skip to main | skip to sidebar

About me

My Photo
Mariana
Indonesian muslimah, Backpacker, Photography Lover, Dreamer, and Believer to these phrases: "whoever seeks they will find" & "there's no useless effort" - So, keep on going!
View my complete profile

Archive

  • ► 2008 (13)
    • ► June (1)
    • ► July (3)
    • ► August (2)
    • ► September (2)
    • ► November (2)
    • ► December (3)
  • ► 2009 (13)
    • ► January (2)
    • ► February (1)
    • ► March (2)
    • ► May (1)
    • ► August (1)
    • ► September (3)
    • ► December (3)
  • ► 2010 (20)
    • ► January (3)
    • ► February (3)
    • ► April (1)
    • ► June (1)
    • ► July (1)
    • ► August (9)
    • ► September (1)
    • ► November (1)
  • ► 2011 (10)
    • ► February (2)
    • ► June (3)
    • ► August (4)
    • ► October (1)
  • ► 2012 (5)
    • ► January (1)
    • ► March (1)
    • ► August (1)
    • ► September (1)
    • ► November (1)
  • ► 2013 (16)
    • ► January (1)
    • ► March (1)
    • ► June (6)
    • ► July (1)
    • ► August (4)
    • ► September (2)
    • ► October (1)
  • ► 2014 (13)
    • ► January (1)
    • ► February (1)
    • ► March (2)
    • ► May (2)
    • ► June (1)
    • ► August (1)
    • ► September (1)
    • ► October (1)
    • ► November (3)
  • ► 2015 (15)
    • ► February (1)
    • ► March (1)
    • ► July (1)
    • ► August (3)
    • ► October (4)
    • ► November (1)
    • ► December (4)
  • ► 2016 (6)
    • ► January (2)
    • ► February (2)
    • ► March (2)
  • ► 2017 (3)
    • ► April (1)
    • ► June (1)
    • ► July (1)
  • ► 2020 (5)
    • ► October (2)
    • ► November (3)
  • ▼ 2021 (9)
    • ► January (1)
    • ► February (2)
    • ► April (3)
    • ► July (2)
    • ▼ September (1)
      • Alhamdulillah I'm Pregnant

Labels

  • backpacking
  • blog design
  • capturing moments
  • cerita-cerita
  • cuap-cuap
  • family matters
  • hikmah
  • hot stuff
  • inspirasi
  • kata-kata
  • kerja dan belajar
  • korean drama
  • masak memasak
  • quotes
  • relationship
  • review
  • selingan
  • tausyiah
  • wonderful

What I'm Into

Interior & Architecture

  • Arc Space
  • Arch Daily
  • Archinect
  • Architonic
  • Copy Cat Chic
  • Design Glossary
  • Design Milk
  • Dezeen
  • Enlighter Magazine
  • Famous Architects
  • HGTV
  • Houzz
  • How About Orange
  • IALD
  • IKEA Hackers
  • Interior Design Magazine
  • Karim Rashid
  • Lighting Design Magazine
  • Meade Design Group
  • Mondo Arc
  • Philippe Starck
  • Print and Pattern
  • Samantha Pynn
  • Summer Allen
  • Suzanne Dimma
  • Top 50 Interior Websites

All About Design

  • Eat Drink Chic
  • Goodnight Little Spoon
  • Josh Lafayette
  • Paper Toys
  • Pixel Girl
  • Pugly Pixel
  • Pugly Pixel Blog
  • The Cool Hunter

Let's Go Green

  • groovy green
  • inhabitat
  • sustainablog
  • world changing

Inspiring Blogs

  • Febrianti Almeera
  • Islamic Articles
  • Jamil Azzaini
  • Salim A. Fillah

I Read This

Bidadari Bidadari Surga
Mengarungi 'Arsy Allah
Gadis Pantai
Confessions of a Shopaholic
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Kupinang Engkau dengan Hamdalah
The Da Vinci Code
A Very Yuppy Wedding
Menyelam ke Samudera Jiwa dan Ruh
Bumi Cinta
Cinta Brontosaurus
The Alchemist - Sang Alkemis
Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh
Life of Pi
Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps: Mengungkap Perbedaan Pikiran Pria dan Wanita Agar Sukses Membina Hubungan
divortiare
Ketika Cinta Bertasbih
The Right to Lead
How to Win Friends and Influence People
Virus of the Mind: The New Science of the Meme


Mariana's favorite books »

For A Better Life!

Blog Readers

Stats

free counters

simply,

bla bla bla in my mind...

Showing posts with label tausyiah. Show all posts
Showing posts with label tausyiah. Show all posts

10 June 2017

A Blessing In Disguise

Beberapa waktu yang lalu saya membaca postingan status mbak Hanum Rais di facebook. Postingan tersebut membuka pikiran saya untuk bisa melihat hal lain dari kejadian yang tak terduga. Oya mungkin ada yang belum tahu, mbak Hanum Rais ini adalah anak dari Amien Rais, mantan ketua MPR periode 1999-2004. Saya mengikuti sosial media mbak Hanum bukan karena saya mendukung aliran politik tertentu, saya sebenarnya kurang begitu suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan politik. Saya hanya kagum dengan beliau semenjak saya membaca bukunya yang berjudul "99 Cahaya di Langit Eropa" yang bercerita tentang pengalamannya menjelajahi Eropa dan menemukan jejak-jejak peninggalan Islam disana. Bukunya ini kemudian diangkat menjadi film layar lebar yang dibintangi oleh Acha Septriasa.

Prolog dari buku "99 Cahaya di Langit Eropa"

Kembali ke topik postingan status mbak Hanum yang saya baca, berikut saya copy-kan statusnya :


•Perisai Lahir Batin Amien Rais•

Saya sebenernya telah beresolusi akan mengurangi sosmed di bulan puasa ini (post terakhir tgl 21mei). Namun tuduhan yang dialamatkan pada Bapak akhir2 ini membuat banyak pesan pada saya, lewat WA, DM dll agar saya sebagai putrinya juga memberikan semacam klarifikasi.

Saya tidak akan memberikan klarifikasi terkait tuduhan tersebut, karena insyaAllah Bapak secara perwira akan menggelar konpers di kediaman JKT hari ini sebelum sholat Jum'at. Silahkan wartawan datang dan melansir jawaban beliau.

Saya hanya ingin berbagi bagaimana seorang Amien Rais menanggapi badai dan terjangan fitnah, deraan ujian, cobaan namun juga kebahagiaan. Mudah mudahan menjadi hikmah di bulan suci ini.
Terkembali kepada Anda yang menilai.

Di awal April 2017 lalu, Seorang Mantan jenderal yang duduk di posisi pemerintahan cukup strategis menemui Bapak. Ia mengatakan bahwa ia dikirim boss nya yang ingin bertemu Bapak. Ia ditugasi membuat titik temu & tempat. Bapak mengatakan "Monggo dengan senang hati, semua orang dari kalangan manapun saya temui, apalagi orang terhormat seperti bapak bos". Namun sang mantan jenderal mengatakan boss ingin bertemu di tempat rahasia, tidak tercium media, karena pembicaraan akan bersifat confidential. Bapak tercenung. Ini sesuatu yang aneh. Mengapa harus rahasia?

Singkat cerita Bapak menolak meski sang utusan berdalih: pertemuan penting yang tidak bisa jadi konsumsi publik. "Maaf, jika ingin bertemu silahkan tapi terbuka, biarkan media melansir, biarkan mereka tahu hasil pembicaraan, toh pasti terbaik untuk bangsa. Jika pertemuan rahasia, saya tahu, saya hanya akan jadi bangkai politik Anda".
Sang utusan mundur, pamit dalam kekecewaan. Saya mendengar dan melihatnya semua dari balik pintu di Joglo. Oh ini to Bapak Mantan Jenderal yang sering jadi penghubung itu.
Sepeninggal sang utusan, saya katakan pada Bapak. "Pak, beliau bos pasti akan tersinggung dengan jawaban Bapak. Dan it's just a matter of time, you'll be singled out. Hanya soal waktu Bapak akan diperkarakan entah bagaimana dan apa caranya."
Bapak mengangguk. Ia sangat paham.

Amien Rais, memang ayah saya. Tapi saya mengagumi bagaimana ia menerima suatu hal, yang bagi sebagian orang termasuk saya adalah musibah, tapi karena ia seorang insyaAllah rajulun shalih, ia menerimanya dengan lapang dada bahkan menganggap blessing in disguise, keberkahan yang terselip dalam sebuah ujian. Termasuk tuduhan menerima aliran dana. Ia tdk akan bersembunyi atau malah kabur. Blessing yg bagaimana? Silahkan nanti wartawan hadir.

Tdk hanya sekali ini sesungguhnya Bapak menerima tudingan ini. Yang bersifat seolah melanggar hukum, dicitrakan koruptif, hipokrit, dll yg muaranya satu: pembunuhan karakter krn manuver Bapak dianggap tdk kooperatif dgn para petinggi nasional. Hingga akhirnya saya menyimpulkan 'yang penting Amien Rais disebut dulu, diberitakan, dimunculkanlah opini dan bola liar fitnah yg keji di media, hingga kepingan2 tuduhan tersebut terbang tak terkontrol lalu setelah yakin the damage has been done, bahkan tdk akan terkoreksi lewat klarifikasi, selesai sudah misi. 36 tahun sy tahu benar bagaimana Bapak memberi perisai pd dirinya dalam kancah politik yg seringkali membuat orang lunglai karna tak kuat dirundung. Mereka adalah Salat, Puasa, tadarus, Dzikir, dan Sedekah.

Sama halnya ketika kemarin sy justru bersiasat bagaimana Bapak harus mengklarifikasi hal ini dengan ini dan itu, Bapak malah senyum dan hanya mengatakan: "yang terjadi pada Bapak semua atas ijin Allah The Almighty. Ini berkah! Ini berkah! Tdk sedikitpun bapak merasa ini hukuman atau ujian. Kamu kalau baca Al Quran, gak perlu berkelit atau takut. Hadapi dengan kejujuran"
Yah. Itulah saya, saya memang bukan Amien Rais. Saya masih anak-anak yang ketika terjadi suatu peristiwa yang memojokkan, justru terfikir bagaimana bersiasat agar tak jujur, atau membalasnya, atau malah ngelokro berputus asa. Memandang hal yg unfortunate dgn kacamata keberkahan, mgkn hanya bisa dirasa oleh orang yg maqom imannya sudah qualified.

Saya jd teringat suatu kali ketika saya ngelokro di kursi roda ketika selesai di kuretase keguguran. Bapak menggeledek saya dan tak henti hentinya saya menangis sambil saya gumam. "Saya sdh hopeless"

Bapak tampak tdk suka dengan kelemahan iman saya ini. Ia kemudian duduk menghadap saya "Num lihat ya rumah sakit ini.Lihat baik-baik. Ruangan-ruangannya, nursing stationnya, semuanya."
Saya memandang sekelebat tapi masih tak paham apa maksud Bapak. Masih menangis meratapi janin 11 minggu yg barusan dimakamkan. "Nduk, kamu keguguran itu memang sebuah kesedihan tapi lihatlah kabar baiknya: kamu bisa HAMIL! Setelah sekian tahun tanpa ada hasil! Kamu punya benih! Bahkan bisa menyimpan 3 embrio yg bisa digunakan lagi. Allah memberi kabar baik: kamu wanita yang bisa hamil. Bukan manusia yg disebut didalam Al Quran yg memang ditakdirkan Allah tdk diberi benih. Tinggal masalah waktu kamu harus terus mencoba."
Mataku yang sembab seketika sedikit melebar. Ada keberkahan yg luput dr kacamataku. Yang bisa dibaca Bapak. "Nduk, ingat suatu saat nanti Bapak akan menggeledek kamu melewati ruangan2 RS ini, melewati nursing station ini, dengan kamu yg tersenyum mendekap seorang bayi. Bapak yakin. InsyaAllah. Pulang dr RS ambil wudhu, sholat, dzikir, ngaji dan jgn lupa sedekahnya dikuatkan. It's just a matter of time you will have a baby."

