Di mata saya, marching band Korps Putri Tarakanita (KPT) bukan sekedar organisasi ekstra kurikuler pengisi waktu luang setelah jam sekolah usai di masa SMA. Organisasi ini adalah titik penting dalam kehidupan saya yang telah banyak membentuk diri saya saat ini.
Dahulu sebelum masuk kedalam organisasi KPT, saya menjalani keseharian dengan biasa-biasa saja. Saya hanya seorang siswa yang mengikuti kegiatan sekolah seperti rutinitas sehari-hari yang terkadang sesekali mengikuti kegiatan ekstra kurikuler kesenian seperti menggambar untuk menyalurkan bakat dan hobi saya. Hal ini saya lakukan ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Terkadang kegiatan sehari-hari ini saya seling dengan jadwal jalan-jalan bersama teman ataupun berkeliling ke suatu tempat sendiri. Benar-benar keseharian layaknya para siswa atau anak-anak ABG. Tak ada yang istimewa sepertinya, karena saya juga bukanlah bintang juara di kelas. Paling bagus juga saya mendapatkan ranking 5, itu pun hanya sekali seumur hidup. Sisanya ada yang ranking 8, ranking 10, dan seringnya tidak mendapat ranking. Entah karena faktor saya yang kurang giat belajar atau karena berada di sekolah swasta dengan standar pendidikan yang tinggi serta kebanyakan murid berotak cemerlang. Pun di luar akademis saya sama sekali tidak punya satu penghargaan yang bisa dibanggakan. Paling hanya satu yang saya punya, yaitu Juara 1 Lomba Mading ketika SMP. Dan juara itu juga diraih bersama-sama, bukan saya sendiri yang mendapatkan. Benar-benar anak yang sangat biasa.
Lalu ketika mulai memasuki masa SMA yang luar biasa diwarnai dengan senioritas tingkat tinggi (haha, boleh dikatakan ini ciri khas SMU Tarakanita 1, atau tarq, yang banyak membentuk kekuatan mental), saya juga mulai mengenal KPT. Melalui acara khusus open house – serupa ajang promosi ekstra kurikuler, saya menyaksikan permainan marching band ini yang membuat saya seketika jatuh hati. Saya dibuat terpana dengan musik-musik yang dimainkan para senior saat itu. Bukan hanya permainannya, tapi juga karisma yang terlihat di diri setiap anggota seperti menyinari lapangan sekolah yang menjadi tempat diadakannya show open house tersebut. Satu hal yang belum saya kenal saat itu, permainan indah itu keluar dari tempaan latihan konsisten berkali-kali dan pembelajaran yang begitu banyak.
Dari pandangan pertama, tekad untuk memasuki organisasi KPT ketika itu sudah bulat. Saya ingin menjadi bagian dari barisan itu. Disinilah awal saya belajar segalanya yang banyak menjadikan saya pribadi yang sekarang.
Sesuatu yang indah muncul dari perjuangan atas kesabaran dan usaha yang konsisten. Ini adalah satu hal yang mulai saya pelajari saat berada di KPT. Untuk dapat menghasilkan sebuah penampilan yang baik, kami selaku para calon anggota baru diharuskan memiliki komitmen untuk menjalani latihan alat musik maupun latihan baris berbaris selama empat kali dalam seminggu selama dua hingga tiga setengah jam. Bahkan jika ada acara khusus, jadwal latihan ini dapat ditambah sesuai kebutuhan. Sepertinya hampir seluruh waktu saya berada pada organisasi ini.
Kegiatan saya jika diingat-ingat saat itu cukup padat. Dalam waktu yang singkat, saya beserta calon anggota baru lainnya diharuskan untuk dapat menguasai alat musik kami masing-masing. Berdasarkan tes alat saat itu yang dilakukan oleh beberapa pelatih, salah satunya adalah Andy Dougherty, mantan suami Titi DJ, saya ternyata memiliki bakat pada alat musik tiup (horn). Namun beberapa kabar yang saya dengar juga ketka itu, saya ternyata juga memiliki kemampuan untuk menguasai alat musik perkusi (percussion). Semoga saja kabar tersebut memang benar adanya. Mungkin pihak-pihak yang mengetahui bisa memberikan konfirmasi disini. Hehe.
