Beberapa waktu yang lalu saya sempat terbesit dalam hati, ingin deh menghadiri pemakaman supaya saya lebih ingat akhirat dan lebih mensyukuri hidup. Ketika melayat seseorang, entah kenapa pasti langsung teringat bahwa "oh ya, dunia ini sementara ya", "kita hidup ga lama kok", "ga ada yang abadi di dunia ini", "untuk apa menimbun materi, pada akhirnya kita akan mati juga tanpa membawa apa-apa", "oh ya harusnya aku lebih banyak bersyukur masih hidup", "jangan lupa untuk beramal baik", dan berbagai pikiran lainnya yang membuat saya tersadarkan setelah tenggelam begitu lama dalam urusan duniawi. Materi. Pencapaian yang tidak ada habisnya.
Tapi sayangnya tidak ada satupun pemakaman yang bisa saya hadiri. Bukannya mengharapkan seseorang untuk meninggal, tidak tentu saja. Saya hanya ingin tersadarkan dan lebih mensyukuri hidup.
Entah bagaimana, seperti kebetulan atau mungkin doa saya terjawab alhamdulillah, beberapa hari yang lalu saya mendapat kesempatan untuk melayat. Sebenarnya tidak diniatkan untuk melayat, tapi takdir membawa saya ke tempat tersebut.
Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu saya ada urusan untuk pergi ke suatu tempat. Ketika sampai di tempat itu, sudah masuk waktu Shalat Dzuhur. Sebenarnya saya agak ragu apakah saya shalat dulu atau saya selesaikan dulu urusan saya. Meski agak berat melangkah, tapi akhirnya saya dahulukan shalat, entah bagaimana tiba-tiba kaki ingin ke masjid. Kebetulan waktu itu masjidnya ada di depan saya, langsung saja saya masuk, wudhu, lalu naik ke atas ke area shalat.
Nah pas sekali ketika saya sudah masuk area shalat, tiba-tiba di belakang saya ada rombongan masuk membawa keranda jenazah. Ternyata ada salah seorang warga di dekat situ yang meninggal. Niat awalnya tadi saya mau Shalat Dzuhur, tapi melihat orang-orang sudah berkumpul untuk Shalat Jenazah, akhirnya saya ikutan juga untuk menghormati jenazah tersebut.
Saya kurang paham juga sebenarnya kalau dalam situasi seperti itu sebaiknya Shalat Dzuhur dulu atau ikut Shalat Jenazah dulu. Saat itu saya lihat keranda jenazahnya sudah diletakkan di depan area shalat, saya pikir kalau saya Shalat Dzuhur dulu nanti ketika sujud jadinya saya sujud pada jenazah, meski niatnya tidak seperti itu. Tapi kenyataannya jenazahnya sudah ada di depan. Dalam Shalat Jenazah pun tidak ada sujudnya, semua bacaan dilakukan berdiri tanpa rukuk dan sujud. Jadi saya cari yang amannya saja, akhirnya saya putuskan ikut Shalat Jenazah dulu.
Setelah selesai shalat, kemudian jenazah tersebut dibawa keluar. Baru setelah itu saya bisa Shalat Dzuhur.
Meski saya tidak kenal dengan sang Jenazah, tapi besitan perasaan seperti yang saya sebutkan diatas ketika melihat jenazah selalu ada. Kali ini yang terbesit dalam benak saya yaitu "bagaimana ya kalau aku yang ada di keranda itu", "udah siap belum ya kalau dipanggil tiba-tiba seperti itu", "berapa banyak ya orang yang akan menshalati aku", "amalnya udah cukup belum ya kalau udah dipanggil duluan", "apa ya yang orang-orang akan ingat tentang aku nanti", dan berbagai pikiran lainnya seketika melintas.
Pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian ini tidak lain adalah, kematian tidak mengenal waktu. Takdir akan membawa kita ke tempat yang akan kita tuju sesuai dengan jalan takdir tersebut. Sehebat apapun kita, pada akhirnya kita akan dibaringkan di pembaringan terakhir. Yang orang-orang ingat bukan sehebat apakah kita, prestasi apa saja yang sudah kita peroleh, tapi perbuatan baik kita yang akan melekat di benak setiap orang. Dan kebaikan itu yang membuat orang merindukan kehadiran kita. Pun sebaliknya, perbuatan buruk kita juga menorehkan bekas yang tidak terhapuskan di benak setiap orang. Semua hal-hal yang menyakitkan yang pernah kita perbuat pada orang lain, akan diingat hingga ke liang kubur.
Alhamdulillah setelah melakukan Shalat Jenazah saat itu, saya merasa bersyukur masih hidup dan diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Entah kenapa diri ini susah sekali bersyukur, padahal nikmat yang tidak boleh disepelekan adalah hidup itu sendiri. Apalagi masih sehat walafiat, tidak ada penyakit serius, akal pun masih jalan, sudah seharusnya saya lebih bersyukur bukan? Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tattimush sholihaat... Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
10 January 2016
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment