Yang saya suka, cerita-cerita yang disuguhkan kerap kali memiliki latar belakang negara asing dengan detail pemaparan kota, nuansa, budaya, dan penduduk yang ada disana. Tidak jarang terkadang disisipkan bahasa asing dari negara tersebut dalam percakapan di novelnya. Ceritanya tidak hanya menjelaskan hal-hal yang menarik dari negara tersebut, tapi ada makna dan keterikatannya dengan sejarah Islam dan pengaruhnya hingga kini.
Di novel "Bumi Cinta", ceritanya mengambil latar negara Rusia. Lalu di "Ayat-ayat Cinta" mengambil latar negara Mesir. Dan novel yang baru-baru ini saya baca, yaitu "Api Tauhid", mengambil negara Turki sebagai latarnya. Tulisan-tulisan Kang Abik menunjukkan betapa luasnya pengetahuan beliau, mulai dari sejarah, fikih, bahasa, hingga pemahaman mengenai keadaan yang sedang terjadi pada umat di jaman sekarang ini.
Secara garis besar, "Api Tauhid" menjelaskan bahwa permasalahan utama di jaman modern ini tidak lain adalah kita semakin jauh dari agama. Karena itu agar umat Islam keluar dari permasalahan, kita harus kembali kepada ketauhidan, serta menerapkan syariat agama. Dan inti dari segala solusi yang harus kita pegang teguh hingga akhir jaman adalah Al-Qur'an.
Saya ingin mengutip beberapa tulisan di novel "Api Tauhid" yang menurut saya benar-benar menyentuh permasalahan yang sedang umat ini hadapi.
.....Selain mendung hitam yang menggelayuti pikirannya, Kyai Arselan tertuju pada kalimat-kalimat menyentuh dari ulama besar Turki dalam karyanya Al Lama'at yang baru ia baca tadi sore menjelang Maghrib. Itu adalah kitab yang ia beli saat umrah dan mampir di Istanbul, beberapa waktu yang lalu.
Ulama itu adalah Badiuzzaman Said Nursi. Dalam kitabnya Al Lama'at, Badiuzzaman menulis bahwa umat ini harus banyak melantunkan doa Nabi Yunus 'alaihissalam, tatkala berada dalam kegelapan perut ikan.
"Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin."
Dengan penuh keikhlasan, kerendahan hati, pengakuan akan segala dosa, pengakuan akan segala kelemahan, rasa pasrah yang total kepada Allah, Nabi Yunus tiada henti melantunkan doa itu. Menangis kepada Allah dengan doa itu. Mengharu biru kepada Allah dengan doa itu.
"Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin."
Maka, Allah mendengar doa Nabi Yunus, dan membebaskan Nabi Yunus dari perut ikan.
Kyai Arselan masih mengingat sentuhan Badiuzzaman Said Nursi yang mengingatkan, bukankah fitnah yang menyergap umat ini lebih gulita dan lebih pekat dari kegelapan berada dalam perut ikan Paus? Bukankah keadaan umat ini sekarang lebih mengkhawatirkan daripada keadaan Nabi Yunus dalam perut ikan?
Umat yang lemah. Iman yang tercampakkan. Fitnah menyambar siang malam. Serigala-serigala yang kelaparan siap mencabik-cabik. Kebodohan merajalela. Kemaksiatan menyusup di mana-mana menjadi propaganda yang menggiurkan. Umat dilanda kecemasan dan ketakutan tiada ujungnya. Mereka seperti berjalan dalam lorong kegelapan yang sangat panjang dan tidak tahu mana jalan keluar menuju cahaya. Sebagian merasa tahu ke mana melangkah, namun setelah menghabiskan banyak waktu tetap saja berada dalam lorong yang gelap. Kitab suci dan sunnah Nabi seumpama lentera yang mereka pegang tapi tidak dinyalakan. Seumpama pintu keluar yang mereka berada di depannya namun tidak mereka buka. Akibatnya mereka terus berada dalam kegelapan yang pekat dan melelahkan.
Inilah saatnya menanggalkan segala ego, meletakkan diri sepenuhnya sebagai hamba Allah yang memerlukan pertolongan Allah. Saatnya doa dan tasbih Nabi Yunus dilantunkan, diucapkan berulang-ulang, dihayati, dimasukkan ke dalam alirah darah, hingga menjadi cahaya dalam hati dan pikiran. Lalu menjadi cahaya yang membuka cahaya Allah.
"Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin."
------------------------
Badiuzzaman Said Nursi menghadiri acara itu. Dia datang dan dielu-elukan hadirin. Said Nursi menaiki mimbar dengan busana khas Khurdi yang masyhur. Penampilannya gagah dan heroik dengan belati terselip di pinggangnya. Said Nursi menyampaikan amanat yang menyihir lautan manusia.
"Sejak zaman azali, kita telah masuk ke dalam perhimpunan umat Muhammad Saw. Tauhid merupakan aspek kesatuan dan persatuan di antara kita. Sumpah dan janji kita berupa iman.
Selama kita bertauhid dan bersatu, maka setiap mukmin harus menegakkan kalimat Allah. Sarana terbesar untuk menegakkan kalimat Allah di masa sekarang ini adalah kemajuan materiil.
Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita akan berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan yang tak lain dan tak bukan adalah musuh utama dalam menegakkan kalimat Allah.
------------------------
.....Aku telah mempelajari sejumlah pelajaran di sekolah kehidupan sosial manusia. Aku mendapati, bahwa saat ini dan di tempat ini ada enam penyakit yang membuat kita terjebak di abad pertengahan, di saat orang-orang asing, khususnya Eropa, terbang menuju masa depan.
Penyakit tersebut adalah:
Pertama, mewabahnya keputusasaan, yang faktor pemicunya ada dalam diri kita sendiri. Kedua, matinya kejujuran dalam kehidupan sosial politik. Ketiga, suka kepada permusuhan. Empat, mengabaikan tali cahaya yang menyatukan sesama orang mukmin. Kelima, penindasan yang menyebar seumpama penyakit menular. Kelima, perhatian yang hanya tertuju pada kepentingan pribadi."
Lalu Said Nursi menguraikan panjang lebar cara penyembuhannya yang sumber utamanya adalah obat mujarab dari "apotek Al-Qur'an." Penyakit putus asa bisa disembuhkan dengan menghadirkan harapan, harapan akan rahmat Allah. "Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Az Zumar: 53).
------------------------
"Secara umum, Eskişehir ini kota yang kecil yang cantik. Kota ini terletak di tepi Sungai Porsuk yang indah. Dan Eskişehir ini merupakan salah satu kota industri otomotif terkemuka di Turki. Dan bagi Thullabun Nur, kota ini juga yang tidak akan mereka lupakan. Karena jejak keteladanan Badiuzzaman Said Nursi juga ada di sini," Bilal ikut bicara.
"Saya jadi ingat Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari, seorang ulama besar Indonesia. Yang tetap mampu menggerakan para pemuda dan para santri untuk melawan kolonial Jepang, meskipun beliau di penjara," Fahmi mengambil gelas tehnya.
"Begitulah ulama sejati. Kedekatan mereka dengan Allah membuat suara mereka tidak bisa dihalangi apa pun juga," sahut Hamza.
"Saya teringat salah satu perkataan Ustadz Said Nursi, 'Siapa yang mengenal dan menaati Allah, maka ia akan bahagia walaupun berada di dalam penjara yang gelap gulita. Dan siapa yang lalai dan melupakan Allah, ia akan sengsara walaupun berada di istana yang megah mempesona," lirih Emel.
Mendengar petikan kalimat itu, semua mengucapkan tasbih.
------------------------


0 comments:
Post a Comment