skip to main | skip to sidebar

About me

My Photo
Mariana
Indonesian muslimah, Backpacker, Photography Lover, Dreamer, and Believer to these phrases: "whoever seeks they will find" & "there's no useless effort" - So, keep on going!
View my complete profile

Archive

  • ► 2008 (13)
    • ► June (1)
    • ► July (3)
    • ► August (2)
    • ► September (2)
    • ► November (2)
    • ► December (3)
  • ► 2009 (13)
    • ► January (2)
    • ► February (1)
    • ► March (2)
    • ► May (1)
    • ► August (1)
    • ► September (3)
    • ► December (3)
  • ► 2010 (20)
    • ► January (3)
    • ► February (3)
    • ► April (1)
    • ► June (1)
    • ► July (1)
    • ► August (9)
    • ► September (1)
    • ► November (1)
  • ► 2011 (10)
    • ► February (2)
    • ► June (3)
    • ► August (4)
    • ► October (1)
  • ► 2012 (5)
    • ► January (1)
    • ► March (1)
    • ► August (1)
    • ► September (1)
    • ► November (1)
  • ► 2013 (16)
    • ► January (1)
    • ► March (1)
    • ► June (6)
    • ► July (1)
    • ► August (4)
    • ► September (2)
    • ► October (1)
  • ► 2014 (13)
    • ► January (1)
    • ► February (1)
    • ► March (2)
    • ► May (2)
    • ► June (1)
    • ► August (1)
    • ► September (1)
    • ► October (1)
    • ► November (3)
  • ► 2015 (15)
    • ► February (1)
    • ► March (1)
    • ► July (1)
    • ► August (3)
    • ► October (4)
    • ► November (1)
    • ► December (4)
  • ► 2016 (6)
    • ► January (2)
    • ► February (2)
    • ► March (2)
  • ► 2017 (3)
    • ► April (1)
    • ► June (1)
    • ► July (1)
  • ► 2020 (5)
    • ► October (2)
    • ► November (3)
  • ▼ 2021 (9)
    • ► January (1)
    • ► February (2)
    • ► April (3)
    • ► July (2)
    • ▼ September (1)
      • Alhamdulillah I'm Pregnant

Labels

  • backpacking
  • blog design
  • capturing moments
  • cerita-cerita
  • cuap-cuap
  • family matters
  • hikmah
  • hot stuff
  • inspirasi
  • kata-kata
  • kerja dan belajar
  • korean drama
  • masak memasak
  • quotes
  • relationship
  • review
  • selingan
  • tausyiah
  • wonderful

What I'm Into

Interior & Architecture

  • Arc Space
  • Arch Daily
  • Archinect
  • Architonic
  • Copy Cat Chic
  • Design Glossary
  • Design Milk
  • Dezeen
  • Enlighter Magazine
  • Famous Architects
  • HGTV
  • Houzz
  • How About Orange
  • IALD
  • IKEA Hackers
  • Interior Design Magazine
  • Karim Rashid
  • Lighting Design Magazine
  • Meade Design Group
  • Mondo Arc
  • Philippe Starck
  • Print and Pattern
  • Samantha Pynn
  • Summer Allen
  • Suzanne Dimma
  • Top 50 Interior Websites

All About Design

  • Eat Drink Chic
  • Goodnight Little Spoon
  • Josh Lafayette
  • Paper Toys
  • Pixel Girl
  • Pugly Pixel
  • Pugly Pixel Blog
  • The Cool Hunter

Let's Go Green

  • groovy green
  • inhabitat
  • sustainablog
  • world changing

Inspiring Blogs

  • Febrianti Almeera
  • Islamic Articles
  • Jamil Azzaini
  • Salim A. Fillah

I Read This

Bidadari Bidadari Surga
Mengarungi 'Arsy Allah
Gadis Pantai
Confessions of a Shopaholic
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Kupinang Engkau dengan Hamdalah
The Da Vinci Code
A Very Yuppy Wedding
Menyelam ke Samudera Jiwa dan Ruh
Bumi Cinta
Cinta Brontosaurus
The Alchemist - Sang Alkemis
Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh
Life of Pi
Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps: Mengungkap Perbedaan Pikiran Pria dan Wanita Agar Sukses Membina Hubungan
divortiare
Ketika Cinta Bertasbih
The Right to Lead
How to Win Friends and Influence People
Virus of the Mind: The New Science of the Meme


Mariana's favorite books »

For A Better Life!

Blog Readers

Stats

free counters

simply,

bla bla bla in my mind...

Showing posts with label kata-kata. Show all posts
Showing posts with label kata-kata. Show all posts

24 April 2017

2017

Holaaa my dear readers,,,,, I'm back again after more than a year since my last post in this blog. Anyone miss me? :D

Anyway I was wondering whether I should write this in English or Bahasa. Maybe campur-campur aja kali ya, hahaa.. Udah setahun ga nulis, berasa banget langsung mandek pas mau nulis lagi. Ada yang pernah ngerasain? Buat saya menulis itu gampang-gampang susah, saya harus mencari waktu dan mood yang pas buat nulis. Sekalinya dapat, semua yang mau ditulis sejak lama bisa mengalir begitu aja. Tapi kalau ga dapet mood-nya, mau sebanyak apa pun ide yang ada di kepala bakalan stuck ga akan bisa dikeluarin. Ujung-ujungnya akhirnya ga jadi nulis deh. :P

Well by the way, sekarang udah tahun 2017. Yayy, ga berasa ya waktu cepat sekali berlalu. Setelah sekian lama saya ga pernah muncul di dunia maya karena berusaha menahan diri dari... yaa you know just read my last post, sometimes I wonder ada ga ya yang kangen dengan dirikuu. Hahaa ga penting ya, tapi well in fact I do really think about it a few times. "Will anyone miss me if I'm gone?" This kind of thought came to mind. And surprisingly, just a few days ago there was someone that really did miss me a lot. Agak ngagetin juga sih, masalahnya I always think that I'm nobody, siapa jg yang bakal inget sama saya. Tapi ternyata ada loh.... >,< *tears* Jadi gini ceritanya, beberapa hari yang lalu saya dateng ke sebuah acara. Nah disitulah saya bertemu dengan salah satu kerabat yang udah sekian tahun ga pernah ketemu. Sekalinya ketemu, suddenly she hugged me then shed tears while saying she missed me a lot. ;') Saya juga kangen banget sama kerabat saya tersebut, alhamdulillah masih bisa bertemu kembali setelah sekian lama.

