Jika diingat lg, melihat perjalanan saya 3 tahun ke belakang yang penuh peluh, juga melihat mundur lebih jauh selama 13 tahun sebelumnya, saya sangat bersyukur dgn apa yg saya jalani saat ini. Bisa berkumpul kembali bersama keluarga menikmati hari2 bersama sungguh suatu berkah nikmat bagi hidup ini. Malam tadi seusai Maghrib, saya hanya bisa tersenyum antara lega, bahagia, dan penuh syukur memenuhi dada ini ketika bs duduk dengan hati yg damai menikmati makanan sederhana yang enak di angkringan pinggir jalan, ditengah hujan gerimis. Tidak ada kata cukup untuk berterima kasih padaNya atas nikmat karunia hidup ini. Terima kasih ya Allah, sungguh Engkau Maha Mengasihi.
"Jauhilah segala yang haram niscaya kamu menjadi orang yang paling beribadah. Relalah dengan pembagian (rezeki) Allah kepadamu niscaya kamu menjadi orang paling kaya." (HR. Ahmad dan Attirmidzi)
30 November 2012
22 September 2012
Apa Adanya
"Apa adanya kamu sudah mencukupi saya."
Begitu ucapan Rahmat kepada Tata di hari kebersamaan mereka yang disajikan dalam film Test Pack. Seketika saya terenyuh menyaksikan adegan ini, begitu sederhananya pernyataan ini namun mengandung ketulusan yang begitu besar. Ketika kita mencintai kita akan belajar untuk menerima dengan hati yang lapang.. Tapi terkadang saya bertanya-tanya, apakah ia yang kita sampaikan mengerti betapa ikhlasnya hati ini menerima? Apakah ia ingin diterima dengan keter-apa-ada-annya atau dengan penerimaan yang berbeda yang sesuai dengan harapannya?
Seorang teman memberikan satu pemahaman yang baik pada saya baru-baru ini, ia sampaikan pada saya bahwa tidak ada yang namanya pengorbanan dalam cinta. Ketika seseorang mencintai, maka kita tidak perlu berkorban. Karena apa pun yang kita berikan adalah bentuk cinta itu, bukan bentuk pengorbanan. Pemberian yang mencukupi, untuk apa adanya ia.
04 August 2012
Renungan Indah - W.S. Rendra
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-NYA
Bahwa rumahku hanyalah titipan-NYA
Bahwa hartaku hanyalah titipan-NYA
Bahwa putraku hanyalah titipan-NYA
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-NYA itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku..
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-NYA harus berjalan seperti matematika :
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-NYA yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".
(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya diatas ranjang Rumah Sakit)
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-NYA
Bahwa rumahku hanyalah titipan-NYA
Bahwa hartaku hanyalah titipan-NYA
Bahwa putraku hanyalah titipan-NYA
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-NYA itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku..
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-NYA harus berjalan seperti matematika :
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-NYA yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".
(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya diatas ranjang Rumah Sakit)
03 March 2012
Breakfast
I really love breakfast. I don't wanna miss this moment in the morning. And what I love the most from breakfast, is bread. :)
Labels:
capturing moments,
selingan
29 January 2012
Doa Malam Ini
"Ya Allah, perbaikilah urusan agamaku yang menjadi pegangan bagi
setiap urusanku. Perbaikilah duniaku yang di situlah urusan
kehidupanku. Perbaikilah akhiratku yang ke sanalah aku akan kembali.
Jadikanlah hidupku ini sebagai tambahan kesempatan untuk memperbanyak
amal kebajikan, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat peristirahatan
dari setiap kejahatan." Amiiin, ya Rabbal 'Alamiin.
setiap urusanku. Perbaikilah duniaku yang di situlah urusan
kehidupanku. Perbaikilah akhiratku yang ke sanalah aku akan kembali.
Jadikanlah hidupku ini sebagai tambahan kesempatan untuk memperbanyak
amal kebajikan, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat peristirahatan
dari setiap kejahatan." Amiiin, ya Rabbal 'Alamiin.
Subscribe to:
Posts (Atom)