Sekian tahun berikutnya, meski di RS yg berbeda, saya mendekap Sarahza dengan Bapak mendorong saya dikursi roda.
Mas Rangga pernah bilang kpd saya, setelah Sarahza lahir. "Num, kadang aku berpikir ekstrim ya mungkin kita berdua ini kan bukan org yang saleh-saleh amat. Ngadepin hidup sering naik turun kadar imannya, bahkan sering suudzon sama yang diatas. Mgkn doa kita selama ini tdk dikabulkan sama Allah. Tapi Allah mengabulkan doa Bapak untuk kita, lantaran ia adalah orang saleh."

Itulah Amien Rais. Di Jum'at Berkah ini, ia akan hadapi tudingan yg dialamatkan padanya itu dengan bersyukur dan tanpa sedikitpun rasa keder. Karena ia berperisai kesalihan dan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hambaNya yg berserah diri.

(Foto: Bapak berdzikir saat menunggu operasi saya melahirkan Sarahza)
Original story from Instagram @hanumrais

Sumber : https://web.facebook.com/99CahayaOfficial/posts/1976371779257438:0


Pikiran saya seketika jadi tercerahkan ketika saya membaca sharing wisdom dari mbak Hanum diatas. Benar juga saya pikir-pikir, ketika kita mengalami musibah atau ujian seringkali kita merasa hopeless, sedih, merasa dihukum oleh Allah, sepertinya Allah tidak sayang pada kita, dan berbagai pikiran negatif lainnya.

Saya sendiri ketika ditimpa kesulitan tidak jarang saya langsung menganalisis dengan ke-sok-tahu-an saya bahwa ini adalah akibat dari dosa ini, dosa itu, karma ini, karma itu, dan berbagai suudzon lainnya yang saya alamatkan pada orang lain, diri sendiri, bahkan Tuhan. Padahal saya berkali-kali membaca untaian nasehat, hadist, juga ayat Al-Qur'an yang menjelaskan perihal ini, pun sudah berkali-kali menulis cerita hikmah, tausyiah, kebijaksanaan, etc... tapi ketika ujian itu datang tiba-tiba saya tidak tahu harus bersikap seperti apa. Sampai saya merasa apa saya ini munafik ya, bisa menulis kata-kata bijak tapi ketika diuji oleh Allah, semua kebijaksanaan itu hanya sekedar teori saja di kepala saya, pada prakteknya, saya tidak berbeda jauh dari orang yang masih tidak paham mengenai agama. Astaghfirullah... pardon me yaa Rabb...

Semoga kedepannya saya bisa seperti orang-orang shalih yang ketika tertimpa musibah mereka tetap bersyukur pada Allah, karena di balik setiap kesulitan yang terjadi pasti Allah selipkan keberkahan jika kita mampu bersabar dan tetap ikhtiar di jalan yang benar.



عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Sumber: https://muslim.or.id/7198-memahami-syukur.html



مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa kecelakaan, kemiskinan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun keduka-citaan bahkan tertusuk duri sekalipun, niscaya Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan apa yang menimpanya itu.” (HR. Bukhari)

Sumber : http://talimulquranalasror.blogspot.co.id/2015/03/kumpulan-hadits-tentang-cobaan-hidup.html


Anyway ada satu lagu yang lagi saya suka, agak nge-beat gitu sih. Hehe.. tapi jadi semangat dengerin liriknya. It's like being charged with super power energy, haha lebay. Sometimes I need some good affirmations to keep my brain positive, boleh dong ya even dari lagu. ;) It's Superheroes-nya The Script yang jadi mood booster di kala suntuk. Ini dia cuplikan liriknya, lagunya bisa di search sendiri ya di youtube. Okay see ya' in next postings...

She's got lions in her heart
A fire in her soul
He's got a beast in his belly
That's so hard to control
'Cause they've taken too much hits
Taking blow by blow
Now light a match, stand back, watch them explode

When you've been fighting for it all your life
You've been struggling to make things right
That's how a superhero learns to fly

("Superheroes" - The Script)


Posted by Mariana at 1:57 AM 0 comments
Labels: cerita-cerita, hikmah, tausyiah

27 March 2016

Social Media Rules (Part 2)

Setelah mengamati beberapa waktu belakangan, saya lihat sepertinya masih banyak yang bertanya-tanya, kenapa sih ga boleh ini itu di social media? Terus posting apa dong di socmed? Buat apa punya social media tapi ga bisa ngapa-ngapain? Sebenarnya bukan tidak boleh, apa yang mau kita posting atau seperti apa kita mau menggunakan social media yang kita punya itu adalah hak masing-masing. :) Saya jelas tidak punya hak mengatur, saya hanya sekedar menyampaikan apa yang saya baca di artikel-artikel atau tausyiah yang pernah saya dengar. Hanya sekedar mengingatkan, sebagai bentuk amar ma'ruf - nahi mungkar. Mengingatkan pada kebaikan dan mencegah dari perbuatan buruk. Semata-mata demi kebaikan bersama, terutama untuk yang seiman atau satu keyakinan, yaitu sesama muslim. Di luar itu ya kembali pada kepercayaan masing-masing.


يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. (QS: Luqman ayat 17)


وَلاَتُصَعِّر خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَتَمشِ فِي الأَرضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُختَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. (QS: Luqman ayat 18)


Jujur, saya sendiri juga masih banyak kekurangan ketika menggunakan social media. Karena dulu terbiasa memposting status tanpa pikir panjang, jadi terkadang masih suka kebablasan. Makan makanan yang enak langsung difoto terus diposting, lagi jalan-jalan kemana karena excited langsung pengen update status plus sharing location, dan sebagainya. Seringkali saya sendiri juga suka menjadikan berbagai alasan sebagai excuse alias pembenaran atas apa yang saya lakukan.

"Toh saya bukan ustad, ga apa-apa lah sesekali posting ini itu, toh itu bukan saya yang pertama kali nulis soal nasihat posting di social media, itu kan kata-katanya ustad ini, itu kan nasihatnya si penulis yang itu, yang penting niatnya ketika posting, mau dianggep apa itu bukan urusan saya, ini kan socmed saya terserah saya mau posting apa" dan berbagai alasan lainnya yang saya sendiri masih suka jadikan itu sebagai excuse.

Seperti yang sudah saya tulis sebelum-sebelumnya, postingan di blog ini sesungguhnya semata-mata untuk mengingatkan diri saya sendiri mostly. ".... So if  I forgot who I were back then, I can find myself again through my journal." Ini kata-kata yang saya tulis beberapa tahun yang lalu. Tapi jikalau kebetulan tulisan saya ternyata ada yang mirip kasusnya dengan siapapun yang baca blog ini, then I deeply apologize for the inconvenience caused.

Anyway, kembali ke topik mengenai social media. Disini saya mau share sedikit sumber-sumber referensi yang saya temui berkaitan dengan dunia social media. Kenapa saya sebutkan di postingan sebelumnya bahwa socmed itu sangat kompleks ternyata keterkaitannya dengan banyak hal. Ini bukan hanya mengenai kita mau posting apa, apakah itu pamer atau bukan, isi dari postingan bermanfaat atau bukan, sebenernya social media is more than what we've ever think of. Bukannya paranoid atau mikirnya negatif terus, tapi it's the reality. Ada berbagai hal yang ternyata tidak sesimpel yang kita pikirkan.

Tapi lagi-lagi kembali ke diri kita sendiri bagaimana menyikapinya. Apakah kita mau concern kemudian wisely using the tools (socmed), atau we want to be used by the tools. Whether we want to close our eyes or not to this fact, it's totally up to us. And don't worry about people's judgement, I won't judge either. 'Cause I'm not even better and I pretty much understand about the world we live in.

So here it is, ini beberapa referensi yang saya temui terkait dengan social media dan teknologi smart phone yang kita gunakan.


Ini dari Ted Talks :

"It’s really important that people understand that there are computational techniques that will reveal all kinds of information about you that you’re not aware that you’re sharing.” Jennifer Golbeck

“The point is, we really don’t know how this information will be used.” Alessandro Acquisti

Bahasan lengkapnya bisa dibaca disini :
http://ideas.ted.com/do-you-know-what-youre-revealing-online-much-more-than-you-think/


Ini artikel dari ABC mengenai handphone yang ternyata bisa digunakan sebagai tracking device :
http://www.abc.net.au/news/2015-08-16/metadata-retention-privacy-phone-will-ockenden/6694152


Berikut video yang kebetulan saya temui tentang Cyber Privacy Parable (privasi di dunia maya dan bagaimana informasi yang kita share online ternyata bisa digunakan oleh pihak-pihak lain tanpa sepengetahuan kita).






Yang berikut video ilustrasi pandangan dari sisi Islam mengenai bagaimana kita menyikapi informasi, videonya cukup bagus, jelas, dan mudah dimengerti. Visualnya juga menarik. Sayang ga bisa muncul di blogger, berikut link-nya.

https://www.facebook.com/andini.pratiwi/videos/10152819527673197/



Yang berikutnya video yang membahas tentang ghibah. Ternyata di-ghibahi bisa menambah pahala atau bisa membuat kita memberikan dosa-dosa kita kepada orang-orang yang menghibahi kita.




Kalau begitu lalu apa yang bisa kita posting? Nah hal ini sudah saya rangkumkan dalam postingan sebelumnya : Social Media Rules (Part 1)


Saya melihat masih banyak manfaat dari social media, antara lain bisa digunakan sebagai :
- media syi'ar atau dakwah
- menjalin silaturahim
- mendapatkan berita atau informasi secara aktual
- untuk menambah pengetahuan
- untuk memotivasi ke arah yang baik
- untuk berdagang atau jualan online
- mencari pekerjaan, relasi, network
- mencari inspirasi atau ide
- sharing hal-hal yang bermanfaat
- sharing hobi, interest, kesukaan, cerita (selain ghibah, aib, keluh kesah)
- dan lain sebagainya


Karena itu saya belum ada niatan untuk menutup social media yang saya miliki, karena ternyata manfaatnya masih banyak dibandingkan mudharatnya insyaa Allah. Tinggal bagaimana kita menggunakannya secara bijak. Oya khususnya untuk yang sudah memiliki anak, mungkin bisa lebih berhati-hati ketika akan memposting foto anaknya atau dimana lokasi anaknya. Karena itu bisa membahayakan keselamatan anak dan keluarga kita sendiri. Seperti apa bahayanya, bisa di search di google. Bahkan sekarang di salah satu negara di Eropa sudah dilarang untuk memposting foto anak, karena hal itu bisa membahayakan keselamatan anak tersebut.

Mungkin sekian yang bisa saya share hasil dari pengamatan sana sini. Untuk lebih jelasnya bisa coba baca-baca postingan dari penulis Tere Liye di facebook page berikut : https://www.facebook.com/tereliyewriter/?fref=nf. Bagus-bagus nasehat yang disampaikan, mostly concern-nya tentang moral dan akhlak generasi di jaman sekarang.

