skip to main | skip to sidebar

About me

My Photo
Mariana
Indonesian muslimah, Backpacker, Photography Lover, Dreamer, and Believer to these phrases: "whoever seeks they will find" & "there's no useless effort" - So, keep on going!
View my complete profile

Archive

  • ► 2008 (13)
    • ► June (1)
    • ► July (3)
    • ► August (2)
    • ► September (2)
    • ► November (2)
    • ► December (3)
  • ► 2009 (13)
    • ► January (2)
    • ► February (1)
    • ► March (2)
    • ► May (1)
    • ► August (1)
    • ► September (3)
    • ► December (3)
  • ► 2010 (20)
    • ► January (3)
    • ► February (3)
    • ► April (1)
    • ► June (1)
    • ► July (1)
    • ► August (9)
    • ► September (1)
    • ► November (1)
  • ► 2011 (10)
    • ► February (2)
    • ► June (3)
    • ► August (4)
    • ► October (1)
  • ► 2012 (5)
    • ► January (1)
    • ► March (1)
    • ► August (1)
    • ► September (1)
    • ► November (1)
  • ► 2013 (16)
    • ► January (1)
    • ► March (1)
    • ► June (6)
    • ► July (1)
    • ► August (4)
    • ► September (2)
    • ► October (1)
  • ► 2014 (13)
    • ► January (1)
    • ► February (1)
    • ► March (2)
    • ► May (2)
    • ► June (1)
    • ► August (1)
    • ► September (1)
    • ► October (1)
    • ► November (3)
  • ► 2015 (15)
    • ► February (1)
    • ► March (1)
    • ► July (1)
    • ► August (3)
    • ► October (4)
    • ► November (1)
    • ► December (4)
  • ► 2016 (6)
    • ► January (2)
    • ► February (2)
    • ► March (2)
  • ► 2017 (3)
    • ► April (1)
    • ► June (1)
    • ► July (1)
  • ► 2020 (5)
    • ► October (2)
    • ► November (3)
  • ▼ 2021 (9)
    • ► January (1)
    • ► February (2)
    • ► April (3)
    • ► July (2)
    • ▼ September (1)
      • Alhamdulillah I'm Pregnant

Labels

  • backpacking
  • blog design
  • capturing moments
  • cerita-cerita
  • cuap-cuap
  • family matters
  • hikmah
  • hot stuff
  • inspirasi
  • kata-kata
  • kerja dan belajar
  • korean drama
  • masak memasak
  • quotes
  • relationship
  • review
  • selingan
  • tausyiah
  • wonderful

What I'm Into

Interior & Architecture

  • Arc Space
  • Arch Daily
  • Archinect
  • Architonic
  • Copy Cat Chic
  • Design Glossary
  • Design Milk
  • Dezeen
  • Enlighter Magazine
  • Famous Architects
  • HGTV
  • Houzz
  • How About Orange
  • IALD
  • IKEA Hackers
  • Interior Design Magazine
  • Karim Rashid
  • Lighting Design Magazine
  • Meade Design Group
  • Mondo Arc
  • Philippe Starck
  • Print and Pattern
  • Samantha Pynn
  • Summer Allen
  • Suzanne Dimma
  • Top 50 Interior Websites

All About Design

  • Eat Drink Chic
  • Goodnight Little Spoon
  • Josh Lafayette
  • Paper Toys
  • Pixel Girl
  • Pugly Pixel
  • Pugly Pixel Blog
  • The Cool Hunter

Let's Go Green

  • groovy green
  • inhabitat
  • sustainablog
  • world changing

Inspiring Blogs

  • Febrianti Almeera
  • Islamic Articles
  • Jamil Azzaini
  • Salim A. Fillah

I Read This

Bidadari Bidadari Surga
Mengarungi 'Arsy Allah
Gadis Pantai
Confessions of a Shopaholic
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Kupinang Engkau dengan Hamdalah
The Da Vinci Code
A Very Yuppy Wedding
Menyelam ke Samudera Jiwa dan Ruh
Bumi Cinta
Cinta Brontosaurus
The Alchemist - Sang Alkemis
Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh
Life of Pi
Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps: Mengungkap Perbedaan Pikiran Pria dan Wanita Agar Sukses Membina Hubungan
divortiare
Ketika Cinta Bertasbih
The Right to Lead
How to Win Friends and Influence People
Virus of the Mind: The New Science of the Meme


Mariana's favorite books »

For A Better Life!

Blog Readers

Stats

free counters

simply,

bla bla bla in my mind...

Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

10 June 2017

A Blessing In Disguise

Beberapa waktu yang lalu saya membaca postingan status mbak Hanum Rais di facebook. Postingan tersebut membuka pikiran saya untuk bisa melihat hal lain dari kejadian yang tak terduga. Oya mungkin ada yang belum tahu, mbak Hanum Rais ini adalah anak dari Amien Rais, mantan ketua MPR periode 1999-2004. Saya mengikuti sosial media mbak Hanum bukan karena saya mendukung aliran politik tertentu, saya sebenarnya kurang begitu suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan politik. Saya hanya kagum dengan beliau semenjak saya membaca bukunya yang berjudul "99 Cahaya di Langit Eropa" yang bercerita tentang pengalamannya menjelajahi Eropa dan menemukan jejak-jejak peninggalan Islam disana. Bukunya ini kemudian diangkat menjadi film layar lebar yang dibintangi oleh Acha Septriasa.

Prolog dari buku "99 Cahaya di Langit Eropa"

Kembali ke topik postingan status mbak Hanum yang saya baca, berikut saya copy-kan statusnya :


•Perisai Lahir Batin Amien Rais•

Saya sebenernya telah beresolusi akan mengurangi sosmed di bulan puasa ini (post terakhir tgl 21mei). Namun tuduhan yang dialamatkan pada Bapak akhir2 ini membuat banyak pesan pada saya, lewat WA, DM dll agar saya sebagai putrinya juga memberikan semacam klarifikasi.

Saya tidak akan memberikan klarifikasi terkait tuduhan tersebut, karena insyaAllah Bapak secara perwira akan menggelar konpers di kediaman JKT hari ini sebelum sholat Jum'at. Silahkan wartawan datang dan melansir jawaban beliau.

Saya hanya ingin berbagi bagaimana seorang Amien Rais menanggapi badai dan terjangan fitnah, deraan ujian, cobaan namun juga kebahagiaan. Mudah mudahan menjadi hikmah di bulan suci ini.
Terkembali kepada Anda yang menilai.

Di awal April 2017 lalu, Seorang Mantan jenderal yang duduk di posisi pemerintahan cukup strategis menemui Bapak. Ia mengatakan bahwa ia dikirim boss nya yang ingin bertemu Bapak. Ia ditugasi membuat titik temu & tempat. Bapak mengatakan "Monggo dengan senang hati, semua orang dari kalangan manapun saya temui, apalagi orang terhormat seperti bapak bos". Namun sang mantan jenderal mengatakan boss ingin bertemu di tempat rahasia, tidak tercium media, karena pembicaraan akan bersifat confidential. Bapak tercenung. Ini sesuatu yang aneh. Mengapa harus rahasia?

Singkat cerita Bapak menolak meski sang utusan berdalih: pertemuan penting yang tidak bisa jadi konsumsi publik. "Maaf, jika ingin bertemu silahkan tapi terbuka, biarkan media melansir, biarkan mereka tahu hasil pembicaraan, toh pasti terbaik untuk bangsa. Jika pertemuan rahasia, saya tahu, saya hanya akan jadi bangkai politik Anda".
Sang utusan mundur, pamit dalam kekecewaan. Saya mendengar dan melihatnya semua dari balik pintu di Joglo. Oh ini to Bapak Mantan Jenderal yang sering jadi penghubung itu.
Sepeninggal sang utusan, saya katakan pada Bapak. "Pak, beliau bos pasti akan tersinggung dengan jawaban Bapak. Dan it's just a matter of time, you'll be singled out. Hanya soal waktu Bapak akan diperkarakan entah bagaimana dan apa caranya."
Bapak mengangguk. Ia sangat paham.

Amien Rais, memang ayah saya. Tapi saya mengagumi bagaimana ia menerima suatu hal, yang bagi sebagian orang termasuk saya adalah musibah, tapi karena ia seorang insyaAllah rajulun shalih, ia menerimanya dengan lapang dada bahkan menganggap blessing in disguise, keberkahan yang terselip dalam sebuah ujian. Termasuk tuduhan menerima aliran dana. Ia tdk akan bersembunyi atau malah kabur. Blessing yg bagaimana? Silahkan nanti wartawan hadir.

Tdk hanya sekali ini sesungguhnya Bapak menerima tudingan ini. Yang bersifat seolah melanggar hukum, dicitrakan koruptif, hipokrit, dll yg muaranya satu: pembunuhan karakter krn manuver Bapak dianggap tdk kooperatif dgn para petinggi nasional. Hingga akhirnya saya menyimpulkan 'yang penting Amien Rais disebut dulu, diberitakan, dimunculkanlah opini dan bola liar fitnah yg keji di media, hingga kepingan2 tuduhan tersebut terbang tak terkontrol lalu setelah yakin the damage has been done, bahkan tdk akan terkoreksi lewat klarifikasi, selesai sudah misi. 36 tahun sy tahu benar bagaimana Bapak memberi perisai pd dirinya dalam kancah politik yg seringkali membuat orang lunglai karna tak kuat dirundung. Mereka adalah Salat, Puasa, tadarus, Dzikir, dan Sedekah.

Sama halnya ketika kemarin sy justru bersiasat bagaimana Bapak harus mengklarifikasi hal ini dengan ini dan itu, Bapak malah senyum dan hanya mengatakan: "yang terjadi pada Bapak semua atas ijin Allah The Almighty. Ini berkah! Ini berkah! Tdk sedikitpun bapak merasa ini hukuman atau ujian. Kamu kalau baca Al Quran, gak perlu berkelit atau takut. Hadapi dengan kejujuran"
Yah. Itulah saya, saya memang bukan Amien Rais. Saya masih anak-anak yang ketika terjadi suatu peristiwa yang memojokkan, justru terfikir bagaimana bersiasat agar tak jujur, atau membalasnya, atau malah ngelokro berputus asa. Memandang hal yg unfortunate dgn kacamata keberkahan, mgkn hanya bisa dirasa oleh orang yg maqom imannya sudah qualified.

Saya jd teringat suatu kali ketika saya ngelokro di kursi roda ketika selesai di kuretase keguguran. Bapak menggeledek saya dan tak henti hentinya saya menangis sambil saya gumam. "Saya sdh hopeless"

Bapak tampak tdk suka dengan kelemahan iman saya ini. Ia kemudian duduk menghadap saya "Num lihat ya rumah sakit ini.Lihat baik-baik. Ruangan-ruangannya, nursing stationnya, semuanya."
Saya memandang sekelebat tapi masih tak paham apa maksud Bapak. Masih menangis meratapi janin 11 minggu yg barusan dimakamkan. "Nduk, kamu keguguran itu memang sebuah kesedihan tapi lihatlah kabar baiknya: kamu bisa HAMIL! Setelah sekian tahun tanpa ada hasil! Kamu punya benih! Bahkan bisa menyimpan 3 embrio yg bisa digunakan lagi. Allah memberi kabar baik: kamu wanita yang bisa hamil. Bukan manusia yg disebut didalam Al Quran yg memang ditakdirkan Allah tdk diberi benih. Tinggal masalah waktu kamu harus terus mencoba."
Mataku yang sembab seketika sedikit melebar. Ada keberkahan yg luput dr kacamataku. Yang bisa dibaca Bapak. "Nduk, ingat suatu saat nanti Bapak akan menggeledek kamu melewati ruangan2 RS ini, melewati nursing station ini, dengan kamu yg tersenyum mendekap seorang bayi. Bapak yakin. InsyaAllah. Pulang dr RS ambil wudhu, sholat, dzikir, ngaji dan jgn lupa sedekahnya dikuatkan. It's just a matter of time you will have a baby."

