Siang ini di tengah teriknya matahari, saya menunggu kendaraan umum di daerah Cilandak. Saya berharap akan ada angkot yang menuju daerah Lebak Bulus. Karena saya akan di jemput ayah saya disana untuk pulang ke rumah. Berhubung tidak terlalu mengerti jalan, saya asal melambai saja pada angkot yang lewat. Kebetulan saat itu ada angkot 61 yang perlahan menepi.
Langsung saja saya tanya, "Lebak Bulus?".
Lalu si supir menjawab, "Ga ada neng dari sini yang ke Lebak Bulus. Mau nunggu sampe malem juga ga bakalan lewat. Udah naik ini aja dulu, nanti berhenti di Trakindo. Dari situ baru ada bisnya."
Karena disarankan demikian, saya menurut saja. Karena saya tidak terlalu mengerti jalan. Dibohongi sekalipun saya juga tidak tahu. Tapi saya termasuk orang yang berani mencoba. Maka saya jalani perjalanan tersebut.
Di tengah jalan, supir angkot tadi membuka pembicaraan, "Belum ada neng trayeknya yang dari sini ke Lebak Bulus. Ada juga yang dari Pondok Labu, tapi itu suka ga mau sampe ke Lebak Bulus. Kasian neng nya nanti diturunin tengah jalan."
Saya mengiyakan saja.
Maklum, tidak banyak yang bisa saya tanggapi topik seputar jalanan. Apalagi yang tidak begitu saya pahami. Meskipun beberapa tahun silam jalan ini sekalipun tidak asing bagi saya. Banyak kenangan masa kecil yang tersimpan karena saya pernah tinggal di daerah ini, mulai mengerti banyak hal dari tempat ini, belajar hal-hal baru seperti naik sepeda juga disini. Tapi itu sudah lama berlalu. Jika disuruh mengingat tentang trayek angkutan umum seperti ini, jelas saya tidak akan ingat.
Perjalanan dilanjutkan. Satu per satu penumpang angkutan yang saya tumpangi ini turun di tujuannya masing-masing. Tertinggal saya sendiri. Mendekati Trakindo, tiba-tiba supir angkot tadi memberitahu kalau ia akan berputar, jadi tidak bisa mengantar saya sampai benar-benar di depan Trakindo. Saya harus berjalan kaki beberapa meter untuk sampai kesana. Pikir saya saat itu sepertinya supir angkot ini mengerjai saya saja. Atau hanya mencari keuntungan semata dari orang yang buta jalan. Lalu seketika saya harus malu sendiri dengan pikiran negatif saya tersebut.
Ketika akan membayar, tiba-tiba sang supir berucap, "Ga usah bayar neng, ga apa-apa. Deket ini."
Saya jadi terkesima. Merasa tidak enak, saya tetap menyodorkan ongkos untuknya. Dia tetap menolak. Langsung saja saya letakkan uangnya di dashboard terdekat, sambil berucap "Buat jajan si adek." Adek yang saya maksud adalah anak perempuannya yang masih kecil yang dibawa serta sambil bekerja yang saat itu duduk di dekat posisi saya membayar.
"makasih neng.", ujar si supir sambil tersenyum.
Subhanallah, saya harus belajar banyak darinya tentang ketulusan dalam menolong. Ternyata supir angkot ini meskipun ia kecil secara ekonomi, tapi mampu dengan sukarela membantu orang lain. Dan saya bisa merasakan ketulusannya. Semua itu terlihat jelas di raut wajahnya yang selalu tersenyum juga tutur katanya yang enak didengar. Sama sekali tidak ada raut meminta pamrih atau merasa berat dalam melakukan kebaikan ini. Kecil secara ekonomi, namun memiliki kebesaran hati. Ini bukan pertama kalinya saya menemui orang yang kecil secara ekonomi, tapi secara spontan dan tulus mau membantu orang yang sedang dalam kesulitan. Seperti pedagang asongan yang saya temui di Bandung. Juga pernah saya mendapatkan tumpangan dari seorang pengemudi motor ketika saya harus pergi ke suatu tempat namun tidak mengetahui arah. Secara cuma-cuma ia mau mengantar saya langsung sampai tujuan. Bukan karena terpesona oleh saya tentunya, hehe. Saya yakin beliau memang baik.
Selanjutnya, dari Trakindo saya ke Lebak Bulus untuk dijemput ayah saya. Dalam perjalanan pulang bersama ayah, saya sekilas mendengarkan radio. Saat itu ada wawancara antara sang penyiar dan seorang ibu yang anaknya terkena penyakit kanker darah atau Leukimia.
Sang penyiar bertanya, "Bagaimana perasaan ibu ketika anak anda terkena penyakit Leukimia?"