Jujur, kala itu saya sebenarnya sangat jatuh hati pada alat musik perkusi, terutama snare drum. Namun pada awal-awal saya diletakkan dibarisan horn line, yang memberikan saya kesempatan untuk mencoba memainkan, dan ternyata saya bisa. Perlahan-lahan tetapi pasti saya pun mulai menyukai alat tiup, terutama disaat itu adalah trumpet. Apalagi ketika saya bisa memainkan beberapa lagu, seperti Winter Games, Si Patokaan, Galih dan Ratna, You’ll Be In My Heart, Two Worlds, The Gorillas, dan lain-lain. Loh kok banyak ya. Hehehe. Bagaimana tidak semakin jatuh cinta, instrumen saya memegang nada-nada utama di setiap lagu (istilah musiknya saya lupa). Hal ini memudahkan dalam mengingat nada-nadanya dan membuat saya bersemangat untuk mewarnai setiap permainan lagu. Akhirnya dalam perjalanan selanjutnya, saya pun menjadi penghuni tetap barisan horn line. Hanya ketika memasuki tahun kedua disana, saya bermigrasi dari alat musik trumpet menjadi mellophone – masih sesama jajaran horn line. Hal ini terasa berat awalnya. Selain berat beban alat musiknya bertambah, dari trumpet yang 1 kg menjadi mellophone dengan berat 2 kg, juga berat untuk meninggalkan nada-nada utama itu lalu mulai menghafal dari nol semua lagu dengan nada yang berbeda. Plus cara memainkannya yang juga sedikit berbeda. Terbayang cuci otaknya. Setelah dipikir-pikir, saya justru merasa beruntung karena diberikan kesempatan untuk menguasai alat musik lain. Membuat saya memiliki kemampuan lebih. Akhirnya saya juga menyukai mellophone seperti saya menyukai trumpet. Keduanya memiliki keunikannya masing-masing.
Adapun jika di lain waktu di masa mendatang ada kesempatan untuk mempelajari perkusi, saya tidak akan menolak tentunya ;) Tapi sepertinya perkusi harus antri dulu, karena saya sangat amat ingin belajar piano. Setelah itu biola tentunya – saya merasa bersalah telah menelantarkan biola saya :(
Kembali ke KPT. Kewajiban untuk menguasai alat musik kami pun bukan lagi menjadi suatu beban. Secara tidak sadar saya berlatih karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Meski seringkali saya tidak menampik kenyataan bahwa rasa malas dan sangat lelah itu memang ada. Namun itu bukan suatu penghalang untuk maju. Karena disana saya tidak sendiri. Saya berlatih bersama dengan teman-teman saya. Dan sangat beruntung saya memiliki para pelatih beserta senior yang begitu sabar dan hebat melatih kami dari nol hingga bisa memainkan lagu. Namun terkadang kelambatan saya dalam menangkap, juga seringkali buruknya permainan alat musik saya, membuat berang mereka. Hingga tak jarang saya pun harus merasakan bentakan, hukuman, dan omelan yang membuat perasaan takut, sedih, capek, semuanya campur baur.
Namun tempaan demi tempaan, maupun kaderisasi, serta waktu yang banyak tersita justru tidak membuat saya menghentikan langkah untuk terus berada di organisasi semi profesional ini. Meski harus bekerja keras untuk dapat bertahan, saya sama sekali tidak menyesalinya. Karena saya dapat merasakan pengalaman yang luar biasa bersama KPT. Salah satunya yaitu bersama-sama mengikuti GPMB (Grand Prix Marching Band), yaitu kompetisi marching band seluruh Indonesia, yang kemudian membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Tim kami berhasil meraih Juara I untuk Divisi Sekolah. Saya merasa sangat beruntung karena dapat merasakannya hingga dua kali berada pada kompetisi ini bersama barisan KPT. Tidak hanya itu, kami juga sempat diberikan kehormatan untuk bermain pada acara Parade Senja di Istana Negara untuk menghibur para undangan yang bersuka cita merayakan Peringatan Hari Kemerdekaan Negeri ini.
Dari acara yang sangat formal hingga acara dengan atmosfer hiburan yang sangat fun, seperti show pada acara nonton bareng piala dunia atau acara pentas seni tahunan internal, pun kami hadiri. Inti semuanya adalah kebersamaan. Bila dikatakan latihan yang dijalani cukup berat, seperti datang pagi pulang sangat malam – hampir setiap hari, tidak menjadi masalah karena saya menjalaninya bersama dengan anggota yang lain.