Sekian tahun berikutnya, meski di RS yg berbeda, saya mendekap Sarahza dengan Bapak mendorong saya dikursi roda.
Mas Rangga pernah bilang kpd saya, setelah Sarahza lahir. "Num, kadang aku berpikir ekstrim ya mungkin kita berdua ini kan bukan org yang saleh-saleh amat. Ngadepin hidup sering naik turun kadar imannya, bahkan sering suudzon sama yang diatas. Mgkn doa kita selama ini tdk dikabulkan sama Allah. Tapi Allah mengabulkan doa Bapak untuk kita, lantaran ia adalah orang saleh."

Itulah Amien Rais. Di Jum'at Berkah ini, ia akan hadapi tudingan yg dialamatkan padanya itu dengan bersyukur dan tanpa sedikitpun rasa keder. Karena ia berperisai kesalihan dan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hambaNya yg berserah diri.

(Foto: Bapak berdzikir saat menunggu operasi saya melahirkan Sarahza)
Original story from Instagram @hanumrais

Sumber : https://web.facebook.com/99CahayaOfficial/posts/1976371779257438:0


Pikiran saya seketika jadi tercerahkan ketika saya membaca sharing wisdom dari mbak Hanum diatas. Benar juga saya pikir-pikir, ketika kita mengalami musibah atau ujian seringkali kita merasa hopeless, sedih, merasa dihukum oleh Allah, sepertinya Allah tidak sayang pada kita, dan berbagai pikiran negatif lainnya.

Saya sendiri ketika ditimpa kesulitan tidak jarang saya langsung menganalisis dengan ke-sok-tahu-an saya bahwa ini adalah akibat dari dosa ini, dosa itu, karma ini, karma itu, dan berbagai suudzon lainnya yang saya alamatkan pada orang lain, diri sendiri, bahkan Tuhan. Padahal saya berkali-kali membaca untaian nasehat, hadist, juga ayat Al-Qur'an yang menjelaskan perihal ini, pun sudah berkali-kali menulis cerita hikmah, tausyiah, kebijaksanaan, etc... tapi ketika ujian itu datang tiba-tiba saya tidak tahu harus bersikap seperti apa. Sampai saya merasa apa saya ini munafik ya, bisa menulis kata-kata bijak tapi ketika diuji oleh Allah, semua kebijaksanaan itu hanya sekedar teori saja di kepala saya, pada prakteknya, saya tidak berbeda jauh dari orang yang masih tidak paham mengenai agama. Astaghfirullah... pardon me yaa Rabb...

Semoga kedepannya saya bisa seperti orang-orang shalih yang ketika tertimpa musibah mereka tetap bersyukur pada Allah, karena di balik setiap kesulitan yang terjadi pasti Allah selipkan keberkahan jika kita mampu bersabar dan tetap ikhtiar di jalan yang benar.



عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Sumber: https://muslim.or.id/7198-memahami-syukur.html



مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa kecelakaan, kemiskinan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun keduka-citaan bahkan tertusuk duri sekalipun, niscaya Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan apa yang menimpanya itu.” (HR. Bukhari)

Sumber : http://talimulquranalasror.blogspot.co.id/2015/03/kumpulan-hadits-tentang-cobaan-hidup.html


Anyway ada satu lagu yang lagi saya suka, agak nge-beat gitu sih. Hehe.. tapi jadi semangat dengerin liriknya. It's like being charged with super power energy, haha lebay. Sometimes I need some good affirmations to keep my brain positive, boleh dong ya even dari lagu. ;) It's Superheroes-nya The Script yang jadi mood booster di kala suntuk. Ini dia cuplikan liriknya, lagunya bisa di search sendiri ya di youtube. Okay see ya' in next postings...

She's got lions in her heart
A fire in her soul
He's got a beast in his belly
That's so hard to control
'Cause they've taken too much hits
Taking blow by blow
Now light a match, stand back, watch them explode

When you've been fighting for it all your life
You've been struggling to make things right
That's how a superhero learns to fly

("Superheroes" - The Script)


Posted by Mariana at 1:57 AM 0 comments
Labels: cerita-cerita, hikmah, tausyiah

09 March 2016

Gerhana Matahari

Holaaa everyone..... Senang sekali hari ini di negeri tercinta Indonesia ku terjadi satu fenomena alam yang bersejarah di dunia. Saya merasakan euforia suka cita dan antusiasme orang-orang. :D Tepat pada pagi hari ini sekitar jam 6-8 pagi tadi terjadi Gerhana Matahari Total (disingkat GMT) atau disebut juga Solar Eclipse. Momen ini sangat bersejarah sekali karena jarang-jarang bisa terjadi, dan kebetulan sekali fenomena ini hanya bisa dilihat di negara lndonesia saja karena posisi negara kita lagi pas sekali di tengah-tengah garis lurus ketika bulan menutupi matahari.

Saya sendiri sebenarnya tidak ada rencana dari kemarin untuk menyaksikan gerhana, bahkan sebetulnya tidak terlalu 'ngeh' bahwa ini adalah fenomena yang luar biasa yang hanya terjadi sekian puluh tahun sekali. Maklum dari kemarin saya lagi banyak pikiran jadi isi kepala saya penuh dengan berbagai hal. :P Sampai hal besar seperti gerhana matahari bisa ga masuk di kepala. Sedih banget yak, hiiksss... TT___TT

Tapi tidak apa-apa, alhamdulillah peristiwa hari ini bisa bikin saya kembali bersemangat. Pancaran energi positif dari orang-orang yang menyaksikan gerhana membuat saya ikut ter-charge lagi energinya. Hehe kayak batere handphone butuh di charge... :D

Mau tau bagaimana pengalaman saya menyaksikan gerhana? Luar biasa masyaa Allah. Belum pernah saya menyaksikan fenomena yang sedemikian rupa. Saya tidak bisa melihat apa-apa sebenarnya karena ketika awal-awal terjadi gerhana, cahaya mataharinya sangat silau sekali. Benar-benar terang sinarnya sampai rasanya menusuk mata. Awalnya tadi pagi saya hanya ingin buka jendela rumah saja, tapi tidak disangka pas saya buka jendelanya ternyata mataharinya persis berada di depan saya. Aaah.... refleks karena terlalu silau dan panas langsung saya tutup lagi jendelanya. Belum pernah seumur hidup saya melihat matahari sedemikian tajam dan terang intensitas cahayanya.

Lalu karena penasaran saya coba ngintip dari balik jendela, saya pikir mungkin saya hanya kaget tadi karena tiba-tiba silau. Saya beranikan ngintip pelan-pelan, tapi aaah... ternyata benar memang sangat amat silau. Untuk ngintip saja bahkan tidak sanggup. Saya coba lagi menyampingkan badan lalu melihat dari ujung mata... tapi tetap sama saja tidak bisa dilihat, padahal lapisan kaca jendelanya lumayan gelap, benar-benar hebat masyaa Allah. Allahu Akbar...!

Lalu karena takut berbahaya cahaya mataharinya, akhirnya jendelanya saya tutup pakai korden. Itupun masih terang bisa menembus kain gorden yang lumayan tebal. Hebat, luar biasa, masyaa Allah kebesaran Tuhan. Ini hanya sebagian kecil dari tanda-tanda kebesaran-Nya, bagaimana mungkin kita makhluk yang lemah ini bisa meragukan dan sering tidak bersyukur pada Sang Pencipta setelah melihat keagungan-Nya. :(

Fenomena gerhana ini membuat saya jadi teringat ayat Al-Qur'an di Surat An-Nur ayat 35-38 yang menjelaskan tentang cahaya Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


35. Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


36. (Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang,


37. orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat),


38. (mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.



Ketika terjadi gerhana matahari kita disunnahkan untuk mengerjakan shalat 2 rakaat, Ini termasuk salah satu sunnah Muakkad (sunnah yang sangat ditekankan). Tata cara shalatnya sebagai berikut :

1) Berniat dalam hati untuk sholat gerhana karena Allah ta’ala, melafazkannya termasuk bid’ah (mengada-ada dalam agama)

2) Takbiratul ihram.


3) Membaca istiftah, ta’awwudz, dan basmalah secara pelan.


4) Membaca Al-Fatihah dan surat lain secara keras, dan hendaklah memanjangkan bacaan, yaitu memlih surat yang panjang.


5) Bertakbir lalu ruku’ dan memanjangkan ruku’, yaitu membaca bacaan ruku’ dengan mengulang-ngulangnya.


6) Kemudian bangkit dari ruku’ seraya mengucapkan, ”Sami’allahu liman hamidah,” jika badan sudah berdiri tegak membaca, ”Rabbana walakal hamdu.”


7) Setelah itu tidak turun sujud, namun kembali membaca Al-Fatihah dan surat panjang, akan tetapi lebih pendek dari yang pertama.


8) Bertakbir lalu ruku’ dengan ruku’ yang panjang, namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama.


9) Kemudian bangkit dari ruku’ seraya mengucapkan, ”Sami’allahu liman hamidah,” jika badan sudah berdiri tegak membaca, ”Rabbana walakal hamdu.” Dan hendaklah memanjangkan berdiri I’tidal ini


10) Bertakbir lalu sujud dengan sujud yang panjang, yaitu dengan mengulang-ngulang bacaan sujud.


11) Kemudian bangkit untuk duduk di antara dua sujud seraya bertakbir, lalu duduk iftirasy dan hendaklah memanjangkan duduknya.


12) Kemudian sujud kembali seraya bertakbir dan hendaklah memanjangkan sujud, namun lebih pendek dari sujud sebelumnya.


13) Bangkit ke raka’at kedua seraya bertakbir, setelah berdiri untuk rakaat kedua maka lakukanlah seperti pada raka’at yang pertama, namun lebih pendek dari raka’at yang pertama


14) Kemudian duduk tasyahhud, membaca shalawat, dan salam ke kanan dan ke kiri.


15) Setelah itu disunnahkan bagi imam berkhutbah kepada manusia untuk mengingatkan mereka bahwa gerhana matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah untuk mempertakuti hamba-hamba-Nya dan agar mereka memperbanyak dzikir dan sedekah.


16) Waktu melakukan sholat gerhana adalah selama terjadinya gerhana, apabila gerhana telah selesai sedang sholatnya belum selesai maka hendaklah sholatnya dipendekkan dan tetap disempurnakan, namun tidak lagi dipanjangkan (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 8241).


17) Apabila sholat selesai namun gerhana belum selesai maka tidak disyari’atkan untuk mengulang sholatnya, tapi hendaklah melakukan sholat sunnah yang biasa dikerjakan, atau memperbanyak dzikir dan do’a sampai gerhana selesai (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 9241).


18) Disyari’atkan untuk melakukannya secara berjama’ah di masjid. Dan dibolehkan untuk melakukannya di rumah, namun lebih baik di masjid (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 4041, 5041).


19) Disunnahkan menyeru manusia untuk sholat dengan ucapan, “Ash-Sholaatu Jaami’ah.” Tidak ada adzan dan iqomah untuk sholat gerhana selain seruan tersebut, dan boleh diserukan berulang-ulang (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 2241).


20) Apabila bertemu waktu sholat wajib dan sholat gerhana maka didahulukan sholat wajib (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 9931).


21) Boleh mengerjakan sholat gerhana meski di waktu-waktu terlarang, karena pendapat yang kuat insya Allah, yang terlarang hanyalah sholat-sholat sunnah mutlak, yang tidak memiliki sebab (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 0341, 1341).


