skip to main | skip to sidebar

About me

My Photo
Mariana
Indonesian muslimah, Backpacker, Photography Lover, Dreamer, and Believer to these phrases: "whoever seeks they will find" & "there's no useless effort" - So, keep on going!
View my complete profile

Archive

  • ► 2008 (13)
    • ► June (1)
    • ► July (3)
    • ► August (2)
    • ► September (2)
    • ► November (2)
    • ► December (3)
  • ► 2009 (13)
    • ► January (2)
    • ► February (1)
    • ► March (2)
    • ► May (1)
    • ► August (1)
    • ► September (3)
    • ► December (3)
  • ► 2010 (20)
    • ► January (3)
    • ► February (3)
    • ► April (1)
    • ► June (1)
    • ► July (1)
    • ► August (9)
    • ► September (1)
    • ► November (1)
  • ► 2011 (10)
    • ► February (2)
    • ► June (3)
    • ► August (4)
    • ► October (1)
  • ► 2012 (5)
    • ► January (1)
    • ► March (1)
    • ► August (1)
    • ► September (1)
    • ► November (1)
  • ► 2013 (16)
    • ► January (1)
    • ► March (1)
    • ► June (6)
    • ► July (1)
    • ► August (4)
    • ► September (2)
    • ► October (1)
  • ► 2014 (13)
    • ► January (1)
    • ► February (1)
    • ► March (2)
    • ► May (2)
    • ► June (1)
    • ► August (1)
    • ► September (1)
    • ► October (1)
    • ► November (3)
  • ► 2015 (15)
    • ► February (1)
    • ► March (1)
    • ► July (1)
    • ► August (3)
    • ► October (4)
    • ► November (1)
    • ► December (4)
  • ► 2016 (6)
    • ► January (2)
    • ► February (2)
    • ► March (2)
  • ► 2017 (3)
    • ► April (1)
    • ► June (1)
    • ► July (1)
  • ► 2020 (5)
    • ► October (2)
    • ► November (3)
  • ▼ 2021 (9)
    • ► January (1)
    • ► February (2)
    • ► April (3)
    • ► July (2)
    • ▼ September (1)
      • Alhamdulillah I'm Pregnant

Labels

  • backpacking
  • blog design
  • capturing moments
  • cerita-cerita
  • cuap-cuap
  • family matters
  • hikmah
  • hot stuff
  • inspirasi
  • kata-kata
  • kerja dan belajar
  • korean drama
  • masak memasak
  • quotes
  • relationship
  • review
  • selingan
  • tausyiah
  • wonderful

What I'm Into

Interior & Architecture

  • Arc Space
  • Arch Daily
  • Archinect
  • Architonic
  • Copy Cat Chic
  • Design Glossary
  • Design Milk
  • Dezeen
  • Enlighter Magazine
  • Famous Architects
  • HGTV
  • Houzz
  • How About Orange
  • IALD
  • IKEA Hackers
  • Interior Design Magazine
  • Karim Rashid
  • Lighting Design Magazine
  • Meade Design Group
  • Mondo Arc
  • Philippe Starck
  • Print and Pattern
  • Samantha Pynn
  • Summer Allen
  • Suzanne Dimma
  • Top 50 Interior Websites

All About Design

  • Eat Drink Chic
  • Goodnight Little Spoon
  • Josh Lafayette
  • Paper Toys
  • Pixel Girl
  • Pugly Pixel
  • Pugly Pixel Blog
  • The Cool Hunter

Let's Go Green

  • groovy green
  • inhabitat
  • sustainablog
  • world changing

Inspiring Blogs

  • Febrianti Almeera
  • Islamic Articles
  • Jamil Azzaini
  • Salim A. Fillah

I Read This

Bidadari Bidadari Surga
Mengarungi 'Arsy Allah
Gadis Pantai
Confessions of a Shopaholic
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Kupinang Engkau dengan Hamdalah
The Da Vinci Code
A Very Yuppy Wedding
Menyelam ke Samudera Jiwa dan Ruh
Bumi Cinta
Cinta Brontosaurus
The Alchemist - Sang Alkemis
Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh
Life of Pi
Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps: Mengungkap Perbedaan Pikiran Pria dan Wanita Agar Sukses Membina Hubungan
divortiare
Ketika Cinta Bertasbih
The Right to Lead
How to Win Friends and Influence People
Virus of the Mind: The New Science of the Meme


Mariana's favorite books »

For A Better Life!

Blog Readers

Stats

free counters

simply,

bla bla bla in my mind...

Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

07 July 2017

New Blog Revamp

Yesterday I was so shocked when I opened my blog and found out that the background appeared somewhat creepy due to the expiration of the third-party hosting from the blog theme resource that I used all this time. @_@  But I couldn't protest anyway because I've downloaded the theme for free. So if the web designer decided not to extend the image hosting account, I definitely couldn't do anything other than changing my blog theme. *cry*

Expired Blogger Theme Appearance

My original blogger theme was from Gisele Jaquenod's blog. I used "My Notes" theme from her blog. I really fond of her design style, I think it suits my taste which is simple-girly-cutie-comical kind of thing that visually nice to see and made the writings easy to read. So I tried to check her blog recently to find out whether she had updated the theme file or if I miss out something like suddenly she put the theme for sale for example. But unfortunately there is no update on the theme, even she hasn't update the blog since 2014.

The Original Blogger Theme's Appearance Before Expired

Knowing that there is no hope in using the theme anymore, so I started to browse other themes on the internet. With heavy-heart I picked one of the most similar style from again-the-free-resource I could find. Then I fell into this one nice-simple-elegant theme from Design Bliss by Sadaf. I have applied the theme for a couple of hours, 'till suddenly I got this 'aha' moment - the moment when you suddenly get an idea out of nowhere.


"Design Bliss" Theme On My Blog

It started from my unsatisfactory with how my blog looks like, so I came back using the Gisele's theme. This time I tried to configure the HTML code, I started by searching where the expired background's link came from, then I replaced it all with plain color background. Well actually choosing the color is not as simple as I write this, I need to find the color code first from the html color codes website. Editing website's design is not the same as editing picture in photoshop. Anything related to website design requires html / css code. It's not that simple but it's not that hard as well. It's quite fun when we finally can see the result.

Back to revamping the blog's design. Basically I still use Gisele's html theme, I only configured a few parts like the colors, fonts, and alignments. Nothing much. I also inspired by the Design Bliss theme, like the header's font and color. So I applied it as well. Again, it looks very easy but for a beginner like me it took hours to finish it. But it's worth the effort and time, because in the end I really like the result.:D

Voila! Finally This Is How My Blog Looks Like :D

Actually there was one blogger whom I fave the most from all the blog's designer. Her blog's title is Pugly Pixel. She's very inspiring yet adorable. She liked to share many knowledge about website design. Even she made the tutorial and gave many design freebies, like tape strips, clip arts, backgrounds, photoshop brushes, and many more. I love her design taste as well, I think she is originally a graphic designer. She knows how to mix and match color and make a presentable layouts. But don't know why all of her websites suddenly disappear. Many people miss her, because we learned so much from her blog.


Pugly Pixel's Blog

Thinking on why many bloggers suddenly disappear, made me realize one thing. I think all this time we used to take everything for granted, 'till everything's gone then we realize how precious it was. But it's not that bad though. Because when we are forced to do everything by ourselves due to limitations, there when we find out that we can do it as well.


A man may die....... Nations may rise and fall....... But an idea lives on

- John F. Kennedy

Posted by Mariana at 2:17 AM 0 comments
Labels: blog design, inspirasi

03 February 2016

Dakwah pada Keluarga

Saya menemukan video yang bagus mengenai dakwah pada anggota keluarga atau orang-orang yang dekat dengan kita. Berikut videonya.




Menyampaikan dakwah atau perihal yang berhubungan dengan ajaran agama pada anggota keluarga sendiri memang bukan hal yang mudah. Terlebih jika posisi kita berada dalam pihak yang kurang memiliki peluang untuk didengar, seperti anak kepada orang tua, adik kepada saudara yang lebih tua, ponakan pada paman atau bibi, dan lain sebagainya. Bahkan orang tua sendiri juga bisa jadi tidak mudah menyampaikan ajaran agama pada anaknya yang tidak dibiasakan dari kecil mengikuti ajaran agama.

Sebenarnya saya agak sungkan untuk menulis ini, karena takutnya jadi ujub / riya' / sombong. Meski niat awalnya tidak seperti itu, tapi namanya manusia memang sudah kodratnya ketika melakukan sesuatu yang baik atau bagus sedikit saja, pasti ada rasa bangga jika disebutkan. Ya doakan saja mudah-mudahan saya dijauhkan dari perasaan tersebut. Aaamiin.

Karena saya pikir ini ada bagusnya juga untuk di-share dibandingkan mudharatnya. Tujuannya tidak lain mudah-mudahan metode dakwah yang saya sampaikan dan sudah saya coba ke anggota keluarga bisa efektif juga metodenya buat yang lain. Insyaa Allah. :)

Awalnya sebenarnya tidak ada niatan untuk benar-benar dakwah pada keluarga. Saya sesekali sekedar mengingatkan ketika melihat ada yang kurang-kurang. Oya seperti sudah saya ceritakan di postingan-postingan sebelumnya, keluarga saya tadinya bukan keluarga yang religius yang mengerti betul tentang agama. Apalagi ayah saya seorang muallaf, beliau belum begitu mengerti agama waktu awal-awal. Jadinya kita agak dibebaskan mengenai agama, meski tidak sebebas itu, maksudnya asal tetap beragama Islam dan tidak memeluk agama yang lain, orang tua saya fine-fine saja. Kita sekeluarga dulunya juga tidak begitu paham kalau harus sholat 5 waktu, memakai hijab, dan lain-lain.

Meskipun serba kekurangan dalam hal agama, tapi alhamdulillah kedua orang tua saya tetap menekankan bahwa yang benar tetap berada dalam koridor Islam. Tidak minum alkohol, tidak makan makanan yang haram, dan hal-hal yang prinsip lainnya tetap diajarkan. Tapi untuk masalah ibadah, kita sekeluarga awalnya tidak terlalu paham jadi dibebaskan tidak ada paksaan harus sholat dan lain-lain.