Bicara soal lama, tahu tidak saya mulai nulis di blog ini udah dari tahun 2008 loh, jadi udah hampir 10 tahun saya menulis. Amazing ya, saya sendiri takjub ternyata hobi nulis saya udah terpupuk sekian lama. Well sebenarnya, awal mula saya suka nulis udah lebih lama lagi dari itu. Dari kecil saya suka banget nulis diary alias buku harian. xD *big grin* Bahkan hobi mengisi diary itu saya lanjutkan hingga ke jenjang kuliah. Lalu hobi itu sedikit demi sedikit mulai terhenti semenjak berkembangnya teknologi smart phone yang menggoda saya dan masyarakat luas pastinya untuk curhat di media sosial. Actually there's nothing wrong about following the latest trend, tapi baru-baru ini saya menyadari ternyata kegiatan curhat di medsos tersebut banyak sekali mudharatnya. Salah satunya adalah terkikisnya kemampuan menulis saya yang udah dipupuk sekian lama. *tears* *banjir air mata* T_T

Saya baru banget sadar dan terbuka mata lebar-lebar pas kemarin ini saya mengikuti sebuah tes menulis. Jadi di tes itu saya diberikan tugas untuk membahas sebuah topik. Topiknya sangat mudah sebenarnya, hanya hal sederhana nan remeh temeh yang terjadi di sekitar kita sehari-hari. Tapi entah kenapa karena udah lama banget saya ga melatih kemampuan menulis saya untuk membahas sesuatu panjang lebar, akhirnya di tes tersebut saya mandek, benar-benar stuck ga bisa mengeluarkan apapun dari kepala saya. Untuk menulis paragraf pembuka saja bahkan butuh sekian puluh menit. Fiuuh... Saya sampai berpikir, kenapa ya saya begini, apa karena saya sudah mulai tua kah. Saya sampai kehilangan kepercayaan diri hanya karena tidak bisa menulis saat itu. Karena itu akhirnya saya memutuskan mulai sekarang saya akan menulis lagi insyaa Allah, jika tidak ada halangan, agar kepercayaan diri saya bangkit kembali. Yayy, merdeka!!

So... nantikan cerita-cerita hangat dari saya selanjutnya di blog tercinta ini. Okaay. See yaa..


"I can shake off everything as I write; my sorrows disappear, my courage is reborn."
- Anne Frank

Posted by Mariana at 1:00 AM 0 comments
Labels: cerita-cerita, cuap-cuap, kata-kata

17 December 2015

Favorite Authors

Recently my friend just tagged me in facebook to write 15 authors of my favorite. It's quite fun because these days people in this generation started to forget to read books. So I think it's pretty smart to ask people to write in their status whose their favorite authors are to remind us again there are many authors have written so many good books to read out there. Books are the window to open our mind to see the world.

So here's the list of mine......

My favourite authors :
1. Dan Brown (suka bgt Inferno sama Da Vinci Code-nya)
2. Habiburrahman El Shirazi (bisa bgt ngegabungin novel roman, sejarah, & fikih)
3. Hanum Salsabila Rais (abis baca bukunya lgsg pengen jalan2)
4. Ika Natassa (cerita2nya cosmopolitan bgt, fresh)
5. Erwandi Tarmizi (penulis buku fikih muammalah, jarang yg ahli di bidang ini)
6. Agus Mustofa (bukunya mostly about science and religion)
7. Paulo Coelho (dalem banget tulisannya, alchemist still the best)
8. Sophie Kinsella (novel girly buat yg suka shopping, haha)
9. Pramoedya Ananta Toer (what a legend!)
10. J.K. Rowling (ga pernah baca bukunya, tp suka bgt nonton harry potter)
11. Dewi Lestari (satu2nya yg pernah dibaca baru Madre, tp lgsg suka gaya ceritanya, jd pengen baca semua novelnya dr supernova, petir, rectoverso, dll)
12. Hermawan Kartajaya (Marketing in Venus is my favorite)
13. John C Maxwell (The Right To Lead is a must-read piece)
14. Raditya Dika (buku2nya bs jd teman yg menghibur di saat galau, hahaha)
15. Felix Siauw (bagus bgt buku2 dakwahnya karena disertai grafis2 yg menarik, terutama buku "Yuk Berhijab!" inspiring bgt)

And of course on top of everything, my one and only favorite book all the time, written by The Greatest Author in the entire universe, which I'll keep reading over and over again, insyaa Allah, will always be Al-Qur'an.

:)

So what's yours?
Posted by Mariana at 1:31 AM 0 comments
Labels: inspirasi, kata-kata, review, selingan, wonderful

16 November 2014

Nasehat untukmu, Nak...

Akhir-akhir ini ngeliat ponakan saya yang tambah lucu dan imut tiap harinya, membuat saya jadi gemeesss tapi sekaligus terharu sendiri. Saya bisa merasakan bagaimana kekhawatiran ibunya, yaitu kakak saya, melihat anaknya tumbuh begitu cepat. Khawatir mengenai bagaimana masa depannya, bagaimana ia tumbuh menghadapi dunia, akan menjadi apa ia nanti, dan kekhawatiran2 lainnya.

Meski saya belum memiliki anak, tapi saya bisa melihat bagaimana beratnya perjuangan kakak saya mengurus ponakan saya tersebut. Seperti tidak ada kata istirahat, karena anaknya masih berumur hampir 2 tahun jadi harus selalu diawasi.

Cukup dengan melihat bagaimana kakak saya mengurus anaknya, saya pun tidak jarang bisa merasakan lelahnya. Sekarang saya sedikit mengerti kenapa kita harus sangat menghormati orang tua, terutama ibu. Jerih payah mereka tidak bisa dibayarkan meski dengan uang sebanyak apapun, dan cara yang terbaik membalas budi orang tua kita yaitu dengan menjadi anak yang berbakti, anak yg bisa membahagiakan orang tuanya, menjadi orang yang berhasil, bermanfaat bagi sesama, dan tidak menyusahkan orang lain.

Saya ingin sekali menuliskan beberapa baris nasehat untuk ponakan saya ini, juga untuk anak saya nanti jika insyaa Allah dianugerahi anak suatu hari nanti. Meski saya tidak tau kapan itu atau entah apakah saya akan memiliki seorang anak atau tidak, karena sepertinya masih panjang perjalanan untuk bisa sampai kesana. Tapi saya ingin sekali menulis beberapa nasehat ini, karena dalam hidup saya banyak sekali hal yang saya pelajari kemudian saya sesali setelah mengerti. Yang seandainya saya mengerti sebelumnya, atau andai saja ada yang menasehati kala itu, mungkin tidak akan saya lakukan. Who knows... :')

Untuk ponakanku dan anak saya kelak jika saya memiliki seorang anak suatu hari nanti....