Terakhir, ada satu quote yang bagus dari Rumi. Mungkin bisa jadi bahan renungan ketika menggunakan social media,

Raise your words, not voice. It is rain that grows flowers, not thunder.

Posted by Mariana at 3:25 PM 0 comments
Labels: cerita-cerita, cuap-cuap, selingan, tausyiah

03 February 2016

Dakwah pada Keluarga

Saya menemukan video yang bagus mengenai dakwah pada anggota keluarga atau orang-orang yang dekat dengan kita. Berikut videonya.




Menyampaikan dakwah atau perihal yang berhubungan dengan ajaran agama pada anggota keluarga sendiri memang bukan hal yang mudah. Terlebih jika posisi kita berada dalam pihak yang kurang memiliki peluang untuk didengar, seperti anak kepada orang tua, adik kepada saudara yang lebih tua, ponakan pada paman atau bibi, dan lain sebagainya. Bahkan orang tua sendiri juga bisa jadi tidak mudah menyampaikan ajaran agama pada anaknya yang tidak dibiasakan dari kecil mengikuti ajaran agama.

Sebenarnya saya agak sungkan untuk menulis ini, karena takutnya jadi ujub / riya' / sombong. Meski niat awalnya tidak seperti itu, tapi namanya manusia memang sudah kodratnya ketika melakukan sesuatu yang baik atau bagus sedikit saja, pasti ada rasa bangga jika disebutkan. Ya doakan saja mudah-mudahan saya dijauhkan dari perasaan tersebut. Aaamiin.

Karena saya pikir ini ada bagusnya juga untuk di-share dibandingkan mudharatnya. Tujuannya tidak lain mudah-mudahan metode dakwah yang saya sampaikan dan sudah saya coba ke anggota keluarga bisa efektif juga metodenya buat yang lain. Insyaa Allah. :)

Awalnya sebenarnya tidak ada niatan untuk benar-benar dakwah pada keluarga. Saya sesekali sekedar mengingatkan ketika melihat ada yang kurang-kurang. Oya seperti sudah saya ceritakan di postingan-postingan sebelumnya, keluarga saya tadinya bukan keluarga yang religius yang mengerti betul tentang agama. Apalagi ayah saya seorang muallaf, beliau belum begitu mengerti agama waktu awal-awal. Jadinya kita agak dibebaskan mengenai agama, meski tidak sebebas itu, maksudnya asal tetap beragama Islam dan tidak memeluk agama yang lain, orang tua saya fine-fine saja. Kita sekeluarga dulunya juga tidak begitu paham kalau harus sholat 5 waktu, memakai hijab, dan lain-lain.

Meskipun serba kekurangan dalam hal agama, tapi alhamdulillah kedua orang tua saya tetap menekankan bahwa yang benar tetap berada dalam koridor Islam. Tidak minum alkohol, tidak makan makanan yang haram, dan hal-hal yang prinsip lainnya tetap diajarkan. Tapi untuk masalah ibadah, kita sekeluarga awalnya tidak terlalu paham jadi dibebaskan tidak ada paksaan harus sholat dan lain-lain.

Untuk pendidikan agama, alhamdulillah orang tua saya menyediakan guru ngaji yang tiap minggu datang ke rumah untuk mengajarkan Al-Qur'an pada anak-anak. Saya pribadi tidak disekolahkan di sekolah Islam, karena orang tua saya termasuk tipe orang tua jaman dulu yang memiliki paham sekolah umum lebih bisa mengajarkan disiplin pada anak-anak, meskipun disana tidak ada pelajaran agama Islam.

Saya sendiri baru benar-benar mengenal agama pas kuliah. Kebetulan lingkungan kampus cukup religius yang saya lihat, alhamdulillah saya berkesempatan belajar agama dari teman-teman dan kegiatan pengajian di kampus. Hingga akhirnya saya bisa paham bahwa menutup aurat itu wajib, karena itu saya memutuskan untuk memakai hijab. Progress saya dan anggota keluarga yang lain agak berbeda, di waktu saya pertama kali memakai hijab dulu ayah saya bahkan bilang bahwa hijab itu tidak wajib, hehe. Ya begitulah, Memang agak susah awalnya menjelaskan pada anggota keluarga sendiri, persis seperti yang disampaikan di video di atas.

Terlebih saya termasuk anggota keluarga nomer dua termuda di rumah, jadi kata-kata saya seringkali tidak didengar dan dianggap angin lalu. :(  Sampai sekarang juga masih dianggap seperti anak kecil, pendapat saya bisa dibilang tidak begitu berpengaruh di rumah. Hehee.. Saya sih ga terlalu baper alias bawa perasaan kalau istilah anak jaman sekarang. Hihii, happy go lucky saja biar ga pusing. :D

Awalnya saya tidak pernah punya niatan untuk mengajak keluarga atau dakwah secara khusus ke anggota keluarga. Tapi pas melihat keluarga sendiri agak kurang, misalnya tidak sholat atau belum menutup aurat saya suka risih sendiri, otomatis tiba-tiba jadi bawel ngingetin tiap kali ada kesempatan. Bukan karena merasa lebih baik, tapi saya rasa semua orang seperti itu kodratnya. Kalau melihat ada yang tidak benar atau tidak sesuai menurut standard kita, pasti otomatis langsung berkomentar. Begitu yang terjadi dengan saya di awal-awal. Bawel banget, tiba-tiba jadi cerewet ngeliat ini itu.

Tentunya tidak otomatis langsung pada berubah pas saya ingatkan harus pakai kerudung untuk perempuan, atau harus sholat 5 waktu, sholat Jumat untuk laki-laki, dan lain sebagainya. Tidak jarang juga malah jadi marah, berantem, hanya karena tidak suka diingatkan. Atau cara saya yang kurang halus mengingatkannya. Saya malah jadi suka sedih sendiri kalau keluarga saya tidak melakukan apa yang saya harapkan, meskipun itu pada dasarnya adalah sesuatu yang baik. Atau wajib malah. Tapi saya baru mengerti akhir-akhir ini, kalau waktu itu saya hanya tidak sabaran dan ingin melihat perubahan secara instan. Ya jelas tidak mungkin tentunya.

Akhirnya lama-kelamaan saya menyerah juga, saya biarkan saja keluarga seperti apa adanya. Bukannya tidak peduli lagi, tapi saya pikir mungkin memang mereka belum mendapatkan hidayah dari Allah. Yang namanya hidayah tidak ada yang bisa memaksakan, itu adalah hak prerogatif dari Allah semata. Pada siapa Allah mau membukakan pintu hati untuk menerima ajaran agama adalah kehendak Allah semata. Saya hanya bisa mendoakan jika ada kesempatan semoga Allah memberikan hidayah-Nya juga pada keluarga saya.

Karena progress dalam urusan agama antara saya dan anggota keluarga yang lain tidak sama, saya jadinya lebih fokus untuk belajar agama sendiri dengan teman-teman atau lewat pengajian maupun artikel-artikel.

Entah bagaimana, suatu ketika di rumah waktu itu saya terinspirasi untuk menempelkan kertas cuplikan ayat Al-Qur'an di dinding rumah untuk mengingatkan ayah saya untuk sholat Jumat. Karena waktu itu saya kuliahnya di luar kota, jadi saya pikir saya ingatkan lewat tempelan kertas saja. Siapa tahu dibaca sekali-kali, lalu jadi ingat lama-kelamaan. Eh alhamdulillah, entah bagaimana tiba-tiba sesekali saya lihat ayah saya ikut Sholat Jumat juga. :D Tidak otomatis setelah saya tempel tulisannya terus besoknya langsung sholat, hehe, agak lama juga waktu itu. Saya ingat sampai kertasnya agak dekil di dinding pas pertama kali saya lihat ayah saya ikut Sholat Jumat.

Sebenarnya dulunya sebelum kuliah saya juga tidak mengerti soal kewajiban sholat 5 waktu. Ayah saya yang duluan mengerjakan sholat meski belum 5 waktu juga. Tapi dulu saya sering lihat sebelum mengantarkan anak-anak sekolah, pagi-pagi pasti ayah saya sholat dulu. Saya sampai sering ngomel-ngomel karena sholatnya lama jadi suka telat. Jahat banget sih kalau dipikir-pikir, kenapa dulu saya gitu ya. Hehe.. jadi malu sendiri.

Terus lanjut ke anggota keluarga yang lain. Karena sering melihat saya pakai kerudung dan jadinya terlihat lebih bagus, beberapa waktu kemudian entah bagaimana anggota keluarga saya yang lain satu-satu mulai mengenakan kerudung juga. Mungkin terinspirasi melihat gaya saya yang lumayan stylish jadi bikin yang lain penasaran ingin mencoba. Hehe.. kegeeran banget ya. Yang pasti alhamdulillah karena Allah memberikan hidayah jadi anggota keluarga yang lain sedikit demi sedikit mulai terbuka hatinya untuk menerima ajaran agama.

Nah untuk urusan sholat, itu memang susaaah banget. Apalagi baca Al-Qur'an. Itu paling sulit untuk mengajak orang agar mau ikutan sholat atau mengaji. Jadinya saya bisa dibilang hampir tidak pernah mengingatkan yang lain untuk sholat. Karena sensitif untuk masalah sholat, kalau disinggung dikit bisa jadi berantem. Ujung-ujungnya pasti dibilang merasa lebih baik, lebih sholeh, dan lain sebagainya. Jadi saya cari yang aman saja, biar tidak pada tersinggung juga jadi saya lebih memilih untuk sholat sendiri saja. Cuma pas sekeluarga lagi jalan-jalan bersama dalam satu kendaraan, ketika masuk waktu sholat saya usahakan untuk minta berhenti sebentar di Masjid atau Pom Bensin untuk melaksanakan sholat. Itu saja kadang-kadang suka berantem karena makan waktu dan merepotkan, tapi untuk urusan yang satu ini saya agak keras kepala dan kekeuh untuk minta waktu sebentar mengerjakan sholat. Kalau tidak dikasih, saya kadang-kadang suka bilang ditinggal saja saya tidak jadi ikutan pergi bersama. Saya lebih memilih mengerjakan sholat karena itu kewajiban dibanding pergi bersama keluarga. Akhirnya karena pada capek juga berantem, lama-lama yang lain jadi terbiasa dengan request spesial saya yang satu ini kalau lagi pergi bareng. Mau tidak mau yang lain toleransi untuk menyediakan waktu untuk mengerjakan sholat. Pilihan tempatnya antara Pom Bensin, Masjid, Supermarket, atau Mall.

Entah bagaimana, setelah agak lama waktu berlalu, saya melihat satu demi satu anggota keluarga saya ada yang sholat juga alhamdulillah.... :') Meski belum terlalu sempurna, tapi setidaknya ada keinginan sholat. Hehee... antara senang dan terharu. Karena keluarga saya asalnya bukan keluarga yang religius, kita tidak punya sosok yang benar-benar paham mengenai ajaran agama di dalam keluarga untuk bisa membimbing secara khusus. Jadi semuanya pada belajar masing-masing. Kita juga bukan tipe keluarga yang suka datang ke pengajian, jadi paling kita baca-baca dari buku panduan agama saja atau tanya-tanya ke teman atau saudara.