Untuk pendidikan agama, alhamdulillah orang tua saya menyediakan guru ngaji yang tiap minggu datang ke rumah untuk mengajarkan Al-Qur'an pada anak-anak. Saya pribadi tidak disekolahkan di sekolah Islam, karena orang tua saya termasuk tipe orang tua jaman dulu yang memiliki paham sekolah umum lebih bisa mengajarkan disiplin pada anak-anak, meskipun disana tidak ada pelajaran agama Islam.

Saya sendiri baru benar-benar mengenal agama pas kuliah. Kebetulan lingkungan kampus cukup religius yang saya lihat, alhamdulillah saya berkesempatan belajar agama dari teman-teman dan kegiatan pengajian di kampus. Hingga akhirnya saya bisa paham bahwa menutup aurat itu wajib, karena itu saya memutuskan untuk memakai hijab. Progress saya dan anggota keluarga yang lain agak berbeda, di waktu saya pertama kali memakai hijab dulu ayah saya bahkan bilang bahwa hijab itu tidak wajib, hehe. Ya begitulah, Memang agak susah awalnya menjelaskan pada anggota keluarga sendiri, persis seperti yang disampaikan di video di atas.

Terlebih saya termasuk anggota keluarga nomer dua termuda di rumah, jadi kata-kata saya seringkali tidak didengar dan dianggap angin lalu. :(  Sampai sekarang juga masih dianggap seperti anak kecil, pendapat saya bisa dibilang tidak begitu berpengaruh di rumah. Hehee.. Saya sih ga terlalu baper alias bawa perasaan kalau istilah anak jaman sekarang. Hihii, happy go lucky saja biar ga pusing. :D

Awalnya saya tidak pernah punya niatan untuk mengajak keluarga atau dakwah secara khusus ke anggota keluarga. Tapi pas melihat keluarga sendiri agak kurang, misalnya tidak sholat atau belum menutup aurat saya suka risih sendiri, otomatis tiba-tiba jadi bawel ngingetin tiap kali ada kesempatan. Bukan karena merasa lebih baik, tapi saya rasa semua orang seperti itu kodratnya. Kalau melihat ada yang tidak benar atau tidak sesuai menurut standard kita, pasti otomatis langsung berkomentar. Begitu yang terjadi dengan saya di awal-awal. Bawel banget, tiba-tiba jadi cerewet ngeliat ini itu.

Tentunya tidak otomatis langsung pada berubah pas saya ingatkan harus pakai kerudung untuk perempuan, atau harus sholat 5 waktu, sholat Jumat untuk laki-laki, dan lain sebagainya. Tidak jarang juga malah jadi marah, berantem, hanya karena tidak suka diingatkan. Atau cara saya yang kurang halus mengingatkannya. Saya malah jadi suka sedih sendiri kalau keluarga saya tidak melakukan apa yang saya harapkan, meskipun itu pada dasarnya adalah sesuatu yang baik. Atau wajib malah. Tapi saya baru mengerti akhir-akhir ini, kalau waktu itu saya hanya tidak sabaran dan ingin melihat perubahan secara instan. Ya jelas tidak mungkin tentunya.

Akhirnya lama-kelamaan saya menyerah juga, saya biarkan saja keluarga seperti apa adanya. Bukannya tidak peduli lagi, tapi saya pikir mungkin memang mereka belum mendapatkan hidayah dari Allah. Yang namanya hidayah tidak ada yang bisa memaksakan, itu adalah hak prerogatif dari Allah semata. Pada siapa Allah mau membukakan pintu hati untuk menerima ajaran agama adalah kehendak Allah semata. Saya hanya bisa mendoakan jika ada kesempatan semoga Allah memberikan hidayah-Nya juga pada keluarga saya.

Karena progress dalam urusan agama antara saya dan anggota keluarga yang lain tidak sama, saya jadinya lebih fokus untuk belajar agama sendiri dengan teman-teman atau lewat pengajian maupun artikel-artikel.

Entah bagaimana, suatu ketika di rumah waktu itu saya terinspirasi untuk menempelkan kertas cuplikan ayat Al-Qur'an di dinding rumah untuk mengingatkan ayah saya untuk sholat Jumat. Karena waktu itu saya kuliahnya di luar kota, jadi saya pikir saya ingatkan lewat tempelan kertas saja. Siapa tahu dibaca sekali-kali, lalu jadi ingat lama-kelamaan. Eh alhamdulillah, entah bagaimana tiba-tiba sesekali saya lihat ayah saya ikut Sholat Jumat juga. :D Tidak otomatis setelah saya tempel tulisannya terus besoknya langsung sholat, hehe, agak lama juga waktu itu. Saya ingat sampai kertasnya agak dekil di dinding pas pertama kali saya lihat ayah saya ikut Sholat Jumat.

Sebenarnya dulunya sebelum kuliah saya juga tidak mengerti soal kewajiban sholat 5 waktu. Ayah saya yang duluan mengerjakan sholat meski belum 5 waktu juga. Tapi dulu saya sering lihat sebelum mengantarkan anak-anak sekolah, pagi-pagi pasti ayah saya sholat dulu. Saya sampai sering ngomel-ngomel karena sholatnya lama jadi suka telat. Jahat banget sih kalau dipikir-pikir, kenapa dulu saya gitu ya. Hehe.. jadi malu sendiri.

Terus lanjut ke anggota keluarga yang lain. Karena sering melihat saya pakai kerudung dan jadinya terlihat lebih bagus, beberapa waktu kemudian entah bagaimana anggota keluarga saya yang lain satu-satu mulai mengenakan kerudung juga. Mungkin terinspirasi melihat gaya saya yang lumayan stylish jadi bikin yang lain penasaran ingin mencoba. Hehe.. kegeeran banget ya. Yang pasti alhamdulillah karena Allah memberikan hidayah jadi anggota keluarga yang lain sedikit demi sedikit mulai terbuka hatinya untuk menerima ajaran agama.

Nah untuk urusan sholat, itu memang susaaah banget. Apalagi baca Al-Qur'an. Itu paling sulit untuk mengajak orang agar mau ikutan sholat atau mengaji. Jadinya saya bisa dibilang hampir tidak pernah mengingatkan yang lain untuk sholat. Karena sensitif untuk masalah sholat, kalau disinggung dikit bisa jadi berantem. Ujung-ujungnya pasti dibilang merasa lebih baik, lebih sholeh, dan lain sebagainya. Jadi saya cari yang aman saja, biar tidak pada tersinggung juga jadi saya lebih memilih untuk sholat sendiri saja. Cuma pas sekeluarga lagi jalan-jalan bersama dalam satu kendaraan, ketika masuk waktu sholat saya usahakan untuk minta berhenti sebentar di Masjid atau Pom Bensin untuk melaksanakan sholat. Itu saja kadang-kadang suka berantem karena makan waktu dan merepotkan, tapi untuk urusan yang satu ini saya agak keras kepala dan kekeuh untuk minta waktu sebentar mengerjakan sholat. Kalau tidak dikasih, saya kadang-kadang suka bilang ditinggal saja saya tidak jadi ikutan pergi bersama. Saya lebih memilih mengerjakan sholat karena itu kewajiban dibanding pergi bersama keluarga. Akhirnya karena pada capek juga berantem, lama-lama yang lain jadi terbiasa dengan request spesial saya yang satu ini kalau lagi pergi bareng. Mau tidak mau yang lain toleransi untuk menyediakan waktu untuk mengerjakan sholat. Pilihan tempatnya antara Pom Bensin, Masjid, Supermarket, atau Mall.

Entah bagaimana, setelah agak lama waktu berlalu, saya melihat satu demi satu anggota keluarga saya ada yang sholat juga alhamdulillah.... :') Meski belum terlalu sempurna, tapi setidaknya ada keinginan sholat. Hehee... antara senang dan terharu. Karena keluarga saya asalnya bukan keluarga yang religius, kita tidak punya sosok yang benar-benar paham mengenai ajaran agama di dalam keluarga untuk bisa membimbing secara khusus. Jadi semuanya pada belajar masing-masing. Kita juga bukan tipe keluarga yang suka datang ke pengajian, jadi paling kita baca-baca dari buku panduan agama saja atau tanya-tanya ke teman atau saudara.

Satu-satunya harapan supaya bisa mengerti ajaran agama ya hanya hidayah semata dari Allah SWT. Alhamdulillah Allah berbaik hati membukakan pintu-pintu untuk bisa mengenal agama.

Oya baru-baru ini saya agak tertarik mengenai produk-produk halal. Sejak baca-baca dikit mengenai perihal halal dan haram, saya jadi lebih concern ketika mengkonsumsi atau menggunakan suatu produk. Awalnya keluarga saya melihat saya agak ekstrim, karena saya hanya mau makan makanan atau produk yang sudah bersertifikat halal. Saya dibilang berlebihan, terlalu strict, dan lain sebagainya. Tapi saya jelaskan tiap kali ada kesempatan, bahwa produk yang sudah bersertifikat halal itu sudah melalui proses pengecekan dan mungkin juga pengujian di laboratorium oleh para ahli di bidangnya (ahli pangan, ahli kimia, obat-obatan, dll), jadi lebih terjamin kehalalannya. Produk yang sudah bersertifikat halal lebih aman untuk dikonsumsi karena sudah dicek oleh para ahli. Bahkan saya pernah dengar kalau tidak salah, salah seorang ahli di bidang halal dari luar negeri mengatakan bahwa produk yang halal lebih sehat untuk dikonsumsi. Saya coba tekankan pengertian ini tiap kali menjelaskan ke keluarga saya. Awalnya pada risih dan kesal tentunya kenapa sampai makanan, sabun, odol, dll harus ada logo halal MUI-nya. Kalau ga ada logonya, saya lebih memilih tidak makan atau cari makanan yang lain. Tidak sekali dua kali saya dibilang ekstrim gara-gara hal ini, hehehe...  Tapi lama kelamaan keluarga saya mulai terbiasa, tiap kali habis belanja dari luar dan membawakan makanan pasti mereka meyakinkan saya biar ikut makan, "itu udah ada logo halal-nya kok." Hehe... :D

Ternyata segala sesuatu kalau dibiasakan bisa terbiasa juga. Bukan karena sulit, tapi karena tidak terbiasa terkadang kita menolak sesuatu yang baru meskipun itu baik dan benar. Karenanya dalam dakwah kita dianjurkan untuk sabar dan menunggu hingga saatnya Allah membukakan pintu hati dan hidayah-Nya untuk orang-orang yang kita kasihi.