Ketahuilah nak, tidak ada ibu yang tidak sayang pada anaknya
Begitupula ibumu, sudah tentu ibumu sayang padamu

Nak mungkin kau tidak melihat bagaimana ibumu mengurusmu hari ini
Bahkan dari sebelum kau bangun tidur ia sudah menyiapkan segala keperluanmu
Mungkin ibumu sering marah padamu karena kenakalanmu, tapi jangan kau benci ibumu
Pahamilah ibumu sudah begitu lelah mengurusmu, itu membuat ia jadi cepat marah
Pahamilah ibumu memiliki banyak keterbatasan, tapi percayalah semua yang ibumu punya ia pakai untuk membesarkanmu
Bahkan ia simpan tabungannya sekecil apapun yang ia dapat untukmu besar nanti
Tidak jarang ia urungkan niat untuk membeli keperluannya, demi menghemat supaya bisa membeli susu yang kau suka dan pampers untukmu

Nak, ibumu mungkin tidak sempurna, tapi ia bisa membesarkanmu dengan sempurna
Kau terlihat sehat dan ceria seperti sekarang berkat perjuangan keras ibumu

Bila ibumu tidak pernah memelukmu, peluklah ia nak dan sering-sering kau cium pipinya ketika kau besar nanti
Karena ketika kau kecil dulu, ia setiap hari menggendongmu kemanapun ia pergi

Patuhilah nasehat ibumu, luangkan waktu untuk ngobrol dengannya
Jangan pernah sekali-kali kau bentak ibumu jika kau marah, itu akan menyakitkan hatinya
Bantu ibumu sesekali mengurus rumah, beri ia hadiah ketika ia ulang tahun
Pasti ia akan sangat senang

Nak, ketika kau besar nanti, jika kau perempuan pakailah kerudung dan gamis
Itu adalah sebaik-baik pakaian bagi perempuan, agar kau tidak diganggu
Dan jangan pernah kau tinggalkan sholat, berpuasalah di bulan ramadhan, bayarlah zakat, sering-sering bersedekah, dan jika kau mampu berkurbanlah dan pergilah ke tanah suci untuk menunaikan haji

Jangan lupa biasakan untuk membaca Al-Qur'an setiap hari, karena itu adalah sebaik-baik petunjuk untuk hidupmu

Jika kau masih bersekolah, belajarlah dengan rajin dan tekun
Pastikan kau mengerti apa yang diajarkan guru-guru di sekolah
Jika kau tidak mengerti, bertanyalah agar kau mengerti
Raihlah nilai yang bagus, ibumu pasti senang dan bangga sekali denganmu

Kenapa kau harus sekolah? Agar kau bisa belajar banyak hal yang tidak kau ketahui
Dengan bersekolah, keinginan-keinginanmu bisa tercapai suatu hari nanti
Apapun yang kau inginkan insyaa Allah bisa terwujud, asal kau sekolah dengan rajin
Bercita-citalah setinggi langit, dan jadilah manusia yang bermanfaat bagi sekitar

Camkan ini nak,
Uang memang bukan segala-galanya, tapi kau butuh uang untuk beramal ibadah
Karena itu tuntutlah ilmu, ia akan sangat bermanfaat untuk dirimu kelak

Nak, bertemanlah dengan orang yang mengingatkanmu akan Allah SWT
Bertemanlah dengan orang yang memiliki hati yang baik
Kau bisa melihat ia teman yang baik atau tidak ketika kau sedang susah
Namun siapapun temanmu, ingat ini nak
Dahulukan orang tuamu sebelum temanmu, siapapun ia
Jangan sampai kau sibuk dengan teman sampai lupa pada orang tua

Nak, jika kau perempuan jangan mau dirimu dipegang oleh laki-laki yang bukan muhrim mu
Jaga jarak, meski kau suka dengannya jangan mau berpacaran sebaik apapun ia
Jangan mau berduaan di tempat sepi, jangan mau diberi harapan atau terbuai dengan keinginannya meminangmu
Keinginan hanyalah keinginan nak, ia tidak lebih dari itu
Lelaki yang baik akan langsung mendatangi ayah dan ibumu untuk meminta ijin menikahimu

Nak, jika kau laki-laki, jadilah laki-laki yang hebat
Laki-laki yang bisa bermanfaat bagi sesama
Terutama keluargamu, jadilah sosok yang bisa membantu keluargamu
Pria yang hebat adalah pria yang mampu menanggung kebutuhan keluarganya
Memuliakan ibunya, istrinya, dan saudara-saudara perempuannya

Jika kau laki-laki, ingatlah nak
Lelaki yang baik tidak akan memegang wanita yang bukan muhrimnya
Lelaki yang baik juga tidak akan mempermainkan anak gadis orang
Dan tidak perlu lah nak kau memberi harapan setinggi langit
Jika kau belum mampu menikahi wanita yang kau sukai
Sukailah ia dalam diam dan datangi ayahnya ketika kau sudah siap menikahinya

Camkan ini nak, laki-laki yang hebat tidak akan memukul seorang wanita
Mana mungkin seorang wanita adalah lawan yang seimbang bagi laki-laki
Jika ingin bertarung, ikutlah olahraga bela diri
Disana kau bisa berlatih bertarung menjadi lelaki sejati
Namun siapapun lawanmu, yang harus kau taklukkan terlebih dahulu adalah dirimu sendiri
Kalau kau sudah bisa menaklukkan hawa nafsumu, barulah kau bisa menaklukkan lawanmu

Ingat nak, sehebat apapun kawanmu, jangan mau kau terima rokok darinya
Apalagi minuman tidak jelas, ingat semua itu adalah haram
Ketika kau berdekatan dengan yang haram, sudah tentu hancurlah hidupmu
Dari detik kau pertama kali menggunakannya

Ingat nak, sebesar apapun dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
Tidak ada kata terlambat untuk kembali ke jalan yang baik
Tapi jangan kau gunakan sifat Maha Pengampun-Nya untuk menunda kebaikan
Kau tidak tahu kapan ajalmu datang
Jangan kau tunda-tunda untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar

Nak, ketika kau punya anak nanti
Sayangi ia seperti kau disayang oleh ayah ibumu
Sayangi anak perempuanmu, cukupilah kebutuhannya
Jangan kau pukul anakmu, karena itu tidak hanya akan menyakiti fisiknya
Tapi juga hatinya, dan ia akan ingat itu selama-lamanya

Nak, apapun masalah yang kau hadapi
Selalu ingat Allah dimanapun kau berada
Hanya dengan mengingat Allah, niscaya hati menjadi tentram
Carilah pertolongan melalui sabar dan sholat

Hidup ini tidak lain adalah ujian, baik susah maupun senang
Keduanya adalah ujian, jika kita sabar insyaa Allah bisa dilewati dengan baik
Tetaplah kau berada pada jalan yang baik, dan jangan lupakan sholat
Doakan selalu ayah dan ibumu setelah sholat
Mereka pun tak pernah lupa mendoakanmu tanpa henti di akhir sholatnya

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang diridhai oleh Allah SWT
Ketika ayah dan ibumu pergi, tetap jaga silaturahmi dengan saudara-saudaramu
Berbuat baiklah karena semua perbuatan kita akan kembali pada diri kita sendiri
Mudah-mudahan akhir hidupmu baik Nak
Dan mudah-mudahan kita bertemu lagi di jannah-Nya

Aamiin....


