Saya menemukan video yang bagus mengenai dakwah pada anggota keluarga atau orang-orang yang dekat dengan kita. Berikut videonya.
Menyampaikan dakwah atau perihal yang berhubungan dengan ajaran agama pada anggota keluarga sendiri memang bukan hal yang mudah. Terlebih jika posisi kita berada dalam pihak yang kurang memiliki peluang untuk didengar, seperti anak kepada orang tua, adik kepada saudara yang lebih tua, ponakan pada paman atau bibi, dan lain sebagainya. Bahkan orang tua sendiri juga bisa jadi tidak mudah menyampaikan ajaran agama pada anaknya yang tidak dibiasakan dari kecil mengikuti ajaran agama.
Sebenarnya saya agak sungkan untuk menulis ini, karena takutnya jadi ujub / riya' / sombong. Meski niat awalnya tidak seperti itu, tapi namanya manusia memang sudah kodratnya ketika melakukan sesuatu yang baik atau bagus sedikit saja, pasti ada rasa bangga jika disebutkan. Ya doakan saja mudah-mudahan saya dijauhkan dari perasaan tersebut. Aaamiin.
Karena saya pikir ini ada bagusnya juga untuk di-share dibandingkan mudharatnya. Tujuannya tidak lain mudah-mudahan metode dakwah yang saya sampaikan dan sudah saya coba ke anggota keluarga bisa efektif juga metodenya buat yang lain. Insyaa Allah. :)
Awalnya sebenarnya tidak ada niatan untuk benar-benar dakwah pada keluarga. Saya sesekali sekedar mengingatkan ketika melihat ada yang kurang-kurang. Oya seperti sudah saya ceritakan di postingan-postingan sebelumnya, keluarga saya tadinya bukan keluarga yang religius yang mengerti betul tentang agama. Apalagi ayah saya seorang muallaf, beliau belum begitu mengerti agama waktu awal-awal. Jadinya kita agak dibebaskan mengenai agama, meski tidak sebebas itu, maksudnya asal tetap beragama Islam dan tidak memeluk agama yang lain, orang tua saya fine-fine saja. Kita sekeluarga dulunya juga tidak begitu paham kalau harus sholat 5 waktu, memakai hijab, dan lain-lain.
Meskipun serba kekurangan dalam hal agama, tapi alhamdulillah kedua orang tua saya tetap menekankan bahwa yang benar tetap berada dalam koridor Islam. Tidak minum alkohol, tidak makan makanan yang haram, dan hal-hal yang prinsip lainnya tetap diajarkan. Tapi untuk masalah ibadah, kita sekeluarga awalnya tidak terlalu paham jadi dibebaskan tidak ada paksaan harus sholat dan lain-lain.
Untuk pendidikan agama, alhamdulillah orang tua saya menyediakan guru ngaji yang tiap minggu datang ke rumah untuk mengajarkan Al-Qur'an pada anak-anak. Saya pribadi tidak disekolahkan di sekolah Islam, karena orang tua saya termasuk tipe orang tua jaman dulu yang memiliki paham sekolah umum lebih bisa mengajarkan disiplin pada anak-anak, meskipun disana tidak ada pelajaran agama Islam.
Saya sendiri baru benar-benar mengenal agama pas kuliah. Kebetulan lingkungan kampus cukup religius yang saya lihat, alhamdulillah saya berkesempatan belajar agama dari teman-teman dan kegiatan pengajian di kampus. Hingga akhirnya saya bisa paham bahwa menutup aurat itu wajib, karena itu saya memutuskan untuk memakai hijab. Progress saya dan anggota keluarga yang lain agak berbeda, di waktu saya pertama kali memakai hijab dulu ayah saya bahkan bilang bahwa hijab itu tidak wajib, hehe. Ya begitulah, Memang agak susah awalnya menjelaskan pada anggota keluarga sendiri, persis seperti yang disampaikan di video di atas.
Terlebih saya termasuk anggota keluarga nomer dua termuda di rumah, jadi kata-kata saya seringkali tidak didengar dan dianggap angin lalu. :( Sampai sekarang juga masih dianggap seperti anak kecil, pendapat saya bisa dibilang tidak begitu berpengaruh di rumah. Hehee.. Saya sih ga terlalu baper alias bawa perasaan kalau istilah anak jaman sekarang. Hihii, happy go lucky saja biar ga pusing. :D
Awalnya saya tidak pernah punya niatan untuk mengajak keluarga atau dakwah secara khusus ke anggota keluarga. Tapi pas melihat keluarga sendiri agak kurang, misalnya tidak sholat atau belum menutup aurat saya suka risih sendiri, otomatis tiba-tiba jadi bawel ngingetin tiap kali ada kesempatan. Bukan karena merasa lebih baik, tapi saya rasa semua orang seperti itu kodratnya. Kalau melihat ada yang tidak benar atau tidak sesuai menurut standard kita, pasti otomatis langsung berkomentar. Begitu yang terjadi dengan saya di awal-awal. Bawel banget, tiba-tiba jadi cerewet ngeliat ini itu.
