Jika saya boleh berkata, bahwa keyakinan yang bagi sebagian besar masyarakat metropolis adalah konservatif, yaitu kepercayaan akan agama, hampir bahkan nyaris terkikis oleh kesibukan duniawi. Mungkin saya harus berucap, "Innalillahi wa innailaihi raaji'un" untuk kematian hati nurani. Ini lebih menyedihkan dibanding kehilangan semua harta didunia. Karena di dalam hatimu, disitu tersimpan hartamu yang tak bisa dibeli oleh mata uang apapun. Dimana hatimu, disitulah rumahmu. Ketika kita tak bisa mendengar hati kita karena tertutup penilaian material dan pakem sosial, tak heran nenek moyang kita berujar bahwa kita akan tersesat. Pergi kemanapun kita akan merasa kehilangan arah.
Dahulu kala, ketika saya benar-benar baru mengenal agama, saya merasa diri ini sudah baik. Saya bisa berdakwah, menasehati orang lain ini itu agar mengkuti jalan yang benar menurut saya. Dengan energi dan semangat yang meluap karena kecintaan akan keyakinan saya, membuat saya merasa pantas untuk yakin bahwa saya dekat dengan-Nya. Astaghfirullah jika saya pikir-pikir lagi saat ini. Siapakah saya bisa mengklaim kedekatan dengan Ilahi. Dan betapa polosnya pikiran saya saat itu. Tapi justru kepolosan itu membuat saya rindu saat ini. Karena saat itu entah bagaimana iman sungguh terasa menentramkan.
Bagi saya saat ini, untuk melakukan hal tersebut adalah suatu hal yang sangat besar. Saya tidak mampu lagi menyuruh orang untuk berada di jalan yang benar, karena saya sendiri merasa belum sepenuhnya benar. Saya masih banyak kekurangan disana-sini. Jika saya diminta untuk berdakwah, tentu saja saya tidak akan mampu. Perjalanan waktu membuat saya harus kembali ke titik nol. Dimana saya harus kembali belajar dari awal tentang baik dan buruk. Saya tidak ingin lagi terlalu memaksakan seseorang untuk beribadah, karena saya sadar bahwa ibadah itu adalah urusan pribadi manusia dengan Tuhannya. Cukup ia dan Tuhannya yang tahu. Kalau manusia tahu, yang ada hanya prasangka dan menghakimi saja yang muncul. Manusia tak dapat berlaku adil seperti Yang Maha Adil. Kita hanya dapat mengajak sesama manusia untuk berada dalam kebaikan, tapi keputusan adalah urusan pribadi. Itu yang saya pegang untuk saat ini. Dan sungguh yang namanya hidayah hanya Allah yang punya Hak Prerogratif kepada siapa Ia akan memberikan. Sebesar apapun usaha kita untuk mengajak, jika Allah belum berkehendak, maka memang belum saatnya.
Berbicara tentang hidayah, seketika saya jadi ingin membahas mengenai jilbab. Menggunakan atribut keagamaan yaitu jilbab dan pakaian yang tertutup, bagi saya adalah beban tersendiri. Karena kita diharapkan mampu untuk memenuhi ekspektasi masyarakat akan anggapan mengenai wanita berjilbab. Bukan hal yang mudah. Karena stereotipe yang sudah terbentuk saat ini, wanita yang berjilbab memiliki cap baik, shaleh, dan berbagai anggapan seperti malaikat lainnya yang terpatri. Jika kaum jilbabers sedikit saja salah berbusana, atau mungkin ada tingkah laku yang tidak baik menurut masyarakat, maka mereka akan dituding memperburuk citra agama. Bahkan untuk seorang wanita berjilbab yang begitu syar'i pakaiannya, tidak luput dari pandangan masyarakat yang merasa ia terlalu 'ekstrim'. Beratribut agama di jaman ini bukan suatu hal yang mudah. Menjadi orang baik adalah tuntutan terbesar bagi kami. Dimana hal ini musti saya jawab dengan frase klasik bahwa kami hanyalah manusia. Kesempurnaan bukan milik kami. Kesempurnaan dan kebaikan hanyalah di sisi Allah semata. Kami hanya berusaha untuk menjadi muslimah yang bertakwa.
Sedikit berbicara tentang kebaikan, diri ini jadi teringat ceramah dari Ustad Wijayanto kemarin hari di sebuah masjid. Ia bercerita, pada suatu masa di jaman Rasulullah, ada seseorang bertanya pada Rasul bagaimana jika ia tidak hafal Al-Qur'an dan Al-Hadits, apa yang bisa ia ikuti untuk menjadi pegangan hidupnya. Lalu Rasul menjawab, pada dasarnya setiap manusia memiliki hati nurani. Tanyalah pada hati nuranimu ketika kau hendak melakukan sesuatu. Pak Ustad menambahkan bahwa kita bisa berbohong pada siapa saja, tapi tidak pada hati nurani kita. Gelisah atau tidaknya hati nurani menentukan apakah apa yang kita lakukan benar atau tidak. Seseorang bisa tidak mengerti apapun di dunia ini asal dia mengikuti hati nuraninya, maka ia akan menjadi orang yang baik. Subhanallah.
Semua perjalanan hidup hingga saat ini menyadarkan saya bahwa saya selalu berjalan untuk dekat dengan kebenaran yang sebenarnya berada sangat dekat dengan diri ini. Tapi sudah sulit untuk dirasakan. Mungkin saya harus mengikis segala sifat berbangga-bangga, tidak sabar, penuh prasangka, dan segala penyakit hati yang belum terobati agar bisa mendengar hati nurani saya. Saya ingin sekali kembali ke jaman dahulu kala dimana kehidupan pribadi kita tak ada keharusan untuk dipublikasikan. Karena popularitas dan efek publikasi yang berlebih membuat kita jadi tidak bisa membedakan yang mana yang baik dan yang buruk. Penilaian manusia saat ini didasari oleh pakem sosial dan material yang ditunjukkan di media.Yang mana yang menurut publik terpopuler dan banyak diikuti, maka itulah kebenaran. Bukan lagi ajaran kebaikan turun menurun yang diwariskan oleh para pendahulu kita. Mungkin ada baiknya dunia 'mengerem' kecepatan peradaban untuk kembali melihat kebenaran yang hakiki.
Tahun 2012, tahun dimana banyak desas-desus terisukan dari ilmuwan bahwa badai elektromagnetik dari matahari akan melanda bumi ini, menimbulkan sebuah tanda tanya yang besar. Apa jadinya jika manusia tanpa elektromagnetik? Apa dunia ini tanpa elektronik? Akankan kita menjadi manusia berhati nurani, atau sebaliknya? Tidak terbiasanya kita menggunakan hati nurani akan membuat kita menggunakan insting hewani, yang kuat yang menang. Akankan manusia menemukan kembali kebenaran di dalam keterbatasan?
Wallahu'alam bishowab. Maha Besar Allah akan segala kebenaran di sisi-Nya.


0 comments:
Post a Comment