Posted by Mariana at 8:25 PM 0 comments
Labels: family matters, hikmah, kata-kata

16 August 2013

Have We Care Enough?

I don't understand why people put their whole attention and care to those far away from them and they don't even know, while here just a step away from their house some people are suffering.

Why do we care to the war victims that are far from us but to those nearby that might be our own neighbours, our friends, our family, someone we know who are fighting from hunger, struggling to have a place to sleep, suffering from their illness, and many other problems that make them suffering not differently to the war victims in miles miles away, we don't care?

Why we can help them very fast just in a second we can give an aid to those far away, but here within our surroundings for years some people never get help?

Why in the name of cause, people gather with many other people in movements to help, but to those in our own neighbourhood we never even ask if they are okay?

Why people can post in their social medias to get people attention to the war victims, while everyday we clearly see some people are struggling very hard to get out of their problems but we never post anything about that?

Why don't we start to care from the place we live, then our neighbours, then our relatives, then our friends, and then our citizens, before the war victims?

Isn't it irony that we cry out loud for those who are in a pain of war, but seeing everyday some people asking for a food in middle of the rain, in a cold night, in a hot sunny days, with their empty and painful stomach, but we wave our hands with a bitter smile and say no?

Isn't it irony we criticize other people who don't do anything about the war victims, but we don't criticize ourselves who don't give a respect for other people's choice in their life?

Is it careness and help that people ask for every movement cause, or is it something that we seek out for our own sake?

Have we care enough?


Posted by Mariana at 9:20 AM 0 comments
Labels: kata-kata

14 August 2013

Maaf - Memaafkan

Bulan Ramadhan baru saja berlalu dan kini telah masuk bulan Syawal. Alhamdulillah saya masih diberikan umur untuk menjalani hari Raya Idul Fitri baru-baru ini. Bagaimana suasana Idul Fitri / Lebaran kemarin kawan-kawan? :D Semoga menyenangkan ya seperti yang saya jalani bersama dengan keluarga.

Alhamdulillah pada tahun ini saya tidak kena pertanyaan "kapan" dari keluarga seperti tahun-tahun sebelumnya... ;D Sepertinya tahun ini semua perhatian keluarga saya tercurahkan pada si kecil anggota keluarga baru kami, yaitu Aira atau Aya ponakan kecil saya yang sangat imut dan menggemaskan. Hehe. 

Oya sebelum saya lupa, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H pada teman-teman sekalian dan para pembaca blog yang budiman. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Ja'alanallahu Minal Aidin wal Faizin. Mohon maaf atas perbuatan, perkataan, ataupun postingan yang tiada berkenan, mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya. Mari kita menjalin kembali silaturahmi dengan awal yang baik, insyaa Allah. :)

Saya jadi ingin berceloteh sedikit tentang perihal maaf-maafan ini. Meminta maaf memang bukan hal yang mudah. Saya sendiri sadar saya punya banyak sekali kesalahan karena keterbatasan saya sendiri. Untuk memulai mengatakan maaf rasanya berat banget, gimana tidak, ketika meminta maaf kita berarti mengakui bahwa kita salah. Adalah orang-orang yang berjiwa besar menurut saya yang berani meminta maaf dan mengakui kesalahannya.

Tapi tidak begitu menurut Tao Ming Tse di Meteor Garden. Katanya : "kalau maaf bisa menyelesaikan masalah, lalu buat apa ada polisi?!?" Hahaha, sedikit nostalgia film lawas dari negeri Taiwan. :D 

Kembali lagi ke soal maaf-maafan. Menurut saya ada lagi yang lebih berat dilakukan setelah meminta maaf, yaitu memaafkan. Baik memaafkan diri sendiri maupun orang-orang yang telah menyakiti. Luar biasa orang-orang yang mampu memaafkan dengan penuh keikhlasan dan tetap berprasangka baik pada orang yang telah berbuat salah. Tapi diatas itu, ada lagi yang lebih luar biasa. Yaitu yang mampu memaafkan tanpa perlu menerima permintaan maaf dari orang yang telah berbuat salah. Seperti halnya Rasulullah SAW, beliau memang benar-benar teladan yang luar biasa. Meski diperlakukan dengan tidak baik oleh seorang pengemis buta dengan kata-katanya yang mengejek, namun beliau tidak membalas bahkan berbuat baik pada pengemis tersebut dengan menyuapinya makanan setiap kali bertemu dengan pengemis tersebut. Hingga akhirnya ketika pengemis tersebut mengetahui apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, pengemis itu pun sampai menangis tersedu-sedu. Saya sendiri terharu tiap kali mengingat kisah tersebut. :') 

Honestly speaking, saya sendiri adalah orang yang sulit memaafkan. :/ Kalau udah kesal, bisa lama kesalnya. Kalau kata orang Sunda teh, saya ini suka pundungan (suka ngambek). xD Saya memang mesti banyak belajar untuk memaafkan. Benar kata peribahasa, orang yang bisa melupakan kesalahan orang lain adalah orang yang paling bahagia. Bahagia karena bisa melupakan kesalahan orang lain tanpa perlu menyimpan perasaan yang tidak enak di hati.

Ada yang pernah berkata bahwa hati kita itu luasnya seluas samudera jika kita mau untuk membukanya. Meski ditumpahi tinta sebanyak apapun, hati itu tetap lapang dan jernih kembali. Asik ya jika kita bisa seperti itu.

Saya jadi ingat film korea "I Hear Your Voice" yang baru-baru ini saya tonton. Di film itu seorang ibu menasehati anaknya untuk tidak membalas perlakuan buruk dari orang lain, layaknya sebuah peribahasa, "an eye for an eye will make the whole world blind." Ibu itu tidak ingin sang anak hidup dengan menyimpan perasaan benci sepanjang hidupnya hanya karena perbuatan buruk dari orang lain. Waktu yang kita miliki untuk hidup saling mencintai saja tidak pernah cukup, apalagi diisi dengan membenci orang lain. Tentu tidak enak hidup dengan menyimpan perasaan membenci terus menerus, benar nasehat sang ibu tersebut. Lebih baik kita lupakan kesalahan orang lain dan berusaha untuk memaafkan seiring berjalannya waktu.