Mungkin untuk lebih mudah dipahami dan lebih singkat, saya berikan poin-poin metode penyampaian dakwah pada keluarga kita sendiri yang sepertinya cukup efektif :

  • Konsisten. Ketika kita mengatakan sholat itu wajib, kita harus bisa menunjukkan konsistensi dalam mengerjakan sholat 5 waktu itu sendiri. Atau ketika kita mengatakan bahwa kita harus makan makanan yang halal, kita sebisa mungkin konsisten untuk makan atau mengkonsumsi produk yang ada logo halalnya saja. Sekali kita tidak konsisten, orang yang melihat akan mengira jika tidak dilakukan tidak apa-apa. Bahkan bisa dikira sunnah / tidak wajib.
  • Antusias dan bersemangat. Ketika mengerjakan sesuatu, usahakan kita terlihat antusias ketika mengerjakannya. Contoh ketika kita berusaha untuk menyampaikan bahwa hijab yang benar itu yang menutupi dada dan tidak menerawang, sebisa mungkin kita tunjukkan antusiasme kita bahwa hijab yang benar bisa juga terlihat bagus dan stylish. Tidak kuno atau terlihat terlalu ekstrim seperti persepsi yang sudah terbentuk di masyarakat. Ketika kita terlihat bersemangat dalam mengerjakan sesuatu, orang-orang akan penasaran dengan apa yang kita lakukan.
  • Logis dan ada manfaatnya. Misalnya ketika kita menyampaikan kenapa harus mengkonsumsi yang halal, kita harus bisa menjelaskan karena yang halal lebih sehat untuk badan kita dan sudah dicek oleh para ahli di bidangnya jadi lebih terjamin. Atau kenapa harus memakai hijab, tidak lain karena itu lebih baik bagi perempuan supaya tidak diganggu.
  • Happy go lucky. Jangan gunakan emosi ketika menyampaikan sesuatu, meskipun yang kita sampaikan adalah kebenaran tapi jika kita menyampaikannya dengan cara yang kurang enak di hati, maka apa yang kita sampaikan tidak akan pernah bisa diterima. Jadi sebisa mungkin gunakan cara yang baik dalam menyampaikan sesuatu, kalau tidak bisa diterima jangan marah. Kita sebisa mungkin tunjukkan sikap nothing to lose, kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Secara psikologi, ketika melihat ada orang yang nothing to lose, kita justru akan semakin penasaran.
  • Iklan. Gunakan media untuk memasarkan dakwah kita. Contoh seperti cerita saya di atas ketika mengingatkan ayah saya untuk Sholat Jumat, saya menggunakan media poster di dinding yang saya buat sendiri dari kertas A4 yang tulisannya saya print pakai printer di rumah. Usahakan tulisannya jangan terkesan mengerikan seperti kalau tidak sholat akan disiksa di akhirat nanti, walaupun memang benar seperti itu kenyataannya tapi kalau saya sendiri melihat ada tulisan yang seperti itu di rumah pasti diam-diam akan saya copot tulisannya. Karena jujur saya sendiri seram baca yang seperti itu. Lebih baik gunakan bahasa yang persuasif / mengajak dan tidak terkesan memaksa. Atau yang netral pakai ayat Al-Qur'an saja, lebih jelas dan terpercaya sumbernya.
  • Baca Al-Qur'an. Pernah dengar kisah Umar bin Khattab yang tersentuh hatinya ketika mendengar bacaan Al-Qur'an hingga akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam? Saya sendiri ketika mendengar bacaan Al-Qur'an dilantunkan dari speaker masjid seringkali suka terharu sendiri, begitupula ketika mendengar lantunan dzikir tidak jarang tiba-tiba jadi berkaca-kaca padahal tadinya tidak kenapa-kenapa. Karena bacaan Al-Qur'an adalah kalam Allah, karena itu ia mampu menyentuh kalbu. Rutinkan membaca Al-Qur'an di rumah, mudah-mudahan jika ada yang mendengar akan tersentuh pula hatinya. Insyaa Allah.
  • Sabar menunggu. Setelah semua usaha kita coba, saatnya kita sabar, menunggu, dan berdoa hingga Allah berikan hidayah-Nya.


Ini hanya sedikit tips-tips yang mungkin bermanfaat dan bisa dicoba ketka menyampaikan dakwah pada keluarga. Mudah-muudahan jika Allah berkehendak, Allah bukakan pintu hati anggota keluarga kita atau orang-orang terdekat kita pada ajaran agama. Insyaa Allah, aamiin.

Semangaaat! :)


Posted by Mariana at 2:58 AM 0 comments
Labels: family matters, hikmah, inspirasi, review, tausyiah

17 December 2015

Favorite Authors

Recently my friend just tagged me in facebook to write 15 authors of my favorite. It's quite fun because these days people in this generation started to forget to read books. So I think it's pretty smart to ask people to write in their status whose their favorite authors are to remind us again there are many authors have written so many good books to read out there. Books are the window to open our mind to see the world.

So here's the list of mine......

My favourite authors :
1. Dan Brown (suka bgt Inferno sama Da Vinci Code-nya)
2. Habiburrahman El Shirazi (bisa bgt ngegabungin novel roman, sejarah, & fikih)
3. Hanum Salsabila Rais (abis baca bukunya lgsg pengen jalan2)
4. Ika Natassa (cerita2nya cosmopolitan bgt, fresh)
5. Erwandi Tarmizi (penulis buku fikih muammalah, jarang yg ahli di bidang ini)
6. Agus Mustofa (bukunya mostly about science and religion)
7. Paulo Coelho (dalem banget tulisannya, alchemist still the best)
8. Sophie Kinsella (novel girly buat yg suka shopping, haha)
9. Pramoedya Ananta Toer (what a legend!)
10. J.K. Rowling (ga pernah baca bukunya, tp suka bgt nonton harry potter)
11. Dewi Lestari (satu2nya yg pernah dibaca baru Madre, tp lgsg suka gaya ceritanya, jd pengen baca semua novelnya dr supernova, petir, rectoverso, dll)
12. Hermawan Kartajaya (Marketing in Venus is my favorite)
13. John C Maxwell (The Right To Lead is a must-read piece)
14. Raditya Dika (buku2nya bs jd teman yg menghibur di saat galau, hahaha)
15. Felix Siauw (bagus bgt buku2 dakwahnya karena disertai grafis2 yg menarik, terutama buku "Yuk Berhijab!" inspiring bgt)

And of course on top of everything, my one and only favorite book all the time, written by The Greatest Author in the entire universe, which I'll keep reading over and over again, insyaa Allah, will always be Al-Qur'an.

:)

So what's yours?
Posted by Mariana at 1:31 AM 0 comments
Labels: inspirasi, kata-kata, review, selingan, wonderful

08 March 2014

Business In 3 Words

Saya mendapatkan nasehat bisnis yg sangat bagus dan begitu simpel di radio kesukaan saya, Brava Radio. Nasehat ini didapatkan dari seorang narasumber yg berprofesi sebagai wirausahawan, namun saya lupa namanya mohon maaf. :D

Nasehat dari beliau simpel sekali, bisnis bagi beliau dalam 3 kata yaitu :
"DO YOUR BEST"

Ketika menjalankan sesuatu, apapun itu, pastikan bahwa kita sudah melakukan yg terbaik yg kita bisa. Hasilnya seperti apa kita serahkan saja kepada Allah SWT. Karena semuanya semata-mata adalah dengan seijin-Nya maka bisa terjadi. Meskipun kita sudah melakukan yg terbaik, bisa saja tidak berhasil jika tanpa seijin Allah SWT. Apalagi jika kita tidak melakukan yg terbaik. :)

So, do your best that you can do! Semangaat!!

Posted by Mariana at 6:58 PM 0 comments
Labels: cuap-cuap, inspirasi

21 June 2013

Stand Up For The Truth

I just watched a very inspiring movie that based on a true story. It's "A Civil Action".

The movie told about Jan Schlichtmann, a lawyer (casted by John Travolta), who tried to defend a small group of people in Woburn area, New England, against a big industry who contaminated the environment by the toxic waste which caused illness to death to several people who lived there. The industry dumped the toxic chemical waste to a nearby river and canal that connected to the neighborhood. Since the houses there certainly using tap water for drinking, so in a very short time it spoiled their immune system.

In the process of defending people of Woburn, the attorney had to spend everything they have to run the case. They needed to fund themselves with everything they have until nothing left, worse they had to borrow a big sum of money and even mortgaged all properties. Their objective was to make the industry admit their mistake and give compensation to the victims as an apology.


But as we know, defending the right thing is not that easy...

Jan Schlichtmann should face the mean and dirty world of court law.

Jerome Facher: What's your take?
Jan Schlichtmann: They'll see the truth.
Jerome Facher: The truth? I thought we were talking about a court of law. Come on, you've been around long enough to know that a courtroom isn't a place to look for the truth.
(conversation between Jan as a prosecutor of Woburn people & Facher as an attorney of defense for the industry)

Then after, he lost the case.

James Gordon: [Regarding the case and the following settlement] Mrs. Anderson, you're looking at four guys who are broke. We lost everything trying this case.
Anne Anderson: How can you even begin to compare what you've lost, to what we've lost.
(conversation between the prosecutors and the victims)

And then Jan began to drown in a debt and even worse, his partners gave up and left him. He's the only one who still have faith to defend the truth no matter what it takes.

