30 November 2020
Doa Nabi Ibrahim
29 November 2020
Weekend
02 November 2020
Pilihan
29 October 2020
Pindahan Rumah
Saya mau cerita soal pindahan rumah saya sebulan yang lalu. Jadi saya pindahan rumah dari Cirendeu ke Cibubur. Ini sebenernya bukan pertama kali saya pindah rumah. Saya udah beberapa kali pindah rumah, tapi selama ini selalu ayah saya atau ibu saya yang ngurusin pindahannya, terutama soal beberes barang2. Tapi kemarin ini, saya ikutan beberes barang2nya. Subhanallah, capeknya bukan main. Banyak banget barang2 yang mesti diberesin, dipacking, dan disortir. Ini jadi pelajaran banget buat saya untuk ga numpuk2 barang yang ga perlu.
Jadi hikmahnya yang saya dapetin setelah pindahan rumah kali ini sebagai berikut :
- ga lagi2 numpuk2in barang2 yang ga perlu
- pikir2 lagi sebelum beli barang, nantinya mau dikemanakan barang tersebut kalau udah ga dipakai lagi
- sering-sering beberes rumah, buang2in barang2 yang ga berguna lagi atau klo bs diloak, diloakin aja
- kalau masih ada barang2 yang berguna tapi ga dipakai lagi bisa disumbangkan ke orang2
- jadi trauma beli2 furniture dan barang2 pecah belah, sekalinya pindahan susah banget ngurusnya
- lebih baik hidup minimal tanpa banyak barang2 di rumah, hati juga lebih tenang
- ga masalah ga punya banyak barang yang penting kita punya apa yang kita butuhkan saja
- intinya semakin banyak barang di rumah, hanya membuat stress di kemudian hari (terutama jika harus pindahan)
- bersyukurlah kalau sudah punya rumah sendiri, tapi tetap sering2 beberes, berikanlah warisan pada anak cucu kita barang2 yang mereka butuhkan saja jangan buat mereka stress di kemudian hari jika harus membereskan barang2 kita
- furniture knock down jauh lebih praktis dibanding built-in furniture, karena bisa dilepas2 kalau harus pindahan
- bersabarlah bagi yang belum punya rumah, tiap hari dicicil beresin barang2nya, kalau mesti pindahan jadi lebih cepat proses pindahannya
Selama pindahan kemarin, saya jadi dekat dengan tukang loak dan tukang sampah. Mereka sangat membantu sekali dalam membereskan barang2 yang tidak diperlukan lagi. Tukang loak biasanya mau menerima kertas2, buku2, dan aneka barang2 yang sudah tidak terpakai lagi. Bahkan mereka mau membayar barang2 tersebut, terutama kertas2, buku2, dan barang yang terbuat dari besi. Kalau tukang sampah justru sebaliknya, mereka harus dibayar lebih jika kita mau membuang sampah yang banyak. Bahkan ada jasa khusus buang sampah atau puing2 bekas pindahan rumah, biayanya berkisar antara 300rb sampai 500rb per rit (rit itu sekali angkut pakai mobil truk). Dulu bahkan waktu saya membereskan sampah bahan2 kimia punya ayah saya, saya harus membayar jasa buang sampah khusus semacam buang sampah medis, kimia, dll. Bayarannya juga kurang lebih sama, saya lupa berapa pastinya.
Untuk pindahan kemarin, kalau di total2 bisa habis sekitar 5-7 juta lebih untuk biaya angkut barang, buang sampah, benerin rumah, dan lain-lain. Itu untuk rumah tingkat ya, kita nyewa 2 truk besar, dan 1 truk kecil dua kali rit. Sebenernya ada namanya truk2 itu, yang paling besar namanya Truk, yang ukuran sedang namanya Engkle, dan yang paling kecil namanya Pick Up. Kita pakai Truk dan Pick Up. Stress nya ngangkat2 dan mindahin barang2nya bukan main, jangan ditanya. Hahaa...
