kita berujar bahwa kita akan tersesat. Pergi kemanapun kita akan merasa kehilangan arah.
Dahulu kala, ketika saya benar-benar baru mengenal agama, saya merasa diri ini sudah baik. Saya bisa berdakwah, menasehati orang lain ini itu agar mengkuti jalan yang benar menurut saya. Dengan energi dan semangat yang meluap karena kecintaan akan keyakinan saya, membuat saya merasa pantas untuk yakin bahwa saya dekat dengan-Nya. Astaghfirullah jika saya pikir-pikir lagi saat ini. Siapakah saya bisa mengklaim kedekatan dengan Ilahi. Dan betapa polosnya pikiran saya saat itu. Tapi justru kepolosan itu membuat saya rindu saat ini. Karena saat itu entah bagaimana iman sungguh terasa menentramkan.
Bagi saya saat ini, untuk melakukan hal tersebut adalah suatu hal yang sangat besar. Saya tidak mampu lagi menyuruh orang untuk berada di jalan yang benar, karena saya sendiri merasa belum sepenuhnya benar. Saya masih banyak kekurangan disana-sini. Jika saya diminta untuk berdakwah, tentu saja saya tidak akan mampu. Perjalanan waktu membuat saya harus kembali ke titik nol. Dimana saya harus kembali belajar dari awal tentang baik dan buruk. Saya tidak ingin lagi terlalu memaksakan seseorang untuk beribadah, karena saya sadar bahwa ibadah itu adalah urusan pribadi manusia dengan Tuhannya. Cukup ia dan Tuhannya yang tahu. Kalau manusia tahu, yang ada hanya prasangka dan menghakimi saja yang muncul. Manusia tak dapat berlaku adil seperti Yang Maha Adil. Kita hanya dapat mengajak sesama manusia untuk berada dalam kebaikan, tapi keputusan adalah urusan pribadi. Itu yang saya pegang untuk saat ini. Dan sungguh yang namanya hidayah hanya Allah yang punya Hak Prerogratif kepada siapa Ia akan memberikan. Sebesar apapun usaha kita untuk mengajak, jika Allah belum berkehendak, maka memang belum saatnya.
Berbicara tentang hidayah, seketika saya jadi ingin membahas mengenai jilbab. Menggunakan atribut keagamaan yaitu jilbab dan pakaian yang tertutup, bagi saya adalah beban tersendiri. Karena kita diharapkan mampu untuk memenuhi ekspektasi masyarakat akan anggapan mengenai wanita berjilbab. Bukan hal yang mudah. Karena stereotipe yang sudah terbentuk saat ini, wanita yang berjilbab memiliki cap baik, shaleh, dan berbagai anggapan seperti malaikat lainnya yang terpatri. Jika kaum jilbabers sedikit saja salah berbusana, atau mungkin ada tingkah laku yang tidak baik menurut masyarakat, maka mereka akan dituding memperburuk citra agama. Bahkan untuk seorang wanita berjilbab yang begitu syar'i pakaiannya, tidak luput dari pandangan masyarakat yang merasa ia terlalu 'ekstrim'. Beratribut agama di jaman ini bukan suatu hal yang mudah. Menjadi orang baik adalah tuntutan terbesar bagi kami. Dimana hal ini musti saya jawab dengan frase klasik bahwa kami hanyalah manusia. Kesempurnaan bukan milik kami. Kesempurnaan dan kebaikan hanyalah di sisi Allah semata. Kami hanya berusaha untuk menjadi muslimah yang bertakwa.