In the trial to appeal the case, he tried all by himself with everything left. He didn't give up on the case. As a lawyer, of course he had a chance to earn money from the case he's been doing aside from whether he win the case or not. Facher, the attorney of defense for the industry, did offer him a big sum of money to push him giving up, while waiting for the judge's decision. It's about 10 million grand. But he burnt the offer.

“Rich and famous and doing good," mused Schlichtmann. "Rich isn't so difficult. Famous isn't so difficult. Rich and famous together aren't so difficult. Rich, famous, and doing good--now, that's very difficult.” 

Though he's all by himself, no money, no partner, not enough resources, only idealism and faith he's got, he suddenly found his way by giving up in the last attempt. He collected the witnesses, ask for their testify, and the last thing he's surrendered by writing to the environment protection from government side to ask for a sympathy and a help. Not long from there, the case was opened again, the truth revealed by showing some evidences, and at the end... he won the case!

What I found interesting from the movie is at the last part when Jan had a conversation with a woman who interviewed him about his wealth :

Kathy Bates (the Bankruptcy Judge): Mr. Schlichtmann,? Mr. Schlichtmann?
John Travolta: I'm sorry. Yes?
Kathy Bates: The purpose of these questions is not to embarrass or humiliate you but, rather, to verify the information that you have declared as your assets. 
John Travolta: I understand.
Kathy Bates: Because what you are asking your creditors to believe with this petition. Well...well, it's hard to believe...
John Travolta (with a chuckle): I know.
Kathy Bates: ...that after seventeen years of practicing law, all you have to show for it is $14 in a checking account and a portable radio? 
John Travolta: That's correct.
Kathy Bates: Where did it all go?
John Travolta: The money?
Kathy Bates: The money, the property, the personal belongings? The things one acquires in one's life, Mr.Schlichtmann. The things by which one measures one's life? 
[Long, silent pause with the camera focused on Travolta]
Kathy Bates (sighing): What happened?
[Another long, non-verbal pause and then the screen fades to black]

Later on, Jan Schlichtmann became a well-known lawyer who defends on environmental cases in New England. And though it takes years for him to pay the debt, but one thing for sure is he got his pride and stood bravely for his idealism.

By seeing this movie, I just want to say that no matter what happened, the truth will reveal sooner or later. So do as best as we can to stand for the truth as the truth will defend us one day, and do the right thing while we still alive. Don't sacrifice your idealism for money even it's very hard at the beginning and we will be tested for our own faith. Instead, give all you've got even it takes everything you have to do what you should do.


Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berbuat tidak adil, berlaku adillah karena adil lebih dekat kepada takwa, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
— al-Maa’idah [5]: 8


Posted by Mariana at 1:19 AM 0 comments
Labels: hikmah, hot stuff, inspirasi, review

11 June 2013

Being Loved Gives You Strength, Loving Makes You Brave

Yesterday morning I watched a very touching reality show in KBS, Korean TV Station, that's showing about everyday's life of a cancer sufferer. She's a cheerful lady, named Jin Suk, aged about thirty something. When you see her, you won't ever think that she's having a heart and lung cancer, because she loves to smile and looks very energetic. :)

The positive life spirit in her doesn't come just like that. I may say that she's lucky. Aside from her illness, she's having a loving husband who takes a very good care of her. That what keeps her alive I think, amazingly. Everyday her husband cook her some healty food, preparing the medicine, giving massage, having a routine small conversation in the middle of activities, taking her for therapy session, and even more he's doing a construction work with his own hand to build her somewhat like a small pavilion to keep her warm from time to time. And he's doing it all the time by himself wholeheartedly. Oh dear, how envy I am..

And not only that, he even quited from his job beforehand to take care of her. Another thing that makes me amazed as well is that, she looks just like an ordinary woman, even now she lost her hairs due to some therapy I think. But her husband sincerely able to flatter her with words like saying that he's having a beautiful wife, calling her with miss that reminds her of their old times before married, and many others just to cheer his wife up.

I almost shed tears.. :')

It's 360 degrees from what I usually see. My family's not a kind of family that usually show our feelings to each other. We often fight and argue to show our careness, instead of being affectionate. Different family different ways for sure. Well but I prefer those couple's way of showing careness if I may choose, it's more warm and soothing. Isn't it?!? :P

These days when I often think that I better die, I don't wanna live long, I just want to vanish, then suddenly seeing those people wants to live so badly.. I feel a bit guilty. :-/ But hey, they have a reason to live. Well I do as well, of course (sounds like denying, yea right)... it's just that I'm not motivated that well. I'm so sorry dear God.. :'( for still needing small things from this world which could be huge to me. 

Anyway, I remember some inspirative words came from them, which might be what they have been learned from their life and keep them positive : 

"Be happy today to be happy tomorrow. If you happy today, tomorrow you will be happy. If you sad, tomorrow you will be sad." 
"Instead of thinking how many days still left to stay alive, better I think how to enjoy the life as I can."


I just read a proverb of Lao Tzu saying that "Being loved gives you strength, Loving makes you brave", I think it's true. Obviously after watching this TV show. So, keep in love and enjoy the life! ;)



Posted by Mariana at 2:32 AM 0 comments
Labels: family matters, hikmah, inspirasi, wonderful

07 October 2011

Kayalah Lalu Masuk Surga! (Sharing Article)

Orang yang suksus mengelola harta adalah orang yang dengan hartanya justeru semakin rendah hati dan menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan atau amanah dari Allah. Abdurrahman bin ‘Auf yang padahal termasuk orang yang dijamin masuk surga pernah berlinang air mata saat dirinya siap menyantap hidangan lezat yang ada di hadapannya. Ketika ditanya penyebab ia menangis, ia menjawab, “Aku takut hanya yang kunikmati di dunia inilah yang menjadi ganjaranku dari Allah.”


http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/09/kayalah-lalu-masuk-surga.html


Kayalah Lalu Masuk Surga!

Oleh: Rikza Maulan, M.Ag 


dakwatuna.com - Dari Abi ‘Abdillah Tsauban Bin Bujdad bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Dinar yang paling utama yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk kendaraannya di jalan Allah, dan dinar yang ia infakkan untuk rekan-rekannya (yang tengah berjuang) di jalan Allah.” (Muslim)

Dalam kitab Nuzhatul-Muttaqin (syarah Riyadush-Shalihin karya Imam An-Nawawi) disebutkan, hadits itu menjelaskan peringkat keutamaan pengeluaran harta (infak) bahwa memberi nafkah kepada keluarga merupakan infak yang paling mulia. Dalam hadits lain disebutkan:

“Dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk (mememerdekakan) hamba sahaya, dinar yang engkau infakkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau infakkan untuk keluarga, yang paling utama di antara semua itu adalah dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu.” (Muslim)

Ke manapun alokasinya, yang jelas seseorang tidak mungkin dapat berinfak jika tidak memiliki harta. Lebih-lebih jika kita mencermati ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan kita terlibat dalam jihad. Selalu saja disandingkan antara kewajiban berjihad dengan jiwa dengan kewajiban berjihad dengan harta. Bahkan dari semua ayat yang memerintahkan kita berjihad dengan harta dan jiwa, berjihad dengan harta selalu didahulukan kecuali pada satu ayat saja yakni ayat 111 surah At-Taubah, yang maknanya:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka dengan mendapatkan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.”

Selebihnya, hartalah yang disebut terdahulu. Perhatikan ayat-ayat berikut:

“Wahai orang-orang yang beriman, inginkah kalian aku tunjukkan pada suatu perniagaan yang menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih. Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kalian berjihad di jalan Allah denganh harta dan jiwa kalian.” (Ash-Shaf: 10-11)

Ini diperkuat dengan adanya kewajiban zakat. Dalam urusan yang satu ini memang ada kesalahan persepsi pada sebagian kaum muslimin. Kewajiban zakat sering dipahami begini: kalau punya harta, zakatlah; kalau tidak punya, tidak usah mengeluarkan zakat. Secara fiqih, pemahaman itu sangat benar. Tapi semangatnya bukanlah semangat kepasrahan pada keadaan. Semangat perintah zakat harusnya dipahami: carilah uang, kumpulkanlah harta agar dapat melaksanakan perintah Allah yang bernama zakat. Seharusnya kita membawa semangat shalat untuk diterapkan pada zakat. Kita selalu berpikir kita harus bisa melaksanakan shalat dengan segala perjuangan yang menjadi konsekuensinya. Dari mulai mencari penutup aurat, mencari tempat shalat, menentukan arah kiblat, mensucikan diri, dan seterusnya.

Itu semua mematahkan anggapan yang masih dianut sebagian orang bahwa kesalihan dan ketakwaan identik dengan kepapaan, kemelaratan, kesengsaraan, dan ketertindasan. Seolah-olah hanya orang miskin, jelata, dan tertindaslah yang layak menghuni surga. Sebaliknya orang kaya dan orang yang punya jabatan tidak punya tempat di surga. Ini diperparah dengan sering disitirnya hadits-hadits dha’if (lemah) atau bahkan maudhu’ (palsu) yang memberikan pesan untuk menjauhi dunia sejauh-juahnya demi mencapai ketakwaan dan kesucian jiwa. Atau mungkin juga menyitir hadits shahih tentang zuhud dengan pemahaman yang salah.

Zuhud tidaklah identik dengan melarat. Zuhud adalah kepuasaan hati dengan apa yang diberikan Allah swt. Zuhud adalah ketiadaan ikatan hati kepada kekayaan. Bahwa sambil merasa puas dengan apa yang Allah berikan dan sambil meniadakan ikatan hati dengan harta seseorang memiliki harta dan jabatan, tidaklah menafikan sifat zuhud.

Utsman Bin ‘Affan adalah konglomerat dan kaya raya. Beliau termasuk sahabat Nabi saw. yang dijamin masuk sorga. Demikian pula halnya dengan ‘Abdurrahman Bin ‘Auf. Beliau sukses dalam bisnis dan menjadi saudagar kaya raya. Toh beliau juga termasuk yang dijamin masuk surga. Umar Bin ‘Abdul-‘Aziz, khalifah yang kaya raya. Tapi justeru dia termasuk orang zuhud.