Berhubungan dengan maaf-memafkan, sepanjang Lebaran kemarin saya membaca beberapa postingan ucapan Hari Raya dengan untaian kata-kata yang bagus di jaringan sosial media. Saya ingin berbagi disini beberapa quotes atau kutipan yang saya simpan yang berhubungan dengan permintaan maaf.

"The first to apologize is the bravest,
the first to forgive is the strongest,
and the first to forget is the happiest." ― Unknown

“To forgive is to set a prisoner free
and discover that the prisoner was you.” ― Lewis B. Smedes

"dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ― (QS. An-Nur : 22)


Ada satu lagi permintaan maaf yang tidak boleh kita lewati, yaitu meminta maaf pada Tuhan atas kesalahan-kesalahan yang sering kita lakukan, kewajiban yang terlalaikan, dan tak terhitung banyaknya dosa yang sadar maupun tidak sadar kita lakukan. Semoga Allah SWT mengampuni dan memaafkan kesalahan-kesalahan kita yang telah lalu dan yang akan datang. Aamiin...

Yuk kita saling memaafkan dan jalani hari bersama dengan keceriaan yang baru. Let us forgive each other so that Allah may forgive us. :)



Posted by Mariana at 3:43 AM 0 comments
Labels: cuap-cuap, kata-kata

11 June 2013

A Story Behind My Name

Some people say your name represents who you are. Your name is a prayer from your parents when you were born. Since a prayer from parents certainly answered without any barrier, so it becomes a gift to you. I believe it without any doubt.

My parents gave a very nice name to me, alhamdulillah... :) My first name, Mariana, came from my grandmother's nick name when she was a child. She used to be called with this name. Then she got sick from time to time and nobody knows why. Then somebody suggested it might caused by her name. The name might be too heavy for her. So then my great-grandparents add another name to be her new nickname : Sifat. Since then she never sick anymore. My grandmother full name becomes Sifat Mariana Tanjung. She's from West Sumatra, so she has the Minang clan name.

Appearently, might be happened by having this name as well, I got sick or injured more often than my other siblings. I got hospitalized several times, like hitting an aircon when I was a child, got nails stuck in my foot, injured my front head by a classical profile chair when fighting with my brother, got thypus, a few times fainted in school, got food poisoned, having an asthma, and now I've been suffering for tinnitus (a permanent damage occured in my left ear causing a continous soft buzzing sound). I don't know whether the name is giving a burden to me or not, but one thing I know for sure that I still survive until today. Alhamdulillah.. :) Hopefully I don't get any serious illness or injury anymore in the future, aamiin.. 

Anyway, when I look-up on the internet behind the name Mariana, I found a very interesting fact that there's a deepest part of the world's oceans called Mariana Trench. It is located in the western Pacific Ocean, to the east of the Mariana Islands. The sea depth of Mariana Trench is able to submerge the highest mountain in the world, the Mount Everest in the Himalayas. Wow, feeling excited finding something cool exists in this world called with your name. :D

(click on the image above for a better resolution)

The original languange of Mariana comes from Spanish. Maybe it comes from the history of The Mariana Islands that were claimed by Spain in 1668. Spain established a colony there and gave the islands the official title of Las Marianas in honor of Spanish Queen Mariana of Austria.

The meaning of Mariana itself after discovering from world wide web are :
- a family speaker (maybe sometimes, but usually not)
- a sympathetic (incorrect, often being careless :-/)
- kind (well.. :D)
- always blessed (alhamdulillah..)
- decision maker (yes, correct)
- brave (will do whatever it takes to reach determination)
- stubborn (sometimes it's true :D)
- original, not artificial (prefer to be true expressing what I feel)
- unique (many of my friends told me that I'm weird, a freak, whatever -_-)
- has a leader soul (driven to lead somehow, finding it hard to follow and being dictated)
- a risk taker (might be closely to insane)

My last name is Rahman. It comes from my father's name. My father is a muallaf, he converts to Islam before marrying my mother. When he did the syahadat (a convert ceremonial of saying faithfully that we believe that There is no God but Allah, and Prophet Muhammad is the messenger), his name changed to be Abdulrahman Tanara, means God's Servant. This name was given by Buya Hamka, a national ulama (scholar/pious) who founded Al-Azhar in Indonesia. My father is a Chinese, so he has the Chinese clan name Tan, in Indonesia name becomes Tanara.

The Rahman name itself, comes from one of The 99 Allah's Name (Asmaul Husna) : Ar-Rahman, which means The Most Gracious. This name is one of the main characteristic of Allah that we as a muslim always call it in every single prayer. Bismmillahirrahmanirrahim : In the name of Allah, The Most Gracious, The Most Merciful.

I remember an Islamic proverb says : Man arafa nafsahu, arafa Rabbahu (whoever know themself, know their God). I hope by writing about my name, I will know a little about myself. By knowing about who I am, hopefully there's a chance insyaa Allah of knowing about our God, no other but Allah.

Then the last thing about my name is my nickname. It is taken right from the middle of my first name, maRIAna. Correct, that's my nickname. I used to be called with the nickname : Ria. :D My mother told me that this nickname means cheerful, came from the original Indonesian word Ceria. She hopes that I will always be cheerful just as my name. Aamiin. :)

Okay that's all a short story behind my name. I hope you get to know me a little bit better. See ya! ;D


Posted by Mariana at 3:38 PM 0 comments
Labels: cerita-cerita, family matters, hot stuff, kata-kata, review, wonderful

22 September 2012

Apa Adanya


"Apa adanya kamu sudah mencukupi saya."


Begitu ucapan Rahmat kepada Tata di hari kebersamaan mereka yang disajikan dalam film Test Pack. Seketika saya terenyuh menyaksikan adegan ini, begitu sederhananya pernyataan ini namun mengandung ketulusan yang begitu besar. Ketika kita mencintai kita akan belajar untuk menerima dengan hati yang lapang.. Tapi terkadang saya bertanya-tanya, apakah ia yang kita sampaikan mengerti betapa ikhlasnya hati ini menerima? Apakah ia ingin diterima dengan keter-apa-ada-annya atau dengan penerimaan yang berbeda yang sesuai dengan harapannya?

Seorang teman memberikan satu pemahaman yang baik pada saya baru-baru ini, ia sampaikan pada saya bahwa tidak ada yang namanya pengorbanan dalam cinta. Ketika seseorang mencintai, maka kita tidak perlu berkorban. Karena apa pun yang kita berikan adalah bentuk cinta itu, bukan bentuk pengorbanan. Pemberian yang mencukupi, untuk apa adanya ia.