Tentunya tidak otomatis langsung pada berubah pas saya ingatkan harus pakai kerudung untuk perempuan, atau harus sholat 5 waktu, sholat Jumat untuk laki-laki, dan lain sebagainya. Tidak jarang juga malah jadi marah, berantem, hanya karena tidak suka diingatkan. Atau cara saya yang kurang halus mengingatkannya. Saya malah jadi suka sedih sendiri kalau keluarga saya tidak melakukan apa yang saya harapkan, meskipun itu pada dasarnya adalah sesuatu yang baik. Atau wajib malah. Tapi saya baru mengerti akhir-akhir ini, kalau waktu itu saya hanya tidak sabaran dan ingin melihat perubahan secara instan. Ya jelas tidak mungkin tentunya.
Akhirnya lama-kelamaan saya menyerah juga, saya biarkan saja keluarga seperti apa adanya. Bukannya tidak peduli lagi, tapi saya pikir mungkin memang mereka belum mendapatkan hidayah dari Allah. Yang namanya hidayah tidak ada yang bisa memaksakan, itu adalah hak prerogatif dari Allah semata. Pada siapa Allah mau membukakan pintu hati untuk menerima ajaran agama adalah kehendak Allah semata. Saya hanya bisa mendoakan jika ada kesempatan semoga Allah memberikan hidayah-Nya juga pada keluarga saya.
Karena progress dalam urusan agama antara saya dan anggota keluarga yang lain tidak sama, saya jadinya lebih fokus untuk belajar agama sendiri dengan teman-teman atau lewat pengajian maupun artikel-artikel.
Entah bagaimana, suatu ketika di rumah waktu itu saya terinspirasi untuk menempelkan kertas cuplikan ayat Al-Qur'an di dinding rumah untuk mengingatkan ayah saya untuk sholat Jumat. Karena waktu itu saya kuliahnya di luar kota, jadi saya pikir saya ingatkan lewat tempelan kertas saja. Siapa tahu dibaca sekali-kali, lalu jadi ingat lama-kelamaan. Eh alhamdulillah, entah bagaimana tiba-tiba sesekali saya lihat ayah saya ikut Sholat Jumat juga. :D Tidak otomatis setelah saya tempel tulisannya terus besoknya langsung sholat, hehe, agak lama juga waktu itu. Saya ingat sampai kertasnya agak dekil di dinding pas pertama kali saya lihat ayah saya ikut Sholat Jumat.
Sebenarnya dulunya sebelum kuliah saya juga tidak mengerti soal kewajiban sholat 5 waktu. Ayah saya yang duluan mengerjakan sholat meski belum 5 waktu juga. Tapi dulu saya sering lihat sebelum mengantarkan anak-anak sekolah, pagi-pagi pasti ayah saya sholat dulu. Saya sampai sering ngomel-ngomel karena sholatnya lama jadi suka telat. Jahat banget sih kalau dipikir-pikir, kenapa dulu saya gitu ya. Hehe.. jadi malu sendiri.
Terus lanjut ke anggota keluarga yang lain. Karena sering melihat saya pakai kerudung dan jadinya terlihat lebih bagus, beberapa waktu kemudian entah bagaimana anggota keluarga saya yang lain satu-satu mulai mengenakan kerudung juga. Mungkin terinspirasi melihat gaya saya yang lumayan stylish jadi bikin yang lain penasaran ingin mencoba. Hehe.. kegeeran banget ya. Yang pasti alhamdulillah karena Allah memberikan hidayah jadi anggota keluarga yang lain sedikit demi sedikit mulai terbuka hatinya untuk menerima ajaran agama.
