Di dekat rumah saya ada sebuah masjid kecil yang selalu mengumandangkan adzan. Tiap menjelang adzan Maghrib, masjid ini selalu melantunkan dzikir atau sholawat. Terkadang saya suka tersentuh dengan alunan dzikir dan sholawatnya, bahkan saking indahnya bisa membuat saya terharu hingga mata berkaca-kaca. Saya sempat merekam alunannya untuk saya putar lagi sewaktu-waktu.
Berikut alunan dzikir yang sempat saya rekam.
Dzikir Subhanallah Walhamdulillah
Dzikir Allahumma Sholli 'Ala Muhammad
Namun entah kenapa akhir-akhir ini orang yang biasa melantukan dzikir dengan suara yang bagus tidak terdengar lagi. Pelantunnya digantikan oleh anak-anak kecil.
Seperti yang kita tahu, anak-anak memiliki suara yang nyaring dan seringkali cempreng. Suara yang masih belum sempurna seperti ini, entah kenapa diberikan kepercayaan untuk melantunkan dzikir & sholawat yang sifatnya sakral. Bahkan seringkali anak-anak tersebut sambil bercanda dengan teman-temannya dan tertawa-tawa ketika melantunkan dzikir yang seharusnya terdengar indah. Suara mereka yang melengking dan sangat cempreng itu terdengar kemana-mana selama setengah jam hingga empat puluh lima menit sebelum adzan Maghrib.
Bukannya saya tidak suka anak-anak, tapi semestinya para pengurus masjid lebih bijak ketika menentukan siapa yang akan melantunkan dzikir. Apalagi ini bukan sekedar membaca dzikir seperti di majelis pengajian, tapi ini lantunannya menggunakan speaker (pengeras suara) yang nyaring terdengar keseluruh kompleks perumahan dan jalanan. Membiasakan anak-anak untuk berdzikir itu hal yang bagus, tapi memberikan mereka microphone dengan speaker di usia mereka yang belum mengerti bagaimana seharusnya bersikap itu bukanlah hal tepat. Apalagi terkadang mereka juga mengumandangkan adzan.
Sedih bercampur kesal rasanya mendengar suara anak-anak tersebut, karena dengan suara anak-anak yang seperti ini yang terdengar bermain-main, membuat image agama Islam semakin minus dimata masyarakat. Kita hanya memperdengarkan kegaduhan bukan lantunan yang semestinya bisa menyentuh hati tiap orang yang mendengar.
Dulu di jaman Rasulullah Saw., orang yang diberi kepercayaan untuk mengumandangkan adzan hanyalah orang-orang terpilih saja yang memang pantas melantunkan adzan. Yaitu orang-orang yang bisa membaca, mengerti, dan hafal Al-Qur'an, Bukan sembarang orang bisa berada di mimbar adzan dengan pengeras suara.
Mungkin ini salah satu sebab mengapa sempat ada wacana untuk melarang adzan dengan pengeras suara, walaupun memang ini bukan sebab utamanya. Tapi ini bisa dijadikan alasan untuk melarang di kemudian hari. Jangan sampai kita seperti negara sekuler yang sama sekali tidak boleh melantunkan adzan dengan pengeras suara, adzan hanya boleh di dalam masjid saja. Alhamdulillah kita masih diberikan kebebasan beragama dan beribadah.
Mungkin saran saya, jika tidak ada orang yang bisa melantunkan dzikir atau adzan, sebaiknya gunakan rekaman saja. Itu lebih baik dan lebih enak didengar daripada suara anak-anak yang melengking. Ini hanya pendapat saya saja, bisa benar bisa salah. Yang paling benar bisa ditanyakan pada ulama.
Saya jadi teringat dulu sewaktu saya masih kuliah, saya suka sekali menghabiskan waktu di area Masjid Salman. Selain dekat dengan kampus, masjid ini memiliki atmosfer yang tenang. Saya merasakan pancaran energi positif tiap kali berada disana, rasanya hati lebih nyaman dan tenang. Bila mendengar adzan dari Masjid Salman, entah kenapa hati ini rasanya jadi ingin ikut sholat berjamaah. Adzan yang dilantunkan terdengar indah, nyaman dan adem rasanya di hati ini.
Yang saya lihat sangat menarik dari masjid ini, selain fungsi utamanya digunakan untuk ibadah sholat, Masjid Salman juga digunakan untuk mengaji, menuntut ilmu, berkolaborasi, berkreasi, bahkan juga untuk berdagang dan bekerja. Disana lengkap semua kegiatan ada. Benar-benar seperti gambaran masjid di jaman Rasulullah Saw., yaitu masjid sebagai pusat peradaban.
Karena saking sukanya dengan masjid ini, saya sampai punya cita-cita suatu hari saya ingin sekali tinggal di sekitar area yang dekat dengan Masjid Salman. Saya ingin menghabiskan waktu saya disini, saya ingin mendaftar untuk belajar Al-Qur'an, baik tahsin maupun tahfidz. Seminggu bisa dua sampai tiga kali pertemuan. Lalu saya ingin mentoring / mengaji lagi dengan para murobbi yang berwawasan luas tapi tetap rendah hati. Kemudian di akhir pekan saya mau ikut kegiatan ekstrakurikuler yang dimiliki masjid ini, dulu yang saya ingat sempat ada ekskul pencak silat, klub baca, dan lain-lain saya lupa apa saja. Lalu mungkin jika saya masih belum menikah juga, hehe, saya ingin mendaftarkan diri untuk ta'aruf. :")
Tiap beberapa bulan sekali, disana juga suka ada pameran. Seperti pameran buku islami, bazaar, dan lain-lain. Mungkin jika saya masih menggeluti usaha hijab, saya ingin buka stand kecil-kecilan menjual hijab dan perlengkapan muslimah lainnya. Dan satu hal lainnya yang saya suka sekali dengan Masjid Salman, yaitu makanan yang dijual di sekitar masjid maupun di kantinnya enak-enaakkk. Luar biasa, subhanallah banyak sekali berkahnya baik di dalam maupun di luar Masjid ini.
Yah mudah-mudahan, insyaa Allah jika ada umur, rejeki, dan kesempatan, cita-cita saya ini mudah-mudahan bisa terkabul. Aamiin yaa Rabbal 'Alamiin.....
23 December 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment