"Selamat Pagi.
Bagiku waktu selalu pagi. Di antara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi; malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, dan helaan napas tertahan."
"Apakah dunia memang begitu? Kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu menginginkannya. Kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita terlalu ingin memilikinya."
"Tahukah kau, Tegar, untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal menyakitkan. Misalnya kau pergi. Saat kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan."
- Sunset Bersama Rosie - Darwis Tere-Liye
Edisi galau setelah sekian lamaa ga pernah baca novel. Eh salah, ralat ralat, setelah sekian lamaa ga pernah baca buku. Hahaa. Ending di novel ini mirip kayak film Boys Before Flowers. Itu loh film korea (again!) yg lumayan hits di jamannya, yg bikin Lee Min Ho booming pertama kali. Hahaha mudah-mudahan kalian ga eneg ya saya ngebahas film korea terus... xD
Di ending film itu juga begitu, tokoh Jae Gyong yg jadi tunangannya Jun Pyo (diperankan oleh Lee Min Ho) pada akhirnya membatalkan pernikahannya atas keinginannya sendiri setelah sadar bahwa Jun Pyo cinta mati sama Jan Di. Filmnya kocak meskipun ceritanya masih seputar romance. Genre-nya memang Comedy Romance. Bikin ketagihan nontonnya, selain kocak ceritanya tentunya ga bosen2 ngeliat tokoh Jun Pyo disana. Hihiii... ;P
Intinya baik di cerita novel maupun di film tersebut, pengorbanan memang bukan hal yg mudah. Perlu kebesaran hati untuk memberikan apa yang kita cintai kepada orang lain. (usap air mata dulu, hiikss..) Pasti kita akan ngerasain, "enak di lo, ga enak di gw" ketika memberikan sesuatu yang amat kita sukai dan merelakannya (dgn ikhlas maupun terpaksa). Tapi ketika bisa melakukannya, maka akan tumbuh pembelajaran yg baik buat diri kita sendiri, yaitu bagaimana menahan keinginan diri dan bersabar untuk sesuatu yang lebih baik di kemudian hari.
Always remember satu pepatah bijak ini, "You can loose the battle, but win the war!" ;)


0 comments:
Post a Comment