Posisi harta dalam Islam sama dengan posisi kemiskinan: sebagai ujian bagi manusia. Dengan kekayaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kekayaan pula orang bisa masuk neraka. Dengan kepapaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kepapaan pula orang bisa masuk neraka. Semuanya ujian! Allah swt. menegaskan:

“Dan Kami coba kalian dengan keburukan dan kebaikan, (semuanya) sebagai ujian.” (Al-Anbiya: 35)

Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya dunia itu manis dan menghijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya untuk melihat (menguji) bagaimana kalian bekerja. Maka berhati-hatilah dengan dunia dan berhati-hatilah dengan wanita. Karena sesungguhnya fitnah Bani Israil adalah pada wanita.” (Riwayat Muslim)

Jadi, orang yang saleh bukanlah orang memilih meninggalkan harta melainkan yang lulus dalam ujian mengelola harta itu. Seseorang dianggap lulus ujian dalam urusan harta manakala:

* Hanya menempuh cara halal untuk memperoleh harta.

Pada hari kiamat, setiap orang akan diminta pertanggungjawaban terkait dengan hartanya, dari manakah ia memperolehnya dan dengan cara apa? Ini batu ujian pertama. Rasulullah saw. bersabda:

Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman seperti yang diperintahkan kepada para rasul. Dia berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari yang baik dan beramal salehlah karena sessungguhnya Aku mengetahui apa yang kamlian lakukan’. Dia juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik dari yang Kami rezekikan kepada kalian’.” Lalu Rasulullah saw. menerangkan tentang orang yang mengadakan perjalanan panjang, kusut masai dan berdebu. Ia mengadakahkan kedua tangannya (berdoa) ke langit (sambil mengatakan): Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dari yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan.” (Muslim)

* Harta itu tidak menyebabkan sombong

Orang yang suksus mengelola harta adalah orang yang dengan hartanya justeru semakin rendah hati dan menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan atau amanah dari Allah. Abdurrahman bin ‘Auf yang padahal termasuk orang yang dijamin masuk surga pernah berlinang air mata saat dirinya siap menyantap hidangan lezat yang ada di hadapannya. Ketika ditanya penyebab ia menangis, ia menjawab, “Aku takut hanya yang kunikmati di dunia inilah yang menjadi ganjaranku dari Allah.”

* Menjadi fasilitas untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik harta yang saleh adalah yang ada pada orang saleh.” Beliau juga memerintahkan kepada kita, “Jauhkanlah dirimu dari neraka walau dengan hanya sebelah kurma.”

* Menjadi fasilitas untuk silaturahim.

Infaq adalah baik. Dan infaq kepada kerabat adalah lebih baik lagi. Karena selain bernilai taqarrub, perbauatan itu juga merupakan upaya silaturahim. Rasulullah saw. bersabda, “Shadaqah kepada orang misikin adalah satu shadaqah dan shadaqah kepada orang yang punya hubungan rahim (kerabat) adalah dua shadaqah: shadaqah dan shilah (menyambungkan).” (At-Tirmidzi)

* Menjadi fasilitas untuk perjuangan.

Perjuangan Islam jelas tidak mungkin tanpa dukungan finansial. Kekuatan orang-orang kafir harus dihadapi dengan kekuatan optimal kaum muslimin. Dan ini tentu saja salah kekutan itu adalah kekuatan maliyyah (finansial).

Itulah sebagian ajaran Islam yang terkait dengan kekayaan. Jadi, menjadi orang kaya, siapa takut? Allahu a’lam.

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/kayalah-lalu-masuk-surga/
Posted by Mariana at 11:00 PM 0 comments
Labels: hikmah, inspirasi, tausyiah

22 August 2011

Mencari Arti Kebenaran

Ingin sedikit bercerita, kehidupan saya saat ini begitu dekat dengan keduniawian. Saya hampir sulit untuk percaya pada kebenaran yang selama ini saya yakini. Kedekatan saya dengan material membuat saya mempercayai bahwa dunia besar kecilnya ditentukan oleh material. Yang tentu saja bertolakbelakang dengan keyakinan saya bahwa hidup ini bukan ditentukan oleh dunia yang kasat mata saja. Tapi saya hidup di dunia yang menjunjung tinggi nilai material dan hal-hal yang terlihat baik di mata manusia.

Jika saya boleh berkata, bahwa keyakinan yang bagi sebagian besar masyarakat metropolis adalah konservatif, yaitu kepercayaan akan agama, hampir bahkan nyaris terkikis oleh kesibukan duniawi. Mungkin saya harus berucap, "Innalillahi wa innailaihi raaji'un" untuk kematian hati nurani. Ini lebih menyedihkan dibanding kehilangan semua harta didunia. Karena di dalam hatimu, disitu tersimpan hartamu yang tak bisa dibeli oleh mata uang apapun. Dimana hatimu, disitulah rumahmu. Ketika kita tak bisa mendengar hati kita karena tertutup penilaian material dan pakem sosial, tak heran nenek moyang kita berujar bahwa kita akan tersesat. Pergi kemanapun kita akan merasa kehilangan arah. 

Dahulu kala, ketika saya benar-benar baru mengenal agama, saya merasa diri ini sudah baik. Saya bisa berdakwah, menasehati orang lain ini itu agar mengkuti jalan yang benar menurut saya. Dengan energi dan semangat yang meluap karena kecintaan akan keyakinan saya, membuat saya merasa pantas untuk yakin bahwa saya dekat dengan-Nya. Astaghfirullah jika saya pikir-pikir lagi saat ini. Siapakah saya bisa mengklaim kedekatan dengan Ilahi. Dan betapa polosnya pikiran saya saat itu. Tapi justru kepolosan itu membuat saya rindu saat ini. Karena saat itu entah bagaimana iman sungguh terasa menentramkan.

Bagi saya saat ini, untuk melakukan hal tersebut adalah suatu hal yang sangat besar. Saya tidak mampu lagi menyuruh orang untuk berada di jalan yang benar, karena saya sendiri merasa belum sepenuhnya benar. Saya masih banyak kekurangan disana-sini. Jika saya diminta untuk berdakwah, tentu saja saya tidak akan mampu. Perjalanan waktu membuat saya harus kembali ke titik nol. Dimana saya harus kembali belajar dari awal tentang baik dan buruk. Saya tidak ingin lagi terlalu memaksakan seseorang untuk beribadah, karena saya sadar bahwa ibadah itu adalah urusan pribadi manusia dengan Tuhannya. Cukup ia dan Tuhannya yang tahu. Kalau manusia tahu, yang ada hanya prasangka dan menghakimi saja yang muncul. Manusia tak dapat berlaku adil seperti Yang Maha Adil. Kita hanya dapat mengajak sesama manusia untuk berada dalam kebaikan, tapi keputusan adalah urusan pribadi. Itu yang saya pegang untuk saat ini. Dan sungguh yang namanya hidayah hanya Allah yang punya Hak Prerogratif kepada siapa Ia akan memberikan. Sebesar apapun usaha kita untuk mengajak, jika Allah belum berkehendak, maka memang belum saatnya.

Berbicara tentang hidayah, seketika saya jadi ingin membahas mengenai jilbab. Menggunakan atribut keagamaan yaitu jilbab dan pakaian yang tertutup, bagi saya adalah beban tersendiri. Karena kita diharapkan mampu untuk memenuhi ekspektasi masyarakat akan anggapan mengenai wanita berjilbab. Bukan hal yang mudah. Karena stereotipe yang sudah terbentuk saat ini, wanita yang berjilbab memiliki cap baik, shaleh, dan berbagai anggapan seperti malaikat lainnya yang terpatri. Jika kaum jilbabers sedikit saja salah berbusana, atau mungkin ada tingkah laku yang tidak baik menurut masyarakat, maka mereka akan dituding memperburuk citra agama. Bahkan untuk seorang wanita berjilbab yang begitu syar'i pakaiannya, tidak luput dari pandangan masyarakat yang merasa ia terlalu 'ekstrim'. Beratribut agama di jaman ini bukan suatu hal yang mudah. Menjadi orang baik adalah tuntutan terbesar bagi kami. Dimana hal ini musti saya jawab dengan frase klasik bahwa kami hanyalah manusia. Kesempurnaan bukan milik kami. Kesempurnaan dan kebaikan hanyalah di sisi Allah semata. Kami hanya berusaha untuk menjadi muslimah yang bertakwa.

Sedikit berbicara tentang kebaikan, diri ini jadi teringat ceramah dari Ustad Wijayanto kemarin hari di sebuah masjid. Ia bercerita, pada suatu masa di jaman Rasulullah, ada seseorang bertanya pada Rasul bagaimana jika ia tidak hafal Al-Qur'an dan Al-Hadits, apa yang bisa ia ikuti untuk menjadi pegangan hidupnya. Lalu Rasul menjawab, pada dasarnya setiap manusia memiliki hati nurani. Tanyalah pada hati nuranimu ketika kau hendak melakukan sesuatu. Pak Ustad menambahkan bahwa kita bisa berbohong pada siapa saja, tapi tidak pada hati nurani kita. Gelisah atau tidaknya hati nurani menentukan apakah apa yang kita lakukan benar atau tidak. Seseorang bisa tidak mengerti apapun di dunia ini asal dia mengikuti hati nuraninya, maka ia akan menjadi orang yang baik. Subhanallah.

Semua perjalanan hidup hingga saat ini menyadarkan saya bahwa saya selalu berjalan untuk dekat dengan kebenaran yang sebenarnya berada sangat dekat dengan diri ini. Tapi sudah sulit untuk dirasakan. Mungkin saya harus mengikis segala sifat berbangga-bangga, tidak sabar, penuh prasangka, dan segala penyakit hati yang belum terobati agar bisa mendengar hati nurani saya. Saya ingin sekali kembali ke jaman dahulu kala dimana kehidupan pribadi kita tak ada keharusan untuk dipublikasikan. Karena popularitas dan efek publikasi yang berlebih membuat kita jadi tidak bisa membedakan yang mana yang baik dan yang buruk. Penilaian manusia saat ini didasari oleh pakem sosial dan material yang ditunjukkan di media.Yang mana yang menurut publik terpopuler dan banyak diikuti, maka itulah kebenaran. Bukan lagi ajaran kebaikan turun menurun yang diwariskan oleh para pendahulu kita. Mungkin ada baiknya dunia 'mengerem' kecepatan peradaban untuk kembali melihat kebenaran yang hakiki. 

