Bertemu dengan orang asing dalam keseharian saya adalah hal yang biasa. Lalu lalang orang-orang ketika berjalan, bertanya arah pada bapak tua yang sedang bersantai di tepian jalan, membeli sesuatu di sebuah toko, sampai membayar makanan pada penjaga kasir membuat saya menemui berbagai macam orang dengan latar dan pekerjaan yang berbeda-beda. Semua pada awalnya adalah seseorang yang asing bagi saya. Tapi diantara keasingan itu, sesekali saya beruntung dapat bersinggungan dengan orang yang mengesankan disaat-saat tertentu. Saya menyebut mereka 'the great anonymous'.
Sore tadi saya berjalan-jalan di Pasar Baru yang berada di Kota Bandung. Cuaca sore itu begitu menyenangkan. Begitu pula suasana hati, karena siangnya saya baru saja menikmati makan siang bersama manusia bumi, seseorang yang sangat mengesankan langit... Tujuan saya ke Pasar Baru tidak lain adalah untuk belanja pernak-pernik untuk wisuda sabtu besok. Ini untuk menghormati dunia fashion dan seni. Saya tidak boleh menimbulkan 'polusi pemandangan' diantara wisudawan yang cantik dan tampan. Hehe, sedikit membela keinginan pribadi untuk tampil menarik.
Setelah daftar belanja terpenuhi satu per satu, saya memutuskan untuk kembali pulang ke kosan terindah saya di daerah Tubagus Ismail. Bicara tentang pulang, sebenarnya dua hari sebelum hari Sabtu ini adalah hari-hari terakhir saya di Bandung. Sebentar lagi saya akan kembali menjajakkan kaki di Jakarta bersama dengan pendatang lainnya, berjuang mencari kehidupan untuk hari esok yang cerah (baca: panas.. panas.. panas.. Jakarta PANAS!!). Jadi detik-detik di tanah parijs van java yang tidak ada paris-parisnya ini harus saya nikmati senikmat-nikmatnya sebelum Sabtu. Seperti makan tiramisu Cizz siang ini, ngemil pisang berbagai rasa di Simpang Dago kemarin malam, mondar mandir kosan-kampus, tampil stylish segaya mungkin di detik-detik saya, belanja tentunya tidak boleh dilewatkan seperti sore ini - mengingat harga-harga di Bandung lebih bersahabat dibanding Ibukota, dan puncaknya adalah Sabtu - Hari Super Gaya!
Kembali pada perjalanan pulang dari Pasar Baru ke kosan. Saya memutuskan untuk menunggu angkutan umum Bus Damri jurusan Dago - Leuwi Panjang. Sebenarnya ada beberapa angkot yang menuju atau dekat dengan tujuan Dago, daerah sebelah kosan saya, tapi saya memutuskan untuk menunggu Damri, alasannya adalah saya ingin menghemat beberapa rupiah. Ada unsur pelit, sedikit. Penyakit turunan susah untuk disembuhkan. Ini bawaan genetika ras suku tertentu yang menjajah sebagian besar perekonomian di Indonesia. Dalam episode pulang ke kosan ini, saya berjumpa dengan pedagang asongan yang menjual minuman, rokok, permen, dan pernak-pernik andalan lain miliknya. Kami berkenalan secara sengaja. Saya bertanya perihal keberadaan bus Damri ini di sore menjelang malam padanya. Untuk sekedar memastikan. Dan menurutnya bus tersebut masih berkeliaran, namun agak lama munculnya. Niat hati hanya ingin bertanya, tapi disambut dengan obrolan basa-basi yang membuat saya sebenarnya malas untuk menanggapi. Menit demi menit berlalu. Lumayan lama juga saya menunggu. Ditemani oleh pedagang asongan tersebut yang masih ingin berbicara, tepatnya bertanya ini itu.
Lalu sampailah pada percakapan yang memperlihatkan bahwa ia simpati. Pedagang ini diawal-awal pembicaraan sempat menawarkan saya air mineral jajakannya, secara gratis. Saya tak sanggup menerima. Tidak enak hati, dan agak curiga dengan kebaikan cuma-cuma. Ada nasehat yang cukup baik agar kita berjaga-jaga, "Hati-hati menerima kebaikan dari orang yang tidak dikenal". Nasehat ini mendorong saya untuk tidak menerima pemberiannya. Lalu ditengah-tengah pembicaraan, ia mencurigai saya tidak memiliki uang yang cukup untuk naik angkot, karena saya rela menunggu lama. Beginilah saya, lebih baik menunggu lama untuk berhemat beberapa rupiah daripada berhemat berbelanja barang-barang yang seringkali tidak terlalu diperlukan. Penyakit gender. Di akhir-akhir pembicaraan, pedagang asongan yang tidak terlalu muda ini menawarkan saya beberapa rupiah untuk ongkos pulang. Ia terlihat kasihan melihat saya pegal berdiri demi Damri yang tak kunjung muncul. Saya jadi merasa tidak enak. Seandainya ia tahu saya baru saja berbelanja sesuka hati dan makan tiramisu, mungkin ia tidak akan menawarkan rupiah-rupiah itu. Tapi saya dibuatnya terkesan dengan kejadian ini. Ia orang yang tidak saya kenal, bahkan telah menjadi korban buruk sangka saya, ternyata memiliki kebaikan hati yang luar biasa. Ia tidak memakai jas atau baru saja turun dari Jazz, ia menggendong jualannya sepanjang hari di lehernya, ia termasuk orang-orang yang kita anggap 'orang sulit' yang berdiri disamping saya, namun masih mampu menawarkan bantuan untuk meringankan kesulitan. Luar biasa. Ia adalah 'the great anonymous' saya hari ini.