22) Apabila makmum tidak mendapatkan ruku’ yang pertama maka ia tidak mendapatkan raka’at tersebut, hendaklah ia menyempurnakannya setelah imam salam dengan raka’at yang sempurna, yaitu tiap raka’at terdiri dari dua ruku’ (Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah: 9141).


وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم


Sumber: http://sofyanruray.info/ringkasan-tata-cara-sholat-gerhana/



Gara-gara saya iseng ngintip tidak pakai kaca mata filter atau kaca mata hitam, mata saya sesaat terasa perih. Karena itu sangat tidak dianjurkan untuk melihat gerhana dengan mata telanjang, karena sangat berbahaya. Bisa dibaca disini artikelnya mengenai bahaya gerhana matahari bagi kesehatan mata : http://perdami.or.id/new/?p=8659

Saya baca di berita ada berbagai cara orang-orang ketika melihat gerhana, dari cara yang sederhana sampai cara yang benar-benar menakjubkan. Hehehe. Yang paling umum rata-rata orang-orang menggunakan kaca mata hitam atau kaca mata filter. Saya sempat nyoba juga pakai kaca mata hitam, tapi tetep tidak sanggup menahan tajamnya intensitas cahaya matahari. Ada juga yang menggunakan cara sederhana yaitu dengan menggunakan kardus atau nama ilmiahnya Proyeksi Lubang Jarum. Hehe, keren banget ya istilahnya. Jadi kardusnya dilubangi lalu kepala kita dimasukkan kedalam kardus, tapi kita menghadap membelakangi matahari, jadi kita hanya melihat proyeksinya atau pantulan sinarnya saja melalui lubang tersebut. Konsepnya seperti menonton film di bioskop, proyektor berada di belakang kursi penonton, jadi penonton menonton film melalui layar di depan proyektor tersebut. Ilmiah sekali ya. :D

Cara lainnya yang paling menarik menyaksikan gerhana ini yaitu lewat kaca jendela mobil yang dilapisi kaca film super black. Cara yang satu ini cukup menarik karena pas saya lihat di televisi orang-orang yang melakukannya terlihat seperti sedang mengintip lewat kaca jendela sambil jongkok memegang pintu mobil. Susah dijelaskan, tapi ketika dilihat di televisi entah kenapa terlihat kocak. :P

Saya sempat mengabadikan beberapa momen ketika awal-awal terjadi gerhana. Saya memotret suasana langitnya saja, karena untuk memotret mataharinya secara langsung tidak memungkinkan. Yang saya ingat langitnya terlihat terang benderang, lalu pantulan sinar matahari yang mengenai pohon, daun, dan benda-benda lainnya terlihat berbeda dari biasanya. Warnanya seperti kuning keemasan, kuningnya terlihat teduh. Cantik sekali pantulannya. Saya coba abadikan dengan kamera hp jadi tidak terlalu terlihat. Kurang lebih seperti ini.

Daun-daun terkena pantulan sinar matahari menjelang gerhana

Pemandangan menjelang gerhana matahari

Kondisi langit di awal-awal gerhana,
bagian yang putih sebelah kanan bagian langit yang dekat dengan matahari


Walaupun di Jakarta tidak dapat menyaksikan gerhana matahari secara total sampai berbentuk cincin, tapi saya merasa bersyukur alhamdulillah setidaknya bisa melihat sedikit bagian dari fenomena kebesaran Tuhan ini. Daerah di Indonesia yang bisa melihat gerhana total yang paling bagus bentuknya yaitu di Palu, daerah lainnya yang juga terlihat bentuk cincinnya yaitu di Ternate dan Belitong. Diperkirakan gerhana matahari selanjutnya di Indonesia dapat disaksikan insyaa Allah sekitar tahun 2023, 2042, dan 2049. (Sumber : http://www.jawapos.com/read/2016/03/09/20406/gerhana-matahari-total-tahun-2023-lebih-dahsyat-ini-sebabnya/1)

Seperti biasa ketika ada peristiwa besar, di social media terutama di Indonesia pasti langsung bermunculan banyolan-banyolan seputar peristiwa tersebut. Tidak terkecuali gerhana matahari. Banyolan-banyolan yang muncul mulai dari foto pemeran film 'Gerhana', wajan ibu-ibu di dapur yang bentuknya seperti gerhana matahari, sampai foto novel 'Eclipse' karangan Stephenie Meyer yang difoto berdampingan dengan tulisan 'Solar' di SPBU menjadi hits. Rakyat Indonesia memang luar biasa tidak pernah kehilangan rasa humor dalam segala situasi. Like always... :D

Oke deh sekian dulu reportase aktual dari peristiwa hari ini. Mudah-mudahan kita semua masih diberikan umur hingga gerhana matahari selanjutnya, yang tidak kalah penting semoga kita masih diberikan kesempatan untuk bertaubat sebelum matahari terbit dari sebelah barat. Aamiin....

Sampai jumpa!


Posted by Mariana at 11:35 PM 0 comments
Labels: capturing moments, hikmah, wonderful

03 February 2016

Dakwah pada Keluarga

Saya menemukan video yang bagus mengenai dakwah pada anggota keluarga atau orang-orang yang dekat dengan kita. Berikut videonya.




Menyampaikan dakwah atau perihal yang berhubungan dengan ajaran agama pada anggota keluarga sendiri memang bukan hal yang mudah. Terlebih jika posisi kita berada dalam pihak yang kurang memiliki peluang untuk didengar, seperti anak kepada orang tua, adik kepada saudara yang lebih tua, ponakan pada paman atau bibi, dan lain sebagainya. Bahkan orang tua sendiri juga bisa jadi tidak mudah menyampaikan ajaran agama pada anaknya yang tidak dibiasakan dari kecil mengikuti ajaran agama.

Sebenarnya saya agak sungkan untuk menulis ini, karena takutnya jadi ujub / riya' / sombong. Meski niat awalnya tidak seperti itu, tapi namanya manusia memang sudah kodratnya ketika melakukan sesuatu yang baik atau bagus sedikit saja, pasti ada rasa bangga jika disebutkan. Ya doakan saja mudah-mudahan saya dijauhkan dari perasaan tersebut. Aaamiin.

Karena saya pikir ini ada bagusnya juga untuk di-share dibandingkan mudharatnya. Tujuannya tidak lain mudah-mudahan metode dakwah yang saya sampaikan dan sudah saya coba ke anggota keluarga bisa efektif juga metodenya buat yang lain. Insyaa Allah. :)

Awalnya sebenarnya tidak ada niatan untuk benar-benar dakwah pada keluarga. Saya sesekali sekedar mengingatkan ketika melihat ada yang kurang-kurang. Oya seperti sudah saya ceritakan di postingan-postingan sebelumnya, keluarga saya tadinya bukan keluarga yang religius yang mengerti betul tentang agama. Apalagi ayah saya seorang muallaf, beliau belum begitu mengerti agama waktu awal-awal. Jadinya kita agak dibebaskan mengenai agama, meski tidak sebebas itu, maksudnya asal tetap beragama Islam dan tidak memeluk agama yang lain, orang tua saya fine-fine saja. Kita sekeluarga dulunya juga tidak begitu paham kalau harus sholat 5 waktu, memakai hijab, dan lain-lain.

Meskipun serba kekurangan dalam hal agama, tapi alhamdulillah kedua orang tua saya tetap menekankan bahwa yang benar tetap berada dalam koridor Islam. Tidak minum alkohol, tidak makan makanan yang haram, dan hal-hal yang prinsip lainnya tetap diajarkan. Tapi untuk masalah ibadah, kita sekeluarga awalnya tidak terlalu paham jadi dibebaskan tidak ada paksaan harus sholat dan lain-lain.

Untuk pendidikan agama, alhamdulillah orang tua saya menyediakan guru ngaji yang tiap minggu datang ke rumah untuk mengajarkan Al-Qur'an pada anak-anak. Saya pribadi tidak disekolahkan di sekolah Islam, karena orang tua saya termasuk tipe orang tua jaman dulu yang memiliki paham sekolah umum lebih bisa mengajarkan disiplin pada anak-anak, meskipun disana tidak ada pelajaran agama Islam.

Saya sendiri baru benar-benar mengenal agama pas kuliah. Kebetulan lingkungan kampus cukup religius yang saya lihat, alhamdulillah saya berkesempatan belajar agama dari teman-teman dan kegiatan pengajian di kampus. Hingga akhirnya saya bisa paham bahwa menutup aurat itu wajib, karena itu saya memutuskan untuk memakai hijab. Progress saya dan anggota keluarga yang lain agak berbeda, di waktu saya pertama kali memakai hijab dulu ayah saya bahkan bilang bahwa hijab itu tidak wajib, hehe. Ya begitulah, Memang agak susah awalnya menjelaskan pada anggota keluarga sendiri, persis seperti yang disampaikan di video di atas.

Terlebih saya termasuk anggota keluarga nomer dua termuda di rumah, jadi kata-kata saya seringkali tidak didengar dan dianggap angin lalu. :(  Sampai sekarang juga masih dianggap seperti anak kecil, pendapat saya bisa dibilang tidak begitu berpengaruh di rumah. Hehee.. Saya sih ga terlalu baper alias bawa perasaan kalau istilah anak jaman sekarang. Hihii, happy go lucky saja biar ga pusing. :D

Awalnya saya tidak pernah punya niatan untuk mengajak keluarga atau dakwah secara khusus ke anggota keluarga. Tapi pas melihat keluarga sendiri agak kurang, misalnya tidak sholat atau belum menutup aurat saya suka risih sendiri, otomatis tiba-tiba jadi bawel ngingetin tiap kali ada kesempatan. Bukan karena merasa lebih baik, tapi saya rasa semua orang seperti itu kodratnya. Kalau melihat ada yang tidak benar atau tidak sesuai menurut standard kita, pasti otomatis langsung berkomentar. Begitu yang terjadi dengan saya di awal-awal. Bawel banget, tiba-tiba jadi cerewet ngeliat ini itu.

Tentunya tidak otomatis langsung pada berubah pas saya ingatkan harus pakai kerudung untuk perempuan, atau harus sholat 5 waktu, sholat Jumat untuk laki-laki, dan lain sebagainya. Tidak jarang juga malah jadi marah, berantem, hanya karena tidak suka diingatkan. Atau cara saya yang kurang halus mengingatkannya. Saya malah jadi suka sedih sendiri kalau keluarga saya tidak melakukan apa yang saya harapkan, meskipun itu pada dasarnya adalah sesuatu yang baik. Atau wajib malah. Tapi saya baru mengerti akhir-akhir ini, kalau waktu itu saya hanya tidak sabaran dan ingin melihat perubahan secara instan. Ya jelas tidak mungkin tentunya.

Akhirnya lama-kelamaan saya menyerah juga, saya biarkan saja keluarga seperti apa adanya. Bukannya tidak peduli lagi, tapi saya pikir mungkin memang mereka belum mendapatkan hidayah dari Allah. Yang namanya hidayah tidak ada yang bisa memaksakan, itu adalah hak prerogatif dari Allah semata. Pada siapa Allah mau membukakan pintu hati untuk menerima ajaran agama adalah kehendak Allah semata. Saya hanya bisa mendoakan jika ada kesempatan semoga Allah memberikan hidayah-Nya juga pada keluarga saya.

Karena progress dalam urusan agama antara saya dan anggota keluarga yang lain tidak sama, saya jadinya lebih fokus untuk belajar agama sendiri dengan teman-teman atau lewat pengajian maupun artikel-artikel.