Tahun 2012, tahun dimana banyak desas-desus terisukan dari ilmuwan bahwa badai elektromagnetik dari matahari akan melanda bumi ini, menimbulkan sebuah tanda tanya yang besar. Apa jadinya jika manusia tanpa elektromagnetik? Apa dunia ini tanpa elektronik? Akankan kita menjadi manusia berhati nurani, atau sebaliknya? Tidak terbiasanya kita menggunakan hati nurani akan membuat kita menggunakan insting hewani, yang kuat yang menang. Akankan manusia menemukan kembali kebenaran di dalam keterbatasan?

Wallahu'alam bishowab. Maha Besar Allah akan segala kebenaran di sisi-Nya.

Posted by Mariana at 12:28 AM 0 comments
Labels: cerita-cerita, hikmah, inspirasi, kata-kata, tausyiah

26 August 2010

Tips Superrrr of The Day

Hari ini mendapatkan kata-kata penuh energi dari Pak Mario Teguh. Subhanallah, Indonesia memiliki seseorang dengan personaliti yang LUARRR BIASA. Berikut cuplikan-cuplikan penyemangat beliau:

Posted by Mariana at 12:30 AM 0 comments
Labels: hikmah, inspirasi, kata-kata, review, tausyiah

06 December 2009

Accidentally Beautiful


Unintentionally colors came from an accident incident when I tried to pull off the filter from a halogen lamp in Gobo reflector. The filter was slipped from my hand, then it fell down in the armature at a slant angle. Then voila! Suddenly these colors showed up.

Well actually the filter color is blue. And the halogen lamp color is yellow or 3000 Kelvin. So it's kinda surprise when we see the purple as a mix of those two colors.

Anyway, it's just nice. Not everything nice should be happened by a plan, right? It's often found that a great idea just went from an unintentionally incident that became a start of inspiration. That's what we call, original!

Posted by Mariana at 8:20 AM 0 comments
Labels: inspirasi, kerja dan belajar

27 September 2009

Tips SUPER

Malam ini baru saja saya menyaksikan tayangan Golden Ways-nya Mario Teguh bersama dengan keluarga. Tema yang dibahas yaitu tentang Stairway to Heaven atau jalan menuju surga. Dari tayangan itu, saya mendapatkan tips-tips SUPERRR! :D

Wanna know? Check this out!

  • Ketika kita mencintai Sang Pencipta, maka kecintaan kita padaNya harus dibuktikan. Dengan menjalankan ibadah wajib, juga dengan memuliakan saudara. Karena Ia berfirman, "Jika engkau mencintaiku, maka muliakanlah saudaramu". Salah satunya dengan cara bersikap baik terhadap mereka, memberikan senyuman, dan menanyakan kabar. Jangan sampai kita hanyut dalam zikir, tapi diluar sana ada keluarga yang tidak terurus. Jadikan kegiatan ibadah dan memuliakan saudara seimbang.

  • Orang yang keras justru memiliki kepribadian dan pendirian yang kuat bila dibentuk. Ibarat pisau, bahan pembuatnya akan lebih kuat baja dibanding tembaga ketika ditempa. Namun, baja yang terlalu keras tidak akan digunakan karena tidak bisa dibentuk. Orang yang memiliki karakter keras ini (contohnya pribadi yang cenderung emosional, suka membangkang), harus membiarkan dirinya dibentuk oleh orang yang kuat agar bisa menjadi pribadi yang mantap. Biasanya orang-orang yang keras seperti ini, ketika dia memegang pendapat yang benar, maka segala bujuk rayu, uang, jabatan, tidak akan menggoyahkannya. Mereka cenderung lebih konsisten. Menurut Mario Teguh, kebanyakan orang-orang sukses, dulunya adalah anak-anak yang nakal, suka membantah, dan tidak menurut. Tapi ketika mereka telah diasah dan melalui berbagai tempaan, mereka menjadi orang-orang yang luar biasa.

  • Dimanapun kita menghadapkan wajah, disitulah Tuhan berada. Karena Tuhan ada dimanapun. Karena itu kita harus bertindak seolah-olah Tuhan ada di hadapan kita. Sehingga kita akan selalu ingat untuk bertindak sesuai dengan hati nurani.

  • Tanda bila kita berada di jalan yang benar, yaitu ketika kita menjalaninya hati kita merasa tenang. Sebaliknya, jika kita berada di jalan yang membutuhkan kebaikan, maka hati kita terus merasa gelisah.
Posted by Mariana at 11:11 PM 3 comments
Labels: inspirasi, review

22 September 2009

Seandainya Lebih Jauh, Semuanya, dan Yang Baru

Sebuah ceramah ringan usai sholat Ied 1430 H dua hari yang lalu masih terpatri di ingatan saya. Ceramah tersebut sangat sederhana, hanya mengurai sebuah cerita di jaman Nabi SAW tentang seseorang yang ketika sakaratul maut tidak mengucap kalimat syahadat, tapi orang itu justru berkata "seandainya lebih jauh, semuanya, dan yang baru" sebagai kalimat terakhirnya, lalu meninggal..

Hal ini spontan langsung dilaporkan kepada Rasulullah SAW. Ketika mendengar cerita ini, Beliau langsung mendapat wahyu dari Allah SWT mengenai cerita di balik kejadian tersebut. Ternyata orang yang mengucapkan kalimat itu, semasa hidupnya pernah menolong orang tuna netra untuk mencapai arah tujuannya. Di akhir hidupnya, Allah memperlihatkan betapa besar pahala atas amalan orang tersebut. Maka ia berucap, "seandainya lebih jauh..". Maksudnya seandainya ia menuntun orang tuna netra itu lebih jauh lagi jaraknya, tentu pahalanya akan jauh lebih besar.

Lalu Allah memperlihatkan lagi pada orang yang sedang menghadapi sakaratul maut tersebut tentang amalnya pada seorang pengemis. Dahulu suatu hari ia pernah berjalan sambil membawa roti. Tiba-tiba di tengah jalan ia bertemu dengan seorang pengemis. Di hatinya tergerak untuk memberikan roti tersebut. Tapi memang sudah menjadi dasar sifat manusia yang kikir, maka roti itu dibelah jadi dua. Setengah roti itu diberikan pada pengemis. Allah menunjukkan betapa besarnya pahala sepotong roti yang diberikan tersebut. Maka orang tadi berucap, "seandainya semuanya.." yang berarti seandainya ia berikan semua roti tersebut maka pahalanya akan jauh lebih besar lagi.

Selanjutnya, diperlihatkan pula mengenai amal ibadahnya yang lain. Dulu semasa hidupnya ia pernah memberikan sedekah baju-baju bekasnya kepada anak-anak yatim. Lalu ditunjukkan betapa besar pahala orang tersebut atas amalannya memberikan baju-baju bekas. Maka orang tersebut menyesal, maka ia berucap "seandainya yang baru..". Maksudnya seandainya baju-baju baru yang ia berikan, tentu pahalanya lebih besar lagi.

Cerita tersebut memberikan gambaran pada kita bahwa betapa kecilnya sedekah yang kita berikan pada orang lain, asalkan ikhlas maka Allah akan membalasnya dengan pahala yang begitu besar. Subhanallah.

Bersedekah yuk :)

Posted by Mariana at 11:05 AM 2 comments
Labels: hikmah, inspirasi, review

29 March 2009

Lanjutan Pak Hoegeng

Huaa, ada sesuatu yang bagus ternyata. Baru saja saya menyaksikan siaran ulang Tribute to Hoegeng di acara Kick Andy. Ada bagian yang terlewati oleh saya. Ternyata menjelang akhir acara, diceritakan bahwa Pak Hoegeng itu memiliki nama asli Hoegeng Iman Sentosa. Namun beliau tidak pernah memakai nama belakang Iman Sentosanya tersebut di berbagai dokumentasi. Ketika ditanya oleh putranya mengapa beliau ketika tanda tangan pun tidak memasukkan nama Iman Sentosa itu, Pak Hoegeng menjawab, “Saya akan buktikan sampai akhir hayat saya, bahwa saya memiliki Iman yang benar-benar Sentosa, baru saya akan memakai nama tersebut.” Wuah, luar biasa sosok yang satu ini.

I should take a deep breath.. (saking kagumnya). Kok ada ya manusia seperti ini. Kalau kata Gus Dur, hanya ada tiga polisi yang jujur, yaitu Pak Hoegeng, patung polisi, dan polisi tidur. Hehe, ada ada saja si Gus Dur ini. Tapi memang benar, beliau ini sosok yang patut dijadikan panutan. Terutama oleh polisi-polisi jaman sekarang.

Dahulu di jaman orde baru, ketika beliau seketika dicopot dari jabatannya sebagai Kapolri, beliau tidak kehilangan akal untuk menafkahi keluarganya. Dengan darah seni yang mengalir di dirinya, beliau mencari nafkah dengan membuat lukisan-lukisan dan menjualnya. Entah kenapa saya jadi sangat terkesima mendengar kebersahajaan beliau ketika hidup yang sampai seperti ini. Padahal beliau ini adalah mntan Kapolri, bisa saja dengan pengaruh jabatan yang pernah dimilikinya, beliau menggunakannya untuk mencari nafkah. Tapi ternyata Pak Hoegeng lebih memilih jalan yang halal dan diridhoi.