Posted by Mariana at 7:38 AM 0 comments
Labels: hikmah, kata-kata, review

04 August 2012

Renungan Indah - W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-NYA
Bahwa rumahku hanyalah titipan-NYA
Bahwa hartaku hanyalah titipan-NYA
Bahwa putraku hanyalah titipan-NYA

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-NYA itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku..
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-NYA harus berjalan seperti matematika :

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-NYA yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".

(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya diatas ranjang Rumah Sakit)
Posted by Mariana at 9:12 PM 0 comments
Labels: hikmah, kata-kata, tausyiah

29 January 2012

Doa Malam Ini

"Ya Allah, perbaikilah urusan agamaku yang menjadi pegangan bagi
setiap urusanku. Perbaikilah duniaku yang di situlah urusan
kehidupanku. Perbaikilah akhiratku yang ke sanalah aku akan kembali.
Jadikanlah hidupku ini sebagai tambahan kesempatan untuk memperbanyak
amal kebajikan, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat peristirahatan
dari setiap kejahatan." Amiiin, ya Rabbal 'Alamiin.
Posted by Mariana at 9:06 PM 0 comments
Labels: hikmah, kata-kata

27 August 2011

A Touch Means More Than a Thousand Words

"Mariana, please tell me that you're not a human.
Tell me that you are a robot!"


Saya hanya terkikik mendengar celetukan kolega kerja saya ini ketika sedang lembur di kantor. Ia melihat saya bekerja hingga larut malam dan terus saja bekerja dan bekerja, tanpa bicara, makan telat, hanya di depan komputer tanpa ekspresi, mungkin membuatnya beranggapan saya seperti robot. Hehe.

Hmm... sebenarnya saya juga merasa diri ini semakin lama semakin kekurangan sisi manusianya. Terakhir kali saya merasa seperti layaknya manusia yang saya ingat betul yaitu ketika berada di rumah sakit baru-baru ini. Seorang dokter yang begitu perhatian menggenggam dan mengusap-usap tangan saya ketika ia melihat saya menggigil kedinginan sambil menahan sakit ketika akan dipasang infus. Tanpa melihat ras, agama, atau penampilan saya yang begitu kucel dan terlihat lemas, ia langsung saja mengulurkan tangannya untuk memberikan kehangatan dan menenangkan saya.

Saya merasa kehangatan sikap pekerja rumah sakit tempat saya dirawat kemarin ini seperti layaknya keluarga sendiri. Suster-suster disana sabar sekali menuntun saya tiap kali saya harus ke kamar kecil. Ketika saya tak tahan merintih, "my stomach is hurt" karena perut saya yang sakit, salah satu suster berusaha menenangkan sambil berkata,"hey, don't cry..", kemudian memapah saya berjalan.


"People never remember what we said, but they will always remember the way you make them feel..."

Posted by Mariana at 12:58 AM 0 comments
Labels: capturing moments, cerita-cerita, kata-kata, review, wonderful

22 August 2011

Pertemanan dan Keluarga

Jika saya ditanya tentang pertemanan, kali ini saya sungguh merasa tidak enak karena saya harus mengakui bahwa saya tidak lagi percaya akan pertemanan. Kehidupan yang jauh dari tempat asal, membawa saya pada pemikiran ini. Saya hanya percaya pada keluarga sejauh ini.

Pertalian darah atau genetik keterikatannya lebih kuat dibanding pertemanan yang dibangun selama apapun. Saya percaya akan hal ini. Teman atau bahkan sahabat jika ia jauh bermil-mil dari kita, belum tentu ia akan menyebrangi lautan untuk kita jika hal-hal buruk menimpa. Namun beda dengan keluarga. Jika ada suatu hal yang menimpa anggota keluarga lainnya, akan ada intuisi yang terikat satu dan yang lainnya untuk merasakan dan melindungi lingkaran genetiknya. Disini ada gen yang bekerja pada fisik untuk membuat kita memiliki refleks spontan melakukan sesuatu untuk gennya. Menurut saya.

Bukannya saya tidak percaya bahwa teman itu akan membantu temannya yang lain. Saya mengalaminya dimana beruntungnya saya memiliki teman-teman yang baik yang mau bersimpati dan menolong ketika saya dalam kesulitan. Tapi ini dalam konteks teman yang lokasinya berdekatan. Jika jauh, entahlah. Saya juga jika ditanya apakah saya akan terbang menyebrangi lautan untuk teman saya yang kesusahan, tentu saya berpikir berkali-kali mempertimbangkan banyak hal. Lain halnya jika itu menimpa keluarga. Tanpa pikir panjang, tentu hampir sebagian besar dari kita akan melakukan apa saja untuk keluarganya.

Namun bagaimanapun saya tetap menghargai arti pertemanan. Hanya saja jika ia dekat. Jika ia jauh, saya tidak bisa mempercayai atau menjanjikan apa-apa. Untuk saya, jika seorang teman itu sedang bersama saya, saya akan memperlakukannya sebaik mungkin yang saya bisa.

Bagaimana dengan kekasih? Untuk yang satu ini agak sensitif, penilaiannya berbeda-beda. Sepertinya hal ini tergantung kedekatan dengan kekasihnya. Tapi yang pasti jika sudah muhrim, akan ada genetik terikat. Lagi-lagi menurut saya.

Sedangkan menurut keyakinan saya, ukhuwah Islamiyah itu seharusnya memiliki kekuatan melebihi ukhuwah apapun. Namun sepertinya ini sudah sangat jarang untuk bisa ditemui di masyarakat pada masa ini. Sungguh kami semua merindukan masa-masa dimana ukhuwah Islamiyah begitu kuat diantara sesama muslim dan muslimah. Kita boleh bermimpi semoga jaman itu hadir kembali. Jamannya sodara seiman diperlakukan dengan kecintaan selayaknya cinta pada diri sendiri seperti yang disampaikan oleh para pendahulu kita.

Posted by Mariana at 1:06 AM 0 comments
Labels: cerita-cerita, cuap-cuap, kata-kata, selingan

Mencari Arti Kebenaran

Ingin sedikit bercerita, kehidupan saya saat ini begitu dekat dengan keduniawian. Saya hampir sulit untuk percaya pada kebenaran yang selama ini saya yakini. Kedekatan saya dengan material membuat saya mempercayai bahwa dunia besar kecilnya ditentukan oleh material. Yang tentu saja bertolakbelakang dengan keyakinan saya bahwa hidup ini bukan ditentukan oleh dunia yang kasat mata saja. Tapi saya hidup di dunia yang menjunjung tinggi nilai material dan hal-hal yang terlihat baik di mata manusia.