Entah bagaimana, suatu ketika di rumah waktu itu saya terinspirasi untuk menempelkan kertas cuplikan ayat Al-Qur'an di dinding rumah untuk mengingatkan ayah saya untuk sholat Jumat. Karena waktu itu saya kuliahnya di luar kota, jadi saya pikir saya ingatkan lewat tempelan kertas saja. Siapa tahu dibaca sekali-kali, lalu jadi ingat lama-kelamaan. Eh alhamdulillah, entah bagaimana tiba-tiba sesekali saya lihat ayah saya ikut Sholat Jumat juga. :D Tidak otomatis setelah saya tempel tulisannya terus besoknya langsung sholat, hehe, agak lama juga waktu itu. Saya ingat sampai kertasnya agak dekil di dinding pas pertama kali saya lihat ayah saya ikut Sholat Jumat.

Sebenarnya dulunya sebelum kuliah saya juga tidak mengerti soal kewajiban sholat 5 waktu. Ayah saya yang duluan mengerjakan sholat meski belum 5 waktu juga. Tapi dulu saya sering lihat sebelum mengantarkan anak-anak sekolah, pagi-pagi pasti ayah saya sholat dulu. Saya sampai sering ngomel-ngomel karena sholatnya lama jadi suka telat. Jahat banget sih kalau dipikir-pikir, kenapa dulu saya gitu ya. Hehe.. jadi malu sendiri.

Terus lanjut ke anggota keluarga yang lain. Karena sering melihat saya pakai kerudung dan jadinya terlihat lebih bagus, beberapa waktu kemudian entah bagaimana anggota keluarga saya yang lain satu-satu mulai mengenakan kerudung juga. Mungkin terinspirasi melihat gaya saya yang lumayan stylish jadi bikin yang lain penasaran ingin mencoba. Hehe.. kegeeran banget ya. Yang pasti alhamdulillah karena Allah memberikan hidayah jadi anggota keluarga yang lain sedikit demi sedikit mulai terbuka hatinya untuk menerima ajaran agama.

Nah untuk urusan sholat, itu memang susaaah banget. Apalagi baca Al-Qur'an. Itu paling sulit untuk mengajak orang agar mau ikutan sholat atau mengaji. Jadinya saya bisa dibilang hampir tidak pernah mengingatkan yang lain untuk sholat. Karena sensitif untuk masalah sholat, kalau disinggung dikit bisa jadi berantem. Ujung-ujungnya pasti dibilang merasa lebih baik, lebih sholeh, dan lain sebagainya. Jadi saya cari yang aman saja, biar tidak pada tersinggung juga jadi saya lebih memilih untuk sholat sendiri saja. Cuma pas sekeluarga lagi jalan-jalan bersama dalam satu kendaraan, ketika masuk waktu sholat saya usahakan untuk minta berhenti sebentar di Masjid atau Pom Bensin untuk melaksanakan sholat. Itu saja kadang-kadang suka berantem karena makan waktu dan merepotkan, tapi untuk urusan yang satu ini saya agak keras kepala dan kekeuh untuk minta waktu sebentar mengerjakan sholat. Kalau tidak dikasih, saya kadang-kadang suka bilang ditinggal saja saya tidak jadi ikutan pergi bersama. Saya lebih memilih mengerjakan sholat karena itu kewajiban dibanding pergi bersama keluarga. Akhirnya karena pada capek juga berantem, lama-lama yang lain jadi terbiasa dengan request spesial saya yang satu ini kalau lagi pergi bareng. Mau tidak mau yang lain toleransi untuk menyediakan waktu untuk mengerjakan sholat. Pilihan tempatnya antara Pom Bensin, Masjid, Supermarket, atau Mall.

Entah bagaimana, setelah agak lama waktu berlalu, saya melihat satu demi satu anggota keluarga saya ada yang sholat juga alhamdulillah.... :') Meski belum terlalu sempurna, tapi setidaknya ada keinginan sholat. Hehee... antara senang dan terharu. Karena keluarga saya asalnya bukan keluarga yang religius, kita tidak punya sosok yang benar-benar paham mengenai ajaran agama di dalam keluarga untuk bisa membimbing secara khusus. Jadi semuanya pada belajar masing-masing. Kita juga bukan tipe keluarga yang suka datang ke pengajian, jadi paling kita baca-baca dari buku panduan agama saja atau tanya-tanya ke teman atau saudara.

Satu-satunya harapan supaya bisa mengerti ajaran agama ya hanya hidayah semata dari Allah SWT. Alhamdulillah Allah berbaik hati membukakan pintu-pintu untuk bisa mengenal agama.

Oya baru-baru ini saya agak tertarik mengenai produk-produk halal. Sejak baca-baca dikit mengenai perihal halal dan haram, saya jadi lebih concern ketika mengkonsumsi atau menggunakan suatu produk. Awalnya keluarga saya melihat saya agak ekstrim, karena saya hanya mau makan makanan atau produk yang sudah bersertifikat halal. Saya dibilang berlebihan, terlalu strict, dan lain sebagainya. Tapi saya jelaskan tiap kali ada kesempatan, bahwa produk yang sudah bersertifikat halal itu sudah melalui proses pengecekan dan mungkin juga pengujian di laboratorium oleh para ahli di bidangnya (ahli pangan, ahli kimia, obat-obatan, dll), jadi lebih terjamin kehalalannya. Produk yang sudah bersertifikat halal lebih aman untuk dikonsumsi karena sudah dicek oleh para ahli. Bahkan saya pernah dengar kalau tidak salah, salah seorang ahli di bidang halal dari luar negeri mengatakan bahwa produk yang halal lebih sehat untuk dikonsumsi. Saya coba tekankan pengertian ini tiap kali menjelaskan ke keluarga saya. Awalnya pada risih dan kesal tentunya kenapa sampai makanan, sabun, odol, dll harus ada logo halal MUI-nya. Kalau ga ada logonya, saya lebih memilih tidak makan atau cari makanan yang lain. Tidak sekali dua kali saya dibilang ekstrim gara-gara hal ini, hehehe...  Tapi lama kelamaan keluarga saya mulai terbiasa, tiap kali habis belanja dari luar dan membawakan makanan pasti mereka meyakinkan saya biar ikut makan, "itu udah ada logo halal-nya kok." Hehe... :D

Ternyata segala sesuatu kalau dibiasakan bisa terbiasa juga. Bukan karena sulit, tapi karena tidak terbiasa terkadang kita menolak sesuatu yang baru meskipun itu baik dan benar. Karenanya dalam dakwah kita dianjurkan untuk sabar dan menunggu hingga saatnya Allah membukakan pintu hati dan hidayah-Nya untuk orang-orang yang kita kasihi.

Mungkin untuk lebih mudah dipahami dan lebih singkat, saya berikan poin-poin metode penyampaian dakwah pada keluarga kita sendiri yang sepertinya cukup efektif :

  • Konsisten. Ketika kita mengatakan sholat itu wajib, kita harus bisa menunjukkan konsistensi dalam mengerjakan sholat 5 waktu itu sendiri. Atau ketika kita mengatakan bahwa kita harus makan makanan yang halal, kita sebisa mungkin konsisten untuk makan atau mengkonsumsi produk yang ada logo halalnya saja. Sekali kita tidak konsisten, orang yang melihat akan mengira jika tidak dilakukan tidak apa-apa. Bahkan bisa dikira sunnah / tidak wajib.
  • Antusias dan bersemangat. Ketika mengerjakan sesuatu, usahakan kita terlihat antusias ketika mengerjakannya. Contoh ketika kita berusaha untuk menyampaikan bahwa hijab yang benar itu yang menutupi dada dan tidak menerawang, sebisa mungkin kita tunjukkan antusiasme kita bahwa hijab yang benar bisa juga terlihat bagus dan stylish. Tidak kuno atau terlihat terlalu ekstrim seperti persepsi yang sudah terbentuk di masyarakat. Ketika kita terlihat bersemangat dalam mengerjakan sesuatu, orang-orang akan penasaran dengan apa yang kita lakukan.
  • Logis dan ada manfaatnya. Misalnya ketika kita menyampaikan kenapa harus mengkonsumsi yang halal, kita harus bisa menjelaskan karena yang halal lebih sehat untuk badan kita dan sudah dicek oleh para ahli di bidangnya jadi lebih terjamin. Atau kenapa harus memakai hijab, tidak lain karena itu lebih baik bagi perempuan supaya tidak diganggu.
  • Happy go lucky. Jangan gunakan emosi ketika menyampaikan sesuatu, meskipun yang kita sampaikan adalah kebenaran tapi jika kita menyampaikannya dengan cara yang kurang enak di hati, maka apa yang kita sampaikan tidak akan pernah bisa diterima. Jadi sebisa mungkin gunakan cara yang baik dalam menyampaikan sesuatu, kalau tidak bisa diterima jangan marah. Kita sebisa mungkin tunjukkan sikap nothing to lose, kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Secara psikologi, ketika melihat ada orang yang nothing to lose, kita justru akan semakin penasaran.
  • Iklan. Gunakan media untuk memasarkan dakwah kita. Contoh seperti cerita saya di atas ketika mengingatkan ayah saya untuk Sholat Jumat, saya menggunakan media poster di dinding yang saya buat sendiri dari kertas A4 yang tulisannya saya print pakai printer di rumah. Usahakan tulisannya jangan terkesan mengerikan seperti kalau tidak sholat akan disiksa di akhirat nanti, walaupun memang benar seperti itu kenyataannya tapi kalau saya sendiri melihat ada tulisan yang seperti itu di rumah pasti diam-diam akan saya copot tulisannya. Karena jujur saya sendiri seram baca yang seperti itu. Lebih baik gunakan bahasa yang persuasif / mengajak dan tidak terkesan memaksa. Atau yang netral pakai ayat Al-Qur'an saja, lebih jelas dan terpercaya sumbernya.
  • Baca Al-Qur'an. Pernah dengar kisah Umar bin Khattab yang tersentuh hatinya ketika mendengar bacaan Al-Qur'an hingga akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam? Saya sendiri ketika mendengar bacaan Al-Qur'an dilantunkan dari speaker masjid seringkali suka terharu sendiri, begitupula ketika mendengar lantunan dzikir tidak jarang tiba-tiba jadi berkaca-kaca padahal tadinya tidak kenapa-kenapa. Karena bacaan Al-Qur'an adalah kalam Allah, karena itu ia mampu menyentuh kalbu. Rutinkan membaca Al-Qur'an di rumah, mudah-mudahan jika ada yang mendengar akan tersentuh pula hatinya. Insyaa Allah.
  • Sabar menunggu. Setelah semua usaha kita coba, saatnya kita sabar, menunggu, dan berdoa hingga Allah berikan hidayah-Nya.


Ini hanya sedikit tips-tips yang mungkin bermanfaat dan bisa dicoba ketka menyampaikan dakwah pada keluarga. Mudah-muudahan jika Allah berkehendak, Allah bukakan pintu hati anggota keluarga kita atau orang-orang terdekat kita pada ajaran agama. Insyaa Allah, aamiin.

Semangaaat! :)


Posted by Mariana at 2:58 AM 0 comments
Labels: family matters, hikmah, inspirasi, review, tausyiah

10 January 2016

Niatnya Shalat Dzuhur, Akhirnya Jadi Shalat Jenazah

Beberapa waktu yang lalu saya sempat terbesit dalam hati, ingin deh menghadiri pemakaman supaya saya lebih ingat akhirat dan lebih mensyukuri hidup. Ketika melayat seseorang, entah kenapa pasti langsung teringat bahwa "oh ya, dunia ini sementara ya", "kita hidup ga lama kok", "ga ada yang abadi di dunia ini", "untuk apa menimbun materi, pada akhirnya kita akan mati juga tanpa membawa apa-apa", "oh ya harusnya aku lebih banyak bersyukur masih hidup", "jangan lupa untuk beramal baik", dan berbagai pikiran lainnya yang membuat saya tersadarkan setelah tenggelam begitu lama dalam urusan duniawi. Materi. Pencapaian yang tidak ada habisnya.