Ada satu hal yang menarik dari Pak Hoegeng ini, meskipun beliau sepertinya terlihat sangat garang dengan background profesinya sebagai polisi, tapi beliau ini semenjak SMP begitu menyukai musik-musik Hawaii. Bahkan beliau sempat menyalurkan hobinya ini dengan bergabung bersama grup musik Hawaian Senior, yang dulu kerap kali tampil di TVRI. Hehe, ternyata masih ada sisi fun juga dalam dirinya. Yang membuat saya sangat amat ngiri adalah beliau ini memiliki kesamaan hobi dengan istrinya dalam hal kesenian, terutama melukis dan menyanyi lagu Hawaii. Pada tayangan Kick Andy tadi diputar ulang show di TVRI yang memperlihatkan duet antara Pak Hoegeng dengan Ibu Meryati Roeslani, istrinya, dalam usia yang sudah senja menyanyikan lagu Hawaii. Mesra sekali. Ooh… Impianku. Hehe. I just wanna married once in a life time and sharing my life with the one through the good and bad, and also singing together! Hehehe… Ga perlu hidup mewah, sederhana, tapi sampe kakek nenek bisa terus bahagia bersama. Oh what a dream. -_-


Bagian yang menarik di acara Kick Andy itu adalah ketika Ibu Meri, sang istri, bercerita bahwa dulu Pak Hoegeng sempat ke Hawaii, hingga tiga kali. Tapi itu semua untuk urusan dinas. Beliau tidak pernah mengajak Ibu Meri, kata Pak Hoegeng ini adalah urusan dinas, jadi beliau ingin memisahkan antara urusan dinas dan urusan pribadi. Sehingga sekalipun Ibu Meri belum pernah ke Hawaii. Tapi Ibu Meri sempat berucap pada Pak Hoegeng, sebelum Ibu Meri menutup mata, ia ingiiiin sekali melihat Hawaii. Tapi hingga sekarang masih belum kesampaian. Terakhir kali, Didit yaitu putra mereka, mengumpulkan uang untuk mewujudkan keinginan ibunya ini. Mereka berangkat bersama-sama ke Kedutaan untuk memohon visa, tapi sayang sekali hingga dua kali visa mereka ditolak. Namun di acara Kick Andy tersebut, Ibu Meri diberikan kejutan yang saaangat indah. Tidak hanya dipertemukan oleh kawan Ibu Meri yang merupakan orang Hawaii yang sudah kurang lebih 30 tahun tidak bertemu, tapi Ibu Meri juga mendapatkan visa ke Hawaii! Yang dengan penuh totalitas diusahakan oleh Didit, putranya. Plus tiket pulang pergi Jakarta Hawaii dari Surya Paloh sebagai hadiah kepada Ibu Meri mengingat ayah Surya Paloh merupakan rekan dari Pak Hoegeng. Ooh.. sangat mengharukan. Sampai anak-anak Ibu Meri dan Pak Hoegeng yang hadir di acara tersebut ikut terharu, bahkan ada beberapa penonton yang sampai menitikkan air mata. Ooh.. dream comes true. I do believe, dreams do come true!


Mungkin ini adalah buah kesabaran ibu Meri sebagai istri dari Pak Hoegeng yang mau diajak hidup ala kadarnya, tapi tetap mendampingi dengan setia hingga akhir hayat. Ooh.. so sweet. Anyone? Hix.. Tissue please. Hehee. See ya.

Posted by Mariana at 3:35 PM 0 comments
Labels: cuap-cuap, inspirasi, review

28 March 2009

Supir Angkot, Ibu yang Tangguh, dan Pak Hoegeng

Siang ini di tengah teriknya matahari, saya menunggu kendaraan umum di daerah Cilandak. Saya berharap akan ada angkot yang menuju daerah Lebak Bulus. Karena saya akan di jemput ayah saya disana untuk pulang ke rumah. Berhubung tidak terlalu mengerti jalan, saya asal melambai saja pada angkot yang lewat. Kebetulan saat itu ada angkot 61 yang perlahan menepi.


Langsung saja saya tanya, "Lebak Bulus?".

Lalu si supir menjawab, "Ga ada neng dari sini yang ke Lebak Bulus. Mau nunggu sampe malem juga ga bakalan lewat. Udah naik ini aja dulu, nanti berhenti di Trakindo. Dari situ baru ada bisnya."


Karena disarankan demikian, saya menurut saja. Karena saya tidak terlalu mengerti jalan. Dibohongi sekalipun saya juga tidak tahu. Tapi saya termasuk orang yang berani mencoba. Maka saya jalani perjalanan tersebut.


Di tengah jalan, supir angkot tadi membuka pembicaraan, "Belum ada neng trayeknya yang dari sini ke Lebak Bulus. Ada juga yang dari Pondok Labu, tapi itu suka ga mau sampe ke Lebak Bulus. Kasian neng nya nanti diturunin tengah jalan."

Saya mengiyakan saja.


Maklum, tidak banyak yang bisa saya tanggapi topik seputar jalanan. Apalagi yang tidak begitu saya pahami. Meskipun beberapa tahun silam jalan ini sekalipun tidak asing bagi saya. Banyak kenangan masa kecil yang tersimpan karena saya pernah tinggal di daerah ini, mulai mengerti banyak hal dari tempat ini, belajar hal-hal baru seperti naik sepeda juga disini. Tapi itu sudah lama berlalu. Jika disuruh mengingat tentang trayek angkutan umum seperti ini, jelas saya tidak akan ingat.

Perjalanan dilanjutkan. Satu per satu penumpang angkutan yang saya tumpangi ini turun di tujuannya masing-masing. Tertinggal saya sendiri. Mendekati Trakindo, tiba-tiba supir angkot tadi memberitahu kalau ia akan berputar, jadi tidak bisa mengantar saya sampai benar-benar di depan Trakindo. Saya harus berjalan kaki beberapa meter untuk sampai kesana. Pikir saya saat itu sepertinya supir angkot ini mengerjai saya saja. Atau hanya mencari keuntungan semata dari orang yang buta jalan. Lalu seketika saya harus malu sendiri dengan pikiran negatif saya tersebut.


Ketika akan membayar, tiba-tiba sang supir berucap, "Ga usah bayar neng, ga apa-apa. Deket ini."

Saya jadi terkesima. Merasa tidak enak, saya tetap menyodorkan ongkos untuknya. Dia tetap menolak. Langsung saja saya letakkan uangnya di dashboard terdekat, sambil berucap "Buat jajan si adek." Adek yang saya maksud adalah anak perempuannya yang masih kecil yang dibawa serta sambil bekerja yang saat itu duduk di dekat posisi saya membayar.

"makasih neng.", ujar si supir sambil tersenyum.


Subhanallah, saya harus belajar banyak darinya tentang ketulusan dalam menolong. Ternyata supir angkot ini meskipun ia kecil secara ekonomi, tapi mampu dengan sukarela membantu orang lain. Dan saya bisa merasakan ketulusannya. Semua itu terlihat jelas di raut wajahnya yang selalu tersenyum juga tutur katanya yang enak didengar. Sama sekali tidak ada raut meminta pamrih atau merasa berat dalam melakukan kebaikan ini. Kecil secara ekonomi, namun memiliki kebesaran hati. Ini bukan pertama kalinya saya menemui orang yang kecil secara ekonomi, tapi secara spontan dan tulus mau membantu orang yang sedang dalam kesulitan. Seperti pedagang asongan yang saya temui di Bandung. Juga pernah saya mendapatkan tumpangan dari seorang pengemudi motor ketika saya harus pergi ke suatu tempat namun tidak mengetahui arah. Secara cuma-cuma ia mau mengantar saya langsung sampai tujuan. Bukan karena terpesona oleh saya tentunya, hehe. Saya yakin beliau memang baik.


Selanjutnya, dari Trakindo saya ke Lebak Bulus untuk dijemput ayah saya. Dalam perjalanan pulang bersama ayah, saya sekilas mendengarkan radio. Saat itu ada wawancara antara sang penyiar dan seorang ibu yang anaknya terkena penyakit kanker darah atau Leukimia.


Sang penyiar bertanya, "Bagaimana perasaan ibu ketika anak anda terkena penyakit Leukimia?"

Ibu tersebut menjawab, "Saya berusaha untuk tangguh. Tuhan tidak akan memberikan anak yang sakit Leukimia kepada ibu yang cengeng."

Sambil sedikit bercanda, ibu tadi melanjutkan,"Iya, kalau ibunya cengeng, anaknya pasti sehat-sehat aja. Hehehe. Makanya, saya dan suami saya berusaha untuk tetap kuat dalam menghadapi ini. Di depan anak, saya tidak pernah menunjukkan rasa sedih. Saya senyum-senyum saja di depannya agar anak saya tidak tambah sedih dengan penyakitnya tersebut. Pernah sih sekali waktu anak saya ingin menyerah saja dalam menghadapi penyakitnya, tapi saya selalu mencoba untuk menguatkannya."


Seketika saya tersadarkan, iya juga ya. Ibu tersebut benar. 4WI memberikan cobaan memang sesuai dengan kapasitas manusianya. Ketika kita menghadapi cobaan yang berat, 4WI benar-benar tahu kalau kita pasti kuat dalam menghadapinya.


Di akhir wawancara, sang penyiar mendoakan,"Semoga ketabahan ibu dalam menghadapi penyakit Leukimia anak ibu menjadi tiket bagi ibu untuk masuk ke surga."


Amin. Wah, subhanallah. Saya jadi semangat mendengar ucapan ibu dan sang penyiar tadi. Mungkin ada beberapa bagian dari hidup ini yang terasa berat ketika dijalani. Tapi ketika kita tahu bahwa 4WI yakin kita kuat dalam menjalaninya, membuat segala sesuatu menjadi lebih ringan. Sehingga setiap permasalahan berubah menjadi suatu tantangan tersendiri untuk dipecahkan. Siapa tahu jika kita bisa melewatinya, atau bahkan hanya dengan kesabaran saja dalam menghadapinya akan menjadi tabungan kita nanti di akherat. Jika masih terlalu absurd untuk membicarakan akherat, untuk di dunia saja segala cobaan yang kita hadapi bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Setidaknya ada hikmah yang dapat kita petik agar kita belajar menjadi sosok manusia yang bisa menghargai hidup.