Sebenernya capek banget pindahan rumah itu, tapi mau bagaimana lagi, keluarga saya masih belum diberi rejeki memiliki rumah sendiri. Jadi ya doakan saja ya teman2 semoga dalam waktu ke depan keluarga kami bisa memiliki rumah sendiri jadi kami tidak harus pindah2 lagi. Aamiiin...
Tapi kami bersyukur setidaknya kami masih diberi tempat tinggal, meski sementara. Alhamdulillah.... Ya begitulah teman2 cerita pindahan rumah kali ini. Semoga bisa menjadi hikmah juga untuk decluttering barang2 yang tidak diperlukan ya. Jadi tempat tinggal kita juga jadi lebih lega dan memang isinya barang2 yang diperlukan saja. Okay, sekian dulu kali ini. See youu.......
2020
Assalammu'alaikum dear readers, alhamdulillah masih dipertemukan dengan tahun 2020 ini, tahun yang diwarnai dengan pandemi Covid19. Satu wabah yang merubah banyak tatanan kehidupan masyarakat dunia, subhanallah. Tapi saya ga akan bahas tentang wabah ini, saya akan cerita2 yang ringan aja ya. Kisah hidup saya, seperti biasa.
Jadi udah 3 tahun ya semenjak terakhir kali saya nulis disini, masyaa Allah time flies. Jadi dari 3 tahun itu ga banyak sih update yang terjadi dalam hidup saya. Yang paling kentara aja di tahun 2018 saya sempet tinggal di Hong Kong untuk kerja alhamdulillah, tapi ga lama, cuma 6 bulan udah gitu balik. Terus di tahun 2019 saya sempet masuk rumah sakit karena suatu hal yang ga bisa diceritain disini, tapi alhamdulillah udah sembuh. Dan di tahun 2020 ini saya sedang aktif2nya mencari pendamping. Hehe... doakan yaa.... Jadi saya mulai aktif mendaftarkan diri di akun2 taaruf, dan sekarang alhamdulillah sedang berjalan proses taarufnya. Doakan lancar insyaa Allah sampai ke jenjang berikutnya, aamiin.
Oya di tahun 2020 ini saya juga pindah rumah (LAGI) hahaa yaa again pindah rumah rumah untuk kesekian kalinya. Kali ini saya pindah ke daerah yang sama sekali saya buta tentang daerahnya. Yaitu Cibubur. Disini rumahnya lebih kecil dari rumah yang sebelumnya, tapi alhamdulillah nyaman. Rumah ini tapi masih belum rumah sendiri, jadi ya masih panjang perjuangan untuk bisa memiliki rumah sendiri. Doakan juga ya supaya cita2 punya rumah sendiri atau rumah keluarga bisa terwujud. Aamiin.
Terus apalagi ya. Oya sebenernya saya pengen banget cerita soal kejadian saya masuk rumah sakit itu, karena berkesan banget. Tapi ga bisa diceritakan karena confidential. Tapi pengen banget cerita hahaa. Yauda cerita deh, tapi jangan menjudge ya. Jadi di tahun 2019 kemarin itu, saya sempat mengalami kerasukan (kalau menurut saya), soalnya saya seperti ada yg ngebisikin, dan suaranya jelas banget didalem kepala. Suara itu seperti menyuruh2 saya untuk melakukan sesuatu, misal saya disuruh pergi ke taman belakang rumah, lalu saya juga dibisiki kalau saya mau mengalami sakaratul maut (serem yaa... saya sendiri sampai menggigil sendiri saking takutnya, siapa sih yg ga takut dibilang bakalan mati dlm wkt dekat), dan lain2. Kalau dari segi medis saya didiagnosanya mengalami gejala Schizoaffecfive Disorder. I shouldn't tell this publicly, tapi saya pengen bgt cerita biar ga lupa. Dan biar di blog ini ada history- nya tentang kejadian bersejarah ini.