Jika saya boleh berkata, bahwa keyakinan yang bagi sebagian besar masyarakat metropolis adalah konservatif, yaitu kepercayaan akan agama, hampir bahkan nyaris terkikis oleh kesibukan duniawi. Mungkin saya harus berucap, "Innalillahi wa innailaihi raaji'un" untuk kematian hati nurani. Ini lebih menyedihkan dibanding kehilangan semua harta didunia. Karena di dalam hatimu, disitu tersimpan hartamu yang tak bisa dibeli oleh mata uang apapun. Dimana hatimu, disitulah rumahmu. Ketika kita tak bisa mendengar hati kita karena tertutup penilaian material dan pakem sosial, tak heran nenek moyang kita berujar bahwa kita akan tersesat. Pergi kemanapun kita akan merasa kehilangan arah. 

Dahulu kala, ketika saya benar-benar baru mengenal agama, saya merasa diri ini sudah baik. Saya bisa berdakwah, menasehati orang lain ini itu agar mengkuti jalan yang benar menurut saya. Dengan energi dan semangat yang meluap karena kecintaan akan keyakinan saya, membuat saya merasa pantas untuk yakin bahwa saya dekat dengan-Nya. Astaghfirullah jika saya pikir-pikir lagi saat ini. Siapakah saya bisa mengklaim kedekatan dengan Ilahi. Dan betapa polosnya pikiran saya saat itu. Tapi justru kepolosan itu membuat saya rindu saat ini. Karena saat itu entah bagaimana iman sungguh terasa menentramkan.

Bagi saya saat ini, untuk melakukan hal tersebut adalah suatu hal yang sangat besar. Saya tidak mampu lagi menyuruh orang untuk berada di jalan yang benar, karena saya sendiri merasa belum sepenuhnya benar. Saya masih banyak kekurangan disana-sini. Jika saya diminta untuk berdakwah, tentu saja saya tidak akan mampu. Perjalanan waktu membuat saya harus kembali ke titik nol. Dimana saya harus kembali belajar dari awal tentang baik dan buruk. Saya tidak ingin lagi terlalu memaksakan seseorang untuk beribadah, karena saya sadar bahwa ibadah itu adalah urusan pribadi manusia dengan Tuhannya. Cukup ia dan Tuhannya yang tahu. Kalau manusia tahu, yang ada hanya prasangka dan menghakimi saja yang muncul. Manusia tak dapat berlaku adil seperti Yang Maha Adil. Kita hanya dapat mengajak sesama manusia untuk berada dalam kebaikan, tapi keputusan adalah urusan pribadi. Itu yang saya pegang untuk saat ini. Dan sungguh yang namanya hidayah hanya Allah yang punya Hak Prerogratif kepada siapa Ia akan memberikan. Sebesar apapun usaha kita untuk mengajak, jika Allah belum berkehendak, maka memang belum saatnya.

Berbicara tentang hidayah, seketika saya jadi ingin membahas mengenai jilbab. Menggunakan atribut keagamaan yaitu jilbab dan pakaian yang tertutup, bagi saya adalah beban tersendiri. Karena kita diharapkan mampu untuk memenuhi ekspektasi masyarakat akan anggapan mengenai wanita berjilbab. Bukan hal yang mudah. Karena stereotipe yang sudah terbentuk saat ini, wanita yang berjilbab memiliki cap baik, shaleh, dan berbagai anggapan seperti malaikat lainnya yang terpatri. Jika kaum jilbabers sedikit saja salah berbusana, atau mungkin ada tingkah laku yang tidak baik menurut masyarakat, maka mereka akan dituding memperburuk citra agama. Bahkan untuk seorang wanita berjilbab yang begitu syar'i pakaiannya, tidak luput dari pandangan masyarakat yang merasa ia terlalu 'ekstrim'. Beratribut agama di jaman ini bukan suatu hal yang mudah. Menjadi orang baik adalah tuntutan terbesar bagi kami. Dimana hal ini musti saya jawab dengan frase klasik bahwa kami hanyalah manusia. Kesempurnaan bukan milik kami. Kesempurnaan dan kebaikan hanyalah di sisi Allah semata. Kami hanya berusaha untuk menjadi muslimah yang bertakwa.

Sedikit berbicara tentang kebaikan, diri ini jadi teringat ceramah dari Ustad Wijayanto kemarin hari di sebuah masjid. Ia bercerita, pada suatu masa di jaman Rasulullah, ada seseorang bertanya pada Rasul bagaimana jika ia tidak hafal Al-Qur'an dan Al-Hadits, apa yang bisa ia ikuti untuk menjadi pegangan hidupnya. Lalu Rasul menjawab, pada dasarnya setiap manusia memiliki hati nurani. Tanyalah pada hati nuranimu ketika kau hendak melakukan sesuatu. Pak Ustad menambahkan bahwa kita bisa berbohong pada siapa saja, tapi tidak pada hati nurani kita. Gelisah atau tidaknya hati nurani menentukan apakah apa yang kita lakukan benar atau tidak. Seseorang bisa tidak mengerti apapun di dunia ini asal dia mengikuti hati nuraninya, maka ia akan menjadi orang yang baik. Subhanallah.

Semua perjalanan hidup hingga saat ini menyadarkan saya bahwa saya selalu berjalan untuk dekat dengan kebenaran yang sebenarnya berada sangat dekat dengan diri ini. Tapi sudah sulit untuk dirasakan. Mungkin saya harus mengikis segala sifat berbangga-bangga, tidak sabar, penuh prasangka, dan segala penyakit hati yang belum terobati agar bisa mendengar hati nurani saya. Saya ingin sekali kembali ke jaman dahulu kala dimana kehidupan pribadi kita tak ada keharusan untuk dipublikasikan. Karena popularitas dan efek publikasi yang berlebih membuat kita jadi tidak bisa membedakan yang mana yang baik dan yang buruk. Penilaian manusia saat ini didasari oleh pakem sosial dan material yang ditunjukkan di media.Yang mana yang menurut publik terpopuler dan banyak diikuti, maka itulah kebenaran. Bukan lagi ajaran kebaikan turun menurun yang diwariskan oleh para pendahulu kita. Mungkin ada baiknya dunia 'mengerem' kecepatan peradaban untuk kembali melihat kebenaran yang hakiki. 

Tahun 2012, tahun dimana banyak desas-desus terisukan dari ilmuwan bahwa badai elektromagnetik dari matahari akan melanda bumi ini, menimbulkan sebuah tanda tanya yang besar. Apa jadinya jika manusia tanpa elektromagnetik? Apa dunia ini tanpa elektronik? Akankan kita menjadi manusia berhati nurani, atau sebaliknya? Tidak terbiasanya kita menggunakan hati nurani akan membuat kita menggunakan insting hewani, yang kuat yang menang. Akankan manusia menemukan kembali kebenaran di dalam keterbatasan?

