Tidak butuh waktu yang lama untuk selesai membaca novel kedua karya Ika Natassa yang berjudul Divortiare, karena penulis yang sekaligus berprofesi sebagai Business Banker ini benar-benar piawai menggoda pembaca untuk mengikuti ceritanya. Bahkan pembaca yang tidak begitu suka fiksi seperti saya pun terjerumus dalam lembar karangannya.
Selama ini, ketika saya membaca buku-buku fiksi, apalagi yang isinya dekat dengan dunia mimpi, membuat saya berada pada persepsi kebohongan yang diciptakan pengarang. Karena itu tidak heran dinamakan sebagai cerita karangan.
Saya lebih memilih cerita-cerita yang based on true story atau sekalian yang benar-benar khayalan tingkat tinggi seperti Harry Potter atau dongeng-dongeng dari Hans Christian Andersen yang berhasil melewati berbagai generasi hingga sekarang. Bukannya saya tidak suka dengan dongeng rakyat nusantara yang sesungguhnya adalah salah satu kekayaan bangsa Indonesia, namun belum banyak yang menghadirkannya ke masyarakat dalam kemasan yang menarik. Padahal ini bisa menjadi komoditi industri kreatif yang patut diperhitungkan, melihat setiap daerah memiliki keunikan cerita yang tidak dimiliki dibelahan dunia manapun.
Saya pernah melihat salah satu contoh cerita rakyat yang berhasil dituangkan dalam karya tekstil Tugas Akhir salah satu anak Kriya Seni FSRD ITB – karya dari Yosepin Sri Ningsih dengan judul “Ilustrasi I La Galigo pada Media Tekstil” yang membawa alur cerita rakyat Sulawesi ini menjadi sangat mengesankan. Cerita ini dipadukan dalam konsep 4 dimensi (3 dimensi ruang dan 1 dimensi waktu) gambar anak dengan teknik jahitan untuk membuat ilustrasi kisah yang dapat dibaca. Ini baru satu contoh cerita rakyat, masih banyak lagi cerita-cerita lainnya yang dapat digali menjadi karya kreatif. Satu cerita bisa menjadi banyak karya, apalagi jika cerita rakyat yang kita miliki banyak. Tentu saja ini bisa dijadikan komoditi potensial. Jangan sampai kejadian ‘tarik-tarikan’ kain batik dengan ‘tetangga’ terulang lagi pada objek lain, seperti pada objek cerita rakyat ini. Sudah selayaknya pelaku industri kreatif serta para seniman selanjutnya menjaga warisan budaya yang mahal milik bangsa Indonesia. Bukan hanya menjaga, tapi juga menyampaikan dengan kreativitas pada warga dunia, baik dalam bentuk asli maupun metamorfosa, bahwa warisan itu adalah milik kita. Sehingga tidak perlu rebutan harta gono-gini kan. =P
Bicara tentang harta gono-gini, sudah tentu kita akan tahu asal usulnya yang merupakan sub topik dari perceraian – Divortiare dalam bahasa latin, yang juga adalah judul dari novel yang akan saya usung kali ini seperti telah saya singgung diatas. Novel ini boleh saya katakan jauh dari mimpi, justru sebaliknya. Ika Natassa membawa kita dekat pada realita. Novel ini sanggup menangkap fenomena kehidupan metropolitan yang menjadi tren saat ini. Salah satunya yaitu tren kasus perceraian. Tren ini semakin marak oleh infotainment yang kerap menjadikannya headline jika menimpa para selebriti. Saya jadi teringat tulisan pada kaos yang dikenakan Iwa K pada acara kuis “Karaoke Show Down” yang sepertinya mengutarakan isi hatinya: “Even God hates Infotainment”. Haha, it’s quite entertaining. All the way, Iwa K saat itu beruntung sekali membawa istrinya yang benar-benar merupakan seorang bintang, karena ia mampu menjawab dan menyanyikan semua lagu dengan fasih pada kuis tersebut. Tidak hanya sebagai penyanyi dangdut, Selvi – sang istri, mampu juga menjadi penyanyi lagu kontemporer. Tadinya agak meragukan mendengar berita Iwa K akan berkolaborasi dengan Selvi pada sebuah lagu, ini adalah perpaduan antara rap dan dangdut, dalam arti sebenar-benarnya. Tapi saya baru yakin, ia menjatuhkan pilihan yang tepat memutuskan berduet dengan sang istri. Sekali lagi, dalam arti yang sebenar-benarnya. Kualitasnya saya juga yakin akan mengagumkan. Membuat iri. Suatu hari bisa juga saya akan berduet, berbeda dengan Iwa K, kolaborasi saya akan berada pada dunia pembangunan. Membangun mimpi, membuat sebuah rumah tempat kembali, dihuni, untuk berbagi. Building a home to live, not a house to stay. It’s home sweet home, not house sweet house. Sedikit bermimpi, banyak mewujudkan.
Oke, lagi-lagi saya mengalihkan pembahasan dari Divortiare. Tapi tidak jauh-jauh, masih seputar marriage. See, I just talked about Iwa K and Selvi. It’s a marriage thing. Hope they won’t do the Divortiare just like in the novel. They’re about having a baby. Geez, what kind of infotainment girl I am. I know every gossip by now. I just need to put a post-it on my back: “I’m an infotainment girl. Just go on and ask me.”
Now, seriously I will end up in ‘Divortiare’. No, I’m not hoping myself one day will end up in ‘Divortiare’. Experienced once in your parent’s life in your life, which is affecting your life too, is more than enough. What I meant was I will talk about this ‘Divortiare’ novel.
Ini bukan novel melodrama berkubang air mata. Justru sangat berlawanan, saya banyak tertawa ketika membacanya. Banyak adegan-adegan sehari-hari yang ditampilkan dengan ringan dan kocak, tidak perlu banyak berpikir untuk mengerti maknanya. Straight to the point. Tidak banyak kiasan atau bahasa konotasi maupun kalimat ambigu sebagai selubung dalam penyampaian inti sebenarnya, yang sebenarnya itu sangat memusingkan, sungguh. Tapi kita tidak akan menemui pembahasan yang berat dalam novel ini, terutama bagi kaum metropolis. Karena cerita yang disajikan sangat akrab dengan dunia perkotaan.
Pada novel ini, diceritakan bahwa tokoh utama sempat mengalami sindrom awal-awal masa pernikahan, yaitu segala sesuatunya terasa berjalan dengan baik. At the beginning. Lalu lambat laun seiring berjalannya waktu, kesibukan memakan semua yang telah berjalan dengan baik tersebut. Ini terjadi ketika komunikasi tidak lancar dan ego mendominasi hubungan sang tokoh. Novel ini menyadarkan pembaca bahwa profesi ternyata adalah faktor yang penting dalam suatu hubungan. Sang tokoh yang adalah seorang banker mempunyai mantan suami seorang dokter bedah. Keduanya memiliki kesibukan tingkat tinggi. They seem didn’t have any chance to cross each other’s path when they were together. So, they both lost. Tapi uniknya, meskipun mereka sudah berpisah, mereka terlihat masih menyimpan kehadiran satu dan yang lainnya. Mereka masih tetap berhubungan secara profesional karena sang mantan suami adalah dokter pribadi sang tokoh utama. Namun setiap kali mereka berkesempatan untuk bertemu, pasti akan berakhir dengan komedi pertengkaran yang cukup menggelitik. Tanpa unsur sarkastik seperti yang dicontohkan sinetron-sinetron cengeng, konflik diantara mereka justru membuat alur cerita menjadi segar.
Novel ini cocok sekali bagi mereka yang ingin mempelajari kehidupan dunia pasca pernikahan. Saya sangat menganjurkan untuk mereka yang berencana melepas masa kesendirian (duh bahasanya…) untuk membaca novel ini. Kita bisa belajar banyak tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk dalam suatu hubungan sebagai suatu bentuk pencegahan / antisipasi terhadap hal-hal yang bisa menimpa siapa saja, yaitu perceraian. Atau mungkin juga melalui novel ini kita bisa setidaknya mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu hal tersebut terjadi.
Well, it doesn’t mean if I’m telling you this, that I fed myself enough with marriage. Which truly in fact, I haven’t married yet, ever, in my life. But trust me, I really know how bad it feels to be in a such situation. You’ll hear disputes, then screams, fights, clashes, and whatsoever, and all you wanna do is just shut your ears and don’t wanna know what’s goin’ on. It’s like having a traumatic scene at the moment. You would rather be in a bowl of lies than knowing the truth.
When things run on that way, perhaps one of them would say things like this, “If there’s a chance for me to leave you, I would leave. Better than hurting each other.” Well actually, it’s okay to spill those words when we’re trapped in a sort kind of case, only if you don’t have any kid. But it’s not a good manner to have it if you had children. It’ll sound selfish. You’ll definitely hurt them. They need both of their parents to grow up normally. Even though they still can live without them. Still, they need some affection to be a human.
Anyway, saya mesti berterima kasih pada Naia, my beautiful cousin (bisa narsis dia k’lo baca ini) yang udah meminjamkan saya novel ‘Divortiare’-nya yang saya temukan tergeletak di meja. Well, sebenarnya ini adalah novel kedua dari Ika Natassa. Saya belum membaca novel pertamanya yang berjudul ‘A Very Yuppy Wedding’. Sepertinya novel pertamanya tersebut tidak kalah bagus dengan novel kedua ini. But looks like I have to dig harder in your room, Naia, to find that book. Haha, a little suggestion to you, Nai, you should buy the third novel, the continue story of ‘Divortiare’, so I can borrow again from you. ;)
Last but not least, think thousand times before you decide to ‘DIvortiare’. ‘Cause it’s one of an allowable deed that God hates most.


0 comments:
Post a Comment