Sore tadi saya berjalan-jalan di Pasar Baru yang berada di Kota Bandung. Cuaca sore itu begitu menyenangkan. Begitu pula suasana hati, karena siangnya saya baru saja menikmati makan siang bersama manusia bumi, seseorang yang sangat mengesankan langit... Tujuan saya ke Pasar Baru tidak lain adalah untuk belanja pernak-pernik untuk wisuda sabtu besok. Ini untuk menghormati dunia fashion dan seni. Saya tidak boleh menimbulkan 'polusi pemandangan' diantara wisudawan yang cantik dan tampan. Hehe, sedikit membela keinginan pribadi untuk tampil menarik.
Setelah daftar belanja terpenuhi satu per satu, saya memutuskan untuk kembali pulang ke kosan terindah saya di daerah Tubagus Ismail. Bicara tentang pulang, sebenarnya dua hari sebelum hari Sabtu ini adalah hari-hari terakhir saya di Bandung. Sebentar lagi saya akan kembali menjajakkan kaki di Jakarta bersama dengan pendatang lainnya, berjuang mencari kehidupan untuk hari esok yang cerah (baca: panas.. panas.. panas.. Jakarta PANAS!!). Jadi detik-detik di tanah parijs van java yang tidak ada paris-parisnya ini harus saya nikmati senikmat-nikmatnya sebelum Sabtu. Seperti makan tiramisu Cizz siang ini, ngemil pisang berbagai rasa di Simpang Dago kemarin malam, mondar mandir kosan-kampus, tampil stylish segaya mungkin di detik-detik saya, belanja tentunya tidak boleh dilewatkan seperti sore ini - mengingat harga-harga di Bandung lebih bersahabat dibanding Ibukota, dan puncaknya adalah Sabtu - Hari Super Gaya!
Kembali pada perjalanan pulang dari Pasar Baru ke kosan. Saya memutuskan untuk menunggu angkutan umum Bus Damri jurusan Dago - Leuwi Panjang. Sebenarnya ada beberapa angkot yang menuju atau dekat dengan tujuan Dago, daerah sebelah kosan saya, tapi saya memutuskan untuk menunggu Damri, alasannya adalah saya ingin menghemat beberapa rupiah. Ada unsur pelit, sedikit. Penyakit turunan susah untuk disembuhkan. Ini bawaan genetika ras suku tertentu yang menjajah sebagian besar perekonomian di Indonesia. Dalam episode pulang ke kosan ini, saya berjumpa dengan pedagang asongan yang menjual minuman, rokok, permen, dan pernak-pernik andalan lain miliknya. Kami berkenalan secara sengaja. Saya bertanya perihal keberadaan bus Damri ini di sore menjelang malam padanya. Untuk sekedar memastikan. Dan menurutnya bus tersebut masih berkeliaran, namun agak lama munculnya. Niat hati hanya ingin bertanya, tapi disambut dengan obrolan basa-basi yang membuat saya sebenarnya malas untuk menanggapi. Menit demi menit berlalu. Lumayan lama juga saya menunggu. Ditemani oleh pedagang asongan tersebut yang masih ingin berbicara, tepatnya bertanya ini itu.
Lalu sampailah pada percakapan yang memperlihatkan bahwa ia simpati. Pedagang ini diawal-awal pembicaraan sempat menawarkan saya air mineral jajakannya, secara gratis. Saya tak sanggup menerima. Tidak enak hati, dan agak curiga dengan kebaikan cuma-cuma. Ada nasehat yang cukup baik agar kita berjaga-jaga, "Hati-hati menerima kebaikan dari orang yang tidak dikenal". Nasehat ini mendorong saya untuk tidak menerima pemberiannya. Lalu ditengah-tengah pembicaraan, ia mencurigai saya tidak memiliki uang yang cukup untuk naik angkot, karena saya rela menunggu lama. Beginilah saya, lebih baik menunggu lama untuk berhemat beberapa rupiah daripada berhemat berbelanja barang-barang yang seringkali tidak terlalu diperlukan. Penyakit gender. Di akhir-akhir pembicaraan, pedagang asongan yang tidak terlalu muda ini menawarkan saya beberapa rupiah untuk ongkos pulang. Ia terlihat kasihan melihat saya pegal berdiri demi Damri yang tak kunjung muncul. Saya jadi merasa tidak enak. Seandainya ia tahu saya baru saja berbelanja sesuka hati dan makan tiramisu, mungkin ia tidak akan menawarkan rupiah-rupiah itu. Tapi saya dibuatnya terkesan dengan kejadian ini. Ia orang yang tidak saya kenal, bahkan telah menjadi korban buruk sangka saya, ternyata memiliki kebaikan hati yang luar biasa. Ia tidak memakai jas atau baru saja turun dari Jazz, ia menggendong jualannya sepanjang hari di lehernya, ia termasuk orang-orang yang kita anggap 'orang sulit' yang berdiri disamping saya, namun masih mampu menawarkan bantuan untuk meringankan kesulitan. Luar biasa. Ia adalah 'the great anonymous' saya hari ini.


0 comments:
Post a Comment