Wallahu'alam bishowab. Maha Besar Allah akan segala kebenaran di sisi-Nya.

Posted by Mariana at 12:28 AM 0 comments
Labels: cerita-cerita, hikmah, inspirasi, kata-kata, tausyiah

21 August 2011

NDE

Sakit diare kemaren bagi saya rasanya seperti hampir mau mati. Perut sakitnya masyaAllah, kepala pusing, badan rasanya lemas dan berat sekali untuk digerakkan. Yang lebih membuat saya seperti hampir tidak tertolong adalah ketika sakit saya benar-benar sendiri dan saya benar-benar tidak tahu harus minta tolong pada siapa. Saya hanya bisa berujar, ya Allah... ya Allah... Hingga akhirnya singkat cerita saya bisa sampai di rumah sakit mendapatkan pertolongan.. Ternyata saya sudah kekurangan cairan akibat diare selama dua hari lebih. Dehidrasi membuat ginjal saya terkena dampaknya. Alhamdulillah dokter memberi asupan cairan infus terus menerus agar saya pulih. 

Selama di rumah sakit saya jadi terpikir, sakit seperti ini saja rasanya seperti mau mati, bagaimana sakaratul maut ya....

Alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan untuk saya sadar dan memperbaiki diri. Sungguh tidak ada yang tahu umur ini panjangnya berapa lama. Hanya dalam hitungan detik, dari yang sehat bisa seketika sakit. Bukan tidak mungkin dari sakit, kemudian menghadapi saat-saat akhir. Ya Rabb, maafkan hamba yang dzalim ini...


Posted by Mariana at 10:25 PM 0 comments
Labels: cerita-cerita, hikmah, kata-kata, review

27 June 2011

Cuplikan Tulisan - "Belajar Dengan Hati"

Baru saja saya membaca sebuah tulisan menggugah yang ingin saya bagi disini, ditulis oleh Galih Aji Prasongko, orang yang tidak saya kenal hanya kebetulan terlihat di situs jejaring sosial. Isinya menarik seperti berikut :

Suatu hari seorang kawan bertanya kepada saya tentang kebiasaan membaca buku. Dalam pertanyaannya sedikit banyak ia menanyakan tentang buku yang akhir – akhir ini saya baca. Dan betapa kagetnya ia, ketika saya bilang  sudah beberapa bulan belakangan ini tidak ada satu judul bukupun yang saya baca. Sambil terheran – heran dia lanjut bertanya, “ kenapa…apa sudah tidak ada yang menarik untuk dibaca ?”. Dengan tersenyum saya menjawab “ tidak, hanya saja saya sedang belajar memahami realitas melalui perasaan saya sendiri ”.

Dalam fase trend industri & teknologi yang menghebat saat ini. Orang hanya percaya terhadap hal – hal yang kasat mata. Apa yang didengar dan dilihat seringkali dijadikan sebuah kebenaran yang absolute. Arus berita & informasi bak buah mentimun yang dapat ditelan mentah – mentah. Seorang kawan bahkan pernah berujar kalau hidup saat ini rasanya tak manis lagi bahkan cenderung tawar.

Celakanya adalah sebuah kebenaran akan realitas dapat dipakemkan hanya oleh sebuah branding sosial. Kalau sudah begini jadilah manusia tak ubahnya seperti primate lainnya. Justifikasi sosial telah dijadikan ideology disatu sisi, disisi lain menurut mereka itu adalah bentuk dari cara berpikir radikal…puihhhh.

Ketika saya menjawab pertanyaan seorang kawan, tentu bukanlah karena saya ingin berhenti membaca buku. Karena hobby itu lebih sulit dihentikan daripada berhenti merokok. Tetapi alasan sesungguhnya karena saya ingin melatih perasaan saya untuk lebih peka terhadap sekeliling. Seperti hari ini saya mampir ke kwitang tetapi bukan untuk mencari atau membeli buku. Hanya sekedar ingin ngobrol dengan Pak Tunggak seorang keturunan Timor leste yang sudah berjualan buku hampir 15 tahun. Uniknya beliau tidak bisa baca tulis tetapi menguasai 5 bahasa Internasional dan memahami sejarah Indonesia dengan tuntas.    


Sangat menarik, mari kita belajar merasakan dengan hati. :)

Posted by Mariana at 9:11 PM 0 comments
Labels: kata-kata, review

06 February 2011

Kehidupan dunia bersifat fana

Kehidupan dunia bersifat fana.
Persis seperti kuncup bunga yang mekar & wangi.
Setelah itu jatuh gugur & mengering disapu angin lalu.
Tak beda dg embun pagi.
Kala mentari mulai meninggi,
embun menguap tanpa meninggalkan jejak yg berarti.

Begitulah hakikat dunia.
Karenanya segala kesenangan yg kita kecap a/ sementara



dikutip dari:
http://wirausahapesantren.blogspot.com/2010/08/agar-kesuksesan-tak-menipu.html
Posted by Mariana at 7:06 AM 0 comments
Labels: hikmah, kata-kata, tausyiah

26 August 2010

Tips Superrrr of The Day

Hari ini mendapatkan kata-kata penuh energi dari Pak Mario Teguh. Subhanallah, Indonesia memiliki seseorang dengan personaliti yang LUARRR BIASA. Berikut cuplikan-cuplikan penyemangat beliau:

Posted by Mariana at 12:30 AM 0 comments
Labels: hikmah, inspirasi, kata-kata, review, tausyiah

03 February 2010

Ketika Kata Ketika Warna

Saya percaya hidup ini adalah rangkaian usaha, kecuali cinta. Cinta tidak usah (dan tidak bisa) diusahakan. Cinta merupakan sesuatu di luar kekuasaan kita. Bahkan kematian, masih bisa direkayasa: pompa jantung, jangan makan usus/jeroan, jangan naik gunung, minum hanya air destilasi, jangan menerobos pemberhentian kereta api. Tapi tidak demikian halnya dengan cinta (jangan berduaan di tempat sepi?).
-Nyi Vinon


Aku mencintaimu,
itu sebabnya aku takkan pernah lelah mendoakan
keselamatanmu.
-Sapardi Djoko Darmono
Posted by Mariana at 4:08 PM 0 comments
Labels: kata-kata

19 September 2009

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H


Faith makes all things possible
Hope makes all things work
Love makes all things beautiful
May you have all of the three

Minal Aidin wal Faidzin
Mohon maaf lahir dan batin

Posted by Mariana at 12:39 PM 2 comments
Labels: kata-kata
Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod - edited by Mariana