Nah untuk urusan sholat, itu memang susaaah banget. Apalagi baca Al-Qur'an. Itu paling sulit untuk mengajak orang agar mau ikutan sholat atau mengaji. Jadinya saya bisa dibilang hampir tidak pernah mengingatkan yang lain untuk sholat. Karena sensitif untuk masalah sholat, kalau disinggung dikit bisa jadi berantem. Ujung-ujungnya pasti dibilang merasa lebih baik, lebih sholeh, dan lain sebagainya. Jadi saya cari yang aman saja, biar tidak pada tersinggung juga jadi saya lebih memilih untuk sholat sendiri saja. Cuma pas sekeluarga lagi jalan-jalan bersama dalam satu kendaraan, ketika masuk waktu sholat saya usahakan untuk minta berhenti sebentar di Masjid atau Pom Bensin untuk melaksanakan sholat. Itu saja kadang-kadang suka berantem karena makan waktu dan merepotkan, tapi untuk urusan yang satu ini saya agak keras kepala dan kekeuh untuk minta waktu sebentar mengerjakan sholat. Kalau tidak dikasih, saya kadang-kadang suka bilang ditinggal saja saya tidak jadi ikutan pergi bersama. Saya lebih memilih mengerjakan sholat karena itu kewajiban dibanding pergi bersama keluarga. Akhirnya karena pada capek juga berantem, lama-lama yang lain jadi terbiasa dengan request spesial saya yang satu ini kalau lagi pergi bareng. Mau tidak mau yang lain toleransi untuk menyediakan waktu untuk mengerjakan sholat. Pilihan tempatnya antara Pom Bensin, Masjid, Supermarket, atau Mall.
Entah bagaimana, setelah agak lama waktu berlalu, saya melihat satu demi satu anggota keluarga saya ada yang sholat juga alhamdulillah.... :') Meski belum terlalu sempurna, tapi setidaknya ada keinginan sholat. Hehee... antara senang dan terharu. Karena keluarga saya asalnya bukan keluarga yang religius, kita tidak punya sosok yang benar-benar paham mengenai ajaran agama di dalam keluarga untuk bisa membimbing secara khusus. Jadi semuanya pada belajar masing-masing. Kita juga bukan tipe keluarga yang suka datang ke pengajian, jadi paling kita baca-baca dari buku panduan agama saja atau tanya-tanya ke teman atau saudara.
Satu-satunya harapan supaya bisa mengerti ajaran agama ya hanya hidayah semata dari Allah SWT. Alhamdulillah Allah berbaik hati membukakan pintu-pintu untuk bisa mengenal agama.
Oya baru-baru ini saya agak tertarik mengenai produk-produk halal. Sejak baca-baca dikit mengenai perihal halal dan haram, saya jadi lebih concern ketika mengkonsumsi atau menggunakan suatu produk. Awalnya keluarga saya melihat saya agak ekstrim, karena saya hanya mau makan makanan atau produk yang sudah bersertifikat halal. Saya dibilang berlebihan, terlalu strict, dan lain sebagainya. Tapi saya jelaskan tiap kali ada kesempatan, bahwa produk yang sudah bersertifikat halal itu sudah melalui proses pengecekan dan mungkin juga pengujian di laboratorium oleh para ahli di bidangnya (ahli pangan, ahli kimia, obat-obatan, dll), jadi lebih terjamin kehalalannya. Produk yang sudah bersertifikat halal lebih aman untuk dikonsumsi karena sudah dicek oleh para ahli. Bahkan saya pernah dengar kalau tidak salah, salah seorang ahli di bidang halal dari luar negeri mengatakan bahwa produk yang halal lebih sehat untuk dikonsumsi. Saya coba tekankan pengertian ini tiap kali menjelaskan ke keluarga saya. Awalnya pada risih dan kesal tentunya kenapa sampai makanan, sabun, odol, dll harus ada logo halal MUI-nya. Kalau ga ada logonya, saya lebih memilih tidak makan atau cari makanan yang lain. Tidak sekali dua kali saya dibilang ekstrim gara-gara hal ini, hehehe... Tapi lama kelamaan keluarga saya mulai terbiasa, tiap kali habis belanja dari luar dan membawakan makanan pasti mereka meyakinkan saya biar ikut makan, "itu udah ada logo halal-nya kok." Hehe... :D
Ternyata segala sesuatu kalau dibiasakan bisa terbiasa juga. Bukan karena sulit, tapi karena tidak terbiasa terkadang kita menolak sesuatu yang baru meskipun itu baik dan benar. Karenanya dalam dakwah kita dianjurkan untuk sabar dan menunggu hingga saatnya Allah membukakan pintu hati dan hidayah-Nya untuk orang-orang yang kita kasihi.