Kalau kata Pak SBY ketika diwawancara Najwa Shihab di Metro TV tentang bagaimana beliau menghadapi hidup ini atau kata Najwa, "How do you keep on going?".

Beliau dengan santai namun tetap terlihat sangat bijaksana menjawab selayaknya seorang ayah yang mengayomi anaknya,"Sesungguhnya hidup ini adalah ibadah. Tidak ada yang sia-sia dalam ibadah…….". Luar biasa Bapak Presiden yang satu ini.


Pelajaran di hari ini belum berakhir. Sesampainya di rumah, ketika malam menjelang saya dan ayah saya menyaksikan acara Kick Andy di Metro TV. Saat itu sedang dibahas mengenai sosok seorang Almarhum Pak Hoegeng. Saya sama sekali belum pernah mendengar nama ini. Ternyata beliau ini dulunya adalah seorang Kapolri. Juga pernah menjabat sebagai menteri. Namun gaya hidupnya luar biasa sederhana. Saya kagum dengan kebersahajaan beliau. Sikapnya yang tidak mau hidup berlebihan benar-benar membuat orang-orang disekitarnya salut. Bahkan keluarganya pun diajari untuk tidak hidup mewah. Ia mengajarkan anak-anaknya untuk tidak menerima sesuatu yang bukan menjadi haknya. Bayangkan saja, seorang mantan Kapolri baru bisa memiliki rumah di usianya yang lanjut. Itupun atas kebijaksanaan dari Kapolri yang sedang menjabat saat itu sebagai penghargaan pensiun untuknya. Sebelumnya beliau hanya menempati rumah dinas bersama dengan keluarganya. Bahkan ketika sedang berada di puncak jabatan, beliau pernah menolak diberikan dua buah motor secara cuma-cuma dari dealer kendaraan bermotor.


Pak Hoegeng ini juga merupakan seorang Polisi yang benar-benar profesional. Sewaktu masih aktif menjadi Kapolri, beliau sering turun sendiri ke operasi-operasi yang ada. Tak jarang beliau juga suka ikut mengatur lalu lintas dan bahkan mau melakukan penyamaran untuk menangkap bandar narkoba. Pada masa pemerintahan Orde Baru, Alm. Pak Hoegeng pernah ditawari untuk menjadi seorang duta besar di suatu negara. Tapi ia menolak dengan mengatakan bahwa ia adalah lulusan Akademi Kepolisian, bukan seorang lulusan diplomat. Wah, untuk yang satu ini saya jadi merasa tersindir. Hehe. Tenang pak, suatu saat saya akan menjadi seorang Interior Desainer yang profesional tapi mengerti betul tentang lighting dan arsitektur. Amiiin.


Mengetahui sosok Alm. Pak Hoegeng ini, saya jadi teringat akan ayah saya. Terutama bagaimana beliau mendidik saya hingga menjadi pribadi yang saat ini. Hampir mirip seperti Alm. Pak Hoegeng, semenjak kecil saya tidak pernah dimanja dengan barang-barang yang mewah. Meskipun dulu kami sempat hidup berkecukupan, tapi tidak ada yang berlebihan. Biasa-biasa saja. Juga sekarang ketika keadaan kami serba pas ataupun sedang ada rejeki berlebih, tidak pernah membeli sesuatu secara berlebihan. Dulu jika saya meminta dibelikan sesuatu yang bermerk sedikit, ayah saya langsung bertanya apa benar-benar perlu yang bermerk? Baginya suatu barang itu yang penting kegunaannya. Asalkan sama-sama bisa digunakan, jika ada barang yang sama namun jauh lebih murah, pasti ayah saya akan membeli yang lebih murah itu. Memang sedikit konvensional, terutama di jaman serba high tech dan super branded seperti sekarang. Namun baginya hidup sederhana jauh lebih ditekankan. Tapi ketika saya memang benar-benar membutuhkan barang yang agak mahal, apalagi yang berhubungan dengan pendidikan, ayah saya akan berusaha bagaimanapun caranya untuk bisa membelikan barang tersebut.


Dulu ayah saya sempat menjadi sosok yang otoriter, hingga tidak ada yang berani melawan beliau. Tapi lambat laun seiring berjalannya usia, akhirnya ia memberikan kebebasan pada anak-anaknya untuk menentukan pilihan, apapun itu yang berhubungan dengan kehidupan kami. Seperti memilih jurusan IPA/IPS/Bahasa ketika SMA, saya bebas menentukan keinginan saya. Meskipun beliau menekuni bidang IPA, tapi ia tidak pernah memaksakan saya untuk mengikuti jalannya. Bisa gila saya jika harus masuk IPA. Hehehe. Juga sewaktu masih SD, saya bebas untuk ikut ekstrakurikuler menggambar. Juga seringkali mengikutsertakan saya pada kegiatan-kegiatan kesenian, seperti lomba menggambar (meskipun tidak pernah menang sekalipun, haha, yang penting ikut), belajar merajut, membuat bordir, dan aneka kegiatan kesenian aneh-aneh lainnya. Juga sewaktu SMA ketika saya memutuskan untuk ikut kegiatan Marching Band, beliau tidak melarang, walaupun itu sangat melelahkan buat saya, tapi ia senang saya menyibukkan diri di berbagai kegiatan. Untuk urusan pendidikan, saya dibebaskan melakukan apa saja.


Tapi untuk masalah kejujuran, ayah saya ini benar-benar tidak ada kompromi. Ia sangat tidak suka jika saya berbohong. Dulu sewaktu kecil saya sempat berbohong padanya. Pas ketahuan, saya langsung habis dimarahi semalaman. Ayah saya benar-benar mengerikan kalau sedang marah. Semenjak itu saya jadi sedikit trauma. Sehingga tidak berani lagi berbohong padanya. Untuk yang sudah mengenal saya, pasti tahu betul kalau saya lebih suka berbicara terus terang apa adanya dan to the point. Ini salah satu akibat dari didikan ayah saya yang cukup keras soal kejujuran. Kalau diharuskan berbohong, saya pasti akan mengalami kesulitan. Sudah menjadi kebiasaan apa yang saya katakan memang itulah adanya. Saya lebih memilih jujur meskipun tidak mengenakkan, daripada menutupi kebenaran hanya untuk menghibur atau memberi harapan semu.


Di atas segala-segalanya, saya harus lebih banyak belajar tentang kehidupan dari ibu saya. Apa yang saya jalani tidak ada satu persennya dari apa yang ibu saya sudah lewati selama ini. Ia layak disebut sebagai Super Woman. Saya yakin, jika saya harus menjalani apa yang ia alami, saya pasti tidak akan pernah sanggup. Ia terbiasa menjalankan kehidupan yang keras di ibukota ini. Meskipun sudah berusia setengah abad lebih, tapi ia masih sanggup setiap hari pergi pagi, naik turun busway, bekerja seharian, bahkan jika diperlukan di hari libur pun ia masih mengurusi pekerjaannya, tidak jarang menyetir kendaraan dengan jam terbang yang tinggi, melewati jalan-jalan tikus, dan semua itu ia lakukan dengan menggunakan high heels! Pokoknya segala lika liku kehidupan, manis pahit, susah senang sudah ia jalani. Tenang saja ma, kali ini kita pasti bisa melewatinya lagi.


Jujur saja, saya rindu sekali ingin bertemu dengan orang-orang yang baik hati dan berakhlak mulia. Ingin saya belajar banyak hal dari mereka. Saya merasa masih banyak yang harus saya perbaiki dari diri ini. Saya jelas sekali masih banyak kekurangan. Dan saya butuh contoh untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saya akan sangat senang jika ada yang memberikan kritik, jika perlu masukan yang membangun tentang kekurangan maupun kesalahan yang saya miliki.


Berbicara tentang orang yang baik hati, saya jadi kangen sekali dengan guru ngaji saya ketika saya masih remaja. Beliau adalah Ibu Eka dan Ibu Dwi, dua kakak beradik yang sekarang saya tidak tahu lagi mereka ada di mana. Mereka begitu sabar dalam mengajari saya tentang agama, menemani saya di siang hari, bahkan ketika saya tertidur sewaktu mengaji mereka tidak pernah memarahi saya :') Mereka bahkan mau tidak dibayar untuk mengajari saya mengaji. Subhanallah orang-orang seperti ini. Sama seperti teteh mentor saya sewaktu kuliah, Teh Linda. Beliau begitu lemah lembut, selalu tersenyum, bacaan Al-Qur'an nya begitu indah, wah pokoknya Subahanallah deh sulit digambarkan. Sepertinya orang-orang ini hatinya terbuat dari batu mulia. Yang jelas, saya merasa sangat tenang di dekat mereka.


Juga ada almarhumah tante saya yang begitu perhatian dan sangat baik. Tante saya ini keturunan Jerman, tapi beliau sangat humble dengan semua orang. Ketika saya menginap di rumahnya, ia dengan senang hati mau mengajarkan cara membuat sablon untuk di tas. Walaupun saya masih kecil, tapi beliau juga mau berbicara dan bercerita tentang kehidupannya. Tentang bagaimana ia biasa membuat selai strawberry sendiri di kebunnya, membuat Brownies yang rasanya sangat enak, dan macam-macam. Tidak sungkan pula ia tersenyum sambil mengucapkan "Have Fun!" ketika saya akan bersenang-senang menghadiri suatu acara. Senang sekali rasanya bisa mengenal orang-orang seperti ini.


Oh ya tidak lupa satu lagi, saya juga banyak belajar dari si Bumi =) Hehe, you know who you are. Bukan hanya belajar sketch-up saja, saya juga belajar melihat sesuatu secara lebih obyektif. Through his eyes, I've learnt many things..


Akhir kata, saya memang masih harus banyak belajar, tetap belajar, dan terus belajar. Hehe. Never Ending Learn! Semangat!




27 Maret 2009, 23:40


[m.r.]

Posted by Mariana at 8:53 PM 3 comments
Labels: cerita-cerita, hikmah, inspirasi
Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod - edited by Mariana