Satu-satunya harapan supaya bisa mengerti ajaran agama ya hanya hidayah semata dari Allah SWT. Alhamdulillah Allah berbaik hati membukakan pintu-pintu untuk bisa mengenal agama.

Oya baru-baru ini saya agak tertarik mengenai produk-produk halal. Sejak baca-baca dikit mengenai perihal halal dan haram, saya jadi lebih concern ketika mengkonsumsi atau menggunakan suatu produk. Awalnya keluarga saya melihat saya agak ekstrim, karena saya hanya mau makan makanan atau produk yang sudah bersertifikat halal. Saya dibilang berlebihan, terlalu strict, dan lain sebagainya. Tapi saya jelaskan tiap kali ada kesempatan, bahwa produk yang sudah bersertifikat halal itu sudah melalui proses pengecekan dan mungkin juga pengujian di laboratorium oleh para ahli di bidangnya (ahli pangan, ahli kimia, obat-obatan, dll), jadi lebih terjamin kehalalannya. Produk yang sudah bersertifikat halal lebih aman untuk dikonsumsi karena sudah dicek oleh para ahli. Bahkan saya pernah dengar kalau tidak salah, salah seorang ahli di bidang halal dari luar negeri mengatakan bahwa produk yang halal lebih sehat untuk dikonsumsi. Saya coba tekankan pengertian ini tiap kali menjelaskan ke keluarga saya. Awalnya pada risih dan kesal tentunya kenapa sampai makanan, sabun, odol, dll harus ada logo halal MUI-nya. Kalau ga ada logonya, saya lebih memilih tidak makan atau cari makanan yang lain. Tidak sekali dua kali saya dibilang ekstrim gara-gara hal ini, hehehe...  Tapi lama kelamaan keluarga saya mulai terbiasa, tiap kali habis belanja dari luar dan membawakan makanan pasti mereka meyakinkan saya biar ikut makan, "itu udah ada logo halal-nya kok." Hehe... :D

Ternyata segala sesuatu kalau dibiasakan bisa terbiasa juga. Bukan karena sulit, tapi karena tidak terbiasa terkadang kita menolak sesuatu yang baru meskipun itu baik dan benar. Karenanya dalam dakwah kita dianjurkan untuk sabar dan menunggu hingga saatnya Allah membukakan pintu hati dan hidayah-Nya untuk orang-orang yang kita kasihi.

Mungkin untuk lebih mudah dipahami dan lebih singkat, saya berikan poin-poin metode penyampaian dakwah pada keluarga kita sendiri yang sepertinya cukup efektif :

  • Konsisten. Ketika kita mengatakan sholat itu wajib, kita harus bisa menunjukkan konsistensi dalam mengerjakan sholat 5 waktu itu sendiri. Atau ketika kita mengatakan bahwa kita harus makan makanan yang halal, kita sebisa mungkin konsisten untuk makan atau mengkonsumsi produk yang ada logo halalnya saja. Sekali kita tidak konsisten, orang yang melihat akan mengira jika tidak dilakukan tidak apa-apa. Bahkan bisa dikira sunnah / tidak wajib.
  • Antusias dan bersemangat. Ketika mengerjakan sesuatu, usahakan kita terlihat antusias ketika mengerjakannya. Contoh ketika kita berusaha untuk menyampaikan bahwa hijab yang benar itu yang menutupi dada dan tidak menerawang, sebisa mungkin kita tunjukkan antusiasme kita bahwa hijab yang benar bisa juga terlihat bagus dan stylish. Tidak kuno atau terlihat terlalu ekstrim seperti persepsi yang sudah terbentuk di masyarakat. Ketika kita terlihat bersemangat dalam mengerjakan sesuatu, orang-orang akan penasaran dengan apa yang kita lakukan.
  • Logis dan ada manfaatnya. Misalnya ketika kita menyampaikan kenapa harus mengkonsumsi yang halal, kita harus bisa menjelaskan karena yang halal lebih sehat untuk badan kita dan sudah dicek oleh para ahli di bidangnya jadi lebih terjamin. Atau kenapa harus memakai hijab, tidak lain karena itu lebih baik bagi perempuan supaya tidak diganggu.
  • Happy go lucky. Jangan gunakan emosi ketika menyampaikan sesuatu, meskipun yang kita sampaikan adalah kebenaran tapi jika kita menyampaikannya dengan cara yang kurang enak di hati, maka apa yang kita sampaikan tidak akan pernah bisa diterima. Jadi sebisa mungkin gunakan cara yang baik dalam menyampaikan sesuatu, kalau tidak bisa diterima jangan marah. Kita sebisa mungkin tunjukkan sikap nothing to lose, kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Secara psikologi, ketika melihat ada orang yang nothing to lose, kita justru akan semakin penasaran.
  • Iklan. Gunakan media untuk memasarkan dakwah kita. Contoh seperti cerita saya di atas ketika mengingatkan ayah saya untuk Sholat Jumat, saya menggunakan media poster di dinding yang saya buat sendiri dari kertas A4 yang tulisannya saya print pakai printer di rumah. Usahakan tulisannya jangan terkesan mengerikan seperti kalau tidak sholat akan disiksa di akhirat nanti, walaupun memang benar seperti itu kenyataannya tapi kalau saya sendiri melihat ada tulisan yang seperti itu di rumah pasti diam-diam akan saya copot tulisannya. Karena jujur saya sendiri seram baca yang seperti itu. Lebih baik gunakan bahasa yang persuasif / mengajak dan tidak terkesan memaksa. Atau yang netral pakai ayat Al-Qur'an saja, lebih jelas dan terpercaya sumbernya.
  • Baca Al-Qur'an. Pernah dengar kisah Umar bin Khattab yang tersentuh hatinya ketika mendengar bacaan Al-Qur'an hingga akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam? Saya sendiri ketika mendengar bacaan Al-Qur'an dilantunkan dari speaker masjid seringkali suka terharu sendiri, begitupula ketika mendengar lantunan dzikir tidak jarang tiba-tiba jadi berkaca-kaca padahal tadinya tidak kenapa-kenapa. Karena bacaan Al-Qur'an adalah kalam Allah, karena itu ia mampu menyentuh kalbu. Rutinkan membaca Al-Qur'an di rumah, mudah-mudahan jika ada yang mendengar akan tersentuh pula hatinya. Insyaa Allah.
  • Sabar menunggu. Setelah semua usaha kita coba, saatnya kita sabar, menunggu, dan berdoa hingga Allah berikan hidayah-Nya.


Ini hanya sedikit tips-tips yang mungkin bermanfaat dan bisa dicoba ketka menyampaikan dakwah pada keluarga. Mudah-muudahan jika Allah berkehendak, Allah bukakan pintu hati anggota keluarga kita atau orang-orang terdekat kita pada ajaran agama. Insyaa Allah, aamiin.

Semangaaat! :)


Posted by Mariana at 2:58 AM 0 comments
Labels: family matters, hikmah, inspirasi, review, tausyiah

18 January 2016

Social Media Rules (Part 1)

Sejak baca-baca berbagai artikel, tausyiah, atau nasehat mengenai dunia social media, sekarang saya jadi jauh lebih berhati-hati ketika akan memposting sesuatu. Dunia social media tidak sesimpel dan se-fun yang saya pikirkan. Setelah ditelusuri dan diamati, social media ternyata sangat kompleks keterkaitannya dengan banyak hal. Dan itu bisa mempengaruhi banyak hal juga. Pusing bacanya? Haha saya juga bingung nulisnya saking kompleksnya. Tapi semua kekompleksitasan tersebut sudah saya buat simpel dalam poin-poin di bawah ini, hasil rangkuman setelah menjajali dan mengamati beberapa waktu belakangan.


Hal-hal yg sebaiknya tidak di posting di socmed :
- hal2 yg bersifat pribadi
- keluh kesah
- doa pribadi yg sebaiknya hanya kita & Tuhan yg tahu
- gosip / ghibah / aib org lain, teman, maupun keluarga
- informasi yg belum pasti
- opini / berita tanpa disertai sumber / referensi
- postingan yg bersifat riya' / pamer (bs berupa foto makanan lezat, barang mahal yg kita beli, harta benda, kemesraan dgn pasangan, pamer sedekah & amal ibadah, foto anak dgn prestasinya, dll)
- hal2 yg bs membuat org iri / hasad / dengki (bs berupa foto jalan2 ke luar negri, tamasya, foto anak, foto keluarga, foto kuliah di univ ternama, foto kantor & papan jabatan, foto lg umrah atau haji, dll)
- sharing location
- foto selfie


Hal-hal yg boleh di posting di socmed :
- sharing info yg bermanfaat
- tausyiah saling mengingatkan ajaran agama
- status positif spt menulis kegiatan yg ada hikmahnya
- ajakan utk kegiatan sosial
- sharing info infaq / sedekah
- sharing ilmu yg pernah kita pelajari & dirasa bermanfaat bagi sesama
- syi'ar / pengumuman sudah berkeluarga
- foto dgn pasangan yg sah
- foto kegiatan positif
- jualan produk / jasa (yg tdk bertentangan dgn syariat)
- undangan acara (nikah, pengajian, akikah, dll)


Tips-tips dalam bersocial media :

  • buat friend list dgn tujuan siapa aja yg bs liat status yg kita sharing / klasifikasi status (misal friend list di fb yg mengelompokkan akhwat semua atau ikhwan semua, list khusus teman2 yg seagama, list khusus utk berbagi tausyiah, list khusus keluarga inti, list khusus utk sharing jualan, dll)
  • gunakan fitur utk mengatur privacy (spt di facebook sblm kita update status selalu ada pilihan utk setting privacy kita mau share ke siapa aja, disitu kita bs pilih dari friend list yg udh kita buat)
  • ketika sharing hal2 pribadi pastikan kita udh set privacy-nya hanya utk keluarga inti atau org2 terdekat & terpercaya saja
  • ketika akan memposting foto, pastikan untuk akhwat tidak terlihat auratnya meski hanya ada rambut sedikit mengintip dari balik hijab sebaiknya diedit dulu atau cari foto yang tidak terlihat rambutnya. Juga foto yang memperlihatkan bentuk badan. Saya suka kasihan melihat akhwat memposting fotonya berhijab syar'i, tapi bahan hijabnya menjeplak badan, jadi di foto terlihat jelas jeplakan bentuk dadanya. Memang tidak banyak yang sadar atau sejeli itu dalam memperhatikan foto, tapi yakin pasti ada satu atau dua orang yang sadar. Dulu atasan saya pernah memberikan nasihat yang bagus, dia bilang, "if you can see the mistake, other people can see it too"
  • jangan terlalu vokal dalam menyampaikan pendapat, kita bisa dianggap terlalu ekstrim dan tidak fleksibel (kecuali dalam urusan yg prinsip seperti akidah, syahadat, dll). Always open a space where you can accept other possibilities.


Karena kebanyakan baca rules-rules di atas, sekarang saya bingung mesti posting apa di social media. :'D Sedih juga sih, jadi ga eksis kalau ga update status. Tapi demi kemaslahatan diri sendiri dan bersama, saya harus lebih selektif untuk mempublikasikan sesuatu. Anggap aja kayak artis, mesti jaga image yang bagus. Hehee... Saya udah beberapa kali kejadian, karena terlalu 'caper' di socmed, saya jadi dideketin orang-orang. Bahkan sampai di-stalking sana sini, hahaa. Tapi begitulah, namanya orang kan kita ga pernah tau apa yang mereka pikirkan. Kalau saya sih agak males nge-stalking di dunia maya, kalau ingin mengenal seseorang saya lebih suka ketemu langsung terus ngobrol banyak hal sambil mengamati ekspresinya layaknya Dr. Cal Lightman di film Lie To Me yang bisa menganalisis micro expression. Karena body languange dan facial expression ga bisa bohong. Tapi social media, everyone can manipulate it.