Lanjut ya, jadi karena mama saya bingung kenapa saya jadi aneh, teriak2 sendiri, terus bilang mau sakaratul maut dll, akhirnya saya dipanggilinlah ustad untuk merukyah. Tapi ga berhasil, saya ga sembuh juga. Akhirnya keesokan harinya saya dibawa ke Rumah Sakit Jiwa, dan saya nginep disana selama sebulan penuh. Betul, sebulan penuh. Saya merasa waktu sebulan itu sangat berkesan buat saya. Awal2 saya merasa seperti dibuang oleh keluarga saya, karena saya ditinggal sendiri. Saya baru dijenguk di hari kesekian, saya lupa setelah berapa hari disana. Lalu saya juga merasa seperti dicap sebagai orang gila. Padahal saya yakin betul saya ga gila. Saya hanya kerasukan atau berhalusinasi. Tapi karena masuk rumah sakit itu, saya jadi menghargai orang2 yang selama ini disebut orang gila oleh masyarakat kita. Sebenernya mereka ga gila, mereka hanya memiliki penyakit kejiwaan yg bisa disembuhkan. Saya melihat sendiri berbagai macam kasus disana, ga semuanya ga sadarkan diri dan ga bisa merawat diri mereka. Kebanyakan mereka masih sadar dan bisa merawat diri setelah dirawat disana. Bahkan ada teman satu kamar saya, bisa membaca Al-Qur'an dengan begitu lancarnya dan merdu lagi suaranya. Teman saya itu hanya memiliki trauma & sama seperti saya sempat berhalusinasi juga.
Saya juga ga ngerti kenapa saya bisa berhalusinasi dan ada yg membisiki seperti itu. Tapi saya yakin betul saya kerasukan. Sekarang alhamdulillah udah hilang suara2 di kepalanya. Tapi tetap saja satu keluarga ga ada yang percaya, mereka takut banget saya kambuh lagi. Saya masih harus minum obat sampai sekarang, walau dosisnya udah jauh berkurang dibanding awal2. Waktu pertama2 dosisnya tinggi banget, sampe ada obat tidurnya. Saya sampai ga bisa bangun subuh. Tapi alhamdulillah setelah dokternya melihat perkembangan saya yang semakin membaik, saya sudah tidak diberi obat tidur lagi. Tapi tetap setiap bulan saya harus datang untuk kontrol rutin.
Kejadian ini saya jadikan pelajaran saja, untuk semakin mendekatkan diri pada Allah SWT. Dan untuk semakin berhati2, untuk jangan sampai kerasukan lagi kalau menurut saya. Kalau menurut dokter jangan sampai kambuh lagi gejalanya. Wallahu'alam hanya Allah yang tahu sebenarnya mana yg benar, apa kerasukan apa saya benar terkena gejala Schizoaffective Disorder. Saya belum cerita ke teman2 saya soal ini, hanya satu dua orang teman saja yang tahu.
Di awal tahun saya juga sempat taaruf lalu gagal setelah pasangan taaruf saya mengetahui hal ini. Ya wajar sih, siapa juga yang ga kaget kalau tahu hal ini. Yang keluarga dekat saja ada juga yang jadi berubah setelah tahu saya pernah masuk RSJ. Untuk taaruf yang sekarang saya udah cerita juga kejadian ini, dan dia masi mau lanjut alhamdulillah. Doakan saja ya lancar2 seterusnya. Aamiin.
Update lainnya selama 3 tahun ini sepertinya itu saja. Oya adik saya udah menikah, dan udah punya anak juga. Kakak kedua saya juga udah punya anak lagi. Jadi total saya punya 3 ponakan. Hehee... Seru banyak anak kecil. Mudah2an thn depan atau tahun depannya lg saya ya yg punya anak. Aamiinn...
Mungkin itu dulu aja updatenya, nanti insyaa Allah kalau ada update lagi saya tulis lagi. Mudah2an ga sekian tahun kemudian ya. Hahaaa.... :D