Tapi sayangnya tidak ada satupun pemakaman yang bisa saya hadiri. Bukannya mengharapkan seseorang untuk meninggal, tidak tentu saja. Saya hanya ingin tersadarkan dan lebih mensyukuri hidup.

Entah bagaimana, seperti kebetulan atau mungkin doa saya terjawab alhamdulillah, beberapa hari yang lalu saya mendapat kesempatan untuk melayat. Sebenarnya tidak diniatkan untuk melayat, tapi takdir membawa saya ke tempat tersebut.

Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu saya ada urusan untuk pergi ke suatu tempat. Ketika sampai di tempat itu, sudah masuk waktu Shalat Dzuhur. Sebenarnya saya agak ragu apakah saya shalat dulu atau saya selesaikan dulu urusan saya. Meski agak berat melangkah, tapi akhirnya saya dahulukan shalat, entah bagaimana tiba-tiba kaki ingin ke masjid. Kebetulan waktu itu masjidnya ada di depan saya, langsung saja saya masuk, wudhu, lalu naik ke atas ke area shalat.

Nah pas sekali ketika saya sudah masuk area shalat, tiba-tiba di belakang saya ada rombongan masuk membawa keranda jenazah. Ternyata ada salah seorang warga di dekat situ yang meninggal. Niat awalnya tadi saya mau Shalat Dzuhur, tapi melihat orang-orang sudah berkumpul untuk Shalat Jenazah, akhirnya saya ikutan juga untuk menghormati jenazah tersebut.

Saya kurang paham juga sebenarnya kalau dalam situasi seperti itu sebaiknya Shalat Dzuhur dulu atau ikut Shalat Jenazah dulu. Saat itu saya lihat keranda jenazahnya sudah diletakkan di depan area shalat, saya pikir kalau saya Shalat Dzuhur dulu nanti ketika sujud jadinya saya sujud pada jenazah, meski niatnya tidak seperti itu. Tapi kenyataannya jenazahnya sudah ada di depan. Dalam Shalat Jenazah pun tidak ada sujudnya, semua bacaan dilakukan berdiri tanpa rukuk dan sujud. Jadi saya cari yang amannya saja, akhirnya saya putuskan ikut Shalat Jenazah dulu.

Setelah selesai shalat, kemudian jenazah tersebut dibawa keluar. Baru setelah itu saya bisa Shalat Dzuhur.

Meski saya tidak kenal dengan sang Jenazah, tapi besitan perasaan seperti yang saya sebutkan diatas ketika melihat jenazah selalu ada. Kali ini yang terbesit dalam benak saya yaitu "bagaimana ya kalau aku yang ada di keranda itu", "udah siap belum ya kalau dipanggil tiba-tiba seperti itu", "berapa banyak ya orang yang akan menshalati aku", "amalnya udah cukup belum ya kalau udah dipanggil duluan", "apa ya yang orang-orang akan ingat tentang aku nanti", dan berbagai pikiran lainnya seketika melintas.

Pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian ini tidak lain adalah, kematian tidak mengenal waktu. Takdir akan membawa kita ke tempat yang akan kita tuju sesuai dengan jalan takdir tersebut. Sehebat apapun kita, pada akhirnya kita akan dibaringkan di pembaringan terakhir. Yang orang-orang ingat bukan sehebat apakah kita, prestasi apa saja yang sudah kita peroleh, tapi perbuatan baik kita yang akan melekat di benak setiap orang. Dan kebaikan itu yang membuat orang merindukan kehadiran kita. Pun sebaliknya, perbuatan buruk kita juga menorehkan bekas yang tidak terhapuskan di benak setiap orang. Semua hal-hal yang menyakitkan yang pernah kita perbuat pada orang lain, akan diingat hingga ke liang kubur.

Alhamdulillah setelah melakukan Shalat Jenazah saat itu, saya merasa bersyukur masih hidup dan diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Entah kenapa diri ini susah sekali bersyukur, padahal nikmat yang tidak boleh disepelekan adalah hidup itu sendiri. Apalagi masih sehat walafiat, tidak ada penyakit serius, akal pun masih jalan, sudah seharusnya saya lebih bersyukur bukan? Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tattimush sholihaat... Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.


Posted by Mariana at 2:13 AM 0 comments
Labels: cerita-cerita, hikmah, tausyiah

20 December 2015

Kembali Pada Ketauhidan

Baru-baru ini saya baru selesai membaca novelnya Habiburrahman El Shirazy yang berjudul "Api Tauhid". Cerita novelnya bagus, saya selalu suka karya-karya dari Kang Abik (nama panggilan si penulis). Tiap ke toko buku, penulis yang kerap kali saya cari bukunya salah satunya adalah beliau. Novel-novelnya selalu dipenuhi dengan wawasan mengenai Islam, dibalut dengan cerita yang ringan namun tetap mengandung nilai-nilai moral sesuai dengan ajaran syariat.

Yang saya suka, cerita-cerita yang disuguhkan kerap kali memiliki latar belakang negara asing dengan detail pemaparan kota, nuansa, budaya, dan penduduk yang ada disana. Tidak jarang terkadang disisipkan bahasa asing dari negara tersebut dalam percakapan di novelnya. Ceritanya tidak hanya menjelaskan hal-hal yang menarik dari negara tersebut, tapi ada makna dan keterikatannya dengan sejarah Islam dan pengaruhnya hingga kini.

Di novel "Bumi Cinta", ceritanya mengambil latar negara Rusia. Lalu di "Ayat-ayat Cinta" mengambil latar negara Mesir. Dan novel yang baru-baru ini saya baca, yaitu "Api Tauhid", mengambil negara Turki sebagai latarnya. Tulisan-tulisan Kang Abik menunjukkan betapa luasnya pengetahuan beliau, mulai dari sejarah, fikih, bahasa, hingga pemahaman mengenai keadaan yang sedang terjadi pada umat di jaman sekarang ini.

Secara garis besar, "Api Tauhid" menjelaskan bahwa permasalahan utama di jaman modern ini tidak lain adalah kita semakin jauh dari agama. Karena itu agar umat Islam keluar dari permasalahan, kita harus kembali kepada ketauhidan, serta menerapkan syariat agama. Dan inti dari segala solusi yang harus kita pegang teguh hingga akhir jaman adalah Al-Qur'an.

Saya ingin mengutip beberapa tulisan di novel "Api Tauhid" yang menurut saya benar-benar menyentuh permasalahan yang sedang umat ini hadapi.


.....Selain mendung hitam yang menggelayuti pikirannya, Kyai Arselan tertuju pada kalimat-kalimat menyentuh dari ulama besar Turki dalam karyanya Al Lama'at yang baru ia baca tadi sore menjelang Maghrib. Itu adalah kitab yang ia beli saat umrah dan mampir di Istanbul, beberapa waktu yang lalu.

Ulama itu adalah Badiuzzaman Said Nursi. Dalam kitabnya Al Lama'at, Badiuzzaman menulis bahwa umat ini harus banyak melantunkan doa Nabi Yunus 'alaihissalam, tatkala berada dalam kegelapan perut ikan.

"Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin."

Dengan penuh keikhlasan, kerendahan hati, pengakuan akan segala dosa, pengakuan akan segala kelemahan, rasa pasrah yang total kepada Allah, Nabi Yunus tiada henti melantunkan doa itu. Menangis kepada Allah dengan doa itu. Mengharu biru kepada Allah dengan doa itu.

"Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin."

Maka, Allah mendengar doa Nabi Yunus, dan membebaskan Nabi Yunus dari perut ikan.

Kyai Arselan masih mengingat sentuhan Badiuzzaman Said Nursi yang mengingatkan, bukankah fitnah yang menyergap umat ini lebih gulita dan lebih pekat dari kegelapan berada dalam perut ikan Paus? Bukankah keadaan umat ini sekarang lebih mengkhawatirkan daripada keadaan Nabi Yunus dalam perut ikan?

Umat yang lemah. Iman yang tercampakkan. Fitnah menyambar siang malam. Serigala-serigala yang kelaparan siap mencabik-cabik. Kebodohan merajalela. Kemaksiatan menyusup di mana-mana menjadi propaganda yang menggiurkan. Umat dilanda kecemasan dan ketakutan tiada ujungnya. Mereka seperti berjalan dalam lorong kegelapan yang sangat panjang dan tidak tahu mana jalan keluar menuju cahaya. Sebagian merasa tahu ke mana melangkah, namun setelah menghabiskan banyak waktu tetap saja berada dalam lorong yang gelap. Kitab suci dan sunnah Nabi seumpama lentera yang mereka pegang tapi tidak dinyalakan. Seumpama pintu keluar yang mereka berada di depannya namun tidak mereka buka. Akibatnya mereka terus berada dalam kegelapan yang pekat dan melelahkan.

Inilah saatnya menanggalkan segala ego, meletakkan diri sepenuhnya sebagai hamba Allah yang memerlukan pertolongan Allah. Saatnya doa dan tasbih Nabi Yunus dilantunkan, diucapkan berulang-ulang, dihayati, dimasukkan ke dalam alirah darah, hingga menjadi cahaya dalam hati dan pikiran. Lalu menjadi cahaya yang membuka cahaya Allah.

"Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin."


------------------------


Badiuzzaman Said Nursi menghadiri acara itu. Dia datang dan dielu-elukan hadirin. Said Nursi menaiki mimbar dengan busana khas Khurdi yang masyhur. Penampilannya gagah dan heroik dengan belati terselip di pinggangnya. Said Nursi menyampaikan amanat yang menyihir lautan manusia.

"Sejak zaman azali, kita telah masuk ke dalam perhimpunan umat Muhammad Saw. Tauhid merupakan aspek kesatuan dan persatuan di antara kita. Sumpah dan janji kita berupa iman.

Selama kita bertauhid dan bersatu, maka setiap mukmin harus menegakkan kalimat Allah. Sarana terbesar untuk menegakkan kalimat Allah di masa sekarang ini adalah kemajuan materiil.

Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita akan berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan yang tak lain dan tak bukan adalah musuh utama dalam menegakkan kalimat Allah.


------------------------


.....Aku telah mempelajari sejumlah pelajaran di sekolah kehidupan sosial manusia. Aku mendapati, bahwa saat ini dan di tempat ini ada enam penyakit yang membuat kita terjebak di abad pertengahan, di saat orang-orang asing, khususnya Eropa, terbang menuju masa depan.

Penyakit tersebut adalah:

Pertama, mewabahnya keputusasaan, yang faktor pemicunya ada dalam diri kita sendiri. Kedua, matinya kejujuran dalam kehidupan sosial politik. Ketiga, suka kepada permusuhan. Empat, mengabaikan tali cahaya yang menyatukan sesama orang mukmin. Kelima, penindasan yang menyebar seumpama penyakit menular. Kelima, perhatian yang hanya tertuju pada kepentingan pribadi."

Lalu Said Nursi menguraikan panjang lebar cara penyembuhannya yang sumber utamanya adalah obat mujarab dari "apotek Al-Qur'an." Penyakit putus asa bisa disembuhkan dengan menghadirkan harapan, harapan akan rahmat Allah. "Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Az Zumar: 53).


------------------------


"Secara umum, Eskişehir ini kota yang kecil yang cantik. Kota ini terletak di tepi Sungai Porsuk yang indah. Dan Eskişehir ini merupakan salah satu kota industri otomotif terkemuka di Turki. Dan bagi Thullabun Nur, kota ini juga yang tidak akan mereka lupakan. Karena jejak keteladanan Badiuzzaman Said Nursi juga ada di sini," Bilal ikut bicara.