Ibu tersebut menjawab, "Saya berusaha untuk tangguh. Tuhan tidak akan memberikan anak yang sakit Leukimia kepada ibu yang cengeng."
Sambil sedikit bercanda, ibu tadi melanjutkan,"Iya, kalau ibunya cengeng, anaknya pasti sehat-sehat aja. Hehehe. Makanya, saya dan suami saya berusaha untuk tetap kuat dalam menghadapi ini. Di depan anak, saya tidak pernah menunjukkan rasa sedih. Saya senyum-senyum saja di depannya agar anak saya tidak tambah sedih dengan penyakitnya tersebut. Pernah sih sekali waktu anak saya ingin menyerah saja dalam menghadapi penyakitnya, tapi saya selalu mencoba untuk menguatkannya."
Seketika saya tersadarkan, iya juga ya. Ibu tersebut benar. 4WI memberikan cobaan memang sesuai dengan kapasitas manusianya. Ketika kita menghadapi cobaan yang berat, 4WI benar-benar tahu kalau kita pasti kuat dalam menghadapinya.
Di akhir wawancara, sang penyiar mendoakan,"Semoga ketabahan ibu dalam menghadapi penyakit Leukimia anak ibu menjadi tiket bagi ibu untuk masuk ke surga."
Amin. Wah, subhanallah. Saya jadi semangat mendengar ucapan ibu dan sang penyiar tadi. Mungkin ada beberapa bagian dari hidup ini yang terasa berat ketika dijalani. Tapi ketika kita tahu bahwa 4WI yakin kita kuat dalam menjalaninya, membuat segala sesuatu menjadi lebih ringan. Sehingga setiap permasalahan berubah menjadi suatu tantangan tersendiri untuk dipecahkan. Siapa tahu jika kita bisa melewatinya, atau bahkan hanya dengan kesabaran saja dalam menghadapinya akan menjadi tabungan kita nanti di akherat. Jika masih terlalu absurd untuk membicarakan akherat, untuk di dunia saja segala cobaan yang kita hadapi bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Setidaknya ada hikmah yang dapat kita petik agar kita belajar menjadi sosok manusia yang bisa menghargai hidup.
Kalau kata Pak SBY ketika diwawancara Najwa Shihab di Metro TV tentang bagaimana beliau menghadapi hidup ini atau kata Najwa, "How do you keep on going?".
Beliau dengan santai namun tetap terlihat sangat bijaksana menjawab selayaknya seorang ayah yang mengayomi anaknya,"Sesungguhnya hidup ini adalah ibadah. Tidak ada yang sia-sia dalam ibadah…….". Luar biasa Bapak Presiden yang satu ini.
Pelajaran di hari ini belum berakhir. Sesampainya di rumah, ketika malam menjelang saya dan ayah saya menyaksikan acara Kick Andy di Metro TV. Saat itu sedang dibahas mengenai sosok seorang Almarhum Pak Hoegeng. Saya sama sekali belum pernah mendengar nama ini. Ternyata beliau ini dulunya adalah seorang Kapolri. Juga pernah menjabat sebagai menteri. Namun gaya hidupnya luar biasa sederhana. Saya kagum dengan kebersahajaan beliau. Sikapnya yang tidak mau hidup berlebihan benar-benar membuat orang-orang disekitarnya salut. Bahkan keluarganya pun diajari untuk tidak hidup mewah. Ia mengajarkan anak-anaknya untuk tidak menerima sesuatu yang bukan menjadi haknya. Bayangkan saja, seorang mantan Kapolri baru bisa memiliki rumah di usianya yang lanjut. Itupun atas kebijaksanaan dari Kapolri yang sedang menjabat saat itu sebagai penghargaan pensiun untuknya. Sebelumnya beliau hanya menempati rumah dinas bersama dengan keluarganya. Bahkan ketika sedang berada di puncak jabatan, beliau pernah menolak diberikan dua buah motor secara cuma-cuma dari dealer kendaraan bermotor.
Pak Hoegeng ini juga merupakan seorang Polisi yang benar-benar profesional. Sewaktu masih aktif menjadi Kapolri, beliau sering turun sendiri ke operasi-operasi yang ada. Tak jarang beliau juga suka ikut mengatur lalu lintas dan bahkan mau melakukan penyamaran untuk menangkap bandar narkoba. Pada masa pemerintahan Orde Baru, Alm. Pak Hoegeng pernah ditawari untuk menjadi seorang duta besar di suatu negara. Tapi ia menolak dengan mengatakan bahwa ia adalah lulusan Akademi Kepolisian, bukan seorang lulusan diplomat. Wah, untuk yang satu ini saya jadi merasa tersindir. Hehe. Tenang pak, suatu saat saya akan menjadi seorang Interior Desainer yang profesional tapi mengerti betul tentang lighting dan arsitektur. Amiiin.