Ada saat-saat emosional yang sangat indah menurut saya ketika berada di KPT. Saat-saat itu adalah momen pelantikan anggota. Biasanya sebelum pelantikan dilaksanakan., di siang harinya seluruh peserta pelantikan akan mengikuti kegiatan long march. Pada acara long march ini biasanya anggota harus menyusuri medan jalur setapak yang bisa sampai berkilo-kilo rutenya. Ada kalanya kami harus melewati lumpur, sawah, menyebrangi parit-parit, atau mungkin hanya berjalan pada jalan-jalan aspal. Hebatnya rasa lelah itu tidak terlalu kentara, lagi-lagi karena selalu dijalankan bersama. Bahkan terkadang diiringi dengan nyanyi-nyayi sepanjang jalan. Ooh, betapa menyenangkannya. Kapan lagi ya bisa merasakan kebersamaan seperti itu?
Lalu ketika semua medan telah dituntaskan, di malam harinya pelantikan pun dilaksanakan. Saat-saat yang mengharukan pun begitu merasuk dalamnya. Entah karena sudah letih sehingga semua perjuangan bertahan disana tiba-tiba terasa atau karena sakralnya upacara pelantikan hingga selalu mampu membuat para anggota menitikkan air mata haru. Disaat-saat ini seperti ada sebuah simpul ikatan yang semakin mengerat. Seperti persaudaraan. Amithya Dibya Agra Caradhigama – Gadis Jujur yang Penuh Semangat dan Berhati Mulia. Nama angkatan saya. Tempat kami disatukan layaknya saudara.
Satu hal yang begitu melekat di memori saya akan momen ini, yaitu api unggun. Saya sangat menyukainya karena mampu menghangatkan suasana di malam hari pelantikan.
Selain itu acara rutin lainnya yang saya sukai adalah pelantikan staff. Disinilah untuk pertama kalinya saya mendapatkan kepercayaan yang sangat besar. Suatu kehormatan yang besar pula artinya bagi saya. Belum pernah selama hidup ini saya mendapatkan kepercayaan untuk memegang tanggung jawab sebesar ketika saya berada di KPT. Bukan hanya meletakkan kepercayaan dan membuat saya merasa keberadaan saya dihargai, namun KPT mendidik saya menjadi manusia yang lebih baik. Pahit terkadang ketika menjalani masa-masa didikan disana, ada suka dan tidak sedikit dukanya. Tapi saya bisa merasakan manisnya saat ini.
Kepercayaan yang diberikan itu tidak lain adalah ketika saya dipercaya untuk menjadi Wakil Komandan Korps (setara dengan wakil ketua organisasi) setelah melewati waktu satu tahun. Lalu tahun berikutnya saya diangkat menjadi Komandan Korps yang setara dengan ketua organisasi. Saya yakin, saya masih jauh dari kriteria seorang ketua yang baik. Seperti telah saya utarakan diatas, sebelum masuk KPT saya bukan siapa-siapa, bukan bintang juara, apalagi ketua OSIS, tidak pernah menjadi pengurus apapun, juga hampir tidak pernah ikut kegiatan selain rutinitas sekolah. Lalu tiba-tiba ketika pelantikan staff diadakan, saya merasa terkejut dipilih untuk berada pada jajaran staf teratas.
Saya sendiri jika boleh berpendapat, sejujurnya merasa tidak sesuai dengan kedudukan tersebut. Masih banyak yang jauh lebih memenuhi kriteria. Kemampuan saya juga bisa dikatakan rata-rata. Tapi sebuah kepercayaan sebaiknya tidak disia-siakan. Di saat itulah saya untuk pertama kalinya belajar mengemban tanggung jawab. Saya selayaknya berterima kasih pada pendahulu saya yang telah mempercayakan dan meyakinkan saya bahwa saya bisa. Terima kasih untuk Alfra dan Ria, dua Komandan Korps sebelumnya yang sangat luar biasa di mata saya. Alfra yang sangat kharismatik, tegas, seorang pemimpin sejati, dan Ria seorang yang berhati mulia dan sangat keibuan di mata saya yang telah membawa saya menjadi diri saya yang saat ini. Terima kasih telah mendidik saya saat itu dikala saya tidak memiliki satu orang pun yang dapat mengajarkan saya tentang kehidupan. Disaat ketika keluarga saya tidak lagi sebaik dulu, disaat saya kehilangan sosok seorang ibu, dan disaat saya benar-benar membutuhkan seseorang untuk menguatkan setiap langkah saya. Saya merindukan orang-orang seperti kalian.