Mungkin untuk lebih mudah dipahami dan lebih singkat, saya berikan poin-poin metode penyampaian dakwah pada keluarga kita sendiri yang sepertinya cukup efektif :
- Konsisten. Ketika kita mengatakan sholat itu wajib, kita harus bisa menunjukkan konsistensi dalam mengerjakan sholat 5 waktu itu sendiri. Atau ketika kita mengatakan bahwa kita harus makan makanan yang halal, kita sebisa mungkin konsisten untuk makan atau mengkonsumsi produk yang ada logo halalnya saja. Sekali kita tidak konsisten, orang yang melihat akan mengira jika tidak dilakukan tidak apa-apa. Bahkan bisa dikira sunnah / tidak wajib.
- Antusias dan bersemangat. Ketika mengerjakan sesuatu, usahakan kita terlihat antusias ketika mengerjakannya. Contoh ketika kita berusaha untuk menyampaikan bahwa hijab yang benar itu yang menutupi dada dan tidak menerawang, sebisa mungkin kita tunjukkan antusiasme kita bahwa hijab yang benar bisa juga terlihat bagus dan stylish. Tidak kuno atau terlihat terlalu ekstrim seperti persepsi yang sudah terbentuk di masyarakat. Ketika kita terlihat bersemangat dalam mengerjakan sesuatu, orang-orang akan penasaran dengan apa yang kita lakukan.
- Logis dan ada manfaatnya. Misalnya ketika kita menyampaikan kenapa harus mengkonsumsi yang halal, kita harus bisa menjelaskan karena yang halal lebih sehat untuk badan kita dan sudah dicek oleh para ahli di bidangnya jadi lebih terjamin. Atau kenapa harus memakai hijab, tidak lain karena itu lebih baik bagi perempuan supaya tidak diganggu.
- Happy go lucky. Jangan gunakan emosi ketika menyampaikan sesuatu, meskipun yang kita sampaikan adalah kebenaran tapi jika kita menyampaikannya dengan cara yang kurang enak di hati, maka apa yang kita sampaikan tidak akan pernah bisa diterima. Jadi sebisa mungkin gunakan cara yang baik dalam menyampaikan sesuatu, kalau tidak bisa diterima jangan marah. Kita sebisa mungkin tunjukkan sikap nothing to lose, kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Secara psikologi, ketika melihat ada orang yang nothing to lose, kita justru akan semakin penasaran.
- Iklan. Gunakan media untuk memasarkan dakwah kita. Contoh seperti cerita saya di atas ketika mengingatkan ayah saya untuk Sholat Jumat, saya menggunakan media poster di dinding yang saya buat sendiri dari kertas A4 yang tulisannya saya print pakai printer di rumah. Usahakan tulisannya jangan terkesan mengerikan seperti kalau tidak sholat akan disiksa di akhirat nanti, walaupun memang benar seperti itu kenyataannya tapi kalau saya sendiri melihat ada tulisan yang seperti itu di rumah pasti diam-diam akan saya copot tulisannya. Karena jujur saya sendiri seram baca yang seperti itu. Lebih baik gunakan bahasa yang persuasif / mengajak dan tidak terkesan memaksa. Atau yang netral pakai ayat Al-Qur'an saja, lebih jelas dan terpercaya sumbernya.
- Baca Al-Qur'an. Pernah dengar kisah Umar bin Khattab yang tersentuh hatinya ketika mendengar bacaan Al-Qur'an hingga akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam? Saya sendiri ketika mendengar bacaan Al-Qur'an dilantunkan dari speaker masjid seringkali suka terharu sendiri, begitupula ketika mendengar lantunan dzikir tidak jarang tiba-tiba jadi berkaca-kaca padahal tadinya tidak kenapa-kenapa. Karena bacaan Al-Qur'an adalah kalam Allah, karena itu ia mampu menyentuh kalbu. Rutinkan membaca Al-Qur'an di rumah, mudah-mudahan jika ada yang mendengar akan tersentuh pula hatinya. Insyaa Allah.
- Sabar menunggu. Setelah semua usaha kita coba, saatnya kita sabar, menunggu, dan berdoa hingga Allah berikan hidayah-Nya.
Ini hanya sedikit tips-tips yang mungkin bermanfaat dan bisa dicoba ketka menyampaikan dakwah pada keluarga. Mudah-muudahan jika Allah berkehendak, Allah bukakan pintu hati anggota keluarga kita atau orang-orang terdekat kita pada ajaran agama. Insyaa Allah, aamiin.
Semangaaat! :)


0 comments:
Post a Comment