Mengetahui sosok Alm. Pak Hoegeng ini, saya jadi teringat akan ayah saya. Terutama bagaimana beliau mendidik saya hingga menjadi pribadi yang saat ini. Hampir mirip seperti Alm. Pak Hoegeng, semenjak kecil saya tidak pernah dimanja dengan barang-barang yang mewah. Meskipun dulu kami sempat hidup berkecukupan, tapi tidak ada yang berlebihan. Biasa-biasa saja. Juga sekarang ketika keadaan kami serba pas ataupun sedang ada rejeki berlebih, tidak pernah membeli sesuatu secara berlebihan. Dulu jika saya meminta dibelikan sesuatu yang bermerk sedikit, ayah saya langsung bertanya apa benar-benar perlu yang bermerk? Baginya suatu barang itu yang penting kegunaannya. Asalkan sama-sama bisa digunakan, jika ada barang yang sama namun jauh lebih murah, pasti ayah saya akan membeli yang lebih murah itu. Memang sedikit konvensional, terutama di jaman serba high tech dan super branded seperti sekarang. Namun baginya hidup sederhana jauh lebih ditekankan. Tapi ketika saya memang benar-benar membutuhkan barang yang agak mahal, apalagi yang berhubungan dengan pendidikan, ayah saya akan berusaha bagaimanapun caranya untuk bisa membelikan barang tersebut.
Dulu ayah saya sempat menjadi sosok yang otoriter, hingga tidak ada yang berani melawan beliau. Tapi lambat laun seiring berjalannya usia, akhirnya ia memberikan kebebasan pada anak-anaknya untuk menentukan pilihan, apapun itu yang berhubungan dengan kehidupan kami. Seperti memilih jurusan IPA/IPS/Bahasa ketika SMA, saya bebas menentukan keinginan saya. Meskipun beliau menekuni bidang IPA, tapi ia tidak pernah memaksakan saya untuk mengikuti jalannya. Bisa gila saya jika harus masuk IPA. Hehehe. Juga sewaktu masih SD, saya bebas untuk ikut ekstrakurikuler menggambar. Juga seringkali mengikutsertakan saya pada kegiatan-kegiatan kesenian, seperti lomba menggambar (meskipun tidak pernah menang sekalipun, haha, yang penting ikut), belajar merajut, membuat bordir, dan aneka kegiatan kesenian aneh-aneh lainnya. Juga sewaktu SMA ketika saya memutuskan untuk ikut kegiatan Marching Band, beliau tidak melarang, walaupun itu sangat melelahkan buat saya, tapi ia senang saya menyibukkan diri di berbagai kegiatan. Untuk urusan pendidikan, saya dibebaskan melakukan apa saja.
Tapi untuk masalah kejujuran, ayah saya ini benar-benar tidak ada kompromi. Ia sangat tidak suka jika saya berbohong. Dulu sewaktu kecil saya sempat berbohong padanya. Pas ketahuan, saya langsung habis dimarahi semalaman. Ayah saya benar-benar mengerikan kalau sedang marah. Semenjak itu saya jadi sedikit trauma. Sehingga tidak berani lagi berbohong padanya. Untuk yang sudah mengenal saya, pasti tahu betul kalau saya lebih suka berbicara terus terang apa adanya dan to the point. Ini salah satu akibat dari didikan ayah saya yang cukup keras soal kejujuran. Kalau diharuskan berbohong, saya pasti akan mengalami kesulitan. Sudah menjadi kebiasaan apa yang saya katakan memang itulah adanya. Saya lebih memilih jujur meskipun tidak mengenakkan, daripada menutupi kebenaran hanya untuk menghibur atau memberi harapan semu.
Di atas segala-segalanya, saya harus lebih banyak belajar tentang kehidupan dari ibu saya. Apa yang saya jalani tidak ada satu persennya dari apa yang ibu saya sudah lewati selama ini. Ia layak disebut sebagai Super Woman. Saya yakin, jika saya harus menjalani apa yang ia alami, saya pasti tidak akan pernah sanggup. Ia terbiasa menjalankan kehidupan yang keras di ibukota ini. Meskipun sudah berusia setengah abad lebih, tapi ia masih sanggup setiap hari pergi pagi, naik turun busway, bekerja seharian, bahkan jika diperlukan di hari libur pun ia masih mengurusi pekerjaannya, tidak jarang menyetir kendaraan dengan jam terbang yang tinggi, melewati jalan-jalan tikus, dan semua itu ia lakukan dengan menggunakan high heels! Pokoknya segala lika liku kehidupan, manis pahit, susah senang sudah ia jalani. Tenang saja ma, kali ini kita pasti bisa melewatinya lagi.