"Saya jadi ingat Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari, seorang ulama besar Indonesia. Yang tetap mampu menggerakan para pemuda dan para santri untuk melawan kolonial Jepang, meskipun beliau di penjara," Fahmi mengambil gelas tehnya.

"Begitulah ulama sejati. Kedekatan mereka dengan Allah membuat suara mereka tidak bisa dihalangi apa pun juga," sahut Hamza.

"Saya teringat salah satu perkataan Ustadz Said Nursi, 'Siapa yang mengenal dan menaati Allah, maka ia akan bahagia walaupun berada di dalam penjara yang gelap gulita. Dan siapa yang lalai dan melupakan Allah, ia akan sengsara walaupun berada di istana yang megah mempesona," lirih Emel.

Mendengar petikan kalimat itu, semua mengucapkan tasbih.


------------------------


Posted by Mariana at 11:51 PM 0 comments
Labels: hikmah, review, tausyiah

26 July 2015

NDE (bagian 2)

Holaaa dear my lovely blog, udah sekian lama saya ga pernah menulis panjang lebar disini karena kesibukan yang tiada henti. Antara senang dan sedih terhanyut dalam kesibukan, senang karena pertama, saya bisa tenggelam dalam aktivitas baru saya yaitu berjualan online (hohoo... ga elit banget ya, but that's my new life recently, although some people somehow finding it cool & success, ahahaaa.... padahal tagihan udah menumpuk disana-sini) tapi that's okay. Kedua, senang karena dengan sibuknya saya ini saya bisa melupakan kejamnya cobaan hidup yang terus datang silih berganti, salah satunya termasuk status jomblo ting-ting yang masih saya pegang hingga detik ini, hiksss...... rasanya ingin lari saja dari kenyataan hidup, huhuuww..... x'((((( But once again, I found a way to be okay with it.... karena jodoh adalah misteri, hahaaa...... *tertawa miris*

Lalu kenapa saya sedih dengan banyaknya aktivitas ini yang membuat saya sibuk kesana-kemari? Pertama, sedih karena saking sibuknya & banyaknya pesanan (tsaaah...., padahal jumlahnya masi bisa diitung pake jari, hahahaa... tragiss.... x'D) saya jadi kekurangan waktu 'me' time (cieeh 'me' time udh kayak ibu2 aja butuh 'me' time), kekekeke....... Kedua, sedih karena saya hampir tidak ada waktu lagi untuk menulis disini untuk berbagi pengalaman hidup & hikmah yang bisa dipetik dari hasil pengalaman tersebut, atau istilahnya 'words of wisdom'. Hehehee... penting banget ya? Penting dong. gini-gini saya suka berbagi cerita walau ga ada yang baca. xD

Tapi alhamdulillah, alam kita sudah disetting secara otomatis oleh Sang Pencipta, ketika ada sesuatu yang tidak 'balance' atau tidak seimbang, alam akan berusaha menyesuaikan ketidakseimbangan itu dengan cara-cara yang tidak terduga.

Seperti kali ini, ketika saya sudah terlalu letih bekerja & sangat lelah dengan cobaan hidup, xixixiii, entah bagaimana tiba2 saya dipaksa 'berhenti' secara otomatis supaya bisa pulih kembali.

Seperti judul dari postingan saya kali ini yang baru-baru ini saya rasakan, yaitu NDE atau kepanjangan dari istilah (Near Death Experience), membuat saya terpaksa mau tidak mau harus berhenti sejenak dari aktivitas yang overloaded. NDE sebenarnya adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan situasi atau keadaan seseorang yang dianggap sudah mendekati kematian tapi akhirnya ga jadi. Serem yaaa.... Tapi kurang lebih itu yang baru-baru ini saya rasakan. Walau tidak dalam artian sebenarnya seperti orang yang mati suri, koma, atau sejenisnya, tapi perasaan yang saya rasakan ketika itu rasanya seperti mau mati saja.

Jadi baru-baru ini saya entah bagaimana tiba-tiba pinggang saya terasa sakit bukan main, seperti nyeri dan perih tapi tidak tau dari mana sumbernya, Di kulit terasa nyeri, di dalamnya juga terasa sakit. Walau tidak separah kondisi saya sewaktu NDE bagian 1 (tentu ada cerita bagian 1-nya, hahaa.... :D ga mungkin tiba2 langsung bagian 2, xixixiii......). Di bagian 1 juga begitu, setelah terlalu overloaded dan lelah dengan pekerjaan kantor, akhirnya saya collapse hingga harus dirawat di rumah sakit selama 3 minggu lebih (wuuahh, lama banget ya... hahaa.. I considered it like a holiday gift to me actually, hihiii iya lah 3 minggu leyeh-leyeh di kasur aja cuma nonton tivi, makan di anterin, nutrisi dijaga siang dan malam, plus gratis lagi biaya ditanggung asuransi, tentu rasanya seperti liburan dan tinggal di hotel full service xD). Begitulah ketika ada yang tidak seimbang, otomatis alam akan menyesuaikan dengan caranya sendiri, begitu juga kali ini. Sakitnya mirip2 NDE bagian 1, tapi kali ini saya ga keracunan makanan lagi alhamdulillah, saya hanya kurang minum menurut dokter dan mengalami pegal linu di bagian pinggang karena kecapekan mengangkat beban berat (beban hidup terutama, tsaaah....wkwkw). Tadinya saya pikir saya mengalami penyakit yang serius seperti usus buntu, sakit ginjal, dan sejenisnya. Sampai saya berandai-andai harus di operasi saking sakitnya, tapi ternyata tidak alhamdulillah setelah dicek oleh dokter yang baik hati. :) Dokter perempuan tenang saja, hehehe.... Mungkin sugesti juga, setelah dicek oleh dokter yang baik hati tiba-tiba rasa sakitnya mulai hilang sedikit demi sedikit. 

Maybe what we need beside a good medicine, is a good doctor who can make us feel better with their sincere care and smile. :)

Karena sakit ini saya terpaksa harus berhenti bekerja sejenak dan menikmati masa-masa libur lebaran yang masih tersisa bersama keluarga, alhamdulillah. Walaupun masih banyak pe-er yang tersisa dan cobaan hidup yang mesti diselesaikan, tapi rehat sejenak kali ini mudah-mudahan bisa menambah sedikit energi untuk mengatasi itu semua. Aamiiiiiin.............

Oya meski agak terlambat, saya pribadi yang banyak salah, ngeselin, dan suka bikin heboh ini... ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1436 H. Mohon maaf lahir & batin atas segala khilaf dan kekurangan. Mohon maaf yang sebesar-besarnya dari lubuk hati yang paling dalam, buat siapa saja yang pernah merasa terzhalimi baik sadar maupun tidak. Kalau ada hal-hal yang perlu diselesaikan bisa disampaikan secara personal, kalau ada hutang yang terlupakan bisa diutarakan atau diikhlaskan saja jika ada harta berlebih :p ..... Insyaa Allah yang ada salah sama saya juga sedang saya usahakan untuk diikhlaskan (masih diusahakan loh ya, belum sepenuhnya ikhlas, hahahaa.... kecuali ada yang mau nraktir Bebek Bengil spesial dari Bali atau Bolu Meranti satu truk dari Medan, wkwkwk).

See you again in another posting insyaa Allah.....

Ciaoooo..... Good night.......


Posted by Mariana at 2:16 AM 2 comments
Labels: cerita-cerita, cuap-cuap, hikmah, wonderful

01 February 2015

Sincerity

Sometimes I think those who can be truly sincere in what they do to others, are those who are sufficient enough. Sufficient doesn't always mean wealthy, but it means that they already feel they have enough, they have achieved what they wanted, accomplished their ambitions, and whatsoever so it doesn't matter to them whether what they do will have a reward or not.

A few years ago, I stopped by to an orphan house with my dad. I told my dad that I wanted to prove a theory which quite popular that time about 'sedekah' (charity), it says that if we give 100.000, it will come back to us 10 times or even more. So I did the charity in order to get the return at least 10 times more than what I give. But my dad didn't look so happy about it. I really remembered his expression that day. Then after I came back from the orphan house, my dad advised me, "If you want to give then just give it in order to help them. Don't expect something like that." Suddenly I feel so ashamed of what I did, I thought he would proud of me. I felt I was such a low person. But he was right, I understand it a few years later.

Currently I'm running a hijab business, at the first time I started I feel like a thirsty person every time I see my own products. I want to keep for myself every single thing of each product that I sell. Then after awhile I get bored and had enough. I didn't keep as much as before, okay I still keep it but only one or two not as crazy as the first time.

It reminds me of my relative's story, she has an acquaintance that really generous. Let's call this acquaintance as 'B'. B has an assistant, and B really trust him so much. Then one day B's assistant betrayed him by selling his car without permission. He said he needs money that's why he did it. But shockingly B didn't get upset, he even understand his condition. B feels okay with it, even forgave what he did. Then we just found out that B has a business that has an income at least a hundred million for each round. It's only from one business and one round, B has plenty of businesses. So no wonder, loosing a car doesn't mean a thing to him.

The same thing goes to a seller on the street that I met when I was still in college. He offered me his mineral water that he sell because he pitied on me seeing I looked so pathetically exhausted waiting for a bus to come.

And another story of a city transport driver that refused to receive money I gave him because my journey was too short. And many sincerity that I saw comes from people who had enough with themselves.

It's not about judging or having a precise analysis whether someone is sincere or not. Because as a human, as we're still alive we will keep learning to be a better person each day.

The point is, are we able to lead ourselves to the point where it doesn't matter anymore whether what we do, we give, or what to say to others won't matter whether it will come back to us or not? Whether nobody see it or not? Whether people care about it or not?

Well I'm not sure either whether I can do it or not, but my dad was right. I keep remember this lesson every time I want to give something to others. I keep asking myself a few times before I give it, whether I give it just for my own sake or I give it because I sincerely want to give it. Anyway this sincerity lesson is the last thing my dad taught me before he passed away. Now I kinda miss him, I still need to learn a lot from him but I don't have a chance anymore. Loosing someone / something that we love so much can teach us a lot of things that words cannot describe. Loosing can teach us a truly meaning of what life is.


Posted by Mariana at 8:47 PM 0 comments
Labels: hikmah

16 November 2014

Nasehat untukmu, Nak...

Akhir-akhir ini ngeliat ponakan saya yang tambah lucu dan imut tiap harinya, membuat saya jadi gemeesss tapi sekaligus terharu sendiri. Saya bisa merasakan bagaimana kekhawatiran ibunya, yaitu kakak saya, melihat anaknya tumbuh begitu cepat. Khawatir mengenai bagaimana masa depannya, bagaimana ia tumbuh menghadapi dunia, akan menjadi apa ia nanti, dan kekhawatiran2 lainnya.

Meski saya belum memiliki anak, tapi saya bisa melihat bagaimana beratnya perjuangan kakak saya mengurus ponakan saya tersebut. Seperti tidak ada kata istirahat, karena anaknya masih berumur hampir 2 tahun jadi harus selalu diawasi.

Cukup dengan melihat bagaimana kakak saya mengurus anaknya, saya pun tidak jarang bisa merasakan lelahnya. Sekarang saya sedikit mengerti kenapa kita harus sangat menghormati orang tua, terutama ibu. Jerih payah mereka tidak bisa dibayarkan meski dengan uang sebanyak apapun, dan cara yang terbaik membalas budi orang tua kita yaitu dengan menjadi anak yang berbakti, anak yg bisa membahagiakan orang tuanya, menjadi orang yang berhasil, bermanfaat bagi sesama, dan tidak menyusahkan orang lain.