Sebenernya kalau di dunia social media saya paling suka posting foto kuliner, selain foto diri sendiri yang imut. Hehee... Soalnya kalo nemu makanan yang enak rasanya pengen sharing, terus bilang "ini enak banget loh mesti cobaiiin". Tapi bbrp waktu yang lalu nemu artikel yang bahas kalau di dunia maya sana bisa jadi ada orang-orang yang kelaperan atau mungkin ga terlalu mampu untuk afford makanan yang fancy. Bisa makan aja udah syukur, meski aneh juga sih kalau bisa socmed-an harusnya bisa beli makan juga. Tapi jaman sekarang gitu loh, internet lebih penting daripada makanan. xD Jadi ya everything is possible.

Terus foto diri sendiri, hmm sebenernya suka banget selfie apalagi semenjak hadirnya aplikasi-aplikasi amazing yang bisa bikin muka keliatan mulus, badan jadi lebih tinggi dan kurus, woww. Bahkan ada juga aplikasi yang bisa edit muka pakai make up, ada pilihan warna warni lipstick dan eyeshadow-nya lagi. Seru banget. Hahaa, tapi lagi-lagi di mendengar dakwah sana sini bilangin ga bagus loh posting foto selfie. Karena selfie adalah riya' terselubung. Hikss..ㅠ.ㅠ  I just wanna have fun.

Foto cincin muriah meriah, hahaa, jamin ga ada yang ngiri. Cuma 15 ribuan.
Tapi keliatan kayak jutaan ya shiningnya. :D

Posting foto kopi yang enak, salah satu hobi saya di dunia socmed


Kalau foto jalan-jalan, udah jelas ya itu pasti bikin jamaah per-internetan sejagad raya ngiri. Saya aja sering banget ngiri meski cuma ngeliat foto ustad yang lagi umroh di Mekah terus mampir pulangnya ke Turki. T_T Mungkin ini karma saya karena dulu sering posting foto jalan-jalan backpackingan kesana kemari, jadi bikin banyak orang yg ga sengaja ngeliat foto jd ngiri. Hahaa, jadi deh sekarang saya yang sering ngiri ngeliat orang jalan-jalan. Nasib, memang karma ga pernah salah alamat. :P


Ini versi saya aja tentang rules di social media. Intinya sih cuma satu dari sekian panjang tulisan di atas, jangan pamer! Udah itu aja. Hahaa... Untuk lebih detail dan lebih jelasnya kenapa sih ga boleh ini ga boleh itu di social media, bisa coba baca-baca postingannya Tere Liye di facebook, bagus juga itu suka dibahas dengan contoh cerita yang real, based on true story.

Oke deh sekian dulu postingan kali ini. Ciaoo..





PS : sorry banget buat pihak-pihak yang pernah tersinggung dengan postingan saya di socmed, atau mungkin pernah saya unfollow atau unfriend, itu semata-mata demi kemaslahatan diri sendiri dan bersama, dan beberapa pertimbangan lainnya yg tidak bisa disebutkan. Yang pasti tidak ada niat memutus silaturahim. Okayy.. *kiss kiss*


Posted by Mariana at 3:38 PM 0 comments
Labels: cerita-cerita, cuap-cuap, selingan, tausyiah

10 January 2016

Niatnya Shalat Dzuhur, Akhirnya Jadi Shalat Jenazah

Beberapa waktu yang lalu saya sempat terbesit dalam hati, ingin deh menghadiri pemakaman supaya saya lebih ingat akhirat dan lebih mensyukuri hidup. Ketika melayat seseorang, entah kenapa pasti langsung teringat bahwa "oh ya, dunia ini sementara ya", "kita hidup ga lama kok", "ga ada yang abadi di dunia ini", "untuk apa menimbun materi, pada akhirnya kita akan mati juga tanpa membawa apa-apa", "oh ya harusnya aku lebih banyak bersyukur masih hidup", "jangan lupa untuk beramal baik", dan berbagai pikiran lainnya yang membuat saya tersadarkan setelah tenggelam begitu lama dalam urusan duniawi. Materi. Pencapaian yang tidak ada habisnya.

Tapi sayangnya tidak ada satupun pemakaman yang bisa saya hadiri. Bukannya mengharapkan seseorang untuk meninggal, tidak tentu saja. Saya hanya ingin tersadarkan dan lebih mensyukuri hidup.

Entah bagaimana, seperti kebetulan atau mungkin doa saya terjawab alhamdulillah, beberapa hari yang lalu saya mendapat kesempatan untuk melayat. Sebenarnya tidak diniatkan untuk melayat, tapi takdir membawa saya ke tempat tersebut.

Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu saya ada urusan untuk pergi ke suatu tempat. Ketika sampai di tempat itu, sudah masuk waktu Shalat Dzuhur. Sebenarnya saya agak ragu apakah saya shalat dulu atau saya selesaikan dulu urusan saya. Meski agak berat melangkah, tapi akhirnya saya dahulukan shalat, entah bagaimana tiba-tiba kaki ingin ke masjid. Kebetulan waktu itu masjidnya ada di depan saya, langsung saja saya masuk, wudhu, lalu naik ke atas ke area shalat.

Nah pas sekali ketika saya sudah masuk area shalat, tiba-tiba di belakang saya ada rombongan masuk membawa keranda jenazah. Ternyata ada salah seorang warga di dekat situ yang meninggal. Niat awalnya tadi saya mau Shalat Dzuhur, tapi melihat orang-orang sudah berkumpul untuk Shalat Jenazah, akhirnya saya ikutan juga untuk menghormati jenazah tersebut.

Saya kurang paham juga sebenarnya kalau dalam situasi seperti itu sebaiknya Shalat Dzuhur dulu atau ikut Shalat Jenazah dulu. Saat itu saya lihat keranda jenazahnya sudah diletakkan di depan area shalat, saya pikir kalau saya Shalat Dzuhur dulu nanti ketika sujud jadinya saya sujud pada jenazah, meski niatnya tidak seperti itu. Tapi kenyataannya jenazahnya sudah ada di depan. Dalam Shalat Jenazah pun tidak ada sujudnya, semua bacaan dilakukan berdiri tanpa rukuk dan sujud. Jadi saya cari yang amannya saja, akhirnya saya putuskan ikut Shalat Jenazah dulu.

Setelah selesai shalat, kemudian jenazah tersebut dibawa keluar. Baru setelah itu saya bisa Shalat Dzuhur.

Meski saya tidak kenal dengan sang Jenazah, tapi besitan perasaan seperti yang saya sebutkan diatas ketika melihat jenazah selalu ada. Kali ini yang terbesit dalam benak saya yaitu "bagaimana ya kalau aku yang ada di keranda itu", "udah siap belum ya kalau dipanggil tiba-tiba seperti itu", "berapa banyak ya orang yang akan menshalati aku", "amalnya udah cukup belum ya kalau udah dipanggil duluan", "apa ya yang orang-orang akan ingat tentang aku nanti", dan berbagai pikiran lainnya seketika melintas.

Pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian ini tidak lain adalah, kematian tidak mengenal waktu. Takdir akan membawa kita ke tempat yang akan kita tuju sesuai dengan jalan takdir tersebut. Sehebat apapun kita, pada akhirnya kita akan dibaringkan di pembaringan terakhir. Yang orang-orang ingat bukan sehebat apakah kita, prestasi apa saja yang sudah kita peroleh, tapi perbuatan baik kita yang akan melekat di benak setiap orang. Dan kebaikan itu yang membuat orang merindukan kehadiran kita. Pun sebaliknya, perbuatan buruk kita juga menorehkan bekas yang tidak terhapuskan di benak setiap orang. Semua hal-hal yang menyakitkan yang pernah kita perbuat pada orang lain, akan diingat hingga ke liang kubur.

Alhamdulillah setelah melakukan Shalat Jenazah saat itu, saya merasa bersyukur masih hidup dan diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Entah kenapa diri ini susah sekali bersyukur, padahal nikmat yang tidak boleh disepelekan adalah hidup itu sendiri. Apalagi masih sehat walafiat, tidak ada penyakit serius, akal pun masih jalan, sudah seharusnya saya lebih bersyukur bukan? Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tattimush sholihaat... Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.


Posted by Mariana at 2:13 AM 0 comments
Labels: cerita-cerita, hikmah, tausyiah

20 December 2015

Kembali Pada Ketauhidan

Baru-baru ini saya baru selesai membaca novelnya Habiburrahman El Shirazy yang berjudul "Api Tauhid". Cerita novelnya bagus, saya selalu suka karya-karya dari Kang Abik (nama panggilan si penulis). Tiap ke toko buku, penulis yang kerap kali saya cari bukunya salah satunya adalah beliau. Novel-novelnya selalu dipenuhi dengan wawasan mengenai Islam, dibalut dengan cerita yang ringan namun tetap mengandung nilai-nilai moral sesuai dengan ajaran syariat.

Yang saya suka, cerita-cerita yang disuguhkan kerap kali memiliki latar belakang negara asing dengan detail pemaparan kota, nuansa, budaya, dan penduduk yang ada disana. Tidak jarang terkadang disisipkan bahasa asing dari negara tersebut dalam percakapan di novelnya. Ceritanya tidak hanya menjelaskan hal-hal yang menarik dari negara tersebut, tapi ada makna dan keterikatannya dengan sejarah Islam dan pengaruhnya hingga kini.

Di novel "Bumi Cinta", ceritanya mengambil latar negara Rusia. Lalu di "Ayat-ayat Cinta" mengambil latar negara Mesir. Dan novel yang baru-baru ini saya baca, yaitu "Api Tauhid", mengambil negara Turki sebagai latarnya. Tulisan-tulisan Kang Abik menunjukkan betapa luasnya pengetahuan beliau, mulai dari sejarah, fikih, bahasa, hingga pemahaman mengenai keadaan yang sedang terjadi pada umat di jaman sekarang ini.

Secara garis besar, "Api Tauhid" menjelaskan bahwa permasalahan utama di jaman modern ini tidak lain adalah kita semakin jauh dari agama. Karena itu agar umat Islam keluar dari permasalahan, kita harus kembali kepada ketauhidan, serta menerapkan syariat agama. Dan inti dari segala solusi yang harus kita pegang teguh hingga akhir jaman adalah Al-Qur'an.

Saya ingin mengutip beberapa tulisan di novel "Api Tauhid" yang menurut saya benar-benar menyentuh permasalahan yang sedang umat ini hadapi.


.....Selain mendung hitam yang menggelayuti pikirannya, Kyai Arselan tertuju pada kalimat-kalimat menyentuh dari ulama besar Turki dalam karyanya Al Lama'at yang baru ia baca tadi sore menjelang Maghrib. Itu adalah kitab yang ia beli saat umrah dan mampir di Istanbul, beberapa waktu yang lalu.

Ulama itu adalah Badiuzzaman Said Nursi. Dalam kitabnya Al Lama'at, Badiuzzaman menulis bahwa umat ini harus banyak melantunkan doa Nabi Yunus 'alaihissalam, tatkala berada dalam kegelapan perut ikan.

"Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin."