Jujur saja, saya rindu sekali ingin bertemu dengan orang-orang yang baik hati dan berakhlak mulia. Ingin saya belajar banyak hal dari mereka. Saya merasa masih banyak yang harus saya perbaiki dari diri ini. Saya jelas sekali masih banyak kekurangan. Dan saya butuh contoh untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saya akan sangat senang jika ada yang memberikan kritik, jika perlu masukan yang membangun tentang kekurangan maupun kesalahan yang saya miliki.
Berbicara tentang orang yang baik hati, saya jadi kangen sekali dengan guru ngaji saya ketika saya masih remaja. Beliau adalah Ibu Eka dan Ibu Dwi, dua kakak beradik yang sekarang saya tidak tahu lagi mereka ada di mana. Mereka begitu sabar dalam mengajari saya tentang agama, menemani saya di siang hari, bahkan ketika saya tertidur sewaktu mengaji mereka tidak pernah memarahi saya :') Mereka bahkan mau tidak dibayar untuk mengajari saya mengaji. Subhanallah orang-orang seperti ini. Sama seperti teteh mentor saya sewaktu kuliah, Teh Linda. Beliau begitu lemah lembut, selalu tersenyum, bacaan Al-Qur'an nya begitu indah, wah pokoknya Subahanallah deh sulit digambarkan. Sepertinya orang-orang ini hatinya terbuat dari batu mulia. Yang jelas, saya merasa sangat tenang di dekat mereka.
Juga ada almarhumah tante saya yang begitu perhatian dan sangat baik. Tante saya ini keturunan Jerman, tapi beliau sangat humble dengan semua orang. Ketika saya menginap di rumahnya, ia dengan senang hati mau mengajarkan cara membuat sablon untuk di tas. Walaupun saya masih kecil, tapi beliau juga mau berbicara dan bercerita tentang kehidupannya. Tentang bagaimana ia biasa membuat selai strawberry sendiri di kebunnya, membuat Brownies yang rasanya sangat enak, dan macam-macam. Tidak sungkan pula ia tersenyum sambil mengucapkan "Have Fun!" ketika saya akan bersenang-senang menghadiri suatu acara. Senang sekali rasanya bisa mengenal orang-orang seperti ini.
Oh ya tidak lupa satu lagi, saya juga banyak belajar dari si Bumi =) Hehe, you know who you are. Bukan hanya belajar sketch-up saja, saya juga belajar melihat sesuatu secara lebih obyektif. Through his eyes, I've learnt many things..
Akhir kata, saya memang masih harus banyak belajar, tetap belajar, dan terus belajar. Hehe. Never Ending Learn! Semangat!
27 Maret 2009
[m.r.]


3 comments:
good note :D
masih byk kok orang baik di dunia ini, walopun yg jahat lebih banyak...
selama ini gw berprinsip, pokoknya selama gw berbuat baik ke org lain & percaya kalo mereka jg org baik, gw yakin mereka pasti jg berbuat baik ke gw. emang bahaya sih, apalagi bwt hidup di ibukota yg penuh tipu daya. hahaaa... tp gw ga suka hidup saling mencurigai =p
thx bgt soal bahasan ibu yg tangguh. skrg hidup gw lagi berat2nya (curcol), moga2 endingnya bagus ya. huks huks...
ps: gw jg suka ngobrol ga jelas sama si BUMI itu tuh. bahasannya suka mendadak filosofis. hahahahaa
setuju put! kita akan menuai sesuatu sesuai dgn apa yg kita lakukan. dan kuncinya mungkin ikhlas supaya apa yg kita lakukan itu benar2 berkah.
sama2 put, gw jg terkesan bgt sama ibu itu. dia sama sekali ga terdengar sedih loh pas nyeritain anaknya, bener2 tegar gitu. semoga anaknya bisa sembuh ya. emangnya lo lg knp put? bukannya pertengahan bulan ini mau trip ke europe? seneng dong harusnya. hehehe. yg sabar aja ya bu.
btw put, bumi yg gw maksud bukan Yogi Candra Bhumi loh. Ini bumi yg pernah gw kenalin put. Itu looh.. Hehehe. Tapi emang si yogi chan juga suka berat2 topik bahasannya. lieur euy =P
cerita yang menarik ..
subhanallah .. memang dalam kehidupan yang kita jalani banyak cerita dan hikmah yg bisa kita dapatkan ..
Post a Comment