Saya ingin sekali menuliskan beberapa baris nasehat untuk ponakan saya ini, juga untuk anak saya nanti jika insyaa Allah dianugerahi anak suatu hari nanti. Meski saya tidak tau kapan itu atau entah apakah saya akan memiliki seorang anak atau tidak, karena sepertinya masih panjang perjalanan untuk bisa sampai kesana. Tapi saya ingin sekali menulis beberapa nasehat ini, karena dalam hidup saya banyak sekali hal yang saya pelajari kemudian saya sesali setelah mengerti. Yang seandainya saya mengerti sebelumnya, atau andai saja ada yang menasehati kala itu, mungkin tidak akan saya lakukan. Who knows... :')

Untuk ponakanku dan anak saya kelak jika saya memiliki seorang anak suatu hari nanti....


Ketahuilah nak, tidak ada ibu yang tidak sayang pada anaknya
Begitupula ibumu, sudah tentu ibumu sayang padamu

Nak mungkin kau tidak melihat bagaimana ibumu mengurusmu hari ini
Bahkan dari sebelum kau bangun tidur ia sudah menyiapkan segala keperluanmu
Mungkin ibumu sering marah padamu karena kenakalanmu, tapi jangan kau benci ibumu
Pahamilah ibumu sudah begitu lelah mengurusmu, itu membuat ia jadi cepat marah
Pahamilah ibumu memiliki banyak keterbatasan, tapi percayalah semua yang ibumu punya ia pakai untuk membesarkanmu
Bahkan ia simpan tabungannya sekecil apapun yang ia dapat untukmu besar nanti
Tidak jarang ia urungkan niat untuk membeli keperluannya, demi menghemat supaya bisa membeli susu yang kau suka dan pampers untukmu

Nak, ibumu mungkin tidak sempurna, tapi ia bisa membesarkanmu dengan sempurna
Kau terlihat sehat dan ceria seperti sekarang berkat perjuangan keras ibumu

Bila ibumu tidak pernah memelukmu, peluklah ia nak dan sering-sering kau cium pipinya ketika kau besar nanti
Karena ketika kau kecil dulu, ia setiap hari menggendongmu kemanapun ia pergi

Patuhilah nasehat ibumu, luangkan waktu untuk ngobrol dengannya
Jangan pernah sekali-kali kau bentak ibumu jika kau marah, itu akan menyakitkan hatinya
Bantu ibumu sesekali mengurus rumah, beri ia hadiah ketika ia ulang tahun
Pasti ia akan sangat senang

Nak, ketika kau besar nanti, jika kau perempuan pakailah kerudung dan gamis
Itu adalah sebaik-baik pakaian bagi perempuan, agar kau tidak diganggu
Dan jangan pernah kau tinggalkan sholat, berpuasalah di bulan ramadhan, bayarlah zakat, sering-sering bersedekah, dan jika kau mampu berkurbanlah dan pergilah ke tanah suci untuk menunaikan haji

Jangan lupa biasakan untuk membaca Al-Qur'an setiap hari, karena itu adalah sebaik-baik petunjuk untuk hidupmu

Jika kau masih bersekolah, belajarlah dengan rajin dan tekun
Pastikan kau mengerti apa yang diajarkan guru-guru di sekolah
Jika kau tidak mengerti, bertanyalah agar kau mengerti
Raihlah nilai yang bagus, ibumu pasti senang dan bangga sekali denganmu

Kenapa kau harus sekolah? Agar kau bisa belajar banyak hal yang tidak kau ketahui
Dengan bersekolah, keinginan-keinginanmu bisa tercapai suatu hari nanti
Apapun yang kau inginkan insyaa Allah bisa terwujud, asal kau sekolah dengan rajin
Bercita-citalah setinggi langit, dan jadilah manusia yang bermanfaat bagi sekitar

Camkan ini nak,
Uang memang bukan segala-galanya, tapi kau butuh uang untuk beramal ibadah
Karena itu tuntutlah ilmu, ia akan sangat bermanfaat untuk dirimu kelak

Nak, bertemanlah dengan orang yang mengingatkanmu akan Allah SWT
Bertemanlah dengan orang yang memiliki hati yang baik
Kau bisa melihat ia teman yang baik atau tidak ketika kau sedang susah
Namun siapapun temanmu, ingat ini nak
Dahulukan orang tuamu sebelum temanmu, siapapun ia
Jangan sampai kau sibuk dengan teman sampai lupa pada orang tua

Nak, jika kau perempuan jangan mau dirimu dipegang oleh laki-laki yang bukan muhrim mu
Jaga jarak, meski kau suka dengannya jangan mau berpacaran sebaik apapun ia
Jangan mau berduaan di tempat sepi, jangan mau diberi harapan atau terbuai dengan keinginannya meminangmu
Keinginan hanyalah keinginan nak, ia tidak lebih dari itu
Lelaki yang baik akan langsung mendatangi ayah dan ibumu untuk meminta ijin menikahimu

Nak, jika kau laki-laki, jadilah laki-laki yang hebat
Laki-laki yang bisa bermanfaat bagi sesama
Terutama keluargamu, jadilah sosok yang bisa membantu keluargamu
Pria yang hebat adalah pria yang mampu menanggung kebutuhan keluarganya
Memuliakan ibunya, istrinya, dan saudara-saudara perempuannya

Jika kau laki-laki, ingatlah nak
Lelaki yang baik tidak akan memegang wanita yang bukan muhrimnya
Lelaki yang baik juga tidak akan mempermainkan anak gadis orang
Dan tidak perlu lah nak kau memberi harapan setinggi langit
Jika kau belum mampu menikahi wanita yang kau sukai
Sukailah ia dalam diam dan datangi ayahnya ketika kau sudah siap menikahinya

Camkan ini nak, laki-laki yang hebat tidak akan memukul seorang wanita
Mana mungkin seorang wanita adalah lawan yang seimbang bagi laki-laki
Jika ingin bertarung, ikutlah olahraga bela diri
Disana kau bisa berlatih bertarung menjadi lelaki sejati
Namun siapapun lawanmu, yang harus kau taklukkan terlebih dahulu adalah dirimu sendiri
Kalau kau sudah bisa menaklukkan hawa nafsumu, barulah kau bisa menaklukkan lawanmu

Ingat nak, sehebat apapun kawanmu, jangan mau kau terima rokok darinya
Apalagi minuman tidak jelas, ingat semua itu adalah haram
Ketika kau berdekatan dengan yang haram, sudah tentu hancurlah hidupmu
Dari detik kau pertama kali menggunakannya

Ingat nak, sebesar apapun dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
Tidak ada kata terlambat untuk kembali ke jalan yang baik
Tapi jangan kau gunakan sifat Maha Pengampun-Nya untuk menunda kebaikan
Kau tidak tahu kapan ajalmu datang
Jangan kau tunda-tunda untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar

Nak, ketika kau punya anak nanti
Sayangi ia seperti kau disayang oleh ayah ibumu
Sayangi anak perempuanmu, cukupilah kebutuhannya
Jangan kau pukul anakmu, karena itu tidak hanya akan menyakiti fisiknya
Tapi juga hatinya, dan ia akan ingat itu selama-lamanya

Nak, apapun masalah yang kau hadapi
Selalu ingat Allah dimanapun kau berada
Hanya dengan mengingat Allah, niscaya hati menjadi tentram
Carilah pertolongan melalui sabar dan sholat

Hidup ini tidak lain adalah ujian, baik susah maupun senang
Keduanya adalah ujian, jika kita sabar insyaa Allah bisa dilewati dengan baik
Tetaplah kau berada pada jalan yang baik, dan jangan lupakan sholat
Doakan selalu ayah dan ibumu setelah sholat
Mereka pun tak pernah lupa mendoakanmu tanpa henti di akhir sholatnya

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang diridhai oleh Allah SWT
Ketika ayah dan ibumu pergi, tetap jaga silaturahmi dengan saudara-saudaramu
Berbuat baiklah karena semua perbuatan kita akan kembali pada diri kita sendiri
Mudah-mudahan akhir hidupmu baik Nak
Dan mudah-mudahan kita bertemu lagi di jannah-Nya

Aamiin....


Posted by Mariana at 8:25 PM 0 comments
Labels: family matters, hikmah, kata-kata

12 October 2014

Just Another Dust In The Wind

A few days ago, one of my father's relative has passed away. And about three months ago, a family member from my father's side also passed away. One by one my family member have left us behind. I'm not gonna weep here talking about mourn things, it's just that I found something to write about when I read a daily hadith from my mobile phone. Fyi, Hadith is a recorded words of our prophet Muhammad SAW which have been passed from one person to another and it reached some trusted people who have compiled and wrote it in a book.


This is the hadith that I read a moment ago :

On the authority of Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him), who said that the Messenger of Allah (peace be upon him) said:

A man sinned greatly against himself, and when death came to him he charged his sons, saying:

When I have died, burn me, then crush me and scatter [my ashes] into the sea, for, by Allah, if my Lord takes possession of me, He will punish me in a manner in which He has punished no one [else]. So they did that to him. Then He said to the earth: Produce what you have taken-and there he was!

And He said to him: What induced you to do what you did? He said: Being afraid of You, O my Lord (or he said: Being frightened of You) and because of that He forgave him.

[Muslim]


The two family members from my father's side have been cremated, just like the hadith above told. They have different religion from me, so it's like a tradition in the family from my father's side when someone passed away the other family member will do the cremation instead of burial. I have attended three times cremation in my family, and two of them I have sent the ashes to the sea together with the family member.

Even though it is different from what my religion taught on how to treat a dead body of a human, but we have learnt that cremation is existed in this world.

Yellow Tulip and Roses for
the deceased family
We have a discussion among our family while waiting for the cremation until the dead body become ashes. We talked about on how we want to be treated once we died one day, since me and my other family member is different so this has became an interesting topic. One of my family said that he wants to be cremated if he died one day, because in his believe said that if our body is cremated then the soul will be free and will not be haunting around. The other way, if we are buried then the soul will not be free and will be haunting around since the dead body is still there.

My father's friend gave his opinion as well, he said that if he has died one day then he wants to be buried since he is a moslem. That's what a moslem taught to do to the dead body. Then my brother gave his opinion as well, he asked my family member who wants to be cremated, "can you see the soul of a dead person in any cemetery that you have ever visited? And have you ever witnessed any soul that has been cremated is free and not haunting around?" Then he answered no. Then my brother said that's why since nobody knows what happened to the soul, so no one can verified which one is the best option.

Then I have another conversation as well with my brother after we visited the mortuary room. Fyi, a mortuary room is place to keep a dead body in a coffin for two to three days so people who have any relation to the person can visit them before the dead body being cremated. Me and my brother talked about on do we have to pray for them since we have a different religion? Is it useful for us to pray for them? I never thought my brother would have a good answer. He said that it's okay for us to pray, there's nothing wrong to pray for others. We cannot judge whether our prayer is useful or useless to them, since we don't know whether Allah SWT will forgive them or not. Then I remembered a story about our prophet Muhammad SAW who prayed for his uncle who has a different religion with him. His uncle loved Muhammad SAW so much and helped him a lot during his life. Then Allah answered his prayer by decreasing the level of punishment for his uncle with the very light punishment.

So that's why during the visit my brother still pray for my other family member who has passed away even though he has a different religion. I never thought my younger brother could be wise sometimes. :D

From here I have learnt something during the cremation and scattering the ashes to the sea. I learnt that no matter how we love our family and friends so much, we have to lose them someday. There's nothing last forever, so we have to be ready to lose them. And I have learnt that no matter who we are right now, we are actually nothing but another dust in the wind. Whatever we have means nothing, so there's no point of being arrogant and proud of what we have, because in fact we own nothing, even our body not ours. We will leave this world one day to another world, so while we're still alive let us do good so Allah SWT may forgive us one day. Aamiin...