Sedikit berbicara tentang kebaikan, diri ini jadi teringat ceramah dari Ustad Wijayanto kemarin hari di sebuah masjid. Ia bercerita, pada suatu masa di jaman Rasulullah, ada seseorang bertanya pada Rasul bagaimana jika ia tidak hafal Al-Qur'an dan Al-Hadits, apa yang bisa ia ikuti untuk menjadi pegangan hidupnya. Lalu Rasul menjawab, pada dasarnya setiap manusia memiliki hati nurani. Tanyalah pada hati nuranimu ketika kau hendak melakukan sesuatu. Pak Ustad menambahkan bahwa kita bisa berbohong pada siapa saja, tapi tidak pada hati nurani kita. Gelisah atau tidaknya hati nurani menentukan apakah apa yang kita lakukan benar atau tidak. Seseorang bisa tidak mengerti apapun di dunia ini asal dia mengikuti hati nuraninya, maka ia akan menjadi orang yang baik. Subhanallah.
Semua perjalanan hidup hingga saat ini menyadarkan saya bahwa saya selalu berjalan untuk dekat dengan kebenaran yang sebenarnya berada sangat dekat dengan diri ini. Tapi sudah sulit untuk dirasakan. Mungkin saya harus mengikis segala sifat berbangga-bangga, tidak sabar, penuh prasangka, dan segala penyakit hati yang belum terobati agar bisa mendengar hati nurani saya. Saya ingin sekali kembali ke jaman dahulu kala dimana kehidupan pribadi kita tak ada keharusan untuk dipublikasikan. Karena popularitas dan efek publikasi yang berlebih membuat kita jadi tidak bisa membedakan yang mana yang baik dan yang buruk. Penilaian manusia saat ini didasari oleh pakem sosial dan material yang ditunjukkan di media.Yang mana yang menurut publik terpopuler dan banyak diikuti, maka itulah kebenaran. Bukan lagi ajaran kebaikan turun menurun yang diwariskan oleh para pendahulu kita. Mungkin ada baiknya dunia 'mengerem' kecepatan peradaban untuk kembali melihat kebenaran yang hakiki.
Tahun 2012, tahun dimana banyak desas-desus terisukan dari ilmuwan bahwa badai elektromagnetik dari matahari akan melanda bumi ini, menimbulkan sebuah tanda tanya yang besar. Apa jadinya jika manusia tanpa elektromagnetik? Apa dunia ini tanpa elektronik? Akankan kita menjadi manusia berhati nurani, atau sebaliknya? Tidak terbiasanya kita menggunakan hati nurani akan membuat kita menggunakan insting hewani, yang kuat yang menang. Akankan manusia menemukan kembali kebenaran di dalam keterbatasan?
Wallahu'alam bishowab. Maha Besar Allah akan segala kebenaran di sisi-Nya.
Labels:
cerita-cerita,
hikmah,
inspirasi,
kata-kata,
tausyiah
21 August 2011
NDE
Sakit diare kemaren bagi saya rasanya seperti hampir mau mati. Perut sakitnya masyaAllah, kepala pusing, badan rasanya lemas dan berat sekali untuk digerakkan. Yang lebih membuat saya seperti hampir tidak tertolong adalah ketika sakit saya benar-benar sendiri dan saya benar-benar tidak tahu harus minta tolong pada siapa. Saya hanya bisa berujar, ya Allah... ya Allah... Hingga akhirnya singkat cerita saya bisa sampai di rumah sakit mendapatkan pertolongan.. Ternyata saya sudah kekurangan cairan akibat diare selama dua hari lebih. Dehidrasi membuat ginjal saya terkena dampaknya. Alhamdulillah dokter memberi asupan cairan infus terus menerus agar saya pulih.
Selama di rumah sakit saya jadi terpikir, sakit seperti ini saja rasanya seperti mau mati, bagaimana sakaratul maut ya....
Alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan untuk saya sadar dan memperbaiki diri. Sungguh tidak ada yang tahu umur ini panjangnya berapa lama. Hanya dalam hitungan detik, dari yang sehat bisa seketika sakit. Bukan tidak mungkin dari sakit, kemudian menghadapi saat-saat akhir. Ya Rabb, maafkan hamba yang dzalim ini...
Labels:
cerita-cerita,
hikmah,
kata-kata,
review
Subscribe to:
Posts (Atom)