Dengan penuh keikhlasan, kerendahan hati, pengakuan akan segala dosa, pengakuan akan segala kelemahan, rasa pasrah yang total kepada Allah, Nabi Yunus tiada henti melantunkan doa itu. Menangis kepada Allah dengan doa itu. Mengharu biru kepada Allah dengan doa itu.

"Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin."

Maka, Allah mendengar doa Nabi Yunus, dan membebaskan Nabi Yunus dari perut ikan.

Kyai Arselan masih mengingat sentuhan Badiuzzaman Said Nursi yang mengingatkan, bukankah fitnah yang menyergap umat ini lebih gulita dan lebih pekat dari kegelapan berada dalam perut ikan Paus? Bukankah keadaan umat ini sekarang lebih mengkhawatirkan daripada keadaan Nabi Yunus dalam perut ikan?

Umat yang lemah. Iman yang tercampakkan. Fitnah menyambar siang malam. Serigala-serigala yang kelaparan siap mencabik-cabik. Kebodohan merajalela. Kemaksiatan menyusup di mana-mana menjadi propaganda yang menggiurkan. Umat dilanda kecemasan dan ketakutan tiada ujungnya. Mereka seperti berjalan dalam lorong kegelapan yang sangat panjang dan tidak tahu mana jalan keluar menuju cahaya. Sebagian merasa tahu ke mana melangkah, namun setelah menghabiskan banyak waktu tetap saja berada dalam lorong yang gelap. Kitab suci dan sunnah Nabi seumpama lentera yang mereka pegang tapi tidak dinyalakan. Seumpama pintu keluar yang mereka berada di depannya namun tidak mereka buka. Akibatnya mereka terus berada dalam kegelapan yang pekat dan melelahkan.

Inilah saatnya menanggalkan segala ego, meletakkan diri sepenuhnya sebagai hamba Allah yang memerlukan pertolongan Allah. Saatnya doa dan tasbih Nabi Yunus dilantunkan, diucapkan berulang-ulang, dihayati, dimasukkan ke dalam alirah darah, hingga menjadi cahaya dalam hati dan pikiran. Lalu menjadi cahaya yang membuka cahaya Allah.

"Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin."


------------------------


Badiuzzaman Said Nursi menghadiri acara itu. Dia datang dan dielu-elukan hadirin. Said Nursi menaiki mimbar dengan busana khas Khurdi yang masyhur. Penampilannya gagah dan heroik dengan belati terselip di pinggangnya. Said Nursi menyampaikan amanat yang menyihir lautan manusia.

"Sejak zaman azali, kita telah masuk ke dalam perhimpunan umat Muhammad Saw. Tauhid merupakan aspek kesatuan dan persatuan di antara kita. Sumpah dan janji kita berupa iman.

Selama kita bertauhid dan bersatu, maka setiap mukmin harus menegakkan kalimat Allah. Sarana terbesar untuk menegakkan kalimat Allah di masa sekarang ini adalah kemajuan materiil.

Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita akan berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan yang tak lain dan tak bukan adalah musuh utama dalam menegakkan kalimat Allah.


------------------------


.....Aku telah mempelajari sejumlah pelajaran di sekolah kehidupan sosial manusia. Aku mendapati, bahwa saat ini dan di tempat ini ada enam penyakit yang membuat kita terjebak di abad pertengahan, di saat orang-orang asing, khususnya Eropa, terbang menuju masa depan.

Penyakit tersebut adalah:

Pertama, mewabahnya keputusasaan, yang faktor pemicunya ada dalam diri kita sendiri. Kedua, matinya kejujuran dalam kehidupan sosial politik. Ketiga, suka kepada permusuhan. Empat, mengabaikan tali cahaya yang menyatukan sesama orang mukmin. Kelima, penindasan yang menyebar seumpama penyakit menular. Kelima, perhatian yang hanya tertuju pada kepentingan pribadi."

Lalu Said Nursi menguraikan panjang lebar cara penyembuhannya yang sumber utamanya adalah obat mujarab dari "apotek Al-Qur'an." Penyakit putus asa bisa disembuhkan dengan menghadirkan harapan, harapan akan rahmat Allah. "Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Az Zumar: 53).


------------------------


"Secara umum, Eskişehir ini kota yang kecil yang cantik. Kota ini terletak di tepi Sungai Porsuk yang indah. Dan Eskişehir ini merupakan salah satu kota industri otomotif terkemuka di Turki. Dan bagi Thullabun Nur, kota ini juga yang tidak akan mereka lupakan. Karena jejak keteladanan Badiuzzaman Said Nursi juga ada di sini," Bilal ikut bicara.

"Saya jadi ingat Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari, seorang ulama besar Indonesia. Yang tetap mampu menggerakan para pemuda dan para santri untuk melawan kolonial Jepang, meskipun beliau di penjara," Fahmi mengambil gelas tehnya.

"Begitulah ulama sejati. Kedekatan mereka dengan Allah membuat suara mereka tidak bisa dihalangi apa pun juga," sahut Hamza.

"Saya teringat salah satu perkataan Ustadz Said Nursi, 'Siapa yang mengenal dan menaati Allah, maka ia akan bahagia walaupun berada di dalam penjara yang gelap gulita. Dan siapa yang lalai dan melupakan Allah, ia akan sengsara walaupun berada di istana yang megah mempesona," lirih Emel.

Mendengar petikan kalimat itu, semua mengucapkan tasbih.


------------------------


Posted by Mariana at 11:51 PM 0 comments
Labels: hikmah, review, tausyiah

19 August 2013

Mengingat Kematian

Baru aja denger kabar salah seorang kawan di grup backpacker telah berpulang ke Rahmatullah karena penyakit kanker otak... Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un...

Agak-agak ga percaya karena beberapa waktu yang lalu kami sempat berkomunikasi, ga nyangka ternyata secepat itu tiba-tiba udah ga ada aja. Umur manusia memang tidak ada yang bisa menebak, dari yang sehat tiba-tiba bisa dipanggil kehadirat Allah SWT. Siapa yang bisa menyangka kapan kita akan menghadapi saat-saat akhir. Jika mengingat kematian, rasanya tiba-tiba semua yang kita miliki di dunia ini tidak ada artinya. Karena kita meninggal tidak membawa apa-apa, hanya malaikat maut yang akan menanti.

Dulu waktu ayah saya meninggal satu setengah tahun yang lalu, saya juga rasanya seperti tidak percaya. Karena sehari sebelumnya kami baru saja saling kirim SMS untuk menanyakan kabar. Juga seminggu sebelumnya pun tidak terlihat sakit, benar-benar sehat dan bugar. Benar-benar tidak menyangka, maut itu datang tiba-tiba. Baik kita sehat, ataupun sakit, sendiri maupun dalam keramaian, dalam usia muda atau tua, bisa begitu saja datang menjemput.

"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh." (An-Nisa`: 78)

"Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati." (Luqman: 34)

Karena itu ada sebuah nasehat bijak mengatakan, banyak-banyaklah mengingat kematian yang akan memutuskan segala kenikmatan dunia - sehingga itu membuatmu condong pada kebaikan dan menjauhi kemaksiatan. Mengingat kematian juga akan melapangkan hati di kala sempit, dan mempersempit hati di kala lapang.

Saya jadi termenung sendiri, tiap kali mendengar kabar mengenai kematian. Bagaimana jika itu adalah kita sendiri suatu hari nanti, seberapa siapkah kita menghadapinya, sudah cukupkah bekal kita untuk menuju alam akhirat, sudah sebaik apakah diri ini ketika saat itu tiba...

Dan sudah cukup bersedekahkah kita, sudah meminta maaf kah kita pada orang-orang yang telah kita sakiti, telah dimaafkan kah kita oleh orang-orang yang kita zhalimi, sudah terlunasikah hutang dan janji yang kita buat, telah selesai kah amanah yang kita pegang, sudah berikhtiar kah kita untuk beribadah dengan penuh keikhlasan, telah ridho kah orang tua atas perbuatan kita, sudah bertaubatkah kita atas kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat baik disadari ataupun tidak, sudah memohon ampunan kah kita pada Allah atas dosa-dosa yang kita miliki?


وَأَنفِقُوا مِن مَّارَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلآ أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ . وَلَن يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا وَاللهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, 'Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menang-guhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?' Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) sese-orang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Munafiqun: 10-11). 

وَلَوْتَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلاَئِكَةُ بَاسِطُوا أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنفُسَكُمُ
"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), 'Keluar-kanlah nyawamu". (Al-An'am: 93). 

وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَاكُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ
"Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya." (Qaf: 19). 

Satu hal yang menjadi perhatian saya ketika berita tentang kematian menghampiri, yaitu komentar orang-orang terdekat yang mengenal sang jenazah. Subhanallah, bila mendengar orang tersebut dirindukan banyak orang dan disebut-sebut kebaikannya. Membuat saya bertanya sendiri kerap kali, apakah ada yang akan merindukan diri ini jika telah tiada nanti. Dan apakah saya sudah menebarkan kebaikan bagi sekeliling saya...

Wallahu'alam...


"Ya Allah, wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri pada-Mu ketika saatnya tiba. Dan masukkanlah kami kedalam golongan hamba-hambamu yang Engkau ridhoi.. Aamiin..."

Posted by Mariana at 12:55 AM 0 comments
Labels: hikmah, tausyiah

06 January 2013

Berkah dan Kebahagiaan

Betapa dekat kebahagiaan bagi mereka yang menetapi do’a ini:


”Ya Allah, jadikanlah aku merasa qana’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah engkau rezeqikan kepadaku, dan berikanlah barakah kepadaku di dalamnya, dan jadikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan yang lebih baik.”

Mengingat sejenak sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, “Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rezeqi yang sekedar mencukupi dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baghawi.

Betapa sederhananya kebahagiaan. Ingatlah sejenak bagaimana Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bergurat pipinya karena alas tidur kasar. Hari ini betapa banyak yang memiliki tempat tidur mewah, tapi hampir-hampir tak pernah ia rasai tidur yang nikmat.

Betapa berbeda. Tengoklah Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Betapa sederhana makannya. Tak menuntut syarat yang berat, justru jadikan makan lebih nikmat.

Sungguh, ketika engkau tak meninggikan syarat terhadap apa yang engkau reguk dari dunia ini, semakin mudah engkau rasai kebahagiaan. Dan apakah yang lebih berharga daripada ganti yang lebih baik; ganti yang lebih membawa kebaikan atas apa-apa yang terlepas dari kita?

Maka do’a riwayat Al Hakim (beliau menshahihkannya) yang dicontohkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam ini merupakan kunci agar kita mampu bersikap secara tepat terhadap dunia: qana’ah terhadap rezeqi dari-Nya, barakah atas rezeqi yang kita terima dan ganti yang lebih baik (bukan lebih banyak) atas apa-apa yang terlepas dari kita. Sungguh, rezeki yang tak barakah, amat jauh dari kebaikan.

M. Fauzil Adhim
Posted by Mariana at 7:39 PM 0 comments
Labels: tausyiah

04 August 2012

Renungan Indah - W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-NYA
Bahwa rumahku hanyalah titipan-NYA
Bahwa hartaku hanyalah titipan-NYA
Bahwa putraku hanyalah titipan-NYA

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-NYA itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku..
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-NYA harus berjalan seperti matematika :

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-NYA yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".