Posted by Mariana at 6:26 PM 0 comments
Labels: family matters, hikmah

05 September 2014

Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah


لاَ هَوْلَ وَلاَ قُوَّتَ اِلاَّبِاللّهِ
Laa haula wa laa quwwata illa billaah
Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah SWT

Sekitar dua tahun yg lalu ayah saya berpulang ke rahmatullah, saat-saat tersebut bisa dibilang merupakan saat yg terberat dlm hidup saya. Ketika itu saya bekerja di suatu tempat yg jauh dr keluarga, pekerjaan saya pun lumayan berat karena saya harus bekerja di lapangan / area konstruksi, yaitu tmpt dimana kita hrs berhubungan dgn pekerja kasar. Saat itu rasanya saya seperti sebatang kara, dilanda berbagai masalah, jauh dari keluarga, & seketika org tua pergi berpulang. Rasanya seperti jatuh dr atas lalu tertimpa tangga pula.

Di kondisi seperti itu, seringkali saya termenung sambil berjalan sendirian entah kemana lalu tiba-tiba teringat kalimat ini : Laa haula wa laa quwwata illa billaah. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dgn pertolongan Allah SWT.

Kalimat singkat nan sederhana ini rasanya seperti udara yg sejuk di teriknya matahari. Saya ingat-ingat terus kalimat ini agar saya tdk putus asa & berharap hanya pada Allah semata.

Teringat sebuah ungkapan, mengucapkan bahwa kita beriman itu mudah. Setiap hari kita mengucapkannya dalam sholat berupa kalimat syahadat "Laa ilaha ilallah". Namun pembuktiannya harus dilalui melalui berbagai ujian atau cobaan untuk membuktikan kebenaran dr ucapan kita.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? - (QS: al-'Ankabuut Ayat: 2)

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. - (QS: al-'Ankabuut Ayat: 3)

Ketika cobaan datang, pembuktian keimanan kita akan terlihat salah satunya dr prasangka kita kpd Allah SWT, apakah kita tetap berbaik sangka pd Allah ketika diuji dgn musibah? Ataukah kita serta merta berpikir bahwa Allah tidak adil? Lalu berikutnya akan dilihat pula kpd siapa kita memohon pertolongan, adakah kita lebih berharap kpd pertolongan manusia drpd pertolongan Allah? Berikutnya, bgmn ibadah kita ketika mendapatkan musibah? Masih mau kah kita sholat? Atau justru mendekat pd maksiat? Kemudian selanjutnya, bagaimana dengan keimanan kita setelah mendapat ujian, apakah kita tetap beriman pada Allah ketika mendapatkan cobaan yg berat?

Ketika Allah mengambil apa yg kita miliki atau kita cintai, tentulah itu bukan hal yg mudah. Bahkan nabi Ibrahim pun diuji dgn Ismail, yaitu dgn perintah menyembelih anaknya sendiri. Tapi dibalik ujian Allah pasti ada hikmah yg tersembunyi, ada pahala yg disiapkan, ada ganti yg lebih baik.

Kehilangan org tua bagi saya tdk pernah mudah, bahkan hingga kini. Dari ujian ini saya baru menyadari mengapa kita selalu dianjurkan utk menyayangi & menyantuni anak yatim. Bisa dibayangkan betapa sulitnya bagi seorang anak utk hidup tanpa org tuanya, ia hrs menanggung keperihan tumbuh tanpa kasih sayang, dan tanpa adanya org yg menanggung kebutuhan hidupnya.


Laa haula wa laa quwwata illa billaah....

Sungguh tidak ada daya dan upaya melainkan dgn pertolongan Allah SWT.

Namun seberat apa pun ujian kita, Allah menjanjikan bahwa bersama dgn kesulitan pasti ada kemudahan.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada kemudahan,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada kemudahan.
(QS: al-'Insyirah Ayat: 5-6)

Insyaa Allah kesulitan apapun akan terlewati dgn hati yg lapang selama kita berharap hanya pd Allah semata. Aamiin.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ ,الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan solat. Dan sesungguhya hal itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang  khusyu’ , (iaitu) orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan menemui Rabb mereka dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya" (Al-Baqarah 2:45-46)



Posted by Mariana at 1:40 AM 0 comments
Labels: hikmah, review

28 June 2014

How If You're Going To Die Tomorrow

Baru aja saya dapat kabar bahwa salah satu keluarga dekat saya ada yg berpulang, innalillahi wa innailaihi raaji'un... Setiap yang bernyawa pasti akan kembali untuk menghadap Sang Pencipta. Bagaimana jika itu adalah kita sendiri suatu hari nanti? Sudah siapkah kita?

Mendengar kabar ini membuat saya kaget, karena benar2 tidak disangka sama sekali. Benarlah bahwa maut itu bisa datang kapan saja, tidak mengenal umur, waktu, jam, ataupun tempat. Sama seperti sewaktu ayah saya pergi, seminggu sebelumnya benar2 sehat bugar bahkan sempat mengantar saya pergi ke airport. Pun sehari sebelumnya masih saling mengirimkan SMS, tiba2 keesokan harinya tanpa disangka berpulang ke Rahmatullah.

Saya jadi ingin bercerita, baru2 ini saya sempat bermimpi yang mungkin karena kebodohan saya, saya menafsirkan sendiri mimpi itu. Saya berpikir mimpi saya itu memiliki arti bahwa ajal saya mungkin sudah dekat. Saya bahkan menafsirkan sendiri tanggalnya, astaghfirullah... Padahal jika saya ingat baik2 ayat berikut ini dari Surat Lukman, saya tidak akan berpikir demikian :

"...... Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS Al Luqman: 34)

Karena kejadian salah tafsir itu, alhamdulillah saya dapat pelajaran yang sangat berharga. Jadi ceritanya begini, berhubung saya tafsirkan sendiri tanggal berapa saya kemungkinan berpulang, beberapa hari sebelumnya saya udah menyiapkan diri. Semua kerjaan, pesanan customer, semuanya saya bereskan sebelum tanggal tafsiran saya itu. Saya tidak mau ada hutang pekerjaan ataupun hutang apapun jika saya pergi nanti. Bahkan sampai di tanggal tafsiran saya mau berpulang itu, saya sempatkan bagaimanapun juga untuk mengirimkan pesanan customer. Lalu di rumah sudah saya tinggalkan secarik kertas yang berisi semua password ke akses akun pribadi saya yang mungkin berguna untuk yang ditinggalkan. Belajar dari pengalaman ketika ayah saya meninggal, alhamdulillah beliau selalu menuliskan password atau pin dari akun pribadinya di tempat yg bisa diketahui oleh anak2. Jadi ketika ayah saya pergi, sama sekali tidak menyulitkan orang-orang yg ditinggalkan ketika harus mengurus keperluan administrasi beliau.

Lalu dari segi fisik, saya pernah baca di suatu artikel jika kita mengetahui tanda2 bahwa ajal sudah dekat, maka kita disunnah-kan untuk berpuasa sehari sebelumnya untuk memudahkan orang yang memandikan jenazah kita nanti. Jadi ketika dibersihkan, sudah tidak ada lagi kotoran yang perlu dikeluarkan dari tubuh kita karena kita sudah mengosongkan isi perut. Jika memungkinkan, kita juga sebaiknya membersihkan diri dengan mandi secara menyeluruh.

Kemudian yang terakhir, dari segi spiritual. Nah ini yang sungguh berat, ketika itu saya menyadari bahwa yang namanya hidayah itu memang suatu anugerah yang luar biasa. Ketika seseorang diberikan hikmah untuk berbuat baik di akhir hidupnya, itu benar2 suatu karunia yang sungguh besar dari Allah SWT kepada hamba-Nya. Di hari itu, saya akui saya sama sekali tidak merasakan apa2, atau memiliki keinginan untuk beribadah lebih. Saya lebih merasa takut, sedih, dan tidak siap sama sekali jika memang benar itu adalah harinya saya pergi. Saya mencoba untuk mendengarkan bacaan Al-Qur'an, sholat dengan khusyuk, dll tapi hasilnya nihil. Pikiran saya menerawang kemana-mana, saya sibuk sendiri dengan perasaan takut jika saya benar akan meninggal dalam waktu dekat. Saya jadi berpikir sendiri, apakah sakit ketika sakaratul maut, amal ibadah saya udah cukup belum ya untuk menutupi dosa-dosa yang saya punya, saya sampai lupa untuk IKHLAS dengan kehendak Allah seperti doa yang tiap hari kita baca di awal sholat.

اِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي ِﷲِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbil 'aalamiin
Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam

Baru berpikir akan berpulang saja sudah sebegitu dahsyatnya, apalagi benar-benar terjadi. Astaghfirullah ya Rabbi...

Saya langsung sedih sendiri memikirkan hidup saya ketika itu, apa saja yang sudah saya perbuat ketika saya hidup, apakah saya sudah menggunakan hidup saya dengan sebaik-baiknya, saya sedih karena belum berbuat banyak, dan betapa kurang bersyukurnya saya selama ini, ibadah juga tidak sempurna, saya tidak tahu bagaimana harus menghadap Allah SWT jika saya harus pergi saat itu juga. Amal apa yang akan saya bawa nanti sebagai hamba-Nya yang sudah diberikan nikmat yang begitu berlimpah, kesempatan yang begitu banyak, waktu juga sudah diberikan, tapi saya masih belum punya apa-apa sebagai bentuk ketakwaan pada-Nya, sebagai wujud kepatuhan pada Allah, juga sebagai wujud rasa syukur saya belum berbuat apa-apa. Pun tidak ada orang yang mengingat saya sepertinya, bahkan saya merasa gagal sebagai seorang teman, seorang sahabat, seorang anak, seorang adik, seorang kakak, seorang muslimah, saya merasa belum bisa memberikan apa-apa untuk orang-orang di sekitar saya.

Saya jadi teringat sebuah film yang pernah saya tonton beberapa tahun yg lalu. Judulnya 49 Days. Film serial fiktif yang bercerita tentang seorang wanita yang mengalami koma selama 49 hari. Selama 49 hari itu, ceritanya arwah wanita itu diberikan kesempatan oleh malaikat maut untuk bisa hidup kembali, asalkan dalam 49 hari itu ada 3 orang yang menangis ketika mengingat dia. Ternyata hingga menjelang habisnya 49 hari masih belum ada juga orang yang menangis karena ketidakhadiran dia. Barulah ia sadar selama hidupnya itu apa yang telah ia perbuat hingga tidak ada satupun orang yang merasa kehilangan dengan ketidakhadiran dia. Di bagian ini saya sampai nangis nontonnya, mengingat saya sendiri juga mungkin seperti itu jika telah tiada, tidak meninggalkan bekas yang berarti di sekitar saya.

Tidak disangka kurang lebih setelah seminggu saya nonton film serial ini, malah ayah saya yang berpulang. Kalau ayah saya justru meninggalkan banyak kesan untuk orang-orang di sekitarnya, ayah saya orangnya outgoing dan senang menghibur orang-orang. Saya sendiri baru mengenal beliau lebih baik dari cerita kerabat-kerabatnya, teman-temannya, maupun rekan-rekan kerjanya.

Singkat cerita, apa yang saya alami karena salah tafsir mimpi saya sendiri, di akhir hari yang saya pikir saya akan berpulang itu, saya benar-benar baru menyadari betapa hidup itu suatu anugerah yang sungguh besar yang diberikan kepada kita. Di penghujung hari itu, saya sungguh merasa bersyukur karena masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan saya, untuk menambah amal kebaikan, untuk memperbaiki ibadah yang belum sempurna, untuk menjadi seseorang yang memiliki arti bagi sekitar, untuk berbuat lebih, dan untuk mensyukuri setiap detik yang diberikan. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah...

Posted by Mariana at 2:03 AM 0 comments
Labels: cerita-cerita, hikmah
Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod - edited by Mariana