Terima kasih juga untuk Ria dan Tata yang telah memberikan sebuah buku pada pelantikan tersebut yang berjudul ‘Hak untuk Memimpin’ karangan John C. Maxwell yang banyak memberikan inspirasi untuk menjadi pemimpin yang sebaik-baiknya, meski hanya menjadi pemimpin bagi diri sendiri.
Pada KPT saya selalu menemukan tempat untuk belajar banyak hal. Saya belajar musik tentunya disana, saya mulai mengenal kata tanggung jawab beserta konsekuensinya, saya mengenal arti sebuah kepercayaan, saya juga belajar menjadi seorang wanita dengan tata krama (meski disadari banyak yang belum terimplementasi sepertinya), belajar berorganisasi, dan belajar banyak hal baik lainnya. KPT sepertinya telah banyak membentuk pribadi saya saat ini. Juga banyak mengeluarkan sisi koleris saya tentunya.
Di sisi-sisi kehidupan lainnya, KPT telah memberikan banyak efek pada diri saya. Saya menjadi terbiasa dengan berbagai macam aturan. Satu aturan yang cukup unik yaitu aturan makan. Kami dibiasakan untuk makan sehening mungkin. Suara-suara ketika makan sangat tidak ditoleransi. Bahkan suara alat makan pun harus ditahan agar tidak mengeluarkan bunyi. Berbicara selama prosesi makan berlangsung juga tidak dibenarkan, karena akan membuat kegaduhan dan memperlama waktu makan. Setiap ada hidangan yang akan mengeluarkan bunyi-bunyian ketika disantap, contohnya kerupuk, pasti akan diberikan hidangan pendampingnya seperti kuah sup. Sehingga kuah tadi harus disiramkan terlebih dahulu ke kerupuk sebelum dimakan untuk meredam bunyi. Setiap makanan yang dihidangkan wajib untuk dihabiskan. Jika tidak, maka akan diberi peringatan dan ditunggu hingga makanannya habis. Lalu aturan yang juga menjadi kebiasaan saat ini yaitu berusaha mencoblos air mineral gelas dengan sedotan, tanpa mengeluarkan suara. Setelah airnya habis, dibiasakan mengeletek tutup plastik gelas air mineral tersebut hingga bersih, sehingga gelas itu dapat digunakan lagi.
Aturan lainnya yang juga melekat hingga sekarang yaitu ketika berjalan suara sepatu harus ditahan hingga tidak mengeluarkan bunyi. Sangat tidak dibenarkan berjalan dengan cara menyeret alas sepatu, karena akan menimbulkan suara-suara. Entah kenapa kebiasaan hening dalam segala situasi ini bertahan hingga sekarang pada diri saya. Saya jadi terbiasa untuk tidak membuat keributan apapun itu. Konsentrasi saya bisa buyar jika banyak suara-suara gaduh. Ternyata KPT begitu mempengaruhi kehidupan saya ya ;)
Bagaimanapun juga, aturan-aturan itu saya yakini telah membuat manusia menjadi semakin beradab.
Dulu pelatih saya selalu berkata ‘Jangan pernah bermain (musik) dengan tujuan untuk menjadi juara, tetapi selalu bermainlah dengan sebaik-baiknya. Dan bermainlah dari hati.’ Hal ini yang selalu saya ingat dalam setiap kesempatan, untuk selalu memberikan yang terbaik yang saya bisa. Mungkin karena ucapan ini, saya terinspirasi untuk melakukan segala sesuatu dengan semaksimal mungkin, hingga salah satunya bisa meraih gelar Cum Laude ketika lulus kuliah, dan sempat menerima penghargaan sebagai mahasiswa dengan prestasi terbaik di jurusan. Terima kasih Korps Putri Tarakanita atas pelajaran yang sangat berharga dan kenangan yang begitu indah.
Viva Tar!
[m.r.]