(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya diatas ranjang Rumah Sakit)
Posted by Mariana at 9:12 PM 0 comments
Labels: hikmah, kata-kata, tausyiah

07 October 2011

Kayalah Lalu Masuk Surga! (Sharing Article)

Orang yang suksus mengelola harta adalah orang yang dengan hartanya justeru semakin rendah hati dan menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan atau amanah dari Allah. Abdurrahman bin ‘Auf yang padahal termasuk orang yang dijamin masuk surga pernah berlinang air mata saat dirinya siap menyantap hidangan lezat yang ada di hadapannya. Ketika ditanya penyebab ia menangis, ia menjawab, “Aku takut hanya yang kunikmati di dunia inilah yang menjadi ganjaranku dari Allah.”


http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/09/kayalah-lalu-masuk-surga.html


Kayalah Lalu Masuk Surga!

Oleh: Rikza Maulan, M.Ag 


dakwatuna.com - Dari Abi ‘Abdillah Tsauban Bin Bujdad bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Dinar yang paling utama yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk kendaraannya di jalan Allah, dan dinar yang ia infakkan untuk rekan-rekannya (yang tengah berjuang) di jalan Allah.” (Muslim)

Dalam kitab Nuzhatul-Muttaqin (syarah Riyadush-Shalihin karya Imam An-Nawawi) disebutkan, hadits itu menjelaskan peringkat keutamaan pengeluaran harta (infak) bahwa memberi nafkah kepada keluarga merupakan infak yang paling mulia. Dalam hadits lain disebutkan:

“Dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk (mememerdekakan) hamba sahaya, dinar yang engkau infakkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau infakkan untuk keluarga, yang paling utama di antara semua itu adalah dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu.” (Muslim)

Ke manapun alokasinya, yang jelas seseorang tidak mungkin dapat berinfak jika tidak memiliki harta. Lebih-lebih jika kita mencermati ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan kita terlibat dalam jihad. Selalu saja disandingkan antara kewajiban berjihad dengan jiwa dengan kewajiban berjihad dengan harta. Bahkan dari semua ayat yang memerintahkan kita berjihad dengan harta dan jiwa, berjihad dengan harta selalu didahulukan kecuali pada satu ayat saja yakni ayat 111 surah At-Taubah, yang maknanya:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka dengan mendapatkan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.”

Selebihnya, hartalah yang disebut terdahulu. Perhatikan ayat-ayat berikut:

“Wahai orang-orang yang beriman, inginkah kalian aku tunjukkan pada suatu perniagaan yang menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih. Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kalian berjihad di jalan Allah denganh harta dan jiwa kalian.” (Ash-Shaf: 10-11)

Ini diperkuat dengan adanya kewajiban zakat. Dalam urusan yang satu ini memang ada kesalahan persepsi pada sebagian kaum muslimin. Kewajiban zakat sering dipahami begini: kalau punya harta, zakatlah; kalau tidak punya, tidak usah mengeluarkan zakat. Secara fiqih, pemahaman itu sangat benar. Tapi semangatnya bukanlah semangat kepasrahan pada keadaan. Semangat perintah zakat harusnya dipahami: carilah uang, kumpulkanlah harta agar dapat melaksanakan perintah Allah yang bernama zakat. Seharusnya kita membawa semangat shalat untuk diterapkan pada zakat. Kita selalu berpikir kita harus bisa melaksanakan shalat dengan segala perjuangan yang menjadi konsekuensinya. Dari mulai mencari penutup aurat, mencari tempat shalat, menentukan arah kiblat, mensucikan diri, dan seterusnya.

Itu semua mematahkan anggapan yang masih dianut sebagian orang bahwa kesalihan dan ketakwaan identik dengan kepapaan, kemelaratan, kesengsaraan, dan ketertindasan. Seolah-olah hanya orang miskin, jelata, dan tertindaslah yang layak menghuni surga. Sebaliknya orang kaya dan orang yang punya jabatan tidak punya tempat di surga. Ini diperparah dengan sering disitirnya hadits-hadits dha’if (lemah) atau bahkan maudhu’ (palsu) yang memberikan pesan untuk menjauhi dunia sejauh-juahnya demi mencapai ketakwaan dan kesucian jiwa. Atau mungkin juga menyitir hadits shahih tentang zuhud dengan pemahaman yang salah.

Zuhud tidaklah identik dengan melarat. Zuhud adalah kepuasaan hati dengan apa yang diberikan Allah swt. Zuhud adalah ketiadaan ikatan hati kepada kekayaan. Bahwa sambil merasa puas dengan apa yang Allah berikan dan sambil meniadakan ikatan hati dengan harta seseorang memiliki harta dan jabatan, tidaklah menafikan sifat zuhud.

Utsman Bin ‘Affan adalah konglomerat dan kaya raya. Beliau termasuk sahabat Nabi saw. yang dijamin masuk sorga. Demikian pula halnya dengan ‘Abdurrahman Bin ‘Auf. Beliau sukses dalam bisnis dan menjadi saudagar kaya raya. Toh beliau juga termasuk yang dijamin masuk surga. Umar Bin ‘Abdul-‘Aziz, khalifah yang kaya raya. Tapi justeru dia termasuk orang zuhud.

Posisi harta dalam Islam sama dengan posisi kemiskinan: sebagai ujian bagi manusia. Dengan kekayaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kekayaan pula orang bisa masuk neraka. Dengan kepapaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kepapaan pula orang bisa masuk neraka. Semuanya ujian! Allah swt. menegaskan:

“Dan Kami coba kalian dengan keburukan dan kebaikan, (semuanya) sebagai ujian.” (Al-Anbiya: 35)

Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya dunia itu manis dan menghijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya untuk melihat (menguji) bagaimana kalian bekerja. Maka berhati-hatilah dengan dunia dan berhati-hatilah dengan wanita. Karena sesungguhnya fitnah Bani Israil adalah pada wanita.” (Riwayat Muslim)

Jadi, orang yang saleh bukanlah orang memilih meninggalkan harta melainkan yang lulus dalam ujian mengelola harta itu. Seseorang dianggap lulus ujian dalam urusan harta manakala:

* Hanya menempuh cara halal untuk memperoleh harta.

Pada hari kiamat, setiap orang akan diminta pertanggungjawaban terkait dengan hartanya, dari manakah ia memperolehnya dan dengan cara apa? Ini batu ujian pertama. Rasulullah saw. bersabda:

Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman seperti yang diperintahkan kepada para rasul. Dia berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari yang baik dan beramal salehlah karena sessungguhnya Aku mengetahui apa yang kamlian lakukan’. Dia juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik dari yang Kami rezekikan kepada kalian’.” Lalu Rasulullah saw. menerangkan tentang orang yang mengadakan perjalanan panjang, kusut masai dan berdebu. Ia mengadakahkan kedua tangannya (berdoa) ke langit (sambil mengatakan): Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dari yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan.” (Muslim)

* Harta itu tidak menyebabkan sombong

Orang yang suksus mengelola harta adalah orang yang dengan hartanya justeru semakin rendah hati dan menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan atau amanah dari Allah. Abdurrahman bin ‘Auf yang padahal termasuk orang yang dijamin masuk surga pernah berlinang air mata saat dirinya siap menyantap hidangan lezat yang ada di hadapannya. Ketika ditanya penyebab ia menangis, ia menjawab, “Aku takut hanya yang kunikmati di dunia inilah yang menjadi ganjaranku dari Allah.”

* Menjadi fasilitas untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik harta yang saleh adalah yang ada pada orang saleh.” Beliau juga memerintahkan kepada kita, “Jauhkanlah dirimu dari neraka walau dengan hanya sebelah kurma.”

* Menjadi fasilitas untuk silaturahim.

Infaq adalah baik. Dan infaq kepada kerabat adalah lebih baik lagi. Karena selain bernilai taqarrub, perbauatan itu juga merupakan upaya silaturahim. Rasulullah saw. bersabda, “Shadaqah kepada orang misikin adalah satu shadaqah dan shadaqah kepada orang yang punya hubungan rahim (kerabat) adalah dua shadaqah: shadaqah dan shilah (menyambungkan).” (At-Tirmidzi)

* Menjadi fasilitas untuk perjuangan.

Perjuangan Islam jelas tidak mungkin tanpa dukungan finansial. Kekuatan orang-orang kafir harus dihadapi dengan kekuatan optimal kaum muslimin. Dan ini tentu saja salah kekutan itu adalah kekuatan maliyyah (finansial).

Itulah sebagian ajaran Islam yang terkait dengan kekayaan. Jadi, menjadi orang kaya, siapa takut? Allahu a’lam.

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/kayalah-lalu-masuk-surga/
Posted by Mariana at 11:00 PM 0 comments
Labels: hikmah, inspirasi, tausyiah

22 August 2011

Mencari Arti Kebenaran

Ingin sedikit bercerita, kehidupan saya saat ini begitu dekat dengan keduniawian. Saya hampir sulit untuk percaya pada kebenaran yang selama ini saya yakini. Kedekatan saya dengan material membuat saya mempercayai bahwa dunia besar kecilnya ditentukan oleh material. Yang tentu saja bertolakbelakang dengan keyakinan saya bahwa hidup ini bukan ditentukan oleh dunia yang kasat mata saja. Tapi saya hidup di dunia yang menjunjung tinggi nilai material dan hal-hal yang terlihat baik di mata manusia.

Jika saya boleh berkata, bahwa keyakinan yang bagi sebagian besar masyarakat metropolis adalah konservatif, yaitu kepercayaan akan agama, hampir bahkan nyaris terkikis oleh kesibukan duniawi. Mungkin saya harus berucap, "Innalillahi wa innailaihi raaji'un" untuk kematian hati nurani. Ini lebih menyedihkan dibanding kehilangan semua harta didunia. Karena di dalam hatimu, disitu tersimpan hartamu yang tak bisa dibeli oleh mata uang apapun. Dimana hatimu, disitulah rumahmu. Ketika kita tak bisa mendengar hati kita karena tertutup penilaian material dan pakem sosial, tak heran nenek moyang kita berujar bahwa kita akan tersesat. Pergi kemanapun kita akan merasa kehilangan arah. 

Dahulu kala, ketika saya benar-benar baru mengenal agama, saya merasa diri ini sudah baik. Saya bisa berdakwah, menasehati orang lain ini itu agar mengkuti jalan yang benar menurut saya. Dengan energi dan semangat yang meluap karena kecintaan akan keyakinan saya, membuat saya merasa pantas untuk yakin bahwa saya dekat dengan-Nya. Astaghfirullah jika saya pikir-pikir lagi saat ini. Siapakah saya bisa mengklaim kedekatan dengan Ilahi. Dan betapa polosnya pikiran saya saat itu. Tapi justru kepolosan itu membuat saya rindu saat ini. Karena saat itu entah bagaimana iman sungguh terasa menentramkan.

Bagi saya saat ini, untuk melakukan hal tersebut adalah suatu hal yang sangat besar. Saya tidak mampu lagi menyuruh orang untuk berada di jalan yang benar, karena saya sendiri merasa belum sepenuhnya benar. Saya masih banyak kekurangan disana-sini. Jika saya diminta untuk berdakwah, tentu saja saya tidak akan mampu. Perjalanan waktu membuat saya harus kembali ke titik nol. Dimana saya harus kembali belajar dari awal tentang baik dan buruk. Saya tidak ingin lagi terlalu memaksakan seseorang untuk beribadah, karena saya sadar bahwa ibadah itu adalah urusan pribadi manusia dengan Tuhannya. Cukup ia dan Tuhannya yang tahu. Kalau manusia tahu, yang ada hanya prasangka dan menghakimi saja yang muncul. Manusia tak dapat berlaku adil seperti Yang Maha Adil. Kita hanya dapat mengajak sesama manusia untuk berada dalam kebaikan, tapi keputusan adalah urusan pribadi. Itu yang saya pegang untuk saat ini. Dan sungguh yang namanya hidayah hanya Allah yang punya Hak Prerogratif kepada siapa Ia akan memberikan. Sebesar apapun usaha kita untuk mengajak, jika Allah belum berkehendak, maka memang belum saatnya.

Berbicara tentang hidayah, seketika saya jadi ingin membahas mengenai jilbab. Menggunakan atribut keagamaan yaitu jilbab dan pakaian yang tertutup, bagi saya adalah beban tersendiri. Karena kita diharapkan mampu untuk memenuhi ekspektasi masyarakat akan anggapan mengenai wanita berjilbab. Bukan hal yang mudah. Karena stereotipe yang sudah terbentuk saat ini, wanita yang berjilbab memiliki cap baik, shaleh, dan berbagai anggapan seperti malaikat lainnya yang terpatri. Jika kaum jilbabers sedikit saja salah berbusana, atau mungkin ada tingkah laku yang tidak baik menurut masyarakat, maka mereka akan dituding memperburuk citra agama. Bahkan untuk seorang wanita berjilbab yang begitu syar'i pakaiannya, tidak luput dari pandangan masyarakat yang merasa ia terlalu 'ekstrim'. Beratribut agama di jaman ini bukan suatu hal yang mudah. Menjadi orang baik adalah tuntutan terbesar bagi kami. Dimana hal ini musti saya jawab dengan frase klasik bahwa kami hanyalah manusia. Kesempurnaan bukan milik kami. Kesempurnaan dan kebaikan hanyalah di sisi Allah semata. Kami hanya berusaha untuk menjadi muslimah yang bertakwa.

Sedikit berbicara tentang kebaikan, diri ini jadi teringat ceramah dari Ustad Wijayanto kemarin hari di sebuah masjid. Ia bercerita, pada suatu masa di jaman Rasulullah, ada seseorang bertanya pada Rasul bagaimana jika ia tidak hafal Al-Qur'an dan Al-Hadits, apa yang bisa ia ikuti untuk menjadi pegangan hidupnya. Lalu Rasul menjawab, pada dasarnya setiap manusia memiliki hati nurani. Tanyalah pada hati nuranimu ketika kau hendak melakukan sesuatu. Pak Ustad menambahkan bahwa kita bisa berbohong pada siapa saja, tapi tidak pada hati nurani kita. Gelisah atau tidaknya hati nurani menentukan apakah apa yang kita lakukan benar atau tidak. Seseorang bisa tidak mengerti apapun di dunia ini asal dia mengikuti hati nuraninya, maka ia akan menjadi orang yang baik. Subhanallah.

Semua perjalanan hidup hingga saat ini menyadarkan saya bahwa saya selalu berjalan untuk dekat dengan kebenaran yang sebenarnya berada sangat dekat dengan diri ini. Tapi sudah sulit untuk dirasakan. Mungkin saya harus mengikis segala sifat berbangga-bangga, tidak sabar, penuh prasangka, dan segala penyakit hati yang belum terobati agar bisa mendengar hati nurani saya. Saya ingin sekali kembali ke jaman dahulu kala dimana kehidupan pribadi kita tak ada keharusan untuk dipublikasikan. Karena popularitas dan efek publikasi yang berlebih membuat kita jadi tidak bisa membedakan yang mana yang baik dan yang buruk. Penilaian manusia saat ini didasari oleh pakem sosial dan material yang ditunjukkan di media.Yang mana yang menurut publik terpopuler dan banyak diikuti, maka itulah kebenaran. Bukan lagi ajaran kebaikan turun menurun yang diwariskan oleh para pendahulu kita. Mungkin ada baiknya dunia 'mengerem' kecepatan peradaban untuk kembali melihat kebenaran yang hakiki. 

Tahun 2012, tahun dimana banyak desas-desus terisukan dari ilmuwan bahwa badai elektromagnetik dari matahari akan melanda bumi ini, menimbulkan sebuah tanda tanya yang besar. Apa jadinya jika manusia tanpa elektromagnetik? Apa dunia ini tanpa elektronik? Akankan kita menjadi manusia berhati nurani, atau sebaliknya? Tidak terbiasanya kita menggunakan hati nurani akan membuat kita menggunakan insting hewani, yang kuat yang menang. Akankan manusia menemukan kembali kebenaran di dalam keterbatasan?

Wallahu'alam bishowab. Maha Besar Allah akan segala kebenaran di sisi-Nya.

Posted by Mariana at 12:28 AM 0 comments
Labels: cerita-cerita, hikmah, inspirasi, kata-kata, tausyiah

06 February 2011

Kehidupan dunia bersifat fana

Kehidupan dunia bersifat fana.
Persis seperti kuncup bunga yang mekar & wangi.
Setelah itu jatuh gugur & mengering disapu angin lalu.
Tak beda dg embun pagi.
Kala mentari mulai meninggi,
embun menguap tanpa meninggalkan jejak yg berarti.

Begitulah hakikat dunia.
Karenanya segala kesenangan yg kita kecap a/ sementara



dikutip dari:
http://wirausahapesantren.blogspot.com/2010/08/agar-kesuksesan-tak-menipu.html
Posted by Mariana at 7:06 AM 0 comments
Labels: hikmah, kata-kata, tausyiah

26 August 2010

Tips Superrrr of The Day

Hari ini mendapatkan kata-kata penuh energi dari Pak Mario Teguh. Subhanallah, Indonesia memiliki seseorang dengan personaliti yang LUARRR BIASA. Berikut cuplikan-cuplikan penyemangat beliau:

Posted by Mariana at 12:30 AM 0 comments
Labels: hikmah, inspirasi, kata-kata, review, tausyiah

23 April 2010

Langit Pontianak Petang Itu

Menjelang terbenamnya matahari kala itu di Supadio, saya hanya bisa berujar, "Subhanallah..Subhanallah... Maha Indah Engkau Ya Allah dengan segala ciptaan-Mu."
Lalu saya teringat sepenggal ayat dalam Surat Ar-Rahman:
"Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban"
(Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?)
Posted by Mariana at 8:57 PM 2 comments
Labels: tausyiah

11 January 2010

Allah Hanya Memanggil Kita 3 Kali Saja Seumur Hidup

Dapat sebuah kiriman artikel lagi dari seorang teman, alhamdulillah... Semoga kita bisa menjawab semua panggilan ini dengan baik. Amiin....


--------------------------


Saat itu, Dhuha, hari terakhir aku di Masjid Nabawi untuk menuju Makkah...... . , aku bertanya pada Ibu, Ibu adalah pemilik Maknah Tour Travel dimana saya bergabung untuk Umrah di bulan July 2007 yang lalu. Kebetulan umrahku dimulai di Madinah selama 4 hari, baru ke Makkah. Tujuannya adalah mendapatkan saat Malam Jumat di depan Kabah..


'Ibu, kataku, ada cerita apa yang menarik dari Umrah....?
(Maklum, ini pertama kali aku ber Umrah). Dan Ibu, memberikan Tausyiahnya.

Ibu berkata...'Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup'
Keningku berkerut..... ....'Sedikit sekali Allah memanggil kita..?'

Ibu tersenyum… 'Iya, tahu tidak apa saja 3 panggilan itu..?'
Saya menggelengkan kepala.

'Panggilan pertama adalah Adzan', ujar Ibu.
'Itu adalah panggilan Allah yang pertama. Panggilan ini sangat jelas terdengar di telinga kita, sangat kuat terdengar.


Ketika kita sholat, sesungguhnya kita menjawab panggilan Allah.

Tetapi Allah masih fleksibel, Dia tidak 'cepat marah' akan sikap kita. Kadang kita terlambat, bahkan tidak sholat sama sekali karena malas. Allah tidak marah seketika. Dia masih memberikan rahmatNya, masih memberikan kebahagiaan bagi umatNya, baik umatNya itu menjawab panggilan Azan-Nya atau tidak. Allah hanya akan membalas umatNya ketika hari Kiamat nanti'.

Saya terpekur.... .mata saya berkaca-kaca.
Terbayang saya masih melambatkan sholat karena meeting lah, mengajar lah, dan lain lain. MasyaAllah.......


Ibu melanjutkan,
'Panggilan yang kedua adalah Panggilan Umrah/Haji'
'Panggilan ini bersifat halus. Allah memanggil hamba-hambaNya dengan panggilan yang halus dan sifatnya 'bergiliran' .

Hamba yang satu mendapatkan kesempatan yang berbeda dengan hamba yang lain. Jalannya bermacam-macam.

Yang tidak punya uang menjadi punya uang, yang tidak merencanakan, ternyata akan pergi, ada yang memang merencanakan dan terkabul.

Ketika kita mengambil niat Haji / Umrah, berpakaian Ihram dan melafazkan 'Labaik Allahuma Labaik/ Umrotan', sesungguhnya kita saat itu menjawab panggilan Allah yang ke dua.'
'Saat itu kita merasa bahagia, karena panggilan Allah sudah kita jawab,
meskipun panggilan itu halus sekali.
Allah berkata, laksanakan Haji / Umrah bagi yang mampu
.'

Mata saya semakin berkaca-kaca. ........Subhanallah ....... .saya datang
menjawab panggilan Allah lebih cepat dari yang saya rancangkan..

...Alhamdulillah. ..


'Dan panggilan ke-3', lanjut Ibu, 'adalah
KEMATIAN'
'Panggilan yang kita jawab dengan amal kita.

Pada kebanyakan kasus, Allah tidak memberikan tanda tanda secara langsung, dan kita tidak mampu menjawab dengan lisan dan gerakan. Kitahanya menjawabnya dengan amal sholeh. Karena itu , manfaatkan waktumu sebaik-baiknya. ..Jawablah 3 panggilan Allah dengan hatimu dan sikap yang Husnul Khotimah....


.......Insya Allah syurga adalah balasannya.....


Mata saya basah di dalam Masjid Nabawi, saya sujud bertaubat pada Allah karena kelalaian saya dalam menjawab panggilanNya.


....Kala itu hati saya makin yakin akan kebesaranNya, kasih sayangNya dan dengan semangat menyala-nyala, saya mengenakan baju Ihram dan berniat......


.....Aku menjawab panggilan UmrahMu, ya Allah, Tuhan Semesta Alam.........



*Huraisy*

Pada
hari kiamat akan keluar seekor binatang dari neraka jahanam yang bernama 'Huraisy' berasal dari anak kala jengking.
Besarnya Huraisy ini
dari timur hingga ke barat. Panjangnya pula seperti jarak langit dan bumi.

Malaikat Jibril bertanya : 'Hai Huraisy!
Engkau hendak ke mana dan siapa yang kau cari?'
Huraisy pun menjawab, 'Aku mau mencari lima orang.'

Pertama,
orang yang meninggalkan sholat
Kedua,
orang yang tidak mahu keluarkan zakat
Ketiga,
orang yang durhaka kepada ibu dan bapaknya
Keempat,
orang yang bercakap tentang dunia di dalam masjid
Kelima,
orang yang suka minum arak.


Sampaikan pesan ini biarpun hanya 1 ayat.. Wallahualam.

Posted by Mariana at 11:41 PM 0 comments
Labels: tausyiah
Